If Only

If Only
Keras kepala



Aku masih termenung mengingat ucapan om Haris beberapa hari yang lalu. Arin mencari ku? Untuk apa? Aku bertanya tanya. Aku ingin mengabaikannya tapi sepertinya ada hal penting sampai dia datang ke kantorku. Aku kembali menyeruput cappucino panas yang hampir dingin, aku sedang berada di restoran yang aku dengar baru beberapa Minggu di buka. Diluar hujan deras jadi aku memilih menetap disini sampai hujannya reda. Disini cukup nyaman, suasana, soal rasa, dan juga kebersihannya. Aku mendongak saat seseorang menghampiriku. Aku hampir terkena serangan jantung melihat siapa yang datang.


"Sepertinya kita pernah bertemu, boleh aku duduk?" Tanyanya. Aku mengangguk anggukan kepalaku. "Kau yang datang ke pernikahan kak Lay bersama Bian kan?" Tanyanya lagi.


"Iya. Wah kebetulan sekali kita bertemu lagi" ucapku lalu tersenyum. Lelaki itu mengulurkan tangannya.


"Aku Taeil" ucapnya memperkenalkan diri. Aku langsung menerima jabatan tangannya.


"Aku Sofia" kami saling melempar senyum dan aku rasa jantungku akan berhenti. Padahal aku hanya bercanda saat mengatakan aku ingin salah satu dari mereka, tapi Tuhan memang adil.


"Kau pacarnya?" Tanya Taeil. Aku dengan cepat menggeleng. Akhirnya aku tau cara membalasnya.


"Bukan. Dia hanya partner kerjaku" jawabku. "Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanyaku yang mulai kepo.


"Dia bagian dari NC group dan juga kami bersahabat sejak SMA" jawab Taeil. Ah ya, NC group perusahaan teknologi terbesar kedua di pulau ini.


"Jadi kemarin? Wah pantas saja acaranya begitu mewah" ucapku.


"Jadi kau tanpa alasan datang ke acara kak Lay?" Tanya Taeil yang tampak keheranan. Aku menganggukkan kepalaku.


"Wanita itu adalah mantan Bian, dan kau pasti tau itu" jawabku. Aku tidak menyadari raut wajah kesal ku, karena sepertinya itu sesuatu yang alami.


"Kau kesal?" Tanya Taeil lagi. Aku menggeleng. Aku melihat Taeil tersenyum, dan sepertinya itu mengartikan bahwa ia tau aku sedang berbohong. "Kau sendirian?" Tanyanya lagi.


"Iya. Aku sedang menunggu hujan reda" jawabku. Membahas Bian membuat mood ku buruk. "Kau sedang apa disini?" Tanyaku karena ku lihat dia juga sendirian.


"Sama sepertimu, aku juga sedang menunggu hujan reda" jawab Taeil. Tiba tiba ponselnya berdering. Taeil sedikit menjauh untuk mengangkat telponnya. tidak lama kemudian ia kembali. "Sepertinya Bian menyukaimu" ucapnya tiba tiba. Aku seketika menoleh menatapnya.


"Kenapa kau berfikir begitu?" Tanyaku.


"Barusan dia yang menelpon ku" jawab Taeil santai. "Dia bertanya aku dimana, aku bilang aku sedang di restoran bersamamu dan dia langsung meledak dan mengomel padaku" tambahnya lalu tertawa. Aku langsung membulatkan mataku.


"Kau bilang aku disini?" Tanyaku heran. Taeil menganggukkan kepalanya. "Kenapa bilang aku ada disini sih?" Tanyaku kesal.


"Kenapa? Kau takut dia cemburu?" Tanya Taeil. Aku menggeleng.


"Aku sedang malas berurusan dengannya" jawabku.


"Kenapa?" Tanya Taeil lagi. "Dia bilang dia akan menjemputmu" imbuhnya. Aku menghela nafas kasar. Aku kemudian mendapat suatu ide.


"Tolong bantu aku" aku mengatupkan kedua tanganku.


"Bantu apa?" Tanya Taeil keheranan.


"Kau dan aku berpura pura menjadi teman dekat" jawabku. "Sekali ini saja" tambahku.


"Tanpa suatu alasan?" Tanya Taeil. Aku mengangguk. Tidak mungkin aku bilang bahwa aku ingin balas dendam atas perlakuannya di hari itu.


"Bagaimana kau setuju?" Tanyaku. Taeil sedikit menimbang, lalu kemudian ia mengangguk setuju. Dan seketika senyumku merekah.


  Tak lama kemudian, Bian benar benar menjemput ku. Sebelumnya aku bilang pada Taeil untuk bersikap natural tapi sekarang malah aku yang terlihat gugup. Aku bisa merasakan kehadiran Bian yang semakin dekat. Tiba tiba ia duduk di sampingku. Aku dan Taeil sontak saling menatap.


"Kau sudah datang?" Tanya Taeil. Aku lihat Bian hanya menganggukkan kepalanya.


"Taeil sepertinya hujannya sudah reda, aku harus pergi sekarang" ucapku yang masih sangat gugup. "Aku akan menghubungimu nanti malam" imbuhku. Taeil mengangguk lalu tersenyum.


"Istirahatlah yang cukup. Kau sepertinya kurang sehat" ucap Taeil. "Ayo berkencan saat kau sudah merasa baikan" kata kata itu tampaknya terlampau natural untuk masuk ke telinga Bian, karena kulihat wajahnya mulai kesal. Aku menganggukkan kepalaku.


