
Reen meraba-raba sisi kasur mencari seseorang , tapi nihil . Dia pun akhirnya membuka mata yang masih mengantuk . Tetap saja orang yang ia cari tidak ada di dalam kamar .
Kemudian ia memilih untuk kembali tidur , toh Joe mungkin sudah berangkat kerja , dan mau kuliah pun ia sudah telat . Dia pun kembali menarik selimut . Memejamkan mata .
Ceklek !
" Astaga , Reen ! Ini sudah hampir sore dan kau masih belum bangun ?! " seru Joe sambil mencoba menarik selimut Reen .
Reen menahan selimutnya , karena ia masih mengantuk dan sangat lelah .
" Nnggg "
" Reen bangun atau aku sendiri yang akan menggendong mu ke kamar mandi ? "
" Ayolah Joe , aku masih mengantuk..."
" Tak ada tawar menawar ! " Joe langsung menggendong Reen menuju kamar mandi .
Bukannya menolak , Reen malah makin mempererat pelukannya di leher Joe . Joe mengisi bathup dengan air hangat , lalu menceburkan Reen kedalamnya .
" Aww , sakit Joe ! Kau melempar ku terlalu keras "
" Itu salah mu ! "
Joe melepaskan pakaian nya dan ikut masuk ke dalam bathtub bersama Reen .
" Hey ! Ku kira kau sudah mandi " tanya Reen
" Memang "
" Lalu ? "
" Aku hanya ingin "
Saat ini Joe memeluk Reen dari belakang , Reen yang sedang duduk di atas kaki Joe pun hanya tersenyum .
Reen menuangkan sabun mereka ke dalam air , wangi coklat dan strawberry pun bercampur . Membuat suasana diantara mereka makin manis .
Joe meletakkan dagunya pada bahu Reen dan Reen menyandarkan kepalanya dia atas kepala Joe . Ia tak ingin melewatkan kebersamaanya yang manis dengan Joe .
Reen mengerti , setelah kenyamanan ini selesai , penderitaan akan kembali padanya . Satu yang Reen tau Joe akan bersikap baik sebelum menyiksanya dengan kejam .
___
______
" Setelah ini kita akan pergi untuk membeli peralatan untuk cafe mu , dan juga memilih dekorasi yang cocok " ujar Joe ketika mereka selesai berpakaian .
" Sekarang ? "
" Hmm "
" Mengapa kau tidak mengatakan sebelum aku memakai baju tidur ? Dan sekarang aku harus mengganti kembali pakaianku " Reen cemberut .
" Kau tidak bertanya , ya sudah cepat ganti pakaianmu " kata Joe sambil duduk melipat kakinya di atas kasur .
" Kalau begitu kau tunggu dulu di luar , aku mau mengganti pakaian ku "
" Sejak kapan kau diperbolehkan untuk memerintahku ? "
Reen menghela nafas , lalu berbalik untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan .
Walau Joe sudah melihat seluruh tubuhnya , namun tetap saja Reen merasa malu jika terus ditatap lekat seperti saat ini .
Reen melirik Joe sekilas , saat ini Joe sedang mengenakan celana jeans yang di padukan dengan kaos oblong warna biru .
Joe yang merasa diperhatikan , mengerutkan keningnya .
" Apa ? " tanya Joe
" Tak ada " jawab Reen singkat sambil tersenyum lalu membalikkan badannya kembali .
Akhirnya Reen memilih celana jeans dan kaos berwarna putih dan kardigan warna biru yang senada dengan kaos Joe .
Joe yang melihat itu hanya tersenyum . Ternyata tadi Reen memerhatikan pakaiannya untuk mencocokkan dengan apa yang akan ia kenakan .
Joe terus memperhatikan tiap gerak\-gerik wanita dihadapan nya itu .
Saat ini Reen sedang menyisir rambut kemudian menggelung nya hingga mengekspos leher nya yang putih .
Joe kesal melihat Reen yang membiarkan lehernya terlihat . Ia berdiri lalu menarik tali rambut Reen .
