If Only

If Only
Bertemu lagi



Aku masih tertegun di tempat dudukku. Mahasiswa lain masih berada di luar untuk menikmati makanan mereka sedangkan aku sudah berada di dalam bus, hari ini kami akan pulang karena kegiatan disini sudah selesai. Selama seminggu ini, aku terus memikirkan Bian, Randu, dan juga Fahyan. Aku meneteskan air mata, setelah sekian lama akhirnya aku menangis lagi. Dadaku lagi lagi merasakan sesak yang luar biasa. Aku rindu mereka, papa, mama. Walaupun sudah dua tahun berlalu luka ini masih saja basah. Aku menghapus air mataku tapi ia tetap tak mau berhenti. Tiba tiba hp ku berdering, saat kulihat ternyata nomor tidak di kenal. Tadinya aku hendak mengabaikannya, tapi mataku terus tertuju kesana. Aku lantas mengangkatnya. Untuk sesaat teleponnya hening. Saat aku hendak mematikan sambungan suara seorang pria terdengar.


"Sofia" panggil pria itu. Aku masih terdiam, aku seperti tidak asing dengan suara itu. "Apa kau disana?" Tanyanya lagi. "Bagaimana kabarmu? Apa semua baik baik saja? Aku merindukanmu ... Kami semua disini merindukanmu" oceh pria itu. Aku menggenggam hp ku erat.


"K-kau siapa?" Tanyaku gugup.


"Apa kau tidak merindukan aku? Apa kau tidak merindukan adikku? Orang tuamu?" Tanya pria itu.


"O o-orang tuaku apa maksudmu?" Tanyaku. "Siapa kau?" Tanyaku lagi.


"Abian ... Aku Abian Saguna" jawab pria yang ternyata adalah Bian. Aku tergagap, aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. "Aku merindukanmu" tambahnya. Seketika tangisanku meledak. Terakhir aku melihatnya masih berbaring dirumah sakit dengan berbagai alat penunjang hidup. Aku tidak mencari kabar tentangnya karena aku takut aku akan menyesal bila tau yang sebenarnya.


"Kau masih hidup?" Tanyaku di sela sela tangisanku.


"Hem ... Aku masih hidup dan semua ini karena mu dan juga adikku" jawabnya. "Adikku memberikan hidupnya dan kau memberikan cintamu" tambahnya. Aku kembali menangis saat mengingat pengorbanan Randu untukku dan juga Bian.


"Aku fikir ... Aku fikir kau sudah ...." Aku tidak melanjutkan ucapan ku, karena isakan ku yang semakin menjadi.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian" ucapnya. "Apa kau akan terus berada di dalam bus?" Tanya Bian. Aku menghapus air mataku.


"Bagaimana kau tau?" Tanyaku. Aku mendengar Bian tertawa kecil.


"Keluarlah" suruhnya. Aku langsung melihat keluar jendela. Jantungku seketika ingin berhenti. Tanpa menunggu lama aku berlari dan keluar dari bus. Tapi saat aku turun tidak ada siapapun disini. Hanya mahasiswa lain yang sedang menikmati makanan. Aku kembali menangis, aku terjongkok dengan memeluk lutut ku. Bagaimana bisa aku berhalusinasi sejauh ini? Aku bahkan sangat jelas melihat wajah tampannya.


"Kau sangat cengeng" aku mendongak perlahan sambil terisak. Aku lagi lagi menangis. Bian benar benar ada di hadapanku sekarang. Aku tidak percaya aku akan bertemu lagi dengannya. Ia berjongkok lalu memelukku erat, sangat erat.


****


Aku masih setia mendengarkan detak jantungnya. Aku terus menempel selama hampir 3 jam. Setelah menenangkan ku, Bian mengajakku masuk ke ruangannya. Sial, perusahan yang kami tinggali selama seminggu itu adalah perusahaan miliknya. Teman temanku sudah pergi sejak 2 jam yang lalu, dan aku hampir tak perduli soal itu. Kami duduk di sofa dan aku terus memeluknya.


"Sudah?" Tanya Bian. Dan sudah hampir 3 jam juga kami sama sekali tidak bersuara. Hanya aku yang mendengarkan detak jantungnya. "Sofia" panggilnya. Aku menjauhkan tubuhku agar aku bisa menatapnya.


"Kenapa?" Tanyaku pelan. Bian menatapku lama lalu tersenyum.


"Kenapa kau begitu jahat meninggalkan ku sendirian" ucapnya. "Aku bahkan berjuang untuk kembali hidup agar bisa bersamamu. Tapi saat aku terbangun aku sadar bahwa aku kembali sendirian" tambahnya. Bian tertawa kecil. "Aku terus mencari mu dan akhirnya aku menemukanmu. Aku bersyukur untuk itu, karena akhirnya aku bisa mengakhiri kesendirian kita" ucap Bian. Aku melihat Bian menghapus air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Aku menepuk nepuk bahunya.


"Menangis lah" ucapku. Dan seketika tangisannya pecah. Ia menangis di pelukanku dan terus memegang dadanya.


