
Aku baru terbangun dari tidurku, aku langsung terduduk dan menepuk pipiku berkali kali. Aku kemudian mengacak rambutku, mungkinkah ini mimpi? Mana mungkin aku benar benar mengajak Bian pacaran, ya walaupun tidak secara langsung. Aku turun dari kasur dan berniat untuk mandi, tapi aku langsung mengurungkan niatku karena ponselku berdering. Aku langsung mengambilnya di nakas. Tiba tiba jantungku berdegup kencang. Aish bodohnya aku, fikir ku.
"H-halo" kenapa aku tiba tiba jadi gugup? Aku mendengar suara Bian tertawa di seberang sana. "Kenapa ketawa?" Tanyaku protes.
"Tidak, Aku hanya tidak percaya kau mengatakan itu semalam"
Aku memegang pipiku yang sudah memerah. "Ya lupakan itu kalau menurutmu itu mengganggu!" Teriakku yang sudah menahan malu. Tapi Bian malah tertawa semakin kencang.
"Cepat mandi. 15 menit lagi aku sampai"
"Jang ..." Ucapan ku terputus saat Bian memutuskan sambungan dengan seenak jidatnya. Aku melempar ponselku ke kasur. "Sudah terjadi, ini salahku" ucapku pasrah. Aku berjalan ke kamar mandi dengan gontai dan sesekali menguap.
***
Aku sudah berada di ruang tamu. Bi Uma datang dan membawakan segelas susu. Ya, aku memang jarang sarapan, bagiku itu membuang waktu.
"Bi, Kamar ayah sudah di bersihkan?" Tanyaku. Bi Uma menggeleng.
"Maaf nona, selama tidak ada tuan saya tidak berani masuk karena tidak ada perintah" jawab bi Uma. Aku mengangguk. "Kalau begitu biar saya bersihkan sekarang" imbuhnya lalu tersenyum.
"Santai saja ya bi. Jangan terburu buru" ujarku lalu membalas senyumannya. Bi Uma pergi setelah mendapat perintah dariku. Aku kembali fokus pada majalah yang sedang aku baca. Tiba tiba suara langkah seseorang membuatku berhenti membaca. Aku langsung berdiri saat suara Bian memanggil namaku lembut. Aku melemparkan majalah yang berada di tanganku. Astaga jantungku lebih baik berhenti saja daripada berdetak tidak karuan seperti ini.
"Kau udah siap?" Tanya Bian. Aku mengangguk dengan gugup. "Kau gugup?" Tanya Bian yang seperti berusaha menggodaku.
"Tidak. Aku hanya haus" ucapku. Aku langsung duduk dan menghabiskan susu yang di buat oleh bi Uma. Bian tertawa lalu duduk di sampingku. Dia mengelus rambutku sehingga membuatku sedikit menunduk.
"Ya kau mau mati ya?" Tanyaku protes. Akhirnya aku bisa melawan rasa gugupku walau sedikit.
"Tidak apa apa asal matinya di tanganmu" jawab Bian lalu tersenyum. Astaga kenapa tampannya tidak manusiawi begitu sih? Aku tidak bohong kali ini.
Aku fokus pada outfitnya. "Kau mau mengajakku meeting atau apa?" Tanyaku heran. "Bisa tidak kalau ketemu itu jangan lagi pakai jas begini?" Tanyaku lagi. Bian langsung melihat pakaiannya yang memang terlalu formal.
"Maaf aku ada meeting nanti jadi harus rapi" jawab Bian lalu menyengir. Aku percaya karena papa mamanya juga orang yang sangat rapi. Aku menganggukkan kepalaku. Bian menggenggam jemariku lalu tersenyum. "Maaf karena aku belum bisa mengajakmu dinner bersama dengan suasana yang lebih santai" ucap Bian. Aku menggeleng gelengkan kepalaku.
"Bukan masalah. Aku juga sedang sibuk mengurus perusahaan jadi kita sama sama tidak punya waktu" ucapku sembari tersenyum.
"Tapi aku pasti akan selalu menjemputmu seperti ini" ujar Bian. "Karena melihatmu saja sudah menjadi asupan bergizi untuk hatiku" imbuhnya. Aku melongo, dia ini manusia atau buaya.
"Berapa korban dari kata katamu barusan?" Tanyaku meledek.
"Wah, kau berfikir aku sejenis buaya darat?" Tanya Bian tidak terima. Aku menganggukkan kepalaku. Bian tersenyum jahil.
"Benar. Aku ini adalah buaya yang siap menerkam mu kapanpun aku mau" ucap Bian.
"Kau menakutkan" ucapku kesal. Bian tertawa melihatku yang memasang ekspresi geli.
"Oh ya apa aku boleh bertanya?" Tanya Bian. Aku terdiam lalu mengangguk. "Boleh aku liat ruangan mendiang ayahmu?" Tanya Bian lagi. Aku berfikir sejenak. Mungkin tidak apa apa karena Bian dari kecil juga sudah mengenal ayahku. Aku berjalan menuju kamar sekaligus ruang kerja ayahku dan Bian juga mengikuti ku. Aku melihat bi Uma sedang ingin masuk, aku segera memanggilnya. Aku sedikit berlari dan berhenti tepat di depannya.
"Aku dan Bian akan masuk sebentar. Sofi akan panggil bibi nanti" ucapku. Dan tanpa banyak bertanya bi Uma langsung pergi. Aku membuka pintu itu perlahan, terakhir kali aku masuk sekitar sebulan yang lalu. Aku yakin pasti di dalam banyak debu. Aku masuk lalu mencari saklar untuk menghidupkan lampunya.
