
Aku masih berada di depan cermin hias ku. Aku sudah memakai gaun pesta karena beberapa menit yang lalu Bian meneleponku dan meminta ku untuk bersiap siap. Aku menghela nafas kasar.
"Tidak apa apa untuk tidak baik baik aja. Oke aku hanya perlu berpura pura baik baik saja" ujarku menenangkan diriku sendiri yang selalu gugup kalau sudah berhubungan tentang Bian.
Beberapa saat kemudian...
Aku turun dan langsung menyambut kedatangan Bian. Kami pergi bersama sama ke lokasi pesta mantannya itu. Aku agak menekan kata mantan agar terkesan sangar. Aku dan Bian berhenti di sebuah gedung besar nan mewah. Kami berjalan beriringan tapi entah kenapa aku sedikit gugup. Aku menggandeng lengannya untuk mengurangi kegugupan ku. Apa lagi saat ku lihat tamu yang datang benar benar berkelas dan aku yakin mereka semua berasal dari kalangan atas. Aku memakai gaun dengan rambut yang biarkan terurai.
Sekitar 30 menit aku dan Bian berada di kerumunan orang banyak. Aku merasa jenuh dan bosan, aku mencoba menikmati makananku tapi tetap saja aku gugup. Seseorang tiba tiba menghampiri Bian.
"Kau disini rupanya, kak Lay mencari mu. Ayo ambil gambar bersama" ajak seseorang dengan setelah jas sama seperti Bian. Bian menoleh menatapku, aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Sebentar saja" ucap Bian setelah itu ia pergi bersama temannya. Aku semula tidak terlalu peduli, tapi saat ku lihat ke arah pengantin mataku seketika bergetar. Astaga, apa yang mereka rasakan saat jatuh dari langit?
"Mungkin aku bisa pilih dua atau tiga" gumam ku sangat pelan. "Mungkin juga semuanya" aku terkekeh pelan. Bian yang seperti itu saja sudah membuat kepalaku hampir meledak, apalagi jika sebanyak itu, fikir ku. Tapi impianku barusan seakan melayang saat melihat mempelai wanitanya muncul. Ha dia benar benar cantik, seketika aku merasa bahwa aku berubah menjadi kentang. Aku mulai bertanya tanya, siapa yang meninggalkan siapa?
Aku memicingkan mataku. Aku seperti tidak asing dengannya. Aku kembali berfikir keras mencoba mengingat. Aku langsung membelalakkan mataku. Bukankah dia aktris yang berasal dari XX? Wah mereka sangat serasi. Tapi sepertinya baru baru ini aku mendengar rumor ia berpacaran dengan seorang mantan member boy grup terkenal. Wah cepat sekali ia berpaling, jika dia yang melakukannya itu akan tampak keren karena parasnya yang memang kurang manusiawi. Dan aku tidak mau mencobanya. Tapi setelah ku fikirkan, apa aku setara dengannya? Karena Bian juga mengejar dan mencintaiku. Aku kembali terbang, tapi tetap saja aku harus jatuh karena aku memang berada jauh di bawahnya. Aku sesekali tersenyum membayangkan hal itu sambil menikmati makanan penutup yang sudah di sediakan.
Acara berlangsung meriah. Aku dan Bian kembali duduk dan menikmati acara. Aku bertanya tentang teman temannya yang tadi, tapi dia hanya menatapku sinis dan berkata. "Jangan coba coba" padahal belum dimulai tapi aku sudah di paksa mundur.
"Tolong minta nomor ponsel salah satu dari mereka" bisik ku pada Bian. Dan ia sama sekali tidak merespon ku. "Kalau begitu aku akan memintanya sendiri" imbuhku yang terus memancingnya. Dan benar, ia melayangkan tatapan mematikannya padaku dan itu membuatku menciut.
"Kalau kau berani silahkan saja" ucap Bian santai. "Tapi aku tak bisa memastikan dia yang kau pilih masih bisa berjalan keesokan harinya" imbuhnya. Aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Itu tidak akan terjadi" ucapku. "Aku bahkan belum benar benar mengosongkan hatiku" imbuhku. Aku langsung mengambil minumanku di atas meja. Aku tau Bian pasti sedang menatapku tajam. Tapi aku menoleh saat mendengar suara wanita yang memanggil nama Bian. Mataku terus mengikuti Bian yang berdiri dan langsung memeluk wanita itu. Aku tidak percaya Bian bisa melakukan itu saat aku sedang bersamanya. Aku kembali fokus pada minumanku, tapi dengan telinga yang terbuka lebar.
"Apa kabar?" Tanya Bian pada wanita yang sepertinya bernama Rose itu, karena aku mendengar Bian menyebutnya dengan nama itu tadi.
Wanita itu tersenyum. "Seperti yang kau lihat" jawabnya sambil tertawa kecil. Aku memandangnya dari atas sampai bawah. Dengan dress simpel seperti itu saja ia sudah kelihatan luar biasa, aku sebagai wanita agak sedikit iri dengan kecantikannya.
