
Pagi ini aku dan Bian sudah boleh pulang kerumah. Dengan sombongnya dia bilang bahwa dia sudah sehat padahal dia masih harus di tuntun saat berjalan. Aku mengomelinya setiap kali dia bilang bisa jalan sendiri.
"tunggu"
"Bian"
"nanti kau jatuh"
Dia sama sekali tidak mendengarkan aku. Dia terus berjalan sendiri dengan langkah sedikit gontai. Dia seperti orang penting saja, di ikuti oleh sepuluh pengawal ditambah aku. Aku berlari dan berhasil menggapai tangannya. Dia menoleh lalu tersenyum.
"Aku senang kau mengejar ku" ucap Bian. Aku tertawa tidak percaya. Padahal sedari tadi aku tidak berhenti meneriaki namanya dan berlari mengejarnya.
"Sedari tadi aku terus mengejar mu, kau membuatku lelah" ujarku protes. Dia mengacak rambutku.
"kita pulang oke" ucapnya sembari tersenyum manis. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Di dalam mobil ia tak henti hentinya mengeluh tentang aku yang selama ini tidak pernah mencarinya. Aku hanya memutar bola mataku malas saat dia mulai menyalahkan ku.
"kau tau aku menunggumu setiap hari" ucap Bian untuk kesekian kalinya. "kau benar benar konyol" imbuhnya.
"aku konyol?" tanyaku tak terima. "bukannya kau yang konyol ya?" tanyaku lagi.
"jelas jelas kau yang konyol" jawab Bian lagi. "kau tau aku pindah dan kau sama sekali tidak bertanya aku dimana" imbuhnya. Aku menghela nafas lalu memandang keluar jendela.
"kau juga pindah kenapa tidak bilang bilang" ucapku. "sudah ah aku malas berdebat terus denganmu" aku lalu memasang headset ku untuk mendengarkan musik. Tapi Bian tetaplah Bian, dia mengambil satu lalu memasang itu di telinganya.
"lagu apa ini?" tanya Bian bingung. Aku menoleh kepadanya.
"lagu pengantar tidur. aku capek mendengar omelan mu" jawabku malas. Dia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di pundak ku.
"kita pulang kerumah ku" tukasnya. Aku langsung menjauhkan kepalaku.
"kau gila?" tanyaku.
"aku baru saja sembuh. Aku baru keluar dari rumah sakit" ucap Bian dengan santai.
"aku tidak mau" tolak ku. "demi apa aku tidur di rumahmu??" tanyaku kesal.
"ya sudah bawa aku kerumah mu" ucap Bian.
"tidak!!" ucapku setengah berteriak. "kan ada bi Minah yang bisa mengurus mu" ucapku. Dia menggeleng dengan bibir yang maju ke depan.
"kau mau aku mati ya?" itu pertanyaan yang tidak masuk akal banget.
"kau mau aku mati karena kelelahan mengurus diriku sendiri, perusahaan, dan sekarang kau minta aku mengurusi mu?" tanyaku balik. Dia menegakkan kepalanya lalu memandang lurus ke depan.
"kau tidak boleh lupa aku siapa" tukas Bian dengan sok gagahnya. Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"iya bener juga. Bian tetaplah Bian yang selalu menjengkelkan ... karena sikap manja mu ini aku jadi lupa kau siapa" ucapku. "aku akan menjaga mu tapi tidak untuk tidur dirumah mu" imbuhku.
"terus kau mau pulang kemana?" tanya Bian. Dia menoleh dan kami saling pandang.
"ya pulang kerumah ku lah" jawabku. "apa kau fikir aku tidak punya rumah?" tanyaku kesal.
"kerumah kita kapan?" tanya Bian sok polos.
"nanti tunggu aku mau" jawabku sambil tertawa. Bian mencubit pipiku sampai aku mengaduh kesakitan. Aku memukul lengannya agar dia melepas cubitannya. "sakit Bi" teriakku. Tapi supirnya benar benar berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakang, dia hanya fokus ke depan.
"sakit?" tanyanya santai.
"menurut mu?" tanyaku balik. " kau lihat pipiku jadi merah gara gara kau" ucapku protes. Dia hanya tertawa lalu memandang keluar.
"jangan coba coba pergi lagi" ucap Bian terdengar dingin. Padahal beberapa menit yang lalu dia baru bersikap hangat. Aku menghela nafas, aku benci berada di situasi ini. "aku bisa buat apapun yang aku mau. kau jangan lupakan itu" imbuhnya penuh penekanan. Aku melongo tak percaya. Apa dia punya kepribadian ganda? aku bertanya tanya dalam hati. Aku hanya diam tanpa mengucapkan apapun, aku lebih memilih mendengarkan musik yang ada di ponselku dan tertidur dengan sendirinya.
[rumah; malam]
Aku baru keluar kamar mandi dan masih mengenakan handuk di kepalaku. Tiba tiba ponselku berdering. Saat tau siapa yang menelpon aku langsung mengangkatnya.
"dimana kak?" tanya Fahyan. Ya, yang menelepon adalah Fahyan.
"aku rindu" ucap Fahyan. "kapan kita bisa bertemu lagi?" tanyanya.
"aku malas bertemu denganmu, menjengkelkan sekali" jawabku dan tentu saja itu bercanda.
"Tidak. aku tidak akan menjengkelkan lagi" ucap Fahyan. Aku merasa ada yang aneh, jadi aku bertanya.
"apa semua baik baik saja?" tanyaku.
"hem" Fahyan hanya menjawab seperti itu.
"aku serius" ucapku lagi.
"iya ada apa sih?" tanyanya sambil tertawa.
"aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja" jawabku. "kau sudah makan?" tanyaku.
"sudah" jawab Fahyan. "Kenapa tidak membalas pesanku?" Tanyanya.
"Kau mengirimiku pesan?" Tanyaku bingung.
"Hem. Bukan pesan biasa" jawabnya. "Ini pesan luar biasa" jawabnya lagi.
"apa itu?"tanyaku.
"Pesan cintaku belum terbalas, padahal aku sudah menunggu lama untuk itu" jawab Fahyan dan lagi lagi aku kehabisan kata kata. Aku berdehem untuk menetralisir hatiku.
"jangan mulai lagi" ucapku. Bukan apa apa, aku rasa pada akhirnya dia akan tersakiti nantinya
"apa aku salah?" tanyanya.
"tidak. tidak begitu" ucapku. Aku menghela nafas. "Dengar Fahyan, cinta tidak semudah itu mendapatkannya. Kau hanya terobsesi tanpa ingin memiliki nantinya" jawabku.
"Teropsesi?" Tanya Fahyan. "Aku rasa cinta ini tumbuh sesuai pertumbuhan ku" ujarnya.
"Fahyan ak ...." Ucapan ku terpotong.
"Aish jangan membahas sesuatu yang tidak penting" ucap Fahyan tiba tiba. "Bulan depan hari ulang tahunku. Boleh aku minta sesuatu?" Tanyanya.
"Mau minta apa?" Tanyaku gugup.
"Bulan depan aku akan pulang. Aku mau kita menghabiskan waktu seharian bersama sama" jawab Fahyan.
"Kau kan baru cuti?" Tanyaku.
"Tidak apa apa, nanti aku atur waktunya" jawabnya. "Kalau dua atau tiga hari bagaimana?" Tanya Fahyan.
"Aish tidak bisa ... Aku banyak kerjaan" jawabku. "Lagipula kau masih bocah berani beraninya mengajakku kencan" imbuhku kesal.
"Sekali ini saja. Sebagai hadiah untuk ulang tahunku" ujar Fahyan memaksa dengan merengek. Aku menghela nafas.
"Ya sudah. Nanti kabari saja kalau kau sudah pulang" ucapku akhirnya. Terdengar suaranya sedang bersorak di seberang sana.
"Ya sudah, Aku matikan ya, selamat tidur gadis kecil" ucapnya dengan suara yang terlalu bersemangat, aku masih akan mengomel tapi telponnya keburu di tutup.
"Aish dasar Fahyan bocah tengil!!" Teriakku di kamar. Belum sempat aku melemparkan ponselku, benda itu sudah berbunyi lagi. Kali ini siapa? Tanyaku sendiri. Bian meneleponku, aku sedang malas berurusan dengannya. Aku memilih melempar ponselku ke atas kasur dan keluar dari kamar. Aku berjalan menuju taman belakang, tempat biasa dimana aku, ibu, dan ayah sering duduk bersama dulu.
Aku duduk di salah satu dari tiga kursi. Aku menatap nanar pada kursi tersebut, aku merasa itu masih hangat. Aku beralih menatap ke atas langit, bintang bintang itu bersinar terang.
"Kau adalah bintang yang bersinar terang yang di hadiahkan tuhan untuk ayah dan ibu" itu adalah kata kata yang selalu mereka gunakan saat kami duduk bersama disini. Tanpa sadar aku menangis, aku merindukan mereka. Aku menangis senggugukan, ini sangat perih. Aku meremas dadaku yang terasa sakit, aku sampai terbatuk karena menangis.
"Kenapa kalian tinggalkan aku sendirian?" Teriakku. "Kenapa kalian biarkan aku merasakan sakit ini sendiri?" Aku berteriak seperti orang kerasukan. Jika ada ungkapan yang bisa menjelaskan rasa sakit ku saat ini, aku benar benar ingin menggunakannya. "Ayah, ibu, Apa ini sebuah drama? Apa pemeran utama harus selalu kehilangan segalanya agar bisa menjadi kuat?" Tanyaku lirih. "Jika iya, biarkan aku menjadi lemah agar aku tidak perlu kehilangan kalian berdua" aku memeluk lutut ku sendiri, aku menenggelamkan wajahku disana. Pundak ku bergetar hebat, aku tidak bisa berhenti menangis.
"Rasanya ini bukan pertama kalinya aku melihatmu menangis, tapi kenapa frekuensinya selalu sama? Kenapa luka itu tidak hilang atau berkurang?" Tanya seseorang yang berada di belakangku. Aku mendongakkan kepalaku lalu melihat ke belakang.
"Abian ... "
Bersambung....