If Only

If Only
Dasar ular



"Sofia!!" Aku kembali tersentak saat Bian kembali membentak ku, dan kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi. "Kau benci atau tidak aku sama sekali tidak peduli, tapi ingat satu hal aku tak akan melepaskan mu!" Tambahnya. Air mataku tiba tiba menetes, aku kira setelah aku meluapkan amarahku selama ini aku akan merasa lega. Tapi dadaku malah terasa sesak, nafasku bahkan jadi menjadi tidak beraturan. Aku menundukkan kepalaku dan meremas tanganku yang gemetaran. Bian membentak ku? Padahal aku berharap ia akan meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Aku bahkan tidak berani menatap wajahnya. Aku terdiam dengan hati yang paling sakit.


Setelah sampai dirumah, Bian mengantarkan ku sampai ke dalam. Sedari tadi aku hanya diam begitu juga dengan Bian. Aku dengan gontai berjalan masuk dan di ikuti Bian di belakangku. Aku terus melangkah menuju kamar. saat aku hendak masuk, Bian menahan tanganku dan membuatku berbalik. Aku terus menunduk, tanpa berniat melihat ke wajahnya.


"Ingat kata kataku" ucap Bian datar. Hah beberapa detik yang lalu dengan bodohnya aku masih berharap Bian akan meminta maaf. Aku tetap diam tidak menjawab ataupun sekedar mengangguk. Aku bahkan lebih mirip seperti boneka manekin. "Sofia" panggil Bian dengan suara tingginya. Aku menganggukkan kepalaku. Aku kemudian melepas paksa pegangannya dan langsung masuk ke dalam kamar. Aku terduduk di lantai dan tangis ku langsung terpecah. Aku menangis senggugukan, aku masih tidak percaya Bian orang yang dulu pernah begitu menyayangiku kini menyakitiku berkali kali. Aku meremas kuat bajuku dengan tanganku yang masih bergetar. Aku bangkit dan berjalan menuju sofa, aku menidurkan tubuhku disana dan kembali menangis. Aku terus menangis sampai akhirnya aku kelelahan dan tertidur.


[Kamar; malam hari]


Aku terbangun dengan posisi yang berbeda, seingat ku aku tertidur di sofa dan saat bangun aku sudah di kasur. Aku mengambil ponselku dan langsung mendapat panggilan masuk dari sebuah nomor tak dikenal. Aku tidak langsung mengangkatnya, aku kembali meletakkan ponselku dan turun dari kasur. Aku dengan malas berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku selesai mandi dan lagi lagi ponselku berdering. Aku kembali mengeceknya dan itu adalah nomor yang sama dengan nomor yang menelepon ku tadi. Kali ini aku mengangkatnya.


"Halo, ini siapa?" Tanyaku.


"Hai ini aku Taeil" jawabnya. Aku langsung menegakkan tubuhku. Taeil meneleponku? Ah ya tadi siang kami sempat bertukar nomor.


"Oh iya, ada apa?" Tanyaku.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Taeil. Aku terdiam, apa aku harus menceritakannya? Sepertinya tidak masalah kalau dia tau.


"Bukan apa apa" jawabku.


"Kau berbohong lagi" ucap Taeil. "Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan, jangan memendamnya sendirian" imbuhnya. Air mataku tiba tiba menetes dan aku akhirnya menangis lagi.


"Dia bahkan tidak meminta maaf untuk kesalahannya" ucapku di sela sela isakan ku. "Apa aku salah jika aku marah?" Tanyaku. "Dia bisa memeluk teman wanitanya bahkan tertawa dengan wanita lain di depanku" imbuhku.


"Jadi sebenarnya kau itu pacarnya Bian?" Tanya Taeil. Tiba tiba aku seperti tertampar kenyataan. Bagaimana bisa aku marah? Aku bahkan bukan siapa siapa.


"Bukan" jawabku senggugukan.


"Lalu kenapa kau terus bersamanya dan terluka sendiri?" Tanya Taeil. Aku semakin menangis dengan pertanyaan Taeil.


"Kau fikir aku akan terus bersamanya?" Tanyaku. "Aku bahkan akan benar benar pergi kalau saja Bian tidak memaksaku untuk tetap bersamanya" imbuhku.


"Kalau begitu pergilah, kau tak seharusnya mencintai dan terluka sendirian" ucap Taeil. Benar, aku hanya perlu mencari jalan untuk pergi. "Jika perlu bantuan, katakan saja, aku akan siap sedia membantumu" tambahnya.


"Bagaimana caraku pergi?" Tanyaku. "aku bahkan tidak berani melihat wajahnya saat dia membentak ku tadi" imbuhku lirih.


