
Embun pagi menyapa melalui dedaduan , tetes demi tetes jatuh ke tanah , membuat helai daun seperti menari dari kejauhan .
Kicauan burung yang saling bersautan membuat irama indah dipagi hari yang sedikit berkabut .
Cahaya matahari mengintip dari balik awan keabu-abuan , malam dingin dan pagi yang basah . Namun tidak dapat menghilangkan senyum seorang pria yang sedang memandangi istrinya sayang .
Dibelainya lembut rambut sang istri yang menatap kosong langit-langit kamar . Ternyata istrinya sudah bangun lebih dulu daripada dirinya .
" Selamat pagi , sayang " sapanya sambil mengecup ringan bibir sang istri .
Tidak ada respon , tidak ada pergerakan , hanya kedipan mata yang Joe dapat . Tak apa , Joe cukup bahagia dengan itu . Setidaknya , ia dapat melihat mata Reen yang indah .
Joe yakin , suatu saat Reen akan sehat kembali dan hidup bahagia bersamanya .
Ia masuk kedalam kamar mandi , menyiapkan air hangat lalu kembali untuk menggendong Reen dan membawanya kedalam kamar mandi .
Dia melepaskan satu-persatu pakaian yang menutupi tubuh indah Reen yang ternyata tidak berubah sedikitpun dari yang terakhir ia lihat .
Joe berendam di dalam bathtub dan membawa Reen bersamanya . Dengan hati-hati Joe membersihkan tubuh Reen dengan sabun mereka , wangi coklat bercampur strawberry pun menyeruak memenuhi ruangan .
" Aku merindukan ini " bisik Joe ditelinga Reen .
Dan Reen masih tetap sama , tidak merespon apapun . Ia hanya diam mengikuti setiap pergerakan Joe .
Setelah merasa beres , Joe membilas tubuhnya dan Reen lalu memakaikan piyama mandi pada Reen .
Ia kembali mengangkat tubuh Reen dan merebahkannya diatas kasur . Joe berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian yang sekiranya Reen akan merasa nyaman .
Joe mendudukkan Reen di sandaran ranjang , lalu memakaikan pakaiannya . Walau sedikit kesulitan , tapi akhirnya Joe berhasil memakaikannya .
Ia menggendong kembali Reen dan mendudukkan di depan meja riasnya dengan tubuh Joe sebagai sandaran . Joe menyisir rambut panjang Reen lembut , takut menyakitinya .
Lalu memasangkan jepit bunga berwarna putih yang menjadi favorit Reen dulu . Dia memoleskan bedak tipis di wajah pucat Reen .
" Kau sangat cantik , Reen " gumam Joe pelan .
Kemudian dia memindahkan Reen ke kursi roda . Ia memandangi wajah Reen sesaat , lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Reen .
Joe mengecup lembut bibir atas dan bawah Reen bergantian lalu kembali menjauhkan wajahnya saat dirasa cukup .
" Bibirmu terlalu pucat , jadi aku hanya membantumu untuk memerahkannya ! " ujar Joe pelan sambil menyelipkan rambut Reen ke belakang telinganya .
" Lihat kau terlihat lebih cantik sekarang ! " pujinya sambil tersenyum .
Lalu Joe mendorong kursi roda Reen menuju ruang makan , mereka adalah orang pertama yang sampai disana . Tak lama kemudian Sarah datang , kemudian disusul oleh Robert .
" Dimana Lio ? " tanya Joe tiba-tiba .
" Sebentar lagi dia tur..."
" Selamat pagi Dad , Mom , Uncle , Nenek !!! " belum selesai Sarah melanjutkan kata-katanya , Lio sudah berteriak sambil berlari menuruni tangga .
" Astaga , Lio ! Bisakah kau tidak berlari satu kali saja ??! " bentak Sarah kesal .
Ia merasa heran dengan tingkah proaktif cucu satu-satunya itu .
" Dia sungguh mirip denganmu waktu kecil , Joe ! Tidak bisa diam ! " umpat Sarah sambil melirik Joe .
" Mirip denganku ? Bagaimana ibu bisa tau ? " tanya Joe penasaran .
Tentu saja ia merasa bingung , bagaimana mungkin Sarah bisa mengetahui sifat Joe ketika itu . Padahal ia merasa bahwa saat ia menginjakkan kaki di rumah ini , maka saat itulah pertama kalinya ia melihat Sarah .
" Kami dulu adalah sahabat baik " jawab Sarah singkat .
" Kami ? " tanya Joe makin penasaran .
