If Only

If Only
Cuma mimpi



Aku merenggangkan tubuhku, padahal aku sedang ngantuk ngantuk nya tapi tiba tiba terbangun karena om Haris meneleponku dan memintaku untuk ke kantor hari ini. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap siap. Aku langsung berangkat setelah selesai berias. Di dalam mobil, jantungku kembali berdetak tidak karuan. Bagaimana kalau Bian ada disana? Membayangkannya saja sudah membuat takut.


Aku berjalan melewati koridor di kantorku. Aku masuk ke dalam lift sendirian, tapi tiba tiba Bian muncul dari kejauhan. Aku menekan tombol lift dengan cepat agar pintunya segera tertutup. Tapi aku gagal, Bian lebih dulu sampai dan mencegah pintu itu tertutup. Bian masuk dan saat ini hanya ada aku dan dia di dalam lift ini. Aku meremas ujung blazer ku karena sepertinya tanganku kembali bergetar.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Bian memulai percakapan. Aku hanya menganggukkan kepalaku. "Aku minta maaf" imbuhnya. Aku yang terkejut langsung menoleh ke arahnya. Apa barusan Bian bilang minta maaf? Aku kembali menundukkan kepalaku. Aku kembali menoleh saat Bian menarik ku untuk mendekat.


"Lepas, nanti ada yang lihat" aku sedikit memberontak. Bukannya melepaskan, Bian malah mengalungkan tangannya di pinggangku dan mengikis jarak di antara kami.


"Kenapa?" Tanya Bian dengan senyuman yang sudah lama tidak muncul di bibirnya. "Kau malu?" Tanyanya lagi.


"Bian, lepas" aku kembali memberontak. Tiba tiba Bian mendekatkan wajahnya. Dan...


Kriiingggggg Kriiingggggg Kriiingggggg


Aku langsung terduduk. Astaga ternyata aku tadi hanya bermimpi. Aku mengacak rambutku, padahal aku sudah terbangun saat om Haris meneleponku tadi tapi bodohnya aku malah tidur lagi. Dan ku lihat panggilan tak terjawab 10 kali dari om Haris. Mana mungkin Bian yang sombong itu bisa meminta maaf. Aaaa aku bahkan merasa malu sendiri.


[Kantor]


Aku berjalan melewati beberapa koridor. Aku berjalan dengan cepat karena takut mimpiku tadi benar benar jadi kenyataan. Aku masuk ke dalam lift dan kali ini aku tidak sendirian, karena di dalam ada beberapa karyawan. Aku berjalan menuju ruangan ku, tapi sebelumnya aku harus menemui om Haris di ruangannya. Saat ini aku sedang duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Aku masih kefikiran soal mimpiku tadi. Tiba tiba om Haris duduk di sebelahku dan meletakkan sebuah amplop. Aku mengerutkan dahi ku.


"Apa ini?" Tanyaku bingung. Om Haris mengedikkan bahunya. Aku langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Aku membaca isinya dan langsung menoleh ke arah om Haris. "Bian mengundang kita untuk datang ke acara ulang tahun NC group?" Tanyaku. Om Haris mengangguk.


"Acara itu akan di adakan tiga hari lagi jadi kau sempat bersiap siap" ucap om Haris.


"Bolehkan kalau aku tidak ikut?" Tanyaku seperti memohon. "Sofi lelah sekali" imbuhku. Om Haris menggeleng.


"Jangan sangkut pautkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan, dan bersikap profesional itu perlu untuk seorang yang akan menjadi calon pemimpin sepertimu" ujar om Haris. Kalau beliau sudah bicara serius seperti ini mana bisa aku membangkang. Dia dan Tante Dona sudah ku anggap seperti orang tua ku sekarang. Aku mengangguk pasrah.


"Baiklah om, Sofi akan datang" ucapku akhirnya. Aku bahkan tak bisa menghindar sedikitpun. Karena setiap aku mencoba menghindar, tapi takdir kembali mempertemukan kami.


[Tiga hari kemudian]


Aku benar benar datang ke acara itu, aku datang menggunakan pakaian formal. Aku mengikat rambutku tinggi dan memakai riasan simpel di wajahku. Aku datang bersama Tante Dona karena kebetulan om Haris juga di undang. Saat sedang menikmati makananku, Taeil muncul dari arah belakang.


"Sofi" panggil Taeil. Aku menoleh dan tersenyum padanya. "Kau datang?" Tanya Taeil. Aku mengangguk.


"Ini karena om Haris yang memaksaku" ucapku sedikit berbisik. Taeil tertawa kecil dan aku langsung memukul lengannya pelan. "Kau fikir ini lucu?" Tanyaku kesal. Taeil menghela nafas.


"Nikmati pestanya ya, aku akan kembali nanti. Aku harus menemui beberapa tamu yang lain" ucap Taeil. Aku mengangguk dan kami saling melempar senyum. Aku kembali berbincang dengan Tante Dona. Tiba tiba Bian muncul dan langsung memeluk pinggangku.


"Hei, lepaskan" ujarku pelan. Aku memberontak, dan syukurnya orang orang tidak memperhatikan kami, bahkan om Haris juga mengajak Tante Dona untuk menjauh.


"Apa karena kau tau aku tak bisa mengganggu Taeil, jadi kau bebas dekat dengannya?" Tanya Bian. Kini aku dan dia saling menatap. aku kembali memberontak tapi pelukannya semakin kuat.


"Bian, ayo kita menyambut tamu yang lain" ajak Rose. Dasar penggoda! Batinku.


"Pergilah, Aku akan menyusul" ucap Bian. Aku tak menyangka Bian akan menolak ajakan Rose. Rose benar benar pergi setelah Bian menolak ajakannya.


"Kenapa kau tidak pergi dengannya" Tanyaku.


"Jika aku pergi kau akan terluka lagi" jawab Bian. "Bersikaplah seperti kita adalah sepasang kekasih" imbuhnya.


"Kalau kau hanya menggunakan aku untuk membuat Rose cemburu, lebih baik kau pergi" ujarku. Aku kemudian menggeleng. "Aku yang akan pergi dari sini" imbuhku.


"Apa kurang bagimu untuk menjadi pacarku?" Tanya Bian. "Dasar wanita serakah, kalau begitu ayo kita menikah" ajaknya. Aku sontak membulatkan mataku. Apa dia fikir pernikahan itu sebuah ajang untuk mencari hiburan?.


"Berhenti mengucapkan omong kosong Bian" aku mengalihkan pandanganku.


"Baiklah. Aku anggap kau setuju" ucap Bian. Aku kembali menoleh menatapnya. Bian mendekatkan wajahnya. "Aku mencintaimu" ucapnya lalu tersenyum lebar. Tiba tiba usahaku untuk menghapusnya gagal seketika. Aku merasakan hatiku menghangat melihat senyumnya, senyum yang selalu mampu menghipnotis ku.


****


Setelah hari itu hari dimana Bian menyatakan cintanya, aku tak langsung percaya. Saat itu, aku langsung pergi meninggalkannya. Kenapa mudah sekali baginya untuk melupakan segalanya sedangkan aku mati matian menahan sakit karena dia. Aku tak akan mudah terpengaruh lagi, kalau dia bisa mengabaikan ku, kenapa aku tidak?.


Aku duduk di bangku yang ada di taman. Sedari tadi aku hanya melamun dan melamun. Aku terkejut saat seseorang mengacak rambutku lembut. Aku langsung menoleh dan seketika aku terdiam.


"Hai apa kabar?" Tanya Randu dengan senyum manisnya. Aku bahkan tak bisa mengatakan apapun. "Sofia" panggilnya. Aku yang kalut langsung panik dan mencari cari dimana minum ku padahal ia berada di tanganku. Aku lihat Randu tertawa, dan aku sangat merindukan itu.


"Kabarku baik" jawabku. "Kau pasti baik juga kan?" Tanyaku. Randu menggeleng.


"Siapa orang yang akan baik baik saja setelah patah hati?" Tanya Randu. Oh tuhan, aku ingin sekali menangis dan memeluknya. Aku ingin berteriak di telinganya kalau aku sangat merindukannya.


"Bukankah kau bahagia bersama Arin?" Tanyaku. "Aku bahkan bisa melihat kebahagiaan itu di matamu" imbuhku.


"Aku hampir tidak percaya kita berpisah tanpa sebab yang pasti" ucap Randu. "Apa kita tidak terlalu egois menyakiti dua orang yang tak bersalah?" Tanya Randu. Randu menghela nafas. "Aku salah ketika berfikir bahwa ini yang terbaik untuk kita, aku mengalah pada seseorang yang ku anggap lebih mencintaimu" imbuhnya. Aku mendongakkan kepalaku mencegah air mataku jatuh.


"Kita tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri, bukan?" Tanyaku. "Untuk waktu yang lama, kita saling berbagi segalanya. Jadi kita hanya butuh waktu untuk saling terbiasa" ucapku. Aku ingin mengatakan bahwa aku merindukannya, tapi tiba tiba Arin muncul dan langsung melayangkan tatapan tak suka. Aku sempat berfikir mungkin dia adik dari Rose si ular itu, tatapannya mirip sekali.


"Kau disini?" Tanya Arin. Randu hanya menjawab dengan singkat. Aku kemudian mengambil tasku dan aku segera berdiri.


"Aku harus pergi" aku tersenyum pada keduanya kemudian bergegas pergi. Aku harusnya menyadari satu hal, Randu bukan milikku lagi. Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, tiba tiba seseorang menarik tanganku.


"Sofia ...."


Bersambung.....