"Kau datang dengan siapa?" Tanya Rose. Aku sedikit menoleh. Bian kemudian memanggilku dan memintaku untuk berdiri. Aku tentu saja menurut, karena aku tak mau membuat masalah.
"Dia Sofia partner kerja ku" jawab Bian. Aku yang terkejut langsung menoleh menatapnya tapi Bian tidak memandangku sama sekali. Aku tersenyum kecut lalu kembali menatap Rose.
"Hai, aku Sofia" sapaku sambil mengulurkan tangan. Dan dengan senyum ramah Rose menerima jabatan tanganku.
"Hai, Aku Rose" setelah itu ia tidak langsung melepaskan tanganku, rose menoleh pada Bian. "Apa kau sudah terlalu frustasi sehingga membawa partner kerja ke acara ini?" Tanyanya dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya. Tapi itu juga terdengar seperti meledek. Ia kemudian kembali menatapku. Aku melepaskan jabatan tangannya, tapi senyumku sudah tak lagi ada. Aku duduk kembali setelah bersusah payah mengatur nafasku.
"Kalau aku lebih dulu menemukanmu aku pasti akan mengajakmu" ujar Bian dengan tawa kecilnya. hah gedung ini dipenuhi AC di setiap sisi, tapi kurasa disini lebih panas daripada lapangan yang berada di kampusku dulu yang aku gunakan sewaktu ospek.
"Kau berlebihan" ucap Rose. Aku menghela nafas, kalau tau begini aku tak akan datang kesini. Eh tunggu, ini jelas bukan keinginanku. Aku ingin menangis rasanya. Jadi dia hanya menganggap ku partner kerja? Itu keterlaluan sekali. Aku ingin pergi tapi kakiku tidak sanggup melangkah.
Sudah satu jam berlalu aku masih diam tanpa menikmati apapun. Rose sudah pergi beberapa saat yang lalu. Katanya dia akan menghampiri temannya, hah apa peduliku. Sial, Bian bahkan tidak meminta maaf ataupun menjelaskan apapun. Ya benar, apa yang ingin ku dengar? Karena jelas saja kami tidak punya hubungan spesial.
Saat keluar dari gedung aku berjalan lebih dulu dan berhenti di dekat mobil Bian. Aku berbalik saat kurasa Bian sangat jauh dariku. Hah, dia sedang bersama Rose lagi. Tapi kali ini pandangan mataku tertuju pada seseorang yang berada di belakang Rose.
Itu Ji Han. Apa mereka berteman atau kebetulan sedang bersama? aku tisak sadar kalau Ji Han juga hadir disini. Tapi aku rasa mereka adalah teman dekat, karena kulihat keduanya berbicara tanpa kecanggungan. Ji Han pergi setelah mengatakan sesuatu pada Rose dan Bian. Rose dan Bian berjalan mendekati mobil. Aku menatap Bian dengan heran, firasatku buruk. Dan benar aja, Bian akan mengantarkan Rose pulang.
"Pulanglah bersama kami" ajak Bian.
"Wah apa aku tidak merepotkan mu? Sopirku memberi kabar kalau mobilnya mengalami bocor ban jadi tidak bisa menjemputmu sekarang" ucap Rose. Apa dia hanya memiliki satu mobil? Aku berucap dalam hati. Rose kemudian memandangku. "Tapi sepertinya aku akan menunggu sopirku aja, aku jelas akan mengganggu kalian nanti" imbuhnya.
"Ah tidak masalah" ujarku antusias. "Pulanglah bersama kami" imbuhku. Demi apa aku bicara seperti ini? Aku menyesalinya barusan. Bian kemudian tersenyum, pada Rose bukan padaku.
"Sudah ayo, ini sudah hampir larut" setelah itu, akhirnya Rose benar benar pulang bersama kami. Kalian tau yang lebih menjengkelkan? Bian membukakan pintu mobil yang berada di sebelah kemudi untuk Rose. Dan aku akhirnya duduk di belakang dan menyaksikan bagaimana kedekatan keduanya. Aku menyandarkan kepalaku, aku tiba tiba ingat mendiang Fahyan. Lukaku bahkan belum benar benar sembuh, tapi ia dengan berani meninggalkanku dan pergi untuk selamanya. Aku menghela nafas. aku memejamkan mataku, mencoba mengabaikan kedua insan yang sedang bersenda gurau di depanku. Bayangkan saja posisiku saat ini, aku ingin bilang bahwa ini sakit. Tapi aku juga tidak bisa menuntut banyak. Bian berhak atas hidupnya, aku bahkan berencana untuk menghapus rasaku untuknya. Ini masih rencana, tapi lihat saja nanti. Aku memutuskan untuk tidur, lagipula tidak ada yang menganggap ku ada disini. Setidaknya aku tidak akan melihat bagaimana bahagianya mereka berdua saat ini.
Bersambung.....