
Pagi ini suasana masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Mendung lagi lagi menyelimuti langit itu. Aku sedang berada di perjalanan. Aku akan pergi ke toko roti milik kak Zoya, entah ada apa kemarin dia meneleponku dan menyuruhku datang hari ini. Aku melaju dengan santai, karena hari ini adalah hari libur. Aku mendengarkan sebuah lagu dan sedikit ikut bernyanyi.
"Suatu hari nanti ... Ku harus kembali ... Aku akan berjalan sendiri...."
Ini salah satu lagu favoritku, dan juga soundtrack dari drama yang aku lupa judulnya. Aku berbelok masuk ke parkiran untuk memarkirkan mobilku. Aku turun lalu berjalan menuju toko roti.
"Sofia!" Panggil seseorang. Aku langsung menoleh. Aku tersenyum sambil melambaikan tanganku.
"Kak Zoya dari mana?" Tanyaku. Aku dan kak Zoya berjalan beriringan.
"Habis beli es buah untuk kak Raksa ni" jawab kak Zoya. Aku mengangguk anggukkan kepala ku.
"Kenapa menyuruhku datang kak?" Tanyaku. Kami sudah berada di dalam toko. Kak Zoya kembali setelah memberikan es buah untuk suaminya.
"Tidak ada apa apa sih" jawabnya sambil cengengesan. "Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya kak Zoya. Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Tidak baik berlarut larut dalam kesedihan" jawabku. Aku menghela nafas. "Tuhan mungkin terlalu sayang dengan Fahyan" imbuhku. Kak Zoya tersenyum lalu mengelus pundak ku.
"Aku percaya kau itu wanita kuat" ucapnya. "Oh iya, kau mau minum apa?" Tanya kak Zoya.
"Satu ice coffe" jawabku antusias.
"Oke sabar ya biar aku pesankan" ucap kak Zoya. Ia pergi lalu kembali dengan membawa dua cup ice coffe. Kami berdua berbincang santai sampai akhirnya ponselku berbunyi. Aku mengintip sedikit, dan ternyata Bian meneleponku.
"Sebentar ya kak" ucapku. Aku sedikit menjauh dari kak Zoya. "Halo" sapa ku.
"Kau dimana?"
"Sedang di rumah teman" jawabku.
"Dimana?"
Aku menghela nafas. "Di tokonya kak Zoya, Bian" jawabku malas. "Kenapa tanya?" Tanyaku.
"memangnya salah aku tanya kau dimana? Aku akan menjemputmu sekarang"
"Eh jangan aku bawa mobil sendiri" ucapku setengah teriak.
"Ya sudah aku akan minta sopir untuk mengantarku kesana, tunggu aku"
"Tap ...." Tiba tiba sambungan terputus dengan sepihak. "Haaaaaa! dasar keras kepala" aku mengomel sendiri. Aku kembali mendatangi kak Zoya.
"Ada apa?" Tanya kak Zoya saat melihat raut wajah kesal ku.
"Tidak ada apa apa kak" jawabku lalu tersenyum. Kami kembali berbincang santai, membahas pekerjaan dan juga masa masa sekolah dulu.
"Omong omong kau dan Randu bagaimana?" Tanya kak Zoya tiba tiba. Ya, kabar pertunangan Randu sudah sampai ke telinga kak Zoya. Aku tersenyum kecut lalu menggeleng.
"Mungkin memang ini jalan terbaik untuk aku dan dia" jawabku. "Aku lihat sekarang dia lebih bahagia, dan itu juga sudah cukup membuatku lebih baik" imbuhku kemudian tersenyum seolah aku baik baik saja. Dan saat ku katakan aku baik baik saja, mungkin kata kata itu terdiri dari sebagian kebohongan.
"Pasti sulit untukmu" ujar kak Zoya. "Tapi aku yakin kau kuat" imbuhnya menyemangati. Aku tersenyum lebar.
"Aku sudah kehilangan banyak hal, tapi itu tidak membuatku jadi lemah" ucapku. "Aku juga tidak terlalu memikirkannya" imbuhku dengan gaya sok keren.
"Memikirkan siapa?" Aku langsung terdiam, aku tanda suara siapa itu. Aku menoleh ke sumber suara. Bian, dia benar benar datang. Dia berjalan lalu duduk di sampingku. Aku dan kak Zoya saling pandang. "Memikirkan siapa Hem?" Tanya Bian.
"Kau dengar, sepertinya suamiku mrmanggilku, aku pergi kesana dulu ya" kak Zoya bangkit dan langsung pergi begitu saja. Aku hendak mencegahnya untuk pergi tapi dengan cepat kak Zoya menghilang. Aku langsung menghela nafas, aku menoleh dan ternyata wajah Bian hanya beberapa senti dari wajahku. Aku yang terkejut langsung memundurkan tubuhku.
"Apaan sih" ucapku sambil memukul lengannya. Bian tersenyum lebar. "Apa? Apa maksudnya senyum kaya gitu?" Tanyaku kesal.
"Tidak ada" jawab Bian sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Enak sekali menjadi dirimu, bisa keluyuran dan bukannya mengurus perusahaan" ucapku sinis. "CEO macam apa kau" imbuhku. Aku hendak mengambil minum ku tapi tangan Bian lebih dulu mengambilnya.