"Ini ruang kerja ayahmu?" Tanya Bian. Aku mengangguk.
"Ayah orangnya kelewat simpel jadi dia menggabungkan kamar dan ruang kerja" ucapku. "Kau kan juga pernah masuk kesini waktu kecil" ucapku.
"Oh ya? Mungkin aku lupa" Bian berjalan menelusuri setiap sudut. Sesekali ia membaca beberapa judul buku. Aku mengikuti kemana pun dia bergerak. Bian memperhatikan satu foto dimana ada aku ayah dan ibuku.
"Bian" panggilku saat Bian tak kunjung berpaling dari bingkai foto itu. Bian menoleh lalu tersenyum.
"Aku juga" tambah ku. "Aku akan ke kamar mandi. Jadi tunggu disini sebentar" aku melesat pergi ke kamar mandi.
Aku keluar setelah beberapa saat meninggalkan Bian sendiri.
"Bian" panggilku. Kulihat dia sedikit terkejut. "Ada apa?" Tanyaku heran. Bian menggelengkan kepalanya. "Ayo kita bisa terlambat" ucapku. Akhirnya aku dan Bian keluar dari kamar ayahku. Sebelum pergi ke kantor, aku sudah memanggil bi Uma untuk membersihkan kamar ayah.
Di dalam mobil aku hanya diam. Aku masih saja canggung padahal ini bukan kali pertama aku dekat dengan seorang laki laki. Jika ini Randu, aku pasti sudah bernyanyi dengan keras sedari tadi dan dia akan memuji suaraku yang benar benar kelewat merdu. Ah aku belum bisa berpaling rupanya, tapi untuk kembali juga tidak mungkin. Aku hanya perlu terbiasa dengan Bian. Dia juga bukan laki laki yang buruk dan aku yakin perlahan aku pasti bisa terbiasa. Aku menoleh kemudian menarik satu tangannya untuk ku peluk.
"Hei. Ada apa ini?" Tanya Bian bingung. Aku menggelengkan kepalaku.
"Maafkan aku" ucapku.
"Maaf atas apa?" Tanya Bian.
"Maaf karena masih memikirkan yang lain padahal kau yang berada disini sekarang" ucapku. Bian mencium pucuk kepalaku cukup lama.
"Kalau begitu jangan pikirkan apapun kecuali aku" ucap Bian. Aku mengangguk anggukan kepalaku. Bian menghela nafas. "Sebenarnya aku juga sedang memikirkan sesuatu" ucapnya. Aku menarik kepalaku.
"Memikirkan apa?" Tanyaku penasaran.
"Mantan kekasihku. Dia akan menikah besok" jawab Bian dengan santainya. Aku terdiam atas kejujurannya.
"Kenapa kau yang harus memikirkan pernikahannya?" Tanyaku sinis. "Kalau gitu kau saja yang menikah dengannya" imbuhku.
"Kalau belum jadi mantan mungkin aku akan menikahinya" lagi lagi Bian menjawab dengan santai dan tanpa di saring sedikitpun. Aku tertawa tidak percaya. Ini benar benar menyakitkan. Uh sepertinya hati kecilku benar benar menangis. "Besok aku akan mengajakmu datang ke acara pernikahannya" imbuhnya.
"Maaf ya tuan Abian Saguna saya tidak punya waktu untuk hal yang tidak penting" tolak ku dengan senyum hambar. Aku memalingkan wajahku karena sudah kelewat kesal. Bisa bisanya dia membahas mantannya yang bahkan besok akan menikah.
"Aku akan mengatur jadwal mu nona Sofia Hanlim" Bian berbicara formal padaku. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku ke kaca mobil berkali kali. Terserah mau bicara apa, aku akan mendiamkannya sampai besok.
[Kantor;keesokan harinya]
Hari ini aku pergi ke kantor lebih cepat dari biasanya. Aku berjalan menuju ruangan om Haris. Aku mengetuk pintunya lalu membukanya sedikit.
"Sofi boleh masuk om?" Tanyaku pelan. Aku langsung masuk saat mendapat izin dari beliau. Aku mengambil sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Bagaimana kabar Tante Dona om?" Tanyaku. Ya, setelah kepergian Fahyan, Tante Dona jatuh sakit dan menjalani rawat inap di rumah sakit.
"Sudah lebih baik" jawab om Haris. Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"Om, apa Sofi boleh meminta tolong sesuatu?" Tanyaku.
"Minta tolong apa?" Tanya om Haris.
"Hari ini saja cegah Bian untuk mengganti jadwalku" jawabku panik. "Om tau, Bian hari ini akan mengajak Sofi ke acara pernikahan mantannya, siapa yang tidak kesal" imbuhku sewot.
"Hari ini kan kau memang tak punya jadwal meeting atau apapun" ucap om Haris santai. Aku melongo. Aku ini calon Presdir loh, masa iya tidak punya pekerjaan seperti pengangguran begini.
"Om, Sofi ka ..." Ucapan ku terpotong.
"Bian sudah membatalkan semuanya semalam" potong om Haris. Aku lagi lagi melongo, aku ingin pindah ke planet lain kalau begini. Aku menjatuhkan kepalaku pasrah pada meja om Haris. Tapi beliau malah tertawa dan mengacak rambutku.
Bersambung.......