
Aku baru keluar dari kamar mandi dan aku terkejut saat melihat om Haris dan Fahyan sudah berada disini. Aku melihat Fahyan yang langsung melayangkan tatapan kesalnya padaku. Aku berjalan ke arah om Haris.
"sudah dari tadi om?" tanyaku.
"belum. Fahyan mau berpamitan denganmu" jawab om Haris. Aku menoleh menatap Fahyan.
"sudah akan balik ke asrama?" tanyaku. Fahyan mengangguk.
"antar kan aku ke bandara kak" pinta Fahyan. Seketika aku langsung menoleh pada Bian yang tampaknya sudah kesal. Lihat, dia cemburu lagi. Aku menoleh pada Fahyan lagi.
"jam berapa?" tanyaku.
"sekarang" jawabnya. Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"ya sudah a ...."
"tidak boleh!" Bian memotong ucapan ku.
"kenapa?" tanya Fahyan. "kan sebentar saja" imbuhnya.
"aku tidak bisa sendiri" jawab Bian. Dan aku seperti sedang melihat dua bocah sedang beradu argumen.
"kan ada ayahku" tukas Fahyan.
"tidak ma ...."
"sebentar saja kok" aku mencoba merelai yang terjadi disini. Aku berjalan mendekati Bian. "setelah mengantarkannya aku akan segera kembali" imbuhku. Bian menghela nafas kemudian mengangguk.
"jangan lama lama" ucapnya. Aku mengangguk lalu tersenyum. Aku pun langsung bersiap siap untuk mengantar Fahyan ke bandara.
[perjalanan;mobil]
Aku sudah berada di dalam mobil bersama dengan Fahyan. Sedari tadi dia hanya diam, biasanya dia akan terus bicara saat sedang bersamaku seperti ini. Aku menoleh mencoba untuk bertanya.
"Fahyan" panggilku. Dia menoleh dengan segala ke aestetikannya. "kau sudah makan?" tanyaku. Dia hanya mengangguk kemudian kembali fokus ke depan. Kau kenapa?" tanyaku akhirnya.
"kenapa apanya?" tanyanya balik.
"kenapa diam saja?" tanyaku.
"lalu aku harus apa?" tanyanya lagi. Ternyata dia bisa menjadi sangat menjengkelkan pada saat saat seperti ini.
"untuk apa kau mengajakku jika akhirnya kau diamkan seperti ini" ucapku yang kemudian memandang keluar. Aku terkejut saat tiba tiba mobil berhenti, aku langsung menoleh pada Fahyan. "kenapa berhenti?" tanyaku bingung.
"kau tidur di rumah sakit tadi malam?" tanyanya. Aku mengangguk dua kali.
"kenapa??" tanyaku. Dia menarik nafas dalam dalam.
"apa kau tidak mengerti sama sekali?" tanyanya. "kau tidak lihat aku cemburu?" tanyanya lagi. Astaga, apa semua laki laki seperti ini?.
"kenapa? kenapa cemburu?" tanyaku.
"aku suka padamu" jawabnya. Aku yang syok hanya mampu terdiam sepi. "apa kau tidak bisa melihatnya?" tanyanya lagi.
"tapi itu tidak mungkin" jawabku. Dia menatapku lekat.
"kenapa tidak mungkin?" tanyanya. Aku menelan ludahku sendiri. Nafasku tiba tiba menjadi sesak.
"kau tidak boleh seperti ini" ucapku gugup.
"kenapa? kenapa tidak boleh?" tanyanya lagi.
"Fahyan jangan seperti ini" ucapku. "kau harusnya tak boleh punya perasaan ini" imbuhku. Oh tuhan, apalagi ini. "aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri" aku mencoba membuatnya mengerti. Dia menghela nafas kemudian menghidupkan mobil dan melajukannya.
Dan terciptalah suasana canggung disini. Kami tidak bicara lagi setelahnya. Aku benar benar bingung harus bagaimana. Masalahku dengan Randu saja belum selesai di tambah Fahyan lagi.
Sampai lah kami di bandara, aku ikut mengantarkannya ke dalam. Sebelum sampai di dalam dia tiba tiba berhenti lalu menoleh padaku. Dia mengulurkan tangannya dan itu membuatku mengerutkan keningku.
"ayo pegangan tangan sebelum berpisah" ujarnya. Aku yang mengerti langsung mengambil tangannya dan menggenggamnya. Kami berjalan bersama sambil berpegangan tangan.
"hati hati di jalan ya" aku mengacak rambutnya. Dia memanyunkan bibirnya.
"berantakan lagi" protesnya. Aku tertawa melihatnya. Kami pun akhirnya berpisah, aku melambaikan tangan sampai ia tak terlihat lagi. Aku kembali ke mobil dan langsung melajukan mobilku kembali kerumah sakit karena ku lihat sudah ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Bian. Dia benar benar posesif sampai aku tidak sempat berfikir dibuatnya.
