I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
23 # Hanya diam



Embun pagi menyapa melalui dedaduan , tetes demi tetes jatuh ke tanah , membuat helai daun seperti menari dari kejauhan .


Kicauan burung yang saling bersautan membuat irama indah dipagi hari yang sedikit berkabut .


Cahaya matahari mengintip dari balik awan keabu-abuan , malam dingin dan pagi yang basah . Namun tidak dapat menghilangkan senyum seorang pria yang sedang memandangi istrinya sayang .


Dibelainya lembut rambut sang istri yang menatap kosong langit-langit kamar . Ternyata istrinya sudah bangun lebih dulu daripada dirinya .


" Selamat pagi , sayang " sapanya sambil mengecup ringan bibir sang istri .


Tidak ada respon , tidak ada pergerakan , hanya kedipan mata yang Joe dapat . Tak apa , Joe cukup bahagia dengan itu . Setidaknya , ia dapat melihat mata Reen yang indah .


Joe yakin , suatu saat Reen akan sehat kembali dan hidup bahagia bersamanya .


Ia masuk kedalam kamar mandi , menyiapkan air hangat lalu kembali untuk menggendong Reen dan membawanya kedalam kamar mandi .


Dia melepaskan satu-persatu pakaian yang menutupi tubuh indah Reen yang ternyata tidak berubah sedikitpun dari yang terakhir ia lihat .


Joe berendam di dalam bathtub dan membawa Reen bersamanya . Dengan hati-hati Joe membersihkan tubuh Reen dengan sabun mereka , wangi coklat bercampur strawberry pun menyeruak memenuhi ruangan .


" Aku merindukan ini " bisik Joe ditelinga Reen .


Dan Reen masih tetap sama , tidak merespon apapun . Ia hanya diam mengikuti setiap pergerakan Joe .


Setelah merasa beres , Joe membilas tubuhnya dan Reen lalu memakaikan piyama mandi pada Reen .


Ia kembali mengangkat tubuh Reen dan merebahkannya diatas kasur . Joe berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian yang sekiranya Reen akan merasa nyaman .


Joe mendudukkan Reen di sandaran ranjang , lalu memakaikan pakaiannya . Walau sedikit kesulitan , tapi akhirnya Joe berhasil memakaikannya .


Ia menggendong kembali Reen dan mendudukkan di depan meja riasnya dengan tubuh Joe sebagai sandaran . Joe menyisir rambut panjang Reen lembut , takut menyakitinya .


Lalu memasangkan jepit bunga berwarna putih yang menjadi favorit Reen dulu . Dia memoleskan bedak tipis di wajah pucat Reen .


" Kau sangat cantik , Reen " gumam Joe pelan .


Kemudian dia memindahkan Reen ke kursi roda . Ia memandangi wajah Reen sesaat , lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Reen .


Joe mengecup lembut bibir atas dan bawah Reen bergantian lalu kembali menjauhkan wajahnya saat dirasa cukup .


" Bibirmu terlalu pucat , jadi aku hanya membantumu untuk memerahkannya ! " ujar Joe pelan sambil menyelipkan rambut Reen ke belakang telinganya .


" Lihat kau terlihat lebih cantik sekarang ! " pujinya sambil tersenyum .


Lalu Joe mendorong kursi roda Reen menuju ruang makan , mereka adalah orang pertama yang sampai disana . Tak lama kemudian Sarah datang , kemudian disusul oleh Robert .


" Dimana Lio ? " tanya Joe tiba-tiba .


" Sebentar lagi dia tur..."


" Selamat pagi Dad , Mom , Uncle , Nenek !!! " belum selesai Sarah melanjutkan kata-katanya , Lio sudah berteriak sambil berlari menuruni tangga .


" Astaga , Lio ! Bisakah kau tidak berlari satu kali saja ??! " bentak Sarah kesal .


Ia merasa heran dengan tingkah proaktif cucu satu-satunya itu .


" Dia sungguh mirip denganmu waktu kecil , Joe ! Tidak bisa diam ! " umpat Sarah sambil melirik Joe .


" Mirip denganku ? Bagaimana ibu bisa tau ? " tanya Joe penasaran .


Tentu saja ia merasa bingung , bagaimana mungkin Sarah bisa mengetahui sifat Joe ketika itu . Padahal ia merasa bahwa saat ia menginjakkan kaki di rumah ini , maka saat itulah pertama kalinya ia melihat Sarah .


" Kami dulu adalah sahabat baik " jawab Sarah singkat .


" Kami ? " tanya Joe makin penasaran .


