If Only

If Only
Menjemput Fahyan



  Arin berdiri di sampingku lalu mencuci tangannya juga. Aku ingin menyapa tapi ia lebih dulu membuka suara.


"Apa membanggakan bagimu di perebutkan dua laki laki sekaligus?" Tanya Arin tiba tiba. Aku menoleh dan kami kini berhadapan.


"Apa maksudmu?" Tanya ku bingung. Dia melipat tangannya ke dada.


"Jangan ganggu Randu" ucap Arin. Aku menaikkan sebelah alisku.


"Bukannya kau yang datang sebagai pengganggu?" Tanyaku kesal. Aku tertawa meremehkan. "Aku tidak punya niat mengganggu, kalau aku mau aku bisa melakukannya tapi aku pasti akan merasa kasihan padamu" setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkannya. Padahal demi apapun tanganku bergetar setelah mengatakan hal itu. Aku rasa aku pantas mengatakan itu, bisa saja kan dia yang membuat hubungan ku dengan Randu semakin memburuk. Ah entahlah, rasanya aku ingin langsung pulang saja.


Aku berjalan menuju meja kami, aku langsung mengambil tas dan ponselku.


"Ayo pulang" tanpa aba aba aku langsung berjalan pergi dan mengabaikan Bian yang memanggil namaku. Aku berjalan menuju parkiran tapi tiba tiba tanganku seperti tertarik, dan pelakunya adalah Bian.


"Kau kenapa?" Tanya Bian yang sepertinya juga kesal. Aku tidak menjawab dan hanya mengalihkan pandanganku. "Kau cemburu?" Tanyanya lagi. Aku langsung menatapnya sinis.


"Kau mengajakku keluar hanya untuk memperlihatkan ini?" Tanyaku yang tidak kalah kesal.


"Ini kebetulan. Dan ya berarti kau benar benar cemburu?" Tanya Bian lagi.


"Bukan cemburu, tapi kita memang tidak seharusnya ada disini" jawabku.


"Arin mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Bian. Aku menggeleng sambil memandang ke segala arah. "Jawab aku!" Ucapnya dengan nada meninggi. Aku yang tersentak langsung menoleh padanya.


"Kau tidak perlu membentak ku, kau harusnya mengerti perasaanku" ucapku dengan mata yang sudah berkaca kaca. Coba fikirkan, orang yang sudah bersamaku hampir 5 tahun bertunangan dengan wanita lain, dan hari ini kami berada di dalam satu tempat yang sama. Sedari tadi aku menahan sakit, sesak, segalanya bercampur dan sekarang Bian dengan seenak jidatnya membentak ku lagi. Aku yang sudah teramat marah dan juga kesal, langsung pergi setelah mengatakan itu. Aku sempat menangis namun aku dengan cepat menghapusnya.


Aku naik taksi untuk kembali kerumah. Namun masih setengah perjalanan, Fahyan meneleponku. Aku baru teringat dua hari lagi dia berulang tahun. Aku langsung mengangkatnya sebelum ia mengomel nantinya.


"Kakak kemana saja?" Tanya Fahyan. Benar dugaan ku dia pasti akan mengomel. "Besok aku akan pulang, dan jangan jemput aku karena aku mau buat kejutan untuk kakak" imbuhnya. Kejutan apanya? Aku kan sudah tau.


"Jika itu kejutan kenapa kau memberitahuku?" Tanyaku kesal.


"Aku sudah tidak sabar, makanya aku telpon kakak" jawabnya. Dasar bocah ini fikir ku.


"Ya sudah besok aku akan menjemputmu" ujarku. "Sudah dulu ya, besok kabari aku saja" aku langsung mematikan telponnya. Aku menghela nafas, kalau ayah masih ada aku pasti tidak akan selelah ini. Aku ingin cepat cepat merebahkan tubuhku dan melupakan semuanya.


[Apartemen;malam]


  Malam ini aku memilih pulang ke apartemenku karena aku tau Bian pasti akan datang kerumah. Sudah hampir tiga jam aku hanya menonton kartun di laptopku. Sedari tadi ponselku berdering tapi aku enggan melihatnya. Sekitar 30 menit berlalu, bel apartemen ku berbunyi. Apa Bian datang? Tidak mungkin Randu yang datang fikir ku. Mungkin kah Fahyan? Apa dia mau kasih kejutan? Aku langsung bangkit dan melihat siapa yang datang. Ternyata Bian, aku dengan malas kembali ke tempat tidurku. Dia datang pasti bukan untuk minta maaf melainkan untuk mengomel karena aku tidak menjawab teleponnya. Tapi bukan Bian kalau tidak keras kepala, dia terus memencet bel nya dan tidak berhenti meneleponku. Kali ini aku mengangkatnya.


"Buka pintu" ucap Bian.


"Kau mau apa?" Tanyaku. "Sebaiknya kau pergi karena aku sedang tidak menerima tamu" imbuhku.


"Buka dulu aku mau bicara dengan mu" ucap Bian. Aku menghela nafas lalu berjalan untuk membuka pintu.


"Mau ap ...." Ucapan ku terpotong saat Bian tanpa permisi masuk begitu saja. "Hei kau fikir ini apartemenmu?" Tanyaku kesal. Aku menutup pintu dan berjalan menghampirinya yang sudah duduk di sofa. Mau apa kau?" Tanyaku yang sudah duduk di sebelahnya.


