If Only

If Only
Double date



Malam ini terlalu dingin jika aku harus menghabiskannya sendiri, dan saat ini aku sedang berada di dalam pelukan Bian. Ya, laki laki itu datang setelah aku mengabaikan telponnya. Saat melihatku menangis, dia langsung menghampiriku dan memelukku erat. Dan kenyataannya itu sangat nyaman. Tapi nyatanya aku kembali teringat seseorang, ya dia Randu. Hatiku sakit saat mengingat segala yang sudah kami lalui, tapi kenapa saat saat seperti ini bukan dia yang berada disini? Kenapa bukan dia yang memelukku seperti sekarang ini? Kenapa dia memilih wanita lain? Apa semudah itu untuk melepaskan?. Jika aku katakan aku masih mencintainya, maka Bian adalah orang pertama yang akan terluka.


"Kau sudah makan?" Tanya Bian yang sedari tadi mengelus rambutku lembut. Aku menganggukkan kepalaku. Bian menghela nafas. "Jangan menangis sendiri lagi" ucapnya. Aku tidak menjawab iya atau tidak. Tapi aku semakin mengeratkan pelukanku, aku kembali merasakan detak jantungnya.


"Kau sudah sembuh?" Tanyaku yang akhirnya membuka suara. Bian mengangguk anggukkan kepalanya.


"Kau harus kuat, kau harus hidup dengan lebih baik lagi Sofia" ujar Bian. "Kau tau? Setiap detak jantungku selalu bermakna untukku, dia terlalu berharga. Aku berfikir, mungkin jika aku lebih menghargainya, dia tidak akan hilang dan aku akan terus hidup dan tetap berada disini" imbuhnya. Aku melepaskan pelukanku, aku menatap bola matanya yang tampak sayu. Matanya berkaca kaca.


"Jika aku terus bersamamu, apa kau akan terus ada disini?" Tanyaku. Aku menatap kedua bola matanya bergantian. Dia tersenyum tanpa menjawab. "Hei ...." Aku memukul lengannya pelan. Bian menundukkan kepalanya lalu menggeleng perlahan. Lagi lagi air mataku menetes. "Hei, Kau bilang kau akan bertahan untukku" ucapku dengan terisak kecil.


"Apa aku bisa bertahan sejauh itu?" Tanya Bian yang menoleh lalu menatapku dengan mata indahnya. Aku mengangguk.


"Apa ada alasan kau untuk pergi?" Tanyaku lirih. " Apa kau juga akan seperti mereka yang meninggalkanku tanpa izin?" Tanyaku lagi, kali ini aku sampai terisak-isak. Bian menggeleng lalu kembali menarik ku kedalam pelukannya.


"Aku disini ... Jangan khawatir" ucap Bian. "Jangan pernah berfikir aku akan meninggalkanmu" imbuhnya.


Setelah beberapa saat, tangisanku melemah bersamaan dengan tenagaku yang hampir habis. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Mengikuti setiap irama yang dibuat oleh jantungnya, sampai akhirnya aku akan tertidur di pelukannya.


[Kamar;pagi hari]


Aku tidak tau kalau pelukan Bian ternyata bisa senyaman ini, tapi ternyata aku salah. Ini bukan Bian tapi ini kasur. Aku di kamarku? Kapan? Kok bisa? Aku bertanya tanya dengan nyawa yang masih setengah terkumpul. Aku duduk lalu merapikan rambutku. Apa aku hanya mimpi? Aku kembali mengacak rambutku. Mana mungkin Bian memelukku sehangat itu. Aku tersentak saat pintu tiba-tiba terbuka, Bian masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan susu. Astaga, ternyata bukan mimpi. Dia masuk dengan senyuman manisnya. Dan lihat, dia memakai kaos kebesaran milikku. Bian berjalan ke arahku, ia meletakkan nampan itu di atas nakas lalu duduk di sebelahku.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Bian. Aku mengangguk tapi setelahnya fikiran ku langsung traveling.


"Kau tidur disini tadi malam?" Tanyaku gugup. Dan lihatlah, dia tersenyum nakal. "Bian jangan bercanda" rengekku.


"Jangan merengek. Aku jadi mau menciummu lagi" Bian dengan santainya bicara seperti itu. Ia lalu berjalan membuka tirai kamar.


"Cium?" Tanyaku kaget. Aku langsung menutupi mulutku. Dan dia berbalik lalu mengangguk dengan senyumnya. Aku langsung melempar bantal ke arahnya dan dengan cepat ia menangkapnya. "Dasar mesum!!" Teriakku. Bukannya keluar Bian malah berjalan mendekati ku lagi.


"Itu kan cuma cium" ujarnya yang kini sudah duduk di pinggir kasur.