Sebenarnya Robert juga penasaran tapi , ia lebih memilih untuk diam dan membiarkan Sarah menjelaskannya melalui pertanyaan Joe .


Berbeda dengan Lio , ia cuek dan memilih untuk menyantap makanan didepan .


' Pembahasan orang dewasa yang pastinya akan sulit dimengerti oleh anak kecil seperti ku ! ' batin Lio sambil terus mengunyah .


" Aku , Joseph , dan Bredley . Dulu kami adalah sahabat baik dari kecil , bahkan hingga ayahmu menikahi Jane , ibumu " Sarah berhenti sejenak , lalu melanjutkan ceritanya .


" Kami juga ikut merawat kau yang masih kecil . Terkadang , Bredley memintaku untuk menjagamu saat dia sedang sibuk . Jadi tentu saja aku tau , bagaimana tingkah nakalmu saat itu ! " cerita Sarah sambil tersenyum .


" Lalu , apakah ayah menikahkan ku dengan Reen karena dia tau bahwa Reen adalah anakamu ? " Joe kembali bertanya .


" Kurasa bukan itu alasannya . Apa kau ingat saat ayahmu mengalami Amnesia karena kecelakaan dulu ? " Sarah balik bertanya


" Ya , jika tidak salah ingat , waktu itu umurku sekitar 8 tahun "


" Benar . Karena hubungan kami sempat terputus beberapa tahun sebelum itu , membuatnya tidak dapat mengenali kami " kata Sarah dengan nada sedih .


" Lalu , apakah kau bibi yang waktu itu ? Bibi yang memelukku erat saat menunggu ayah di depan ruang operasi ? "


" Ya , itu adalah aku " ucap Sarah tersenyum .


" Ya Tuhan ! Mengapa ibu tidak mengatakannya padaku ? "


Sarah hanya tersenyum , lalu mulai menyantap makanannya . Joe kesal dengan sikap Sarah yang tak menjawab pertanyaannya .


Dilihatnya Robert yang sedang menahan tawa sambil menatap wajah kesalnya yang seperti anak kecil .


" Baiklah...baiklah...aku tidak akan bertanya lagi ! " gumamnya pelan sambil menyuapkan potongan roti isi keju kedalam mulutnya .


" Jadi , siapa yang akan mengantarku pagi ini ? " tanya Lio setelah menyeruput habis susunya .


" Biar Dad yang mengantarmu ke sekolah ! "


" Bukankah kau harus menemani Reen menjalani terapi , Joe ? " tanya Sarah .


" Ya , aku akan melakukannya setelah mengantar Lio "


" Baiklah kalau begitu "


Merekapun melanjutkan sarapan mereka dengan khidmat , walaupun sesekali terdengar gelak tawa karena tingkah konyol Lio .


Joe , Robert , dan Lio berpamitan pada Sarah . Sarah melambaikan tangannya saat melihat anak-anak dan cucunya pergi .


' Aku merindukan kalian...' ucap Sarah lirih , lalu berlalu dan masuk kedalam rumahnya .


***


Joe mendudukkan Reen di kursi depan , ia memasangkan sabuk pengaman untuk Reen dan menurunkan sandaran kursi agar Reen merasa nyaman .


Sedangkan Lio memilih duduk dikursi penumpang , sebenarnya ia sangat ingin duduk dipangkuan ayahnya . Tapi , ia urungkan karena takut mengganggu .


" Dad , Minggu depan akan ada pentas seni disekolah dan aku ditunjuk sebagai pemeran utama dalam drama . Kata bu guru , semua orang tua harus hadir , terutama ibu karena pentas ini diadakan untuk merayakan hari ibu ! " seru Lio saat mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolah .


" Tidak bisakah hanya Dad yang datang ? " tanya Joe


" Memangnya aku punya pilihan ? Walaupun aku sangat menginginkan Mom hadir tapi pada kenyataannya Mom tetap tidak akan bisa , bukan ? " kata Lio lalu berlari masuk ke sekolah .


Terlihat jelas kesedihan di wajah Lio , Joe tau anaknya itu pasti sedang menahan tangis . Ia menatap sedih punggung Lio yang berlari .


" Apa yang harus kulakukan , Reen ? " tanya Joe sambil menatap Reen sendu .


Kemudian ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit .


Ia menyalakan GPS karena ia memang belum hafal jalanan di kota A . Perjalanan yang harusnya hanya butuh 1 jam berubah menjadi 1 jam setengah karena Joe yang beberapakali salah jalan .


Setelah sampai di lobi rumah sakit , Joe memindahkan Reen ke kursi rodanya . Lalu berjalan menuju dokter fisioterapis yang akan menangani Reen .


Saat ini Reen hanya bisa menjalani beberapa terapi saja , karena kondisinya yang masih belum bisa bergerak .


Joe dengan setia menemani Reen hingga terapi nya selesai . Dokter juga menyarankan pada Joe untuk melakukan terapi-terapi manual untuk meregangkan otot-otot Reen .


" Sayang , apa kau sudah merasa lebih baik ? " tanya Joe saat hendak memindahkan Reen kembali ke dalam mobil .


"..."


" Baiklah , sekarang waktunya kita kembali ! " ucap Joe lalu segera menjalankan mobilnya untuk pulang .


***


" Huff...apa kau lelah sayang ? " tanya Joe sambil mengelus pipi Reen lembut .


" ... " Reen diam .


" Mari tidur , aku lelah ! " seru Joe pelan lalu memeluk tubuh Reen yang tampak lebih kurus .


Ia membenamkan wajahnya di bahu Reen hingga benar-benar tertidur .


Maureen POV


Aku merasakan tanganku digenggam erat oleh seseorang yang aku yakini adalah orang yang sangat aku rindukan .


Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat , setelah bersusah payah melawan diriku sendiri akhirnya aku berhasil .


Mataku terbuka dan aku dapat melihat sosok itu , orang yang aku rindukan . Dia terus menangis sambil menggenggamku , hatiku sakit saat melihatnya seperti itu .


Aku mencoba mengangkat tanganku untuk meraihnya .


' apa ini ? Mengapa tanganku tidak dapat digerakkan ? '


' Joe...! Joe...! tolong aku , tanganku tidak bisa bergerak ! '


' Joe , kumohon berhentilah menangis ! ' ucap ku dalam hati , entah mengapa seluruh tubuhku tak bisa kugerakkan .


Kudengar tangis Joe makin menjadi , hingga airmatanya membasahi tanganku .


Aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini . Tanpa sadar , airmataku pun ikut terjatuh . Aku terus mencoba menggerakkan tanganku , ' berhasil ! ' seruku dalam hati saat aku merasakan jariku tergerak .


Joe mendongakkan kepalanya ke arahku , ia tampak terkejut dan langsung berlari keluar kamar . Aku bisa mendengar jelas saat ia memanggil ibu dengan gugup .


Tak butuh waktu lama , Ibu , Robert dan Joe pun masuk ke dalam kamarku . Dokterpun langsung memeriksa keadaanku .


" Bagaimana dok ? " tanya ibu khawatir .


Dokter pun menjelaskan secara rinci tentang keadaanku saat ini . Jujur , aku sangat terkejut saat mendengar itu semua .


' Aku tidak dapat melakukan apapun ? '


Aku kembali menangis , tapi Joe langsung menggenggam tanganku erat sambil terus menatapku .


" Aku akan menjagamu , jika perlu aku akan mengabdikan hidupku untukmu ! Jadi , kau tak perlu khawatir karena aku selalu ada disini , disampingmu ! Selalu dan selamanya... " ucap Joe pelan sambil mengelus keningku lembut .


' Joe....aku mencintaimu...' ucapku yang tak mungkin didengar oleh Joe .


Ibu , Robert dan Joe terus menemaniku dalam hening hingga suara Robert menyadarkan mereka .


" Astaga , ini sudah jam pulang Lio ! " serunya .


' Lio ? Bagaimana dia sekarang ? Apa dia sudah besar ? ' tanyaku membatin .


Aku melihat Joe dan Robert pergi , yang aku tau Joe akan menjemput Lio dan Robert akan menghadiri rapatnya .


Hanya aku dan ibu yang berada disini . Ibu mengelus rambutku sayang , lalu mengecup keningku . Sebenarnya aku sangat ingin memeluknya , tapi apalah daya ? Bahkan untuk menggerakkan bibirku saja aku tak sanggup .


Satu jam kemudian , aku mendengar suara pintu kamarku dibuka . Saat ini aku sedang duduk di sebuah kursi roda dan menatap keluar jendela kamarku .


" Momy...!! " seru Lio sambil menangis dan memeluk kakiku .


' Kau sudah besar , sayang ? Bagaimana kabarmu ? ' tanyaku , berharap bahwa Lio bisa mendengarnya .


Lio menatapku senang tetapi , raut wajahnya berubah saat menyadari bahwa aku sama sekali tidak merespon kehadirannya .