"Aku yang akan menyetir mobilmu" ucapnya datar. Bian melepas jasnya dan hendak menutupi kepalaku, tapi aku menghindar dengan sedikit memundurkan tubuhku.


"Kembalikan kunci mobilku" ucapku tak kalah datar. "Aku bisa menyetir sendiri" imbuhku. Bian tidak peduli dengan ucapan ku, ia malah mendekat dan tetap menutupi kepalaku. Kami berlari kecil menuju mobil dan dia benar benar akan menyetir mobilku. Setelah masuk ke dalam mobil, Bian tidak langsung menyalakan mesin. Ia malah menatapku tajam, dengan satu tangan yang mengunciku. Aku menelan Saliva samar.


"Apa itu tadi?" Tanya Bian. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku mengalihkan pandanganku keluar. "Aktingmu sangat buruk" imbuhnya. aku langsung menoleh menatapnya.


"Itu karena aku bukan seorang aktris seperti mantan pacarmu" ucapku ketus. "Kalau kau tidak mau menyetir lebih baik keluar, Biar aku sendiri yang menyetir" aku hendak membuka pintu tapi Bian dengan cepat langsung menarik tanganku.


"Kau cemburu?" Tanya Bian. Aku tertawa kesal.


"Aku bahkan tak punya alasan untuk cemburu pada wanita yang sudah menikah" jawabku ketus. Bian menggeleng.


"Bukan mantan ku, tapi Rose" ucap Bian. "Kau cemburu dengan Rose?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Setidaknya aku tau aku harus bagaimana" jawabku yang kemudian mengalihkan pandanganku.


"Memangnya kau mau bagaimana?" Tanya Bian.


"Berhenti sok peduli" jawabku datar. "Aku tidak terlalu andil mengontrol perasaanku, jadi jangan buat aku jatuh cinta sendirian" imbuhku.


"Kau mencintaiku?" Tanya Bian. Aku mengangguk mantap, karena tidak ada alasanku untuk menutupinya.


"Setidaknya untuk sekarang menjauhlah" ucapku. Aku menghela nafas. "Dengan begitu aku bisa lebih mudah menghapusnya" imbuhku. Aku terkejut saat Bian tiba tiba menarikku kedalam pelukannya.


"Bagaimana bisa kau jatuh cinta sendirian?" Tanya Bian. Apa? Jadi benar aku jatuh cinta sendirian? Aku benar benar akan mematahkan batang lehernya. "bagaimana kalau jatuh cinta berdua?" Tanyanya lagi.


Aku melepas paksa pelukannya. "Omong kosong" ucapku ketus. "Kau fikir ini permainan? Kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu?" Tanyaku dengan emosi yang mulai memuncak. Coba di fikir, ia melarangku dekat dengan siapapun, tapi dia dengan bebas memeluk wanita lain padahal aku sedang berada di dekatnya, dia juga hanya menganggapku partner kerja sementara aku hampir menyerahkan seluruh hatiku untuknya.


"Jadi apa maumu?" Tanya Bian.


"Bersikaplah seperti kita memang benar benar hanya partner kerja, seperti yang kau ucapkan pada Rose hari itu" jawabku.


"Jadi hanya karena itu?" Tanya Bian lagi. Aku mengangguk lagi.


"Kau menganggap kedekatan kita hanya sekedar urusan pekerjaan kan?" Tanyaku menyindir. "Jadi aku bebas dekat dengan siapapun karena kau bukan siapa siapa bagiku" imbuhku.


"Bukan siapa siapa kau bilang?" Tanya Bian yang sepertinya mulai terpancing emosi. "Aku menyayangimu!" Ucap Bian setengah berteriak. Sayang dia bilang? Dia hampir menghancurkan segalanya.


"Sayang? Seharusnya kau buang rasa sayang itu!" Ucap ku tak kalah berteriak. "Aku pernah merasa sangat sangat bahagia dengan Randu tapi kau datang kau hancurkan segalanya termasuk kebahagiaanku! Kau menganggap itu bagian dari rasa sayangmu?" Tanyaku lagi. Demi apapun, jantung ku berdetak kencang. Tanpa sengaja aku menyebutkan nama Randu, dan sepertinya itu benar benar akan memancing emosi Bian. Tapi sudah terlanjur, aku akan benar benar meledakkan emosiku sekarang. Tapi Bian benar benar tidak punya hati nurani. Dia menyalakan mesin mobilku dan langsung melajukannya. Aku meremas ponsel yang berada di genggamanku.


"Jangan menyebutkan nama itu lagi" ucap Bian datar. Bian kembali fokus ke jalanan.


"Kenapa?" Tanyaku masih dengan intonasi tinggi. Tapi Bian tetap mengabaikanku. "Berhenti sekarang!" Bentakku. Tiba tiba aku terhuyung ke depan karena Bian tiba tiba menghentikan mobilnya.


"Aku benci nama itu" ucap Bian. "Apa itu cukup sebagai jawaban?" Tanya Bian menahan emosi.


"Aku tidak peduli!" Aku kembali berteriak. "Randu bahkan lebih baik darimu!" Aku berteriak lagi.


"Cukup!!" Bentak Bian. Aku tersentak, aku kembali teringat bagaimana Randu membentak ku waktu di pantai hanya karena Ji Han.


"Aku benci pada Randu, tapi kau tau aku bahkan lebih membenci dirimu!! Aku bahkan tak mau melihat wajahmu lagi!!" Aku berteriak lagi.


"Sofia!!" Aku tersentak lagi saat Bian kembali membentak ku, dan kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.


Bersambung....