
Setelah menjemput Fahyan di bandara, aku mengantarkannya pulang kerumah karena ku lihat sepertinya dia kurang enak badan. Saat aku akan pulang tiba tiba Fahyan memelukku dari belakang.
"Jangan pulang kak" ujarnya. Aku terkejut bukan main.
"Hei, Dasar bocah lepaskan!" Ucapku setengah teriak.
"tidak mau ... katakan kalau kakak tidak akan pulang" Fahyan semakin mengeratkan pelukannya. Aku bisa merasakan tubuhnya yang panas tapi tangannya sangat dingin. Aku berbalik dan kini kami berhadapan. Aku melihat tatapan matanya yang sendu dan itu membuatku khawatir.
"Kau baik baik saja?" Tanyaku. Fahyan mengangguk sambil tersenyum. "Tanganmu dingin sekali" imbuhku yang masih tidak percaya kalau dia baik baik saja.
"Maka dari itu aku ingin memeluk kakak agar tidak dingin lagi" ucap Fahyan. Aku menatapnya sinis.
"Kau mau menggoda ku?" Tanyaku. Fahyan menggeleng lalu memelukku lagi. Dia mengelus kepalaku dengan lembut dan aku bisa merasakan sedari tadi dia tidak berhenti menciumi rambutku. "Fahyan" panggilku.
"Hem" jawabnya singkat.
"Kau ini kenapa sih?" Tanyaku bingung.
"tidak apa apa ... Aku hanya ingin memelukmu saja" jawabnya. Oke kali ini aku membebaskan Fahyan bicara dengan bahasa santainya. Karena berhubung besok adalah hari spesialnya.
"Karena besok hari spesial mu, jadi aku akan membiarkanmu untuk saat ini" aku mencubit pinggangnya pelan. "Sekarang kau kembali ke kamar dan istirahatlah disana" ujarku. Aku memaksanya untuk kembali ke kamar, meskipun penuh penolakan tapi akhirnya dia menurut.
Aku duduk di sofa sendirian, yang lain kemana? Fikir ku. Astaga aku lupa pesan cake ulang tahunnya, aku juga belum membuat persiapan apapun untuk nanti malam. Aku langsung mengambil ponselku dan menghubungi kak Zoya yang kebetulan punya toko roti miliknya sendiri.
"Halo"
"Kak Zoya dimana?" Tanyaku.
"Aku dirumah, kenapa Sof?"
"Sofi ingin meminta tolong sesuatu" ucapku. "Sofi ingin memesan cake ulang tahun, tapi maaf karena Sofi tidak sempat datang ke toko" imbuhku.
"Ya sudah, aku akan mengirimkan beberapa referensi untukmu"
"Baiklah, tapi ada satu lagi. Bisa sekalian dekorasi kan kak? Di rumah Sofi saja, yang simpel tapi tetap terlihat mewah" ucapku sembari tertawa. "Tapi terserah bagaimana bagusnya saja" imbuhku.
"Anak siapa yang akan berulang tahun?"
Aku tertawa saat kak Zoya bertanya seperti itu. Ya, yang akan berulang tahun adalah bayi besarnya om Haris.
"Untuk ulang tahun Fahyan kak, anak om Haris" jawabku. "Hanya itu saja, Sofi sangat sibuk jadi maaf kalau merepotkan" ucapku. "Baiklah kak besok sore ya Sofi tunggu. Acaranya sekitar jam 7 gitu kok ... Baik terima kasih banyak kak" aku mematikan teleponnya. Aku menghela nafas lega. Setidaknya ada yang membantuku karena om Haris sama sekali tidak berguna kalau sudah berhubungan dengan anak muda begini dan Tante Dona belum juga kembali, kata om Haris Tante Dona pergi kerumah orang tuanya untuk mengambil sesuatu. Aku merebahkan tubuhku di sofa dan tidak butuh waktu lama aku langsung tertidur.
[Kediaman Fahyan;malam]
Aku terbangun dan kulihat sudah pukul sembilan malam. Aku mendengar suara, aku langsung bangun dan mencari sumbernya. Ternyata suara om Haris yang sedang memasak di dapur bersama Tante Dona. Aku langsung menghampirinya.
"Siapa bilang tidak di bangunkan?" Tanya om Haris balik. "Kau mungkin kelelahan sehingga sulit untuk di bangunkan" imbuhnya. Tante Dona tertawa sedangkan aku yang malu hanya menggaruk tengkukku. Aku celingukan mencari seseorang.
"Fahyan belum bangun Tan?" Tanyaku.
"Belum" jawab Tante Dona. Aku menaikkan sebelah alisku. Belum bangun? tidak biasanya, fikir ku.
"Kalau begitu Sofi akan melihatnya dulu ya tan" aku langsung bangkit dan berjalan ke kamar Fahyan. Aku membuka pintunya pelan dan benar saja, aku liat dia masih tertidur. Aku masuk dan mendekat, aku duduk di pinggiran kasur. Tidak biasanya Fahyan begini, apalagi kalau sudah ada aku pasti dia yang heboh untuk mengajakku bepergian. Aku membuka selimutnya pelan.