"Aku kehilangan mereka, aku kehilangan cinta mereka, Bagaimana aku harus bertahan hidup?" Ucap Bian yang masih menangis. "Aku juga membuatmu kehilangan orang orang yang kau sayangi, Aku terus melakukan kesalahan. Awalnya aku ingin menyerah dan pergi dari hidupmu, aku tidak ingin melihatmu menderita terus menerus karena bersamaku, aku tidak sanggup melihat kebencian di matamu" tambahnya. Aku yang ikut menangis hanya bisa mengelus kepalanya lembut. Entah kutukan atau takdir apa yang membuat kami menderita selama ini.


"Aku menjauh bukan karena membencimu, bagaimana bisa aku menatap pria yang di tubuhnya terdapat jantung orang yang hampir 6 tahun bersamaku? Bagaimana aku harus menguatkan hatiku saat harus berhadapan denganmu? Aku berusaha mengabaikan mu dari pikiranku, aku berusaha melupakan semua yang terjadi. Aku berusaha hidup tanpa bayang bayang mu dan orang orang yang sudah pergi meninggalkanku" tambah ku.


"Jangan pernah pergi lagi" pintanya. Bian menggenggam jemariku dan terus memelukku. Aku menjauhkan tubuhku lalu tersenyum.


"Ah iya ... Ayo kita menemui Tante Dona dan om Haris" ajak ku. Bian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tunggu sebentar lagi, aku masih rindu padamu" ucapnya. Aku hanya menghela nafas, membiarkan Bian tenggelam dalam pelukanku.


****


"Kau benar Bian kan?" Tanyaku yang masih belum percaya. Aku mendongak agar bisa melihatnya.


Bian menggeleng. "Aku bukan Bian" jawabnya santai.


"Lalu siapa?" Tanyaku dengan polosnya.


"Calon suamimu" jawab Bian. "Aku tidak akan bertanya ataupun meminta persetujuan mu, bulan depan kita akan menikah" tambahnya. Aku langsung menjauhkan tubuhku.


"Yang benar saja?" Tanyaku kaget. "Aku masih kuliah tau" teriakku kesal. Bian hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Sepertinya kau hanya mencintai Randu ya? Tau begitu biar aku saja yang mati" celetuk Bian. Aku langsung menatapnya tajam.


"Aku semakin yakin kau memang Bian" ucapku sinis. "Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu" aku kembali bergelayut di lengannya. Dan cup, sebuah ciuman mendarat di dahi ku.


"Aku sangat mencintaimu" ucapnya.


"Aku juga" aku semakin memeluk lengannya erat. Aku memejamkan mataku sembari berdoa semua akan baik baik saja setelah ini.


Sesampainya disana, aku langsung turun dan di susul oleh Bian. Tanpa basa basi aku langsung mengetuk pintu. Aku sampai mengetuk berkali kali karena pintu belum terbuka.


"Apa Tante Dona tidak berada dirumah?" Tanya Bian yang sudah berdiri di sampingku


"Kau tau, kita sama sama tidak berada disini tadi, bagaimana aku tau" celetukku sambil tanganku yang terus mengetuk pintu. Bian hanya melengos kesal.


"Coba kau hubungi Tante Dona" suruh Bian. Aku yang tidak peduli terus memanggil manggil Tante Dona, dan pintu pun terbuka. Untuk sesaat kami sama sama terdiam. Hingga akhirnya aku maju dan langsung memeluk Tante Dona yang sudah menangis.


"Kenapa kau baru kembali?" Tanya Tante Dona dengan terisak.


"Maafkan Sofia Tante" aku mengelus punggungnya lembut. Aku melepas pelukanku agar bisa melihat wajahnya. Aku tersenyum. "Sofia pulang Tante ... Sofia pulang" ucapku. Tante Dona menganggukkan kepala sambil menghapus air matanya.


"Ayo masuk, om Haris pasti sangat senang dengan kedatangan kalian" ajak Tante Dona. Akhirnya aku dan Bian mengikuti Tante Dona untuk masuk kedalam rumah.


****


Aku sedang berjalan menuju kelas ku. Setelah perdebatan panjang akhirnya Bian mengizinkan aku melanjutkan kuliah. Tapi dengan catatan dia akan terus mengawasi ku. Dulu aku benci jika dia terlalu overprotektif padaku. Tapi sekarang aku malah ingin Bian terus begitu.


Saat aku masuk, Wendy langsung mendatangi mejaku. Ia kemudian menatapku lekat.


"Kau mulai nakal" ucap Wendy. Aku menatapnya datar. Wendy kemudian duduk di bangku kosong di sebelahku. "Jahat sekali. Kau punya teman yang sangat tampan tapi tidak berniat untuk mengenalkannya padaku" omel Wendy. Aku memutar bola mataku malas.


"Apa kau tidak cukup memiliki pria baik seperti Jun?" Tanya ku kesal. Wendy menghela nafas.


"Kami sudah putus"


"Hah!!"


Bersambung...