"Calon Presdir macam apa kau, bukannya ke kantor malah menggosip disini" ucap Bian sambil menirukan cara bicaraku. Aku mendelik.
"Hei, Aku tidak bergosip tau" tukas ku sinis. "Kau juga, Kenapa kau datang kesini?" Tanyaku protes.
"Tentu aku sedang memantau karyawan ku" jawabnya sambil memainkan alisnya.
"Kau bukan karyawan ku, Tapi calon istriku" ucapnya penuh keyakinan. Aku melongo.
"Kau mendapatkan kata kata itu darimana?" Tanyaku kesal.
"Kau bertanya padaku, Aku juga tidak tau" jawab Bian. Aku memasang wajah datar.
"Sudahlah aku mau pulang" aku mengambil tasku, aku pergi setelah berpamitan dengan kak Zoya dan suaminya. Aku tidak sendiri tentunya, karena Bian terus membuntuti ku. Kami berjalan beriringan, namun tiba tiba Bian berhenti sambil memegang dadanya dan terlihat sedikit kesakitan.
"Kau baik baik saja?" Tanyaku panik. Aku langsung menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil. "Biar aku yang nyetir, kita kerumah sakit" ucapku masih dengan rasa khawatir. Bian menggeleng.
"Tidak, Jangan kerumah sakit" ucap Bian. "Ini bukan apa apa aku baik baik saja" imbuhnya.
"Bagaimana bisa baik baik saja?" Tanyaku kesal. "Sekarang ayo kerumah sakit" aku mulai melajukan mobilku.
"tidak usah kerumah sakit Sofi" ucap Bian lembut. "Kita pulang saja" imbuhnya. Dan tanpa fikir panjang aku langsung mengiyakan.
[Kediaman Bian]
Saat Bian memintaku untuk mengantarkannya, aku langsung mengiyakan. Sekarang aku sudah berada dirumahnya, dan sudah hampir tiga jam dia terus memeluk lenganku. Ya, si manja ini memintaku untuk menemaninya sampai tertidur tapi nyatanya matanya belum juga terpejam.
"Mau sampai kapan kau begini?" Tanyaku.
"Sampai aku tidur" jawab Bian santai.
"kapan kau akan tidur?" Tanyaku lagi.
"Sabarlah sedikit aku sedang berusaha" jawab Bian lantang.
"Ya sudah jangan marah!" Ucapku tak kalah lantang.
"Ya sudah" ucapnya lagi. Aku menghela nafas kasar.
"aku mau pulang" ucapku, tapi sedikit pun aku tidak bergerak.
"Ya sudah pulang. Tapi aku tidak mau bangun lagi" ucap Bian. Aku dengan refleks langsung memukul mulutnya pelan.
"apa mulutmu tidak pernah diberi makanan yang bergizi?" Tanyaku kesal.
"Sering, Tapi lewat begitu saja dan berhenti di usus besar" jawabnya dengan sangat sangat polos. Aku yang mendengar itu langsung tertawa. "Kenapa ketawa?" Tanyanya protes. Aku menggeleng dengan menahan tawa.
"Sudahlah aku mau pulang" ucapku merengek.
"Sebentar lagi" lagi lagi Bian melarang ku untuk pulang. Aku kembali teringat dengan penyakitnya.
"Apa kau benar baik baik saja?" Tanyaku khawatir. "Ayo kita kerumah sakit" ajak ku khawatir.
"Kau takut aku pergi meninggalkan mu juga ya?" Tanya Bian dengan senyum menggoda. Seketika aku terdiam, ia mungkin tidak menyadari bahwa pertanyaannya itu kembali membawaku pada luka kemarin.
"Jangan pernah coba coba untuk pergi" ucapku serius.
"Kalau aku pergi kau kan bisa dengan mudah mencari pengganti ku" ucap Bian. Ia masih melanjutkan candaannya. Mataku sudah mulai berkaca-kaca, aku memalingkan wajahku mencoba menutupi kepedihan yang masih tergambar jelas. "Hei, Aku hanya bercanda" ucapnya setelah mengerti apa yang sudah dia katakan. Aku kembali menatapnya.
"Kau harus janji kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku" ucapku serius.
"Bukannya kau membenciku?" Tanya Bian. "Kau tidak ingat awal pertemuan kita?" Tanyanya lagi. Iya ku akui, dulu aku memang sangat sangat membencinya. Tapi sekarang tidak lagi, bukan karena kasihan, tapi karena memang aku mulai mencintainya. Jangan tanyakan kemana kubuang kenangan 5 tahunku bersama Randu. Aku rasa ini bukan hal yang aneh ketika seseorang berpisah lalu mulai membuka hati untuk yang lain. Tidak, Bian bukan orang lain. Dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.
"Aku tidak membencimu" jawabku lalu tersenyum.
"Kau hanya kasihan padaku" ujar Bian. Aku menggelengkan kepalaku.
"Ayo kita lanjutkan sisa cerita kita" ucapku antusias. Bian sedikit terkejut namun akhirnya ikut bersemangat.
"Hari ini, Aku ingin memulai lagi"
Bersambung......