"Fahyan" panggilku pelan. Tidak ada jawaban. Aku membuka selimut yang menutupi wajahnya. Aku terkejut saat melihat wajahnya yang sudah pucat seperti mayat. Aku langsung menyentuh pipinya dan menggoyang goyangkannya. Keluar lenguhan kecil dari bibirnya. "Fahyan bangun" ucapku. Dia membuka matanya perlahan namun setelahnya dia menutupnya lagi. "Fahyan!!" Panggilku tapi dia tidak menjawab. Aku langsung berlari keluar memanggil om Haris.
**
Dan disini lah aku sekarang, di depan ruang IGD dimana ada Fahyan di dalamnya. Sedari tadi aku tidak berhenti menangis, aku bertanya berkali kali tapi om Haris dan Tante Dona tidak menjawab apapun. Tiba tiba Bian datang bersama beberapa pengawalnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bian. Om Haris hanya menggeleng sedangkan aku dan Tante Dona hanya bisa menangis. Bian mengacak rambutnya kasar. Apa dia tahu sesuatu? Fikir ku.
"Apa kau tau sesuatu?" Tanyaku pada Bian. "Kau pasti tau sesuatu kan?" Tanyaku lagi. Bian hanya diam tanpa menjawab. Aku menghela nafas kasar, lagi lagi aku tidak mendapati jawaban apapun. Saat seorang dokter keluar kami langsung menghampirinya.
"Bagaimana dok?" Tanya om Haris.
"Sel kanker yang menyerang pasien sudah menyebar ke seluruh jaringan otak dan itu menyebabkan keadaannya semakin memburuk" jawab sang dokter. Aku yang mendengar itu mendadak lemas, beruntung Bian langsung menopang ku. Kanker? Sejak kapan? Aku bertanya tanya. Air mataku tidak berhenti mengalir.
"Apa masih ada harapan?" Tanya om Haris yang mendadak terlihat kikuk. Saat sang dokter menggeleng pelan, tangisanku semakin memecah. Om Haris langsung menopang Tante Dona yang hampir terjatuh.
"Bagaimana bisa?" Tanya Bian. "Apa tidak ada cara untuk penyembuhan nya?" Tanyanya lagi.
"Untuk leukemia agresif, ada dua cara penyembuhan yaitu kemoterapi dan transplantasi sel induk ... Tapi pada beberapa kasus gejala mungkin tidak terlihat dan menyebabkan sel sel kanker menyebar lebih cepat karena tidak adanya tahap penyembuhan" jawab sang dokter. Bian terdiam karena sudah kehabisan kata kata lagi. Aku memandangnya lalu memegang bajunya erat.
"Bian ... Fahyan bisa sembuh kan?" Tanyaku di sela sela isakan ku. Bian memelukku erat.
"Fahyan pasti sembuh, Jangan menangis lagi" ucap Bian sambil mengelus surai ku lembut. Walau itu terdengar menenangkan namun tidak cukup untuk menghentikan air mataku.
[Rumah sakit;malam]
Aku, om Haris, Tante Dona dan Bian masih berada di rumah sakit. Kami di izinkan menjenguk saat Fahyan sudah di pindahkan keruang VVIP walaupun masih dengan pengawasan intens. Aku sempat memandangi wajahnya dari dekat untuk waktu yang cukup lama sebelum Bian menyuruhku untuk beristirahat. Tapi nyatanya mataku tidak bisa terpejam. Yang aku tunggu adalah puncak ulang tahunnya, dan aku akan berdoa untuk kesembuhannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.55 yang artinya 5 menit lagi umur Fahyan bertambah satu tahun. Aku berharap dia akan membuka matanya walau sebentar saja. Kami bertiga masih terjaga sedangkan Tante Dona baru aja tertidur setelah om Haris berhasil menenangkannya. Om Haris pasti sangat lelah dan juga sedih, ia beberapa kali menguap tapi saat aku menyuruhnya untuk beristirahat ia malah menolak. Aku menatap jam dinding, aku mendekat dan duduk di bangku yang berada di sebelah tempat tidur pasien. Aku menggenggam tangannya dan membungkusnya dengan kedua telapak tanganku. Aku kembali menoleh pada jam dinding.
"1 2 3" aku menghitung setiap detiknya, aku kembali menoleh pada Fahyan. "Selamat ulang tahun" ucapku sambil tersenyum. Tapi air mataku tidak bisa berbohong atas kesedihanku. "Ayo bangun, Ayo kita berjalan jalan seharian, ayo kita makan makanan kesukaanmu, aku kita berbelanja hoodie yang banyak" ujarku sambil terisak. Om Haris yang kurasa mendengar ucapan ku langsung menangis. Aku tau rasanya menangis tanpa suara seperti om Haris saat ini, pasti sangat sakit. Aku memegang dahinya yang masih hangat. "Kau minta aku menjemputmu hari ini kan? Sudah ku lakukan, ayo bangun dan panggil aku sesukamu. Kau mau cintaku? Ayo bangun sekarang dan aku akan memberikan cinta sebanyak yang kau mau" imbuhku dengan suara yang sudah hampir habis. Aku menunduk dengan tangisan yang semakin menjadi, aku menyadari ucapan ku barusan tidak akan mengubah keadaan. Tapi aku tersentak saat tiba tiba genggamanku seperti berbalas. Aku langsung mengangkat pandanganku untuk melihat Fahyan, mataku terbuka lebar karena terkejut.
"Fahyan bangun ....?"
Bersambung........