
Aku tak mau mengakui ini sebenarnya. Tapi kenyataannya Bian dan aku semakin dekat dari hari ke hari. Aku sempat mengetahui kabar tentang Randu dan aku bersyukur dia sudah baik baik aja. Aku sangat merindukannya, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan selain menjauhinya. kalau ini cara terbaik maka akan kulakukan. Aku baru menyadari kalau Bian ternyata benar benar posesif. Dia bahkan tidak mengizinkanku untuk bicara pada laki laki lain walaupun itu karyawan di kantorku. Ancamannya tetap sama, "kau bisa kekurangan satu karyawan nanti" begitu katanya.
Seperti sekarang, aku sudah boleh ke kantor karena kesehatanku sudah membaik. Sekedar info, ini sudah hari ketiga Bian terus berada di sampingku. Aku hampir bosan karena melihat wajahnya terus.
"Sofi" panggil Bian. Aku menoleh menatapnya lalu beralih pada sesuatu yang dia bawa. Bian baru saja datang dan ia membawa dua cup kopi dingin. "Lama?" Tanyanya. Aku menggeleng lalu menyeruput kopi yang ia berikan tadi.
"Kau tidak ke kantor?" Tanyaku. Bian menggeleng.
",Ada Yogi yang mengurus disana" jawabnya. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kami sama sama terdiam sambil memandangi danau kecil di tengah taman.
Kami terdiam cukup lama dengan fikiran masing masing. Tiba tiba ponsel ku berdering. Aku langsung mengintip dari luar tasku. Tubuhku seketika menegang, Randu meneleponku. Aku sengaja tidak mengangkat telponnya. Bukan berarti perasaanku untuknya sudah hilang, aku hanya tidak ingin dia dalam bahaya lagi. Tapi Bian memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Siapa?" Tanyanya. Aku menggeleng.
"Bukan siapa siapa" jawabku singkat. Dan sekarang dia malah menatapku tajam.
"Kau berbohong?" Tanya Bian. Saat aku ingin menjawabnya, ponsel ku berdering lagi. Sial fikir ku, ini bisa membawa masalah baru.
"Bukan siapa siapa Bian" aku kembali mematikan telponnya.
"Pasti itu Randu" tukas Bian. "Berikan ponselmu" pintanya. Bodoh jika aku memberikannya pada Bian, tapi sialnya dengan cepat ia mengambilnya di dalam tasku. Aku langsung meronta-ronta meminta agar ia mengembalikan ponsel ku. Tetapi matanya yang bagai elang itu lebih dulu menangkap panggilan masuk dari Randu. Bian langsung menatapku tajam, sangat tajam.
"Bian kembalikan!"Ucapku.
"Dia masih meneleponmu?" Tanyanya kesal. Tapi kini aku yang berbalik menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Menurutmu? kita memang cukup dekat, kita bersahabat sejak kecil, tapi seharusnya kau tidak perlu ikut campur dengan kehidupanku" ucapku penuh penekanan.
"Aku harus ikut campur, kau sendirian sekarang!" Ucap Bian.
"Apa menurutmu aku tidak bisa hidup sendirian?" Tanyaku. "Apa kau fikir aku lemah tanpamu?" Tiba tiba mood ku berubah.
"Memang kau tidak akan bisa hidup sendirian" jawabnya santai. Aku tertawa hambar, dia sangat menyebalkan.
"Aku bisa kok, kita lihat saja nanti" aku langsung menarik ponselku yang berada di genggamannya. "Aku tidak menyukai caramu mencintai seseorang. Seharusnya kau hanya perlu mencintainya dan bukan mengambil alih kehidupannya" aku mengambil tas ku lalu berdiri dan pergi dari sana. Kali ini Bian tidak mengejar atau mencegah ku, itu bagus menurutku. Aku berjalan keluar dari kawasan taman dan meninggalkannya sendirian. Aku benar benar kesal dibuatnya, dia merusak mood ku seketika.
[Tiga hari kemudian;kantor]
Aku sedang sibuk mengurus berkas berkas yang harus di tanda tangani. Sesuai surat wasiat, jabatan ayahku akan diberikan padaku. Aku bersyukur pada rekan kerja ayahku yang sangat menghargainya meskipun beliau sudah tidak ada. Dan salah satu orang yang paling setia adalah om Haris, ia harus membagi waktu untuk kantor dan untuk keluarganya. Ia punya satu anak laki laki yang umurnya dua tahun lebih mudah dariku. Dan kami terbilang cukup akrab, dia saat ini sedang melanjutkan pendidikannya di luar kota.
Aku masih sibuk dengan laptopku dan tiba tiba pintu terbuka sedikit.
"Om boleh masuk?" Tanya seseorang yang ternyata adalah om Haris.