Sebenarnya Robert juga penasaran tapi , ia lebih memilih untuk diam dan membiarkan Sarah menjelaskannya melalui pertanyaan Joe .
Berbeda dengan Lio , ia cuek dan memilih untuk menyantap makanan didepan .
' Pembahasan orang dewasa yang pastinya akan sulit dimengerti oleh anak kecil seperti ku ! ' batin Lio sambil terus mengunyah .
" Aku , Joseph , dan Bredley . Dulu kami adalah sahabat baik dari kecil , bahkan hingga ayahmu menikahi Jane , ibumu " Sarah berhenti sejenak , lalu melanjutkan ceritanya .
" Kami juga ikut merawat kau yang masih kecil . Terkadang , Bredley memintaku untuk menjagamu saat dia sedang sibuk . Jadi tentu saja aku tau , bagaimana tingkah nakalmu saat itu ! " cerita Sarah sambil tersenyum .
" Lalu , apakah ayah menikahkan ku dengan Reen karena dia tau bahwa Reen adalah anakamu ? " Joe kembali bertanya .
" Kurasa bukan itu alasannya . Apa kau ingat saat ayahmu mengalami Amnesia karena kecelakaan dulu ? " Sarah balik bertanya
" Ya , jika tidak salah ingat , waktu itu umurku sekitar 8 tahun "
" Benar . Karena hubungan kami sempat terputus beberapa tahun sebelum itu , membuatnya tidak dapat mengenali kami " kata Sarah dengan nada sedih .
" Lalu , apakah kau bibi yang waktu itu ? Bibi yang memelukku erat saat menunggu ayah di depan ruang operasi ? "
" Ya , itu adalah aku " ucap Sarah tersenyum .
" Ya Tuhan ! Mengapa ibu tidak mengatakannya padaku ? "
Sarah hanya tersenyum , lalu mulai menyantap makanannya . Joe kesal dengan sikap Sarah yang tak menjawab pertanyaannya .
Dilihatnya Robert yang sedang menahan tawa sambil menatap wajah kesalnya yang seperti anak kecil .
" Baiklah...baiklah...aku tidak akan bertanya lagi ! " gumamnya pelan sambil menyuapkan potongan roti isi keju kedalam mulutnya .
" Jadi , siapa yang akan mengantarku pagi ini ? " tanya Lio setelah menyeruput habis susunya .
" Biar Dad yang mengantarmu ke sekolah ! "
" Bukankah kau harus menemani Reen menjalani terapi , Joe ? " tanya Sarah .
" Ya , aku akan melakukannya setelah mengantar Lio "
" Baiklah kalau begitu "
Merekapun melanjutkan sarapan mereka dengan khidmat , walaupun sesekali terdengar gelak tawa karena tingkah konyol Lio .
Joe , Robert , dan Lio berpamitan pada Sarah . Sarah melambaikan tangannya saat melihat anak-anak dan cucunya pergi .
' Aku merindukan kalian...' ucap Sarah lirih , lalu berlalu dan masuk kedalam rumahnya .
***
Joe mendudukkan Reen di kursi depan , ia memasangkan sabuk pengaman untuk Reen dan menurunkan sandaran kursi agar Reen merasa nyaman .
Sedangkan Lio memilih duduk dikursi penumpang , sebenarnya ia sangat ingin duduk dipangkuan ayahnya . Tapi , ia urungkan karena takut mengganggu .
" Dad , Minggu depan akan ada pentas seni disekolah dan aku ditunjuk sebagai pemeran utama dalam drama . Kata bu guru , semua orang tua harus hadir , terutama ibu karena pentas ini diadakan untuk merayakan hari ibu ! " seru Lio saat mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolah .
" Tidak bisakah hanya Dad yang datang ? " tanya Joe
" Memangnya aku punya pilihan ? Walaupun aku sangat menginginkan Mom hadir tapi pada kenyataannya Mom tetap tidak akan bisa , bukan ? " kata Lio lalu berlari masuk ke sekolah .
Terlihat jelas kesedihan di wajah Lio , Joe tau anaknya itu pasti sedang menahan tangis . Ia menatap sedih punggung Lio yang berlari .
" Apa yang harus kulakukan , Reen ? " tanya Joe sambil menatap Reen sendu .
Kemudian ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit .
Ia menyalakan GPS karena ia memang belum hafal jalanan di kota A . Perjalanan yang harusnya hanya butuh 1 jam berubah menjadi 1 jam setengah karena Joe yang beberapakali salah jalan .