"Cuma cium kau bilang?" Tanyaku kesal. Bian mengangguk lagi. "Aku gak pernah dicium kaya gitu, Dulu Rand ...." Aku langsung menghentikan omelan ku dan seketika aku melirik Bian yang saat ini ku pastikan sudah cemburu buta lagi.


"Kok berhenti?" Tanya Bian. Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Lihat saja, wajahnya yang putih bersih itu kini bercampur merah padam.


A-aku mau k-ke kamar mandi" dengan gugup aku mencoba berlari dari situasi ini, namun tangan Bian lebih dulu menggapai ku hingga aku tertarik dan langsung menabrak dadanya. Aku yang terkejut hanya mampu terdiam dengan mata membulat. Dia memelukku dengan erat.


"Aku masih berbaik hati hari ini" ucap Bian. "Tapi kalau lain kali kau berani menyebut nama dia aku pasti langsung menghabisinya" imbuhnya.


"Lagipula kenapa kau memancingku?" Tanyaku kesal. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan rasanya tubuhku bisa remuk kalau seperti ini. "Aku tidak bisa bernafas" ujarku sambil menepuk punggungnya. Bian melepaskan pelukannya dan kami saling menatap.


"Ayo kita makan diluar" ajaknya. Aku benar benar malas hari ini jadi aku menggeleng.


"Kita makan dirumah saja ya" tolak ku halus. Bukannya menjawab, Bian malah bangkit dan melangkah pergi.


"Aku kasih waktu 30 menit" ucapnya sebelum akhirnya menghilang dari sebalik pintu.


"Dasar tukang maksa!!" Teriakku. Aku dengan kesal beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.


"Apa yang salah?" Tanyaku bingung . Bian mengambil bag paper lalu memberikannya padaku.


"Pakai ini!" Perintahnya. Aku dengan kesal menurut.


15 menit setelahnya aku keluar dan kembali menemuinya. Setelah melihatku dia tersenyum.


"Sweater lebih baik di saat musim dingin" ujar Bian. Aku menghela nafas lalu duduk di sampingnya. Aku menoleh memperhatikan outfitnya.


"kenapa harus pakai baju hitam?" Tanyaku kesal. Aku kesal karena baju hitam membuatnya semakin tampan.


"Outfit hitam adalah yang terbaik" ucap Bian. "Ayo kita pergi" ajaknya.


[Resto; siang hari]


Aku dan Bian sudah berada di parkiran restoran. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Bian berjalan masuk. Belum jauh melangkah, Bian dan aku berhenti saat melihat dua orang yang tidak asing sama sama berdiri dan memandang kami. Mereka adalah Randu dan Arin, tunangannya itu. Aku memandang Randu dan Bian bergantian.


"Ayo kita cari tempat lain" ajak ku. Aku menarik lengannya tapi dia malah berjalan mendekati randu dan Arin. Dan aku terpaksa ikut walaupun hanya menunduk.


"Berdua saja?" Tanya Bian. Aku spontan menoleh padanya.


"Iya" jawab Arin. What?? Mereka saling kenal? Fikir ku.


"Sayang ini teman sekolahku dulu, Arina" ucap Bian. Aku tersenyum lalu menyapanya.


"Ini Randu, tunangan ku" ucap Arin. Kenapa hatiku sakit mendengar itu? Aku mengeratkan pegangan ku pada lengan Bian.


"Aku mengenalnya" ucap Bian.


"Wah, Bagus kalau begitu" ucap Arin antusias. Aku menyadari sedari tadi Randu menatapku tanpa berhenti.


"Bagaimana kalau kita makan bersama?" Tanya Bian. Lagi lagi aku menoleh ke arahnya. Benar benar ingin membuatku sakit saja.


"Aku tidak mau" ucapku pelan. "Ayo kita cari tempat lain" imbuhku.


"tidak masalah, Ayo kita makan siang bersama" ucap Randu akhirnya. Aku memandangnya mencoba mencari alasan.


Dan akhirnya kami benar benar berada di satu meja yang sama. Aku mencoba menghilangkan rasa gugupku. Aku mencoba makan dan menghentikan tanganku yang sedari tadi bergetar.


"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Bian. Aku yang sedang makan langsung tersedak, dan secara tiba tiba Randu dan Bian sama sama menyodorkan minumnya. Aku memandang keduanya bergantian. Namun aku langsung tersadar saat Arin berdehem.


"Aku mau ke toilet" aku langsung berdiri dan pergi ke toilet. Aku berdiri di depan wastafel dan mencuci tanganku. Arin ikut masuk dan berdiri di sampingku dan mencuci tangannya juga.


"Apa membanggakan bagimu di perebutkan dua laki laki sekaligus?"


Bersambung.......