"Mau menemui pacarku" jawab Bian. Aku langsung menoleh.


"Pacarmu? siapa?" Tanyaku.


"Kau, siapa lagi coba" jawabnya dengan kesal. Aku tertawa kecil.


"Hei jangan bermimpi" ucapku. "Kau tau kan kita tidak pernah ada hubungan?" Tanyaku. Bian menatapku intens dan itu membuatku takut. Bian mendekatkan wajahnya lalu memiringkan kepalanya.


"Ha rasanya aku ingin cepat cepat menikahi mu" ucap Bian yang langsung membuatku membelalakkan mata. Aku memukul pahanya keras hingga membuatnya mengaduh.


"Sakit, kan? maka dari itu kalau ngomong di saring dulu" teriakku. Bian memelukku dari samping dan aku memberontak. "Lepas ih!" Aku memukul mukul lengannya.


"Ayo menikah" ucap Bian. Aku menjerit-jerit sambil memberontak.


"Bian ih" aku masih menepuk nepuk lengannya dan kini dia berhenti memelukku.


"Jangan lagi!" Ucapku setengah teriak. Bian hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.


"Aku mau tidur disini" ucap Bian. Lagi lagi aku terkejut dibuatnya.


"Tidak tidak!!" Teriakku. Aku langsung berdiri dan menariknya dengan paksa. Sampai di depan pintu, Bian menarik ku dan sudah jelas aku langsung tertarik ke belakang.


"Lain kali aku mau tidur disini" setelah mengatakan itu dengan senyum jahilnya, Bian keluar dan menghilang dari sebalik pintu. Aku menghela nafas, aku benar benar bisa gila astaga.


[Pagi hari; apartemen]


  Aku sudah bersiap siap ke kantor dan hari ini Fahyan akan kembali. Aku dan om Haris sudah mempersiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Meskipun dia menjengkelkan tapi aku tetap menyayanginya sebagai adikku. Setelah menghubungi om Haris dan meminta sopir untuk menjemputmu, kurang lebih 30 menit pak Budi menghubungiku dan bilang sudah menunggu di basemant. Aku langsung mengambil tas ku dan bergegas pergi. Di dalam mobil aku sibuk merapikan rambutku yang sepertinya hari ini sangat cantik.


  Aku memandang ke depan dan melihat ke pak Budi.


"Bagaimana kabar bapak?" Tanyaku memulai percakapan.


"Sudah lebih baik Nona" jawab pak Budi. Kebetulan sudah sebulan pak Budi tidak masuk kerja karena jatuh sakit.


"Syukur deh pak, jaga kesehatan ya pak" ucapku sambil tersenyum.


"Iya Nona Sofi juga harus jaga kesehatan loh" ucap pak Budi lalu melihatku dari kaca. Aku tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalaku.


[Kantor]


  Aku berjalan menuju ruangan ku, seperti biasa para karyawan menyapa dengan ramah.  Aku masuk ke ruangan ku untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Om Haris masuk setelah mengetuk pintu, tapi kenapa tampak lesu? Aku bertanya dalam hati.


"Om kenapa?" Tanya ku. Om Haris mendekat dan memberikan beberapa dokumen.


"Ini ada beberapa berkas yang perlu kau tanda tangani" bukannya menjawab, om Haris malah mengalihkan pembicaraan. Aku dengan intens menatap om Haris.


"Om baik baik saja kan?" Tanyaku lagi. Kali ini beliau mengangguk lalu tersenyum. Aku mencoba berfikir positif. Mungkin ada masalah keluarga atau yang lainnya.


"Kau akan menjemput Fahyan hari ini?" Tanya om Haris. Aku mengangguk.


"Setelah ini Sofi akan ke bandara" jawabku. "kita akan membuat kejutan yang seperti apa ya om?" Tanyaku antusias.


"Om juga tidak tau. Om tidak pernah melakukannya" jawab om Haris. Aku mulai berfikir sendiri.


"Baiklah, nanti akan Sofi fikirkan lagi" ujarku. Om Haris keluar dari ruangan ku dan kurang lebih 30 menit aku juga keluar.


  Aku sudah dalam perjalanan menuju bandara. Aku mencoba untuk menghubungi Fahyan tapi tidak ada jawaban dan artinya dia belum sampai. Aku tetap melanjutkan perjalanan ku. Aku sampai di bandara dan bertepatan dengan panggilan masuk dari Fahyan.


"Halo" aku turun dari mobil sambil mengangkat telponnya.


"Aku sudah sampai"


"Ya sudah aku sudah di bandara ini" ucapku.


"Baiklah, tunggu aku ya"


  Fahyan memutuskan telponnya. Aku berjalan masuk mencarinya dan dengan tubuhnya yang menjulang tinggi itu aku bisa langsung menemukannya.


Aku memanggil namanya sambil melambaikan tangan. Fahyan yang melihatku langsung berlari seperti bocah yang di jemput oleh ibunya. Tiba tiba dia memelukku erat, dan kali ini aku membalas pelukannya.


"Happy birthday!!" Teriakku. Fahyan melepaskan pelukannya lalu mengacak rambutku lembut.


"Jangan keras keras malu tau kak" ucap Fahyan. "Lagian kan besok" protesnya.


"tidak apa apa, aku mau jadi orang pertama" ucapku sambil tertawa. Kami berjalan beriringan dan untuk pertama kalinya aku merasa seperti takut kehilangannya.


Bersambung.....