
Joe membuka matanya saat merasakan ada tangan yang sedang memeluknya erat . Dadanya berdegup lebih cepat .
" Reen ?! " pekiknya keras .
" Mmm...Dad ada apa ? Mengapa kau berteriak ? "
Joe membelalakkan matanya saat mendapati bahwa Lio lah yang sedang memeluknya . Lio tidur diantara Joe dan Reen yang entah sejak kapan ia berada disana .
" Lio , mengapa kau berada disini ? " tanya Joe pada Lio yang sudah duduk sambil mengucek matanya .
" Aku mimpi buruk , lalu saat aku bangun Dad sudah tidak ada di kamarku . Jadi aku memutuskan untuk kesini untuk meminta Dad menemaniku , tapi Dad terlihat sangat lelah , aku tak tega membangunkan Dad " jelas Lio lalu menguap .
" Lalu ? " tanya Joe menyelidik .
" Lalu aku memutuskan untuk tidur disini , diantara Mom dan Dad . Oh ya apa Dad tau ? "
" Apa ? " tanya Joe dengan nada sedikit kesal karena Lio sudah berhasil membuat Joe hampir jantungan . Ia mengira bahwa Reen sudah sadar , tapi malah ternyata Lio yang memeluknya .
" Ini adalah pagi terindah yang pernah kurasakan . Karena hari ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya tidur dipeluk oleh Dad dan Mom . Dulu aku pikir aku tidak akan pernah merasakan hal seperti ini , tapi sekarang tidak lagi . Terimakasih Dad ! Aku menyayangimu !! " seru Lio lalu menghambur ke pelukan ayahnya .
Kesal yang Joe rasakan hilang , terganti dengan perasaan bersalahnya . Ia mengecup puncak kepala Lio .
" Ya , sama-sama sayang . Sekarang kau pergi bersiap-siap , Dad akan mengantarkannya ke sekolah " ujar Joe tersenyum .
" Ayyaya kapten ! " seru Lio lalu turun dari ranjang dan berlari riang menuju kamarnya .
" Reen...apa aku ayah yang kejam ? " tanya Joe sambil menatap wajah damai Reen yang tertidur .
Joe beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi . Setelah selesai ia keluar dan mendapati semua orang telah berkumpul dimeja makan .
" Pagi bu , pagi Robert ! " seru Joe menyapa yang kemudian hanya dibalas anggukan oleh Robert .
" Pagi sayang , apa tidurmu nyaman ? " tanya Sarah sambil tersenyum .
" Ya begitulah " jawab Joe singkat , lalu menarik satu kursi untuk didudukinya . Ia mengitari pandangannya keseluruh ruangan .
" Dimana Lio ? " tanyanya bingung karena baru menyadari bahwa Lio tidak ada diantara mereka .
" Dia sedang memilih- milih seragam terbaik yang akan ia kenakan hari ini , bahkan ia juga menyuruh orang untuk membuatkannya yang baru " ujar Sarah sambil mengoleskan selai ke roti lalu meletakkannya di piring Joe .
" Apa seragam dia rusak ? " tanya Joe penasaran .
" Tidak , dia hanya ingin tampil baik ke sekolah karena ayahnya lah yang akan mengantarnya ! " kini giliran Robert yang menjawab , tentu saja masih dengan wajah datarnya .
Joe sedikit lega , setidaknya Robert masih mau berbicara dengannya .
" Kalau begitu aku akan melihat Lio sebentar " pamit Joe .
Ia berjalan menuju kamar Lio yang berada di lantai dua . Pintu sedikit terbuka saat Joe berada di depannya . Ia mengintip kedalam , mencari tau apa yang sedang dilakukan anaknya .
Ide jail pun terlintas , saat melihat Lio sedang merapikan rambutnya sambil bersenandung . Joe membuka pintu dengan cepat sambil menghentakkan kakinya lalu berteriak .
" Dorr !!! "
Lio yang sedang asyik dengan aktivitasnya terkejut hingga melompat sedikit ke belakang . Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Joe sedang menahan tawa sambil memegangi perutnya .
" Daaaadddddd......!!!!! " seