If Only

If Only
pilihan sulit



  Aku bergegas membuka pintu, dan seketika mataku membuat.


"Ran ...." Aku tidak melanjutkan ucapanku karena terlalu takut melihat ekspresinya.


"Kau datang?" Aku langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara Abian. Aku terkejut saat Randu langsung masuk dan memukul Abian. Aku yang panik langsung berlari dan menahan Randu.


"Randu sudah ... Aku minta maaf" ucapku yang mulai terisak. "Aku minta maaf ... Ini salahku" imbuhku. Aku masih merasakan nafas Randu naik turun karena emosi.


"Hanya ini?" Tanya Bian yang langsung membuat Randu kembali emosi.


"Sialan ..." Randu memberontak, sehingga aku terhempas menabrak meja.


"Shit ..." Aku terkejut saat Bian memukul Randu. "Beraninya kau!" Bian kembali memberi pukulan di wajah Randu. Aku langsung berdiri dan menahan Bian.


"Bian cukup!" Teriakku. "Kau ini apa apaan?" Tanyaku dengan emosi yang bergejolak.


"Dia menyakitimu!" Teriaknya. Aku berbalik saat tau Randu bangkit setelah terjatuh ke lantai akibat pukulan dari Bian. Dia menatapku dengan tatapan sendu.


"Apa ini?" Tanyanya. Aku menangis saat melihat sudut bibirnya berdarah dan pipinya memerah. "Kemarin kau menemaniku dirumah sakit dan sekarang ...." Randu menggantung ucapannya. Aku semakin terisak.


"Aku minta maaf ... Aku salah" ucapku di sela sela isakanku. Aku berjalan mendekatinya dan menyentuh pipinya. Aku melihat air matanya luruh melewati pipinya. Aku menunduk sambil menangis.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanyanya. "Aku tau aku sudah menyakitimu, tapi bukan berarti kau bisa melakukan ini" ucapnya. Tangannya menyentuh tanganku yang berada di pipinya.


"Tapi kami tidak punya hubungan apa apa" aku memberanikan menatap matanya. "Dia hanya teman kecilku" imbuhku.


"Dia orang yang sudah membuatku babak belur Sofia" tukasnya. "Kau tau bagaimana perasaanku saat ini?! Seharusnya kau tau!" Randu berteriak padaku.


"Aku minta maaf ... Tapi tidak terjadi apa apa disini" ucapku.


"Bukannya tadi malam kau yang membuka sepatu dan jas ku?" Tanya Bian yang jelas memancing emosi Randu. "Aku mabuk berat, tapi aku masih ingat" imbuhnya. Aku memandang Bian dengan keheranan. Aku kembali memandang Randu saat kurasakan ia melepaskan tanganku yang berada di pipinya. Aku menggeleng kuat.


"Tidak kau salah paham" aku mengambil tangannya dan menggenggamnya erat. "Aku memang membuka jasnya tapi aku tidak melakukan apapun" ucapku yang berusaha terus meyakinkannya.


"Harusnya aku tau dari awal saat dia menjemputmu di cafe hari itu" ucap Randu dan matanya menatap Bian dengan tajam. Tanpa kata kata dia melepaskan genggamanku lalu pergi begitu saja. Aku terus memanggil namanya sambil terisak. Aku luruh ke lantai saat punggungnya menghilang dari sebalik pintu.


"Ayo bangun" ucap Bian dengan gampangnya. Dia memegang bahuku dan hendak membangunkan ku. Dengan cepat aku menepisnya dan langsung berdiri.


"Apa maksudmu melakukan ini?" Tanyaku. "Kau tau kan kalau dia itu pacarku?" Tanyaku lagi. Bian mengangguk.


"Dan aku sudah pernah memberimu peringatan untuk tidak berhubungan lagi dengannya" ucapnya.


"Kenapa?" Tanyaku bingung. "Aku disini karena kau adalah sahabat kecilku dulu!" teriakku.


"Sahabat? Kau bilang sahabat?" Tanyanya. "Aku mencintaimu, aku berharap kau mencariku saat aku menghilang" imbuhnya. Aku terdiam dengan sejuta kebodohan.


"Tapi ...." Ucapanku terpotong.


"Tapi kau sama sekali tidak mencariku ... Kau tau aku sangat marah saat itu!" Tukas Bian.


"Apa ini salahku?" Tanyaku. "Kau yang menghilang dengan sendirinya, bukan?" Tanyaku lagi. "Aku tidak tau kenapa kau tega melakukan ini padaku" ucapku lirih. Aku langsung mengambil ponsel dan tasku, Bian memegang lenganku.


"Kau mau kemana?" Tanyanya. "Aku akan mengantarkan mu" imbuhnya. Aku melepaskan pegangannya.