"Bian membentakmu?" Tanya Taeil.


"Hem" jawabku. "Karena aku terus menyebutkan nama seseorang yang ia benci" imbuhku.


"Tidak jangan, itu hanya akan membuatnya semakin marah nanti" jawabku. "Aku tidak mau kau celaka karena aku" imbuhku. Aku mendengar Taeil tertawa.


"Kau berfikir dia bisa mencelakai ku?" Tanya Taeil. "Sofia jika kau ingin pergi, pergilah. Jangan melukai hatimu sendiri seperti ini" imbuhnya. Aku menghapus sisa sisa air mataku.


"Aku akan berusaha" ucapku.


"Bagus. Sekarang istirahat lah" ujar Taeil. "Agar aku benar benar bisa mengajakmu berkencan" imbuhnya. Aku tersenyum.


"Baiklah. Aku matikan ya" aku langsung mematikan sambungan telponnya. Aku meletakkan ponselku dan berjalan menuju balkon. Tiba tiba aku merindukan apartemen ku. Sudah lama sekali aku tidak datang kesana. Tanpa berfikir panjang aku langsung masuk, aku menyisir rambutku dan berias tipis. Aku mengambil kunci mobil dan segera pergi.


[Di perjalanan]


Aku sedang mengemudi dengan mobilmu, aku masuk ke basemant untuk parkir. Aku turun dan berjalan menuju apartemen ku. Tiba tiba aku melihat seorang wanita yang tidak asing bagiku. Seorang wanita itu berjalan berlawanan arah denganku, dan saat sudah dekat wanita itu menengadah dan kami saling bertatapan.


"Sofi" sapa Rose. Ya, wanita yang ku katakan tadi adalah Rose. Aku tersenyum.


"Hai, Kita bertemu lagi" sapaku juga.


"Mau kemana?" Tanya Rose.


"Aku akan ke apartemen ku" jawabku. Rose mengangguk-angguk an kepalanya. "Kau mau kemana?" Tanyaku juga. Rose mengeluarkan sesuatu dari tas jinjing nya. Dan ia menunjukkan sebuah jam tangan.


"Aku akan ke kantor Bian, aku ingin mengembalikan jam tangannya yang tertinggal di kamarku hari itu" jawab Rose. "Aku juga baru tau kalau kita ternyata tinggal di satu apartemen yang sama" imbuhnya dengan senyum yang melekat di bibirnya. Aku terdiam seribu bahasa, apa itu artinya Bian menginap di apartemen milik Rose?.


"Kalau begitu aku pergi dulu" aku hendak melangkah pergi tapi Rose memanggil namaku lagi. Aku berbalik menatapnya.


"Sepertinya aku akan sangat keterlaluan jika mengatakan kau harus menjauhinya, jadi lakukanlah sekarang agar aku tidak perlu mengatakan hal itu" ucap Rose yang masih menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Kau tau, kami saling mencintai" imbuhnya. Aku mengerutkan dahiku.


"Jika saling mencintai, kenapa bukan kau yang saat ini bersamanya?" Tanyaku. Senyuman di bibirnya seketika memudar.


"Itu karenamu, jadi pergilah dan berhenti menjadi penghalang di antara kami" jawab Rose.


"Aku tidak akan pergi kemanapun, jika kau mau, berusahalah" ujarku. "Bawa Bian pergi jauh dariku, agar aku tidak perlu repot repot menjauh darinya" setelah mengatakan itu aku langsung pergi. Aku mendengar Rose terus mengumpat tapi aku tidak menggubrisnya. Aku kira dia wanita baik baik, ternyata dia juga ular seperti temannya itu. Aku masuk ke dalam apartemen ku dan mulai mengemasi barang barang yang ingin ku bawa, termasuk foto foto yang masih terpajang disana. Aku menatap sebuah foto dimana ada aku dan Randu disana. Aku mulai menyesali sesuatu, hari itu saat dia memintaku untuk tetap berada di sisinya, harusnya aku mengiyakan. Tapi aku malah lebih memilih Bian yang ternyata lebih brengsek. Aku lebih memilih untuk tidak mencari tau tentang Randu, daripada aku akan terluka akhirnya. Aku membersihkan seluruh ruangan sampai aku kelelahan. Aku merebahkan tubuhku di kasur empukku. Hah sudah lama sekali aku tidak tidur disini. Aku melihat jam dan ternyata sudah jam 11 malam. Aku tidur disini saja fikirku. Aku kemudian mengambil ponselku dan menelpon bi Uma agar ia tidak khawatir.


Bersambung....