" Dad , Mom ? " ia menoleh ke arah Joe .


" Sayang , Mom belum sembuh sepenuhnya . Jadi , bersabarlah sebentar lagi . Mom pasti akan sembuh suatu saat nanti ! " ujar Joe sambil mengelus pundak Lio .


Lio tetap menangis sambil terus menatapku .


' Lio , jangan menangis ! Mom , sedih melihatmu seperti ini ! ' ujarku .


" Mom...." panggil Lio lalu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku .


" Mom...percayalah padaku , aku akan menjadi anak yang baik "


' Kau memang anak yang baik , Lio ! '


" Aku janji , aku tidak akan nakal lagi ! Jadi , Mom cepatlah sembuh !


Tidakkah kau merindukan ku ? Kau bahkan belum pernah menemaniku bermain !


Kau belum pernah menemaniku tidur ! Belum pernah memasakkan sarapan untuk ! Belum pernah membantuku mandi !


Bahkan kau belum pernah memelukku !! Aku hanya ingin kau membalas pelukanku , Mom ! Jadi , kumohon....hiks...hiks..." Lio tak dapat melanjutkan kata-katanya , suaranya tercekat menahan tangis .


' Astaga Lio ! Apa yang kau katakan ? Mom sangat merindukanmu , Mom juga ingin menemanimu bermain , membuatkan sarapan untukmu , membantu mandi , dan melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang ibu !


Mom sangat ingin memelukmu , sayang ! Maafkan Mom yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu ! ' kataku sedih .


Joe langsung memeluk Lio dan menenangkannya . Setelah cukup tenang , Joe membawa Lio kekamarnya .


____


_______


Aku terbangun dari tidur dan merasakan tangan Joe tengah memeluk perutku . Kurasa dia masih tertidur . Tak ada yang bisa kulakukan saat ini , kecuali memandangi langit-langit kamar .


Tak lama kemudian , Joe bangun . Ia tampak menggeliat sebentar , lalu membelai lembut rambutku .


" Selamat pagi , sayang ! "


Lalu aku dapat merasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku . Ia mencium bibirku dengan lembut , ciuman yang sangat aku rindukan .


Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju suatu tempat yang kutebak adalah kamar mandi . Tak lama kemudian dia kembali , lalu menggendongku masuk kedalam kamar mandi .


Ia melepaskan seluruh pakaianku dan aku merasa sangat malu akan itu .


' Dasar kau , laki-laki mesum ! ' umpatku .


Setelah selesai , ia pun berendam di bathtub dan membawaku bersamanya . Ia juga menuangkan sabun yang biasa kita gunakan .


Wangi perpaduan antara cokelat dan strawberry pun tercium oleh indra penciumanku .


" Aku merindukan ini " bisiknya tepat di telinga ku , yang berhasil membuat jantungku mempercepat detakannya .


Setelah itu , Joe melakukan semuanya untuk ku . Memilih dan memakaikan pakaian , menyisir rambutku dan bahkan memoleskan bedak untukku .


Aku menatap bayangan diriku dalam cermin , kini aku sedang duduk di kursi rias dengan Joe sebagai sandaran punggungku .


Joe tampak lebih tampan sekarang . Ia memindahkan ku ke kursi roda dan menatapku dalam , seolah sedang memikirkan sesuatu .


Tanpa aba-aba , Joe langsung mendekatkan wajahnya pada wajahku dan mencium bibir atas dan bawahku bergantian .


Aku sangat ingin membalas ciumannya saat ini , tapi....aku tak bisa . Aku hanya bisa diam menerima semua sikap manisnya padaku pagi ini .


" Bibirmu terlalu pucat , jadi aku hanya membantumu untuk memerahkannya ! " ujar Joe pelan sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga .


" Lihat kau terlihat lebih cantik sekarang ! " pujinya sambil tersenyum .


' Astaga , kau ini benar-benar bertambah mesum ! ' umpatku kesal .


Tidakkah ia tau bahwa aku semakin tersiksa karena ciumannya barusan .


Aku hanya bisa diam saat dia membawaku ke ruang makan . Disana hanya tampak ada kami berdua , namun tak lama kemudian Ibu dan Robert muncul .


Kehebohan pun dimulai saat Lio datang . Ibu mengomeli Lio yang sangat tidak bisa diam .


Fokusku tercuri , saat Ibu mulai menceritakan tentang masa lalunya bersama ayah dan Joseph . Tapi ibu hanya menceritakan kisahnya seputar ayah dan dia . Lalu siapa Joseph itu ?