
Setelah melihatku yang masih menangis, Tante Dona langsung memelukku dan mengajakku masuk. Beliau mengajakku duduk di sofa lalu pergi sebentar dan kembali dengan membawa segelas air.
"Minum dulu" suruh Tante Dona. Aku minum sedikit lalu memberikan gelas itu pada beliau. "Coba cerita pelan pelan" ucapnya. Belum sempat aku berkata, aku kembali menangis lagi. Tante Dona kembali memelukku dan mengelus punggungku. "Sofia, ada apa?" Tanya beliau lembut.
"Papa Tante" rengekku yang masih senggugukan.
"Ada apa sama papa? Papa mama kan udah tenang disana" ucap Tante Dona.
"Bian tante" aku semakin menangis.
"Bian kenapa Sofi?" Tanya Tante Dona lagi.
"Bian penyebab kecelakaan yang terjadi pada papa" jawabku akhirnya. "Aku harus apa Tante?" Tanyaku. Tante Dona tak langsung menjawab.
"Apa kau sudah punya buktinya?" Tanya Tante Dona yang terlihat hati hati. Aku mengangguk-angguk an kepalaku.
"Bian yang mengatakan langsung padaku" jawabku. Tiba tiba om Haris muncul dan membuatku langsung menarik tubuhku.
"Kau yakin Sofi?" Tanya om Haris. Itu artinya om Haris mendengar pembicaraanku dengan Tante Dona barusan. Aku menganggukkan kepalaku. Beliau kemudian terduduk dan langsung memelukku. "Maafkan om Sofi, harusnya om terus menyelidikinya" ucap beliau.
"Ini bukan kesalahan om" ujarku. Beliau kemudian melepaskan pelukannya.
"Haruskah kita membawa ini ke jalur hukum? Tanya om Haris. Aku menggelengkan kepalaku lalu menunduk.
"Tante mengerti perasaanmu" ucap Tante Dona. "Kau tinggallah disini untuk sementara" imbuhnya.
"Iya Sofi, soal kantor om yang akan mengurusnya" tambah om Haris. "Om juga akan mencari cara untuk memutuskan hubungan bisnis dengan Bian" ucap beliau lagi. Aku tau sekali Bian berpengaruh besar untuk perusahaan. Tapi aku juga tidak bisa berhubungan lagi dengan orang yang menyebabkan kematian papaku. Aku kemudian mengangguk.
"Sofi percayakan perusahaan pada om" ucapku akhirnya. Aku sama sekali tidak bisa berfikir jernih malam ini, hatiku dan otakku sama sama lelah.
Tante Dona mengantarkan ku ke kamar mendiang Fahyan. Beliau menyuruhku untuk tidur disana karena memang kamar itu sudah lama tidak di tempati.
"Maaf aku sudah merepotkan Tante" ucapku yang merasa tidak enak. Tante Dona tersenyum lalu menyuruhku berbaring setelah aku membersihkan diri.
"Anggap ini rumah mu juga ya" pinta Tante Dona. "Kau sama sekali tidak merepotkan disini" Tante Dona mengelus rambutku lalu tersenyum. Seperti senyuman seorang ibu kepada sang anak. Seketika aku kembali sedih, dan aku kembali menangis.
"Ada apa lagi Sofi?" Tanya Tante Dona khawatir. Aku kemudian menengadah dan menatap beliau.
"Sofi merindukan Fahyan" rengekku. Tante Dona sedikit terkejut lalu tersenyum.
"Tante juga, tapi Fahyan sudah tenang disana" ucapnya.
"Harusnya aku katakan bahwa aku juga menyayanginya" ucapku terisak. "Sofi terlalu sibuk dengan urusan sendiri sampai tidak menyadari bahwa Fahyan selama ini sudah menunggu" imbuhku. Tangis ku semakin menjadi, tangis seorang kakak yang kehilangan seorang adik. Tante Dona memelukku dan ikut menangis.
"Tante tau Sofi, tapi Fahyan juga tau kalau kau juga menyayanginya" ucap Tante Dona. Aku menganggukkan kepalaku. "Sekarang kau tidur ya" Tante Dona melepaskan pelukannya kemudian menarik kan selimut sampai ke leherku. Aku mengangguk dan setelah itu Tante Dona langsung keluar. Aku kembali termenung, bagaimana aku akan menjalani hari kedepannya. Bahkan aku tidak tau bagaimana malam ini akan berakhir, mungkin aku akan tertidur, terbangun, menangis sampai kelelahan, dan tertidur lagi.
Aku mencoba membuka mataku tapi aku tak bisa melakukannya. Aku juga merasa kalau ternyata kamar laki laki sedingin ini, seingat ku tadi malam aku tak menyalakan AC. Aku merasakan tangan seseorang menyentuh dahi ku lalu pindah ke leher. Samar samar ku buka mataku tapi itu sulit sekali. Pergelangan tangan kiri ku juga nyeri, seperti ada yang sedang menancap disana. Mataku yang terasa berat membuatku kembali tertidur.
[Pagi hari]
Aku sepertinya sudah merasa lebih baik, perlahan aku membuka mataku. Tapi kemudian aku terkejut karena aku sedang tidak berada di kamar Fahyan sekarang. Aku berada dirumah sakit, dan siapa yang sakit? Aku?. Aku langsung menoleh saat seseorang tiba tiba masuk.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Tante Dona yang terkejut saat melihatku sudah bangun. Beliau berjalan mendekatiku lalu memegang dahi ku.