Setelah sampai di lobi rumah sakit , Joe memindahkan Reen ke kursi rodanya . Lalu berjalan menuju dokter fisioterapis yang akan menangani Reen .
Saat ini Reen hanya bisa menjalani beberapa terapi saja , karena kondisinya yang masih belum bisa bergerak .
Joe dengan setia menemani Reen hingga terapi nya selesai . Dokter juga menyarankan pada Joe untuk melakukan terapi-terapi manual untuk meregangkan otot-otot Reen .
" Sayang , apa kau sudah merasa lebih baik ? " tanya Joe saat hendak memindahkan Reen kembali ke dalam mobil .
"..."
" Baiklah , sekarang waktunya kita kembali ! " ucap Joe lalu segera menjalankan mobilnya untuk pulang .
***
" Huff...apa kau lelah sayang ? " tanya Joe sambil mengelus pipi Reen lembut .
" ... " Reen diam .
" Mari tidur , aku lelah ! " seru Joe pelan lalu memeluk tubuh Reen yang tampak lebih kurus .
Ia membenamkan wajahnya di bahu Reen hingga benar-benar tertidur .
Maureen POV
Aku merasakan tanganku digenggam erat oleh seseorang yang aku yakini adalah orang yang sangat aku rindukan .
Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat , setelah bersusah payah melawan diriku sendiri akhirnya aku berhasil .
Mataku terbuka dan aku dapat melihat sosok itu , orang yang aku rindukan . Dia terus menangis sambil menggenggamku , hatiku sakit saat melihatnya seperti itu .
Aku mencoba mengangkat tanganku untuk meraihnya .
' apa ini ? Mengapa tanganku tidak dapat digerakkan ? '
' Joe...! Joe...! tolong aku , tanganku tidak bisa bergerak ! '
' Joe , kumohon berhentilah menangis ! ' ucap ku dalam hati , entah mengapa seluruh tubuhku tak bisa kugerakkan .
Kudengar tangis Joe makin menjadi , hingga airmatanya membasahi tanganku .
Aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini . Tanpa sadar , airmataku pun ikut terjatuh . Aku terus mencoba menggerakkan tanganku , ' berhasil ! ' seruku dalam hati saat aku merasakan jariku tergerak .
Joe mendongakkan kepalanya ke arahku , ia tampak terkejut dan langsung berlari keluar kamar . Aku bisa mendengar jelas saat ia memanggil ibu dengan gugup .
Tak butuh waktu lama , Ibu , Robert dan Joe pun masuk ke dalam kamarku . Dokterpun langsung memeriksa keadaanku .
" Bagaimana dok ? " tanya ibu khawatir .
Dokter pun menjelaskan secara rinci tentang keadaanku saat ini . Jujur , aku sangat terkejut saat mendengar itu semua .
' Aku tidak dapat melakukan apapun ? '
Aku kembali menangis , tapi Joe langsung menggenggam tanganku erat sambil terus menatapku .
" Aku akan menjagamu , jika perlu aku akan mengabdikan hidupku untukmu ! Jadi , kau tak perlu khawatir karena aku selalu ada disini , disampingmu ! Selalu dan selamanya... " ucap Joe pelan sambil mengelus keningku lembut .
' Joe....aku mencintaimu...' ucapku yang tak mungkin didengar oleh Joe .
Ibu , Robert dan Joe terus menemaniku dalam hening hingga suara Robert menyadarkan mereka .
" Astaga , ini sudah jam pulang Lio ! " serunya .
' Lio ? Bagaimana dia sekarang ? Apa dia sudah besar ? ' tanyaku membatin .
Aku melihat Joe dan Robert pergi , yang aku tau Joe akan menjemput Lio dan Robert akan menghadiri rapatnya .
Hanya aku dan ibu yang berada disini . Ibu mengelus rambutku sayang , lalu mengecup keningku . Sebenarnya aku sangat ingin memeluknya , tapi apalah daya ? Bahkan untuk menggerakkan bibirku saja aku tak sanggup .
Satu jam kemudian , aku mendengar suara pintu kamarku dibuka . Saat ini aku sedang duduk di sebuah kursi roda dan menatap keluar jendela kamarku .
" Momy...!! " seru Lio sambil menangis dan memeluk kakiku .
' Kau sudah besar , sayang ? Bagaimana kabarmu ? ' tanyaku , berharap bahwa Lio bisa mendengarnya .
Lio menatapku senang tetapi , raut wajahnya berubah saat menyadari bahwa aku sama sekali tidak merespon kehadirannya .