"Kau tidak perlu tau" jawabku. "Dan ya, jangan pernah mencariku lagi" aku pergi setelah mengucapkan itu dan berniat mencari Randu.


  Aku melajukan mobilku dengan kencang, aku bingung harus mencarinya dimana. Aku benar benar merasa bersalah padanya. Saat lampu merah, aku mengambil ponselku dan mengecek sesuatu. Benar saja, sudah ku duga ini pasti ulah Bian. Dia sengaja mengirim fotoku dan dia, seolah kami tidur bersama. Aku benar benar tak habis fikir, kenapa Bian bisa berbuat seperti itu padaku. Aku memukul stir ku karena kesal. Tiba tiba ponselku yang baru saja ku lempar berdering. Om Haris, kalau dia menelpon hanya membahas Bian aku akan langsung mematikannya.


"Halo ... Ada apa om?" Tanyaku.


"Kau dimana Sof?"


"Sedang di mobil" jawabku.


"Ada proyek yang harus kita bahas hari ini"


"Sekarang?" Tanyaku malas.


"Iya, secepatnya kita harus sampai di lokasi"


"Ya sudah, kita bertemu disana" ucapku.


"Oke, om tunggu"


"Eung" aku langsung mematikan sambungan. Sepertinya aku harus memberi sedikit waktu untuk Randu. Kenyataannya memang tidak terjadi apapun padaku dan juga Bian. Tapi entah kenapa, aku tak sekesal biasanya kalau mengingat dia sahabat kecilku. Aku menghela nafas kasar, ini menjadi sangat rumit.


  Setelah sampai di lokasi, aku langsung mencari om Haris. Tapi tiba tiba langkahku melemah, Bian ada disana juga. Dengan malas aku berjalan mendekati om Haris tanpa memandang wajah mungil nan seksi itu.


"Apa bisa selesai dengan cepat om?" Tanyaku.


"Belum tau, memangnya kau mau kemana?" Tanya om Haris. Aku hanya menyengir.


"Sofi ada sedikit urusan" jawabku. Om Haris hanya mengangguk anggukan kepalanya.


  Aku tidak tau ini rencana Tuhan atau rencana Bian, tapi kami kembali di pertemukan walaupun awalnya aku bilang tidak ingin bertemu dia lagi. Dan yang lebih parahnya hampir seharian aku harus ikut dia kesana kemari untuk melihat lihat proyeknya. Sedangkan om Haris, dia keluar dari forum.


  Saat ini sudah petang, aku dan Bian sedang dalam perjalanan menuju restoran. Tadinya aku menolak dan akan pulang kerumah tapi Bian terus memaksa dan akhirnya aku ikut. Aku terus menatap keluar hingga mataku menangkap sesuatu.


"Bian berenti Bi" aku memaksa Bian berhenti saat mataku melihat Randu duduk di sebuah taman. Aku sudah akan keluar namun Bian menahan lenganku.


"Mau kemana?" Tanyanya.


"Itu Randu, aku ingin menemuinya" jawabku. Aku melepas paksa tangan Bian dan langsung keluar dari mobil, aku berlari untuk menghampiri Randu dan di susul oleh Bian.


Aku sudah akan memanggil namanya tapi seketika langkahku terhenti saat kulihat Ji Han datang menghampirinya dengan membawa dua cup cappucino dingin kesukaan Randu.


"Kau lihat kan?" Tanya Bian yang sudah berada di sampingku. Aku tak menjawab apapun, aku hanya diam. Randu yang mendengar suara Bian langsung menoleh ke belakang. Kami sama sama terdiam sebelum akhirnya aku memilih pergi dari sana.


"Sofi!" Panggil Bian. Aku berhenti lalu berbalik.


"Sekali ini saja, biarkan aku sendiri" ucapku. Aku kemudian berjalan tak tentu arah. Aku menangis sepanjang jalan dan mungkin semua orang mengira aku gila. Saat malam tiba aku akhirnya berhenti di sebuah bar.


     Untuk pertama kalinya semenjak aku menginjak usia dewasa, aku memasuki tempat seperti ini. Aku lupa, tapi sepertinya aku hampir menghabiskan tiga botol minuman beralkohol itu. Kepalaku pusing, kadang aku tertawa, kadang menangis. Tiba tiba aku seperti tak bisa mengendalikan kepalaku sendiri, dia seperti akan jatuh.


  Aku menyandarkan kepalaku di meja. Rasanya kepalaku sangat berat. Dan tiba tiba aku lupa kejadian selanjutnya. Kecuali, suara seseorang yang memanggil namaku lalu menghampiriku dan menggendongku. Aku hanya berharap kejadian hari ini hanya mimpi. Semoga saja...


Bersambung.....