"Kau tak sadarkan diri selama 3 hari" jawab Tante Dona. "Kau berhasil membuat semua orang panik" imbuhnya sambil mengelus kepalaku lembut. Aku dan tante Dona langsung menoleh saat pintu terbuka. Om Haris masuk dengan wajah kesalnya.
"Bagaimana?" Tanya Tante Dona. Om Haris menggeleng.
"Kita bahas ini nanti" jawab om Haris lalu beliau mendekatiku. "Kamu sudah baikan?" Tanya om Haris. Aku menganggukkan kepalaku.
"bagaimana perusahaan papa om?" Tanyaku.
"Kau kan baru siuman, kita bahas nanti kalau kau udah sembuh" jawab beliau. Aku menggeleng kuat.
"Sofi baik baik saja om" ucapku. "Ceritakan apa yang terjadi 3 hari belakangan ini" pintaku dengan wajah memelas. Om Haris menghela nafas.
"Perusahaan sedang kacau" ucap om Haris memulai ceritanya. "Kita tidak bisa memutuskan kerja sama secara sepihak karena kontrak yang sudah papamu tanda tangani dulu" imbuhnya. " Jika kita terus bersih keras untuk itu, ini bisa berujung ke pengadilan dan juga penarikan saham yang bisa membuat perusahaan kita bangkrut" ucap beliau. Aku menunduk sedih. Perusahaan itu adalah hasil jerih payah papaku, kalau sampai bangkrut, papa pasti sedih. Aku kembali menengadah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan om?" Tanyaku lirih. "Sofi tidak mungkin menghancurkan perusahaan yang sudah papa bangun dengan susah payah" imbuhku.
"Semua pasti ada jalan keluarnya" ucap Tante Dona sambil mengelus punggungku. Aku menganggukkan kepalaku pasrah.
[Taman]
Seminggu berlalu, aku sudah membaik. Setelah mengetahui yang sebenarnya, aku tak pernah datang ke kantor ataupun kembali kerumah. Tante Dona sempat memberi tau kalau bi Uma menelepon dan mengatakan bahwa Bian selalu mencari ku dengan mendatangi rumahku. Aku sama sekali tidak berniat untuk menemuinya, rasanya aku belum sanggup melihat wajahnya yang akan menumbuhkan kembali rasaku padanya. Tidak mungkin, setelah apa yang terjadi, aku tak mungkin bisa menerimanya lagi. Cukup lama aku termenung, lalu aku tersentak saat Arin tiba tiba muncul di hadapanku.
"Boleh aku duduk?" Tanya Arin. Aku langsung bersikap acuh dan hendak pergi tapi Arin menahan lenganku. "Aku ingin bicara sesuatu padamu" imbuhnya. Aku akhirnya kembali duduk dan Arin juga ikut duduk di sampingku.
"Kau mau apa lagi?" Tanyaku.
"Tentang hari itu, aku minta maaf" ucap Arin. "Aku tidak tau kalau hal itu akhirnya akan menghancurkan kalian bertiga, setelah hari itu, Bian langsung menemui Randu yang saat itu sedang bersamaku" Arin memulai ceritanya. "Randu yang sudah tau semuanya dari Bian akhirnya juga membenciku. Mereka berdua saling memukul dan akhirnya baik Randu ataupun Bian sama sama terluka" imbuhnya.
"Hanya ini yang ingin kamu sampaikan?" Tanyaku acuh, padahal sebenarnya aku benar benar ingin tau cerita selanjutnya. Arin menggeleng.
"Selama ini, hubunganku dengan Randu hanya sandiwara. Tentang pertunangan dan sebagainya" jawab Arin. "Aku kira aku bisa membuatnya melupakanmu dan akhirnya bisa benar benar menerimaku" ucapnya lagi. "Mungkin kau tak menyadari kalau selama ini Randu diam diam selalu mencari tau tentangmu, dia selalu memantaumu dari jauh, dia hampir berada di tempat yang sama denganmu setiap saat tapi kau tidak menyadari itu" imbuhnya. Kali ini aku menoleh.
"Rencana apalagi yang akan kau buat?" Tanyaku ketus. Arin juga menoleh dan kini kami saling tatap.
"Aku akan pergi, aku tak mau terlibat cinta sepihak ini lagi" ucapnya.
"Setelah kau menghancurkan semuanya?" Tanyaku lagi.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku tau ini terlambat" jawabnya. "Kembalilah pada Randu, dia sedang membutuhkanmu sekarang" tambahnya.
"Aku mau, tapi aku tak bisa melakukannya" ucap ku.
"Kenapa?" Tanya Arin.
"Kau fikir semudah itu mengembalikan keadaan? Apa kau pernah berfikir resiko apa yang nanti kami hadapi jika kembali bersama?" Tanyaku. "Ini bukan tentang dua pihak, tapi banyak pihak" ucapku, aku lalu berdiri dan pergi meninggalkannya.
Aku hendak masuk kedalam mobil, tapi tiba tiba seseorang menarik ku. Aku berfikir itu Arin jadi aku berbalik dan hendak memarahinya tapi kemudian aku terdiam.
"Randu ...." Randu langsung memelukku dan itu membuatku menangis.
bersambung......