" Dad , Mom ? " ia menoleh ke arah Joe .
" Sayang , Mom belum sembuh sepenuhnya . Jadi , bersabarlah sebentar lagi . Mom pasti akan sembuh suatu saat nanti ! " ujar Joe sambil mengelus pundak Lio .
Lio tetap menangis sambil terus menatapku .
' Lio , jangan menangis ! Mom , sedih melihatmu seperti ini ! ' ujarku .
" Mom...." panggil Lio lalu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku .
" Mom...percayalah padaku , aku akan menjadi anak yang baik "
' Kau memang anak yang baik , Lio ! '
" Aku janji , aku tidak akan nakal lagi ! Jadi , Mom cepatlah sembuh !
Tidakkah kau merindukan ku ? Kau bahkan belum pernah menemaniku bermain !
Kau belum pernah menemaniku tidur ! Belum pernah memasakkan sarapan untuk ! Belum pernah membantuku mandi !
Bahkan kau belum pernah memelukku !! Aku hanya ingin kau membalas pelukanku , Mom ! Jadi , kumohon....hiks...hiks..." Lio tak dapat melanjutkan kata-katanya , suaranya tercekat menahan tangis .
' Astaga Lio ! Apa yang kau katakan ? Mom sangat merindukanmu , Mom juga ingin menemanimu bermain , membuatkan sarapan untukmu , membantu mandi , dan melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang ibu !
Mom sangat ingin memelukmu , sayang ! Maafkan Mom yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu ! ' kataku sedih .
Joe langsung memeluk Lio dan menenangkannya . Setelah cukup tenang , Joe membawa Lio kekamarnya .
____
_______
Aku terbangun dari tidur dan merasakan tangan Joe tengah memeluk perutku . Kurasa dia masih tertidur . Tak ada yang bisa kulakukan saat ini , kecuali memandangi langit-langit kamar .
Tak lama kemudian , Joe bangun . Ia tampak menggeliat sebentar , lalu membelai lembut rambutku .
" Selamat pagi , sayang ! "
Lalu aku dapat merasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku . Ia mencium bibirku dengan lembut , ciuman yang sangat aku rindukan .
Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju suatu tempat yang kutebak adalah kamar mandi . Tak lama kemudian dia kembali , lalu menggendongku masuk kedalam kamar mandi .
Ia melepaskan seluruh pakaianku dan aku merasa sangat malu akan itu .
' Dasar kau , laki-laki mesum ! ' umpatku .
Setelah selesai , ia pun berendam di bathtub dan membawaku bersamanya . Ia juga menuangkan sabun yang biasa kita gunakan .
Wangi perpaduan antara cokelat dan strawberry pun tercium oleh indra penciumanku .
" Aku merindukan ini " bisiknya tepat di telinga ku , yang berhasil membuat jantungku mempercepat detakannya .
Setelah itu , Joe melakukan semuanya untuk ku . Memilih dan memakaikan pakaian , menyisir rambutku dan bahkan memoleskan bedak untukku .
Aku menatap bayangan diriku dalam cermin , kini aku sedang duduk di kursi rias dengan Joe sebagai sandaran punggungku .
Joe tampak lebih tampan sekarang . Ia memindahkan ku ke kursi roda dan menatapku dalam , seolah sedang memikirkan sesuatu .
Tanpa aba-aba , Joe langsung mendekatkan wajahnya pada wajahku dan mencium bibir atas dan bawahku bergantian .
Aku sangat ingin membalas ciumannya saat ini , tapi....aku tak bisa . Aku hanya bisa diam menerima semua sikap manisnya padaku pagi ini .
" Bibirmu terlalu pucat , jadi aku hanya membantumu untuk memerahkannya ! " ujar Joe pelan sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga .
" Lihat kau terlihat lebih cantik sekarang ! " pujinya sambil tersenyum .
' Astaga , kau ini benar-benar bertambah mesum ! ' umpatku kesal .
Tidakkah ia tau bahwa aku semakin tersiksa karena ciumannya barusan .
Aku hanya bisa diam saat dia membawaku ke ruang makan . Disana hanya tampak ada kami berdua , namun tak lama kemudian Ibu dan Robert muncul .
Kehebohan pun dimulai saat Lio datang . Ibu mengomeli Lio yang sangat tidak bisa diam .
Fokusku tercuri , saat Ibu mulai menceritakan tentang masa lalunya bersama ayah dan Joseph . Tapi ibu hanya menceritakan kisahnya seputar ayah dan dia . Lalu siapa Joseph itu ?