"Masuk saja om" jawabku. Om Haris masuk dan ternyata ia membawa sebuah bingkisan dan meletakkannya di mejaku. "Apa ini?" Tanyaku.
"Buka saja" jawabnya yang kini sudah duduk di sofa. Aku yang mempunyai jiwa penasaran yang tinggi langsung saja membukanya.
"Dress?" Tanyaku bingung. "Ini untuk apa?" Tanyaku lagi.
"Itu dari Fahyan" jawab om Haris. Aku mengangguk, Fahyan adalah anak tunggal dari om Haris yang aku ceritakan tadi.
"Tumben sekali? Ada apa dengannya?" Tanyaku bingung.
"Dia sudah di perjalanan" ucap om Haris.
"Kemana?" Tanyaku yang saat ini sudah berdiri dan mencoba mencocokkan dress itu dengan tubuhku.
"Pulang kerumah" jawab om Haris. Aku menoleh bingung. "Dia ambil cuti seminggu" imbuhnya. Aku mengangguk sembari mulutku membentuk huruf O.
"Kenapa dia tidak mengabari ku?" Tanyaku.
"Dia ingin memberi kejutan tapi dia juga sudah tidak sabaran" jawab om Haris. Aku yang mendengar itu langsung tertawa.
"Bagaimana bisa seperti itu" ujarku.
"Kenapa? Tanyaku.
"Fahyan mengundangmu makan malam dirumah" jawab om Haris. Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"Baiklah. Katakan padanya Sofi akan datang" ucapku.
"Baiklah nanti om sampainya" jawabnya.
[Kediaman om Haris;malam]
Aku baru sampai di rumah om Haris. Sesuai ekspektasi, aku tidak cocok dengan dress ini. Aku di sambut hangat oleh Tante Dona, istri dari om Haris. Terakhir kali aku kesini itu sekitar lima bulan yang lalu. Aku di ajak masuk dan kami berjalan menuju taman belakang. Yang kulihat hanya meja kosong dengan banyak makanan di atasnya. Aku mengerutkan keningku.
"Kenapa sepi sekali?" Tanyaku bingung.
"Mencariku?" Aku terkejut saat Fahyan tiba tiba mengacak rambut ku dari belakang. Padahal aku menghabiskan waktu dua jam hanya untuk hair stylist.
"Kau sangat tidak sopan" ucapku kesal. Bocah itu hanya tertawa lalu berjalan menuju meja makan.
"Ayo kesini, untuk apa berdiri disitu?" Tanya Fahyan. Aku berjalan di barengi dengan kehadiran om Haris dari dalam rumah. Kami berempat duduk di bawah sinar bulan yang sangat cantik.
"Kenapa kau pulang?" Tanyaku pada Fahyan.
"Tidak ada, hanya rindu saja pada kakak" jawabnya sambil mengeluarkan senyumannya yang manis itu. Aku mencubit pipinya. Bukannya kesakitan dia malah menatapku dengan wajah bayinya itu.
"Pipi kakak memerah" ujarnya. Aku langsung memegangi kedua pipiku dengan ekspresi terkejut. Sontak membuat semua yang berada disitu tertawa melihatku.
"Kau sudah pandai menggodaku sekarang ya" ucapku setengah malu.
"Tapi dia belum juga punya pacar" ucap Tante Dona. Aku memasang wajah terkejut.
"Serius?" Tanyaku. Aku kembali memandang Fahyan dengan wajah masamnya. "Jangan jangan kau terlalu suka padaku ya sampai kau tidak mau punya pacar?" Tanyaku menggodanya.
"Kalau iya kenapa?" Tanyanya balik.
"Kalian berdua pendebat yang hebat" celetuk om Haris yang sedari tadi hanya menjadi penonton di antara kami.
"Cocok kan yah?" Tanya Fahyan sumringah.
"Cocok apanya?" Tanyaku bingung.
"Cocok kalau menikah" jawab Fahyan dengan entengnya. Aku yang sedang minum langsung tersedak karenanya.
"Selesaikan dulu kuliahmu" ucapku padanya.
"Kalau aku sudah selesai kita menikah ya?" Aku memutar bola mataku malas.
"Kau ini masih kecil" tukasku. Dia memandangku dengan wajah kesalnya.
Setelah selesai, Fahyan mengantarku ke depan. Sebenarnya om Haris dan Tante Dona sudah masuk ke kamar sekitar satu jam yang lalu. Jadi hanya aku dan Fahyan yang masih diluar.
"Hati hati ya" ucap Fahyan. Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Kabari aku jika kau sudah akan kembali ke asrama, aku akan mengantarmu ke bandara" ucapku. Dia tersenyum kemudian mendekat dan.
"Cup"
Sebuah ciuman mendarat di pipiku.
Bersambung.....