Aku sudah sampai dirumah sakit, aku dengan cepat melangkah ke ruangan Bian. Aku membuka pintunya perlahan dan aku lihat dia sudah tidur. Aku menutup pintu pelan, aku tersentak saat mendengar suara Bian berdehem kuat. Aku menoleh dan aku melihat dia sudah membuka matanya lebar.
"kenapa lama?" tanya Bian. Aku mendekat dan duduk di dekat tempat tidurnya.
"tidak, itu hanya perasaanmu saja" jawabku. Dia memicingkan matanya.
"aku lapar" ucapnya.
"kau belum makan?" tanyaku. Dia menggeleng dengan polosnya. "kenapa?" tanyaku.
"aku menunggumu" jawabnya.
"kenapa menungguku?" tanyaku lagi. Dia memasang wajah dinginnya dan seketika aku merinding. " oke ayo makan" aku berdiri dan mengambil bubur yang sempat aku beli tadi. Aku membantunya untuk duduk agar dia bisa makan.
"buka mulutmu lebar ... aaaaa" ucapku sambil mengangkat sendok berisi makanan ke mulutnya. "anak baik" ucapku saat dia menurut untuk membuka mulutnya. Dia mengambil alih sendok yang berada di tanganku.
"sekarang buka mulutmu" ujarnya. Aku menggeleng tapi setelahnya aku menurut karena dia membuka matanya lebar.
"yang sakit itu kau Bian bukannya aku" ucapku protes.
"kau juga harus makan kalau tidak kau yang akan menggantikan posisiku di sini" ucapnya. "ini tandanya aku sayang padamu" imbuhnya. Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"bagaimana jika aku tidak menyayangimu?" tanyaku.
"tidak masalah. aku akan membuatmu menyayangiku" jawabnya dengan mudah.
"kalau tetep tidak bisa?" tanyaku lagi. Bian mengedikkan bahunya acuh.
"aku tidak peduli itu" ucapnya. Dia memasukkan sesuap bubur ke mulutku.
"aku sudah kenyang" aku menolak saat dia ingin memasukkan sesuap lagi. "sekarang gantian kau yang harus makan" ujarku. tapi dia dengan indahnya menolak.
"aku tidakk betah disini Sof" ucap Bian mengeluh.
"maka dari itu kau harus cepat sembuh supaya kita cepat pulang" ujarku. Dia hanya mengangguk dengan polos. Aku kemudian mengambil ponselku untuk membuka sosial media. Bohong jika aku katakan aku sudah melupakan Randu. Aku sekarang malah membuka sosmed untuk melihatnya, tapi setelahnya aku tercengang. Air mataku tiba tiba jatuh, hatiku terasa perih. Bian yang menyadar itu langsung mendekat.
"ada apa?" tanyanya bingung. Aku hanya menggeleng sambil menghapus air mataku. Bian langsung mengambil ponselku secara tiba tiba.
"Bian kembalikan" aku mencoba mengambil ponselku tapi usahaku sia sia.
"kau menangis karena ini?" tanyanya. Aku menggeleng dengan tangan yang terus berusaha menggapai ponselku.
"kembalikan Bian" pintaku.
"kau menangis karena ini?" tanyanya lagi. "jawab" ucapnya setengah meninggi. Aku tersentak karena ini pertama kalinya dia membentakku. Aku kembali menangis, Bian menghela nafas lalu menarikku untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia mengelus punggungku dengan lembut.
"Randu" ucapku di sela sela isakanku.
"kau lihat dia tidak menyayangimu lagi kan?" tanya Bian. Dia meninggalkan mu untuk gadis lain" imbuhnya. Aku menggeleng.
"ini pasti ada salah paham" ucapku. Bian melepaskan pelukannya lalu menatapku lekat.
"salah paham apa lagi?" tanyanya kesal. " kau lihat sendiri dia meninggalkan mu dan memilih bertunangan dengan gadis lain daripada berjuang untuk mu" mendengar ucapan Bian bukan membuatku tenang itu malah membuatku semakin menangis. Aku semakin senggugukan dan lagi lagi Bian menarikku ke dalam pelukannya.
"jangan nangis. kau masih punya aku disini" ucapnya lembut. Saat telingaku menempel di dadanya, aku merasakan detak jantungnya yang sepertinya sangat lemah.
"Bian ...." panggilku.
"hem"
"kau baik baik saja kan?" tanyaku.
"hem" jawabnya sambil mengangguk. "kenapa?" tanyanya. Aku menggeleng.
"lekas sembuh" ujarku. "maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini" imbuhku.
"terima kasih. terima kasih sudah hadir kembali" ucapnya. Dia mengeratkan pelukannya dan itu membuatku menjadi hangat.
bersambung........