" Hey ! Apa yang kau lakukan ? " pekik Reen tak terima karena ia telah susah payah menggelung rambutnya yang panjang itu .
" Diamlah ! Aku hanya tak ingin orang lain melihat lehermu ! "
Lalu Joe menyisir kembali rambut Reen , mengambil sedikit rambut dari setiap sisi kanan dan kiri .
Melunturnya perlahan , kemudian mengikatkan karet kecil di ujungnya . Joe menarik rambut itu ke belakang kepala Reen , membuat simpul yang indah .
Dan untuk menambah keindahan nya , Joe menjepit ikatan itu dengan jepit berbentuk bunga melati .
Reen memang suka memakai jepit , jadi ia banyak mengoleksi aksesoris jepit-jepit yang indah .
" Selesai " seru Joe tersenyum sambil menatap Reen lewat cermin .
" Terima kasih Joe , aku tak menyangka kau pandai melakukan hal seperti ini "
" Sudahlah , ayo kita berangkat sebelum malam "
" Ayo "
____
______
Reen dan Joe duduk bersampingan di dalam cafe baru mereka . Orang-orang tampak sibuk memindahkan barang-barang yang dibutuhkan cafe .
Joe yang mengurus semuanya , ia tampak sangat pandai mendekorasi ruangan . Semua yang ia pilih tampak cocok .
" Joe kau sangat hebat ! " seru Reen sambil menatap seluruh sudut ruangan.
Ruangan yang tadinya kosong sekarang telah disulap menjadi sangat indah , menarik , dan natural .
Selain memberikan kesan natural, penggunaan material kayu juga memberikan nuansa hangat di dalam cafe yang bisa dibilang sangat luas itu .
Dipadukan dengan penempatan lighting yang sesuai serta tambahan dekorasi seperti tanaman hias dalam ruangan sebagai taman vertikal pada dinding , desain cafe sederhana ini tampak estetik .
Ditambah lagi dengan buku\-buku bacaan yang disediakan untuk para pengunjung .
" Oh ya Joe , kau akan menamakan apa cafe ini ? "
" Lo Siento "
" Lo Siento ? " tanya Reen sambil memiringkan kepala bingung .
" Ya , Lo Siento . Dari bahasa spanyol yang artinya maafkan aku "
" Maafkan aku ? " kini Reen makin bingung , biasanya nama\-nama cafe yang di ambil dari kata\-kata positif tapi ini ? Ah , Joe memang membingungkan .
" Cafe ini di buat sebagai tanda permintaan maaf ku padamu . Maaf karena aku tak akan pernah bisa mencintaimu "
Seketika hati Reen terasa sakit , seperti ditusuk dengan benda tajam lalu dicabut dan di tusuk kembali . Reen tau bahwa Joe tidak akan mencintainya , tapi mendengar sendiri dari mulut Joe membuat Reen makin tersakiti .
Akan lebih baik jika Joe tidak mengatakannya . Setidaknya saat Joe bersikap manis itu akan membuatnya merasa di cintai dan melupakan bahwa itu hanya rencana Joe untuk membuatnya menderita .
Sekarang semuanya tampak jelas , Joe tidak akan mencintainya .
Reen tersenyum menatap mata Joe yang terlihat sangat serius saat mengatakan itu .
" Tak apa , setidaknya aku bersama mu juga sudah cukup "
" Kau juga harus segera meninggalkan ku saat aku menemukan gadis yang aku cintai "
Mata Reen memanas , ia sudah tak kuasa menahan buliran bening untuk jatuh . Ia segera mengusap air matanya .
Reen memang hanya seorang pengganti , dan saat pemilik hati Joe yang sesungguhnya datang ia harus pergi . Pergi jauh dari kehidupan Joe .
" Joe , biarkan aku mencintaimu . Dan ketika wanita itu datang aku akan pergi , menjauh dari kehidupanmu selamanya " air mata Reen kembali menetes saat mengatakan itu . Kata yang sebenarnya tak sanggup ia katakan .
" Wah..Mrs.Aryan sangat beruntung ! Mr.Aryan membelikannya sebuah cafe untuk usahanya sendiri . Lihat , dia terharu sampai menangis , dan Mr.Aryan menghapuskan air matanya ! " ucap salah satu pekerja wanita berbisik pada wanita di sampingnya
" Iya , aku sangat iri dengan Mrs.Aryan dia mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari suaminya "
Perkataan mereka terdengar sampai ke telinga Reen . Dia menoleh kemudian tersenyum kecut ke arah mereka , yang mereka pun ikut tersenyum .
" Reen kita akan membuka peresmian cafe ini minggu depan " ucap Joe
" Kau yang lebih mengetahuinya Joe , aku akan mengikuti semua perintah mu " Reen tersenyum
" Baiklah , ayo sekarang kita pulang . Biarkan sisanya diurus oleh sekretaris ku "
" Baiklah " Reen mengikuti Joe yang kini tengah menggenggam tangannya , mengajak nya untuk pulang .
____
_______
" Joe , bukankah kau mengatakan bahwa pembantu kita akan datang hari ini ? Mengapa aku belum melihatnya dari tadi ? " tanya saat mereka sudah berada di rumah . Keduanya duduk bersantai di kursi taman . Menikmati suasana yang disuguhkan malam .
" Sudah ku katakan , dia tidak boleh datang jika Akay berada di rumah . Dan kau tau seharian ini aku berada dirumah karena mu "
" Maaf " kata Joe sambil tersenyum .
" Hmmm "
Joe berdiri , lalu berjalan menuju bunga mawar yang hampir rusak karena Reen terjatuh . Dia menyentuh pucuknya , menciumnya sambil memejamkan mata .
" Dimana kau ? Kapan kau akan kembali ? Maaf , aku tidak bisa menepati janji untuk hanya menikah denganmu . Tapi aku akan menceraikan nya saat kau kembali . Karena itu kembalilah padaku...." gumam Joe lirih , namun sangat jelas di telinga Reen yang berada tak jauh darinya .
Reen menghela nafas .
" Begitu besarkah cintamu padanya Joe ? "
" Ya , aku akan melakukan apapun untuk menemukannya . Hidupku adalah miliknya "
" Benar , aku tau apa yang kau rasakan Joe . Aku juga begitu . Aku sangat mencintaimu , penantian ku hanya untukmu , dan hidupku adalah milikmu "
" ... "
" Perbedaannya adalah...aku sudah menemukanmu , sedangkan kau belum menemukannya "
" ... "
" Dan disaat kau telah menemukannya masa penantian mu akan berakhir , sedangkan aku harus menghabiskan sisa hidupku untuk menanti lagi . Menanti hati ku untuk menghilangkan rasa cintanya padamu , menanti otak ku untuk berhenti berpusat padamu dan menanti pikiranku untuk melupakanmu . Selamanya "
" ... "
Joe terdiam mendengar perkataan Reen . Entah mengapa saat Reen mengatakan akan menghilangkan rasa cintanya dan melupakannya selamanya terasa begitu menyakitkan .
Dia berbalik ingin menggenggam tangan Reen , namun Reen sudah ada disana , tak ada di belakanganya , tak di dekatnya .
Wanita itu kini sudah lari menjauh , meninggalkannya yang masih tak mampu berkata\-kata .
Ia terduduk , air matanya mengalir seperti sepuluh tahun yang lalu . Saat dimana ibunya meninggalkannya . Joe menangis , yang ia sendiri tak tahu mengapa ia menangis .
Joe kembali ke rumahnya dan masuk ke dalam kamar , disana ia melihat Reen sedang tertidur namun terkadang nafasnya terlihat tercekat .
Sepertinya Reen juga menangis sampai tertidur . Joe mengambil bantalnya kemudian keluar kamar hendak tidur di ruang tamu . Ia tak ingin mengganggu Reen untuk saat ini .
___
_____
Saat Reen terbangun Joe tak ada di sampingnya , dia langsung mengecek kamar mandi , tidak ada . Akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar .
Reen melihat Joe sedang memakan sandwich buatannya sendiri . Dia sudah rapi dengan memakai setelan jas berwarna biru dongker .
" Joe , aku minta maaf hari ini aku bangun kesiangan sehingga tidak dapat membuatkan mu sarapan dan membantumu berpakaian "
" Bukan masalah , aku memang mau berangkat lebih awal "
" Kalau begitu , mau kubuatkan segelas kopi ? "
" Tidak perlu , aku akan berangkat sekarang . Dan jangan lupa hari ini pembantu kita akan datang , kau tunggulah dirumah sampai bertemu dengannya "
" Baik , aku mengerti "
" Aku berangkat dulu "
" Hati\-hati Joe "
" Hmm "
Dan benar saja , tak lama setelah Joe pergi , pintu rumah diketuk . Reen segera berjalan untuk membukanya .
" Selamat pagi , Nyonya . Saya Julie , pembantu baru yang di minta oleh Mr.Aryan untuk berkerja disini " jelas wanita empat puluhan itu memperkenalkan diri .
" Baiklah July , silahkan masuk "
" Terima kasih Nyonya " July masuk mengikuti Reen .
" Rumah ini tidak terlalu besar , jadi akan sangat memudahkan pekerjaan mu , kau dapat membersihkan seluruh ruangan kecuali kamarku . Itu biar aku saja yang mengurusnya "
" Saya mengerti , Nyonya "
" Kalau begitu aku akan bersiap untuk kuliah " ujar Reen sambil tersenyum
" Silahkan Nyonya "
Reen masuk kedalam kamarnya untuk bersiap . Lima belas menit kemudian ia sudah keluar dengan penampilan yang rapi .
" July , aku akan berangkat " Reen pamit dan menyambar tasnya
" Nyonya maaf , bisakah saya meminta nomer handphone anda ? Agar saya dapat menghubungi anda jika saya sudah selesai berkerja "
" Oke . Berikan ponsel mu ! " Reen menyimpan nomernya dan mengembalikan kembali pada July
" Terima kasih , Nyonya "
" Kalau begitu aku akan berangkat sekarang "
" Silahkan Nyonya "
___
_____
**Satu minggu kemudian**
Tak ada yang berubah dari seminggu terakhir , kecuali sikap Joe yang sering menghindari Reen .
Reen juga hendak bertanya namun segera ia urungkan . Saat ini mereka sudah berada di dalam cafe baru . Acara peresmian akan segera dimulai .
Joe melirik Reen , tampak jelas sekali raut gugup di wajah nya . Dia menggenggam tangan Reen erat .
" Ada aku disini , kau tak perlu khawatir "
" Aku sangat gugup Joe , apalagi dengan menampilkan ku saat ini " reen terlihat tak nyaman dengan gaunnya .
Memang saat ini Reen memakai gaun yang cukup terbuka . Sebenarnya iya tak ingin , tapi Daisy bilang gaun ini akan sangat cocok untuk acara seperti ini . Akhirnya pun ia terpaksa menurutinya .
" Kau cantik Reen , lihat para wanita\-wanita itu tampak iri melihatmu " hibur Joe
" Tapi..."
" Sudahlah , acara akan dimulai . Sebaiknya kau mainkan peranmu dengan baik "
" Iya "
Lo Siento cafe pun resmi dibuka . Di hari pertama setelah peresmian cafe langsung ramai di datangi pengunjung .
Joe dan Reen tenggelam dengan kesibukan masing\-masing dan jarang menghabiskan waktu bersama .
Joe pulang ketika Reen sudah tertidur dan Reen berangkat sebelum Joe terbangun . Begitu seterusnya hingga suatu pagi Reen merasa agak mual .
Ia berjalan terburu\-buru menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya . Joe yang mendengar itu langsung terbangun dan menyusul Reen ke dalam kamar mandi .
" Joe..."
" Reen kau kenapa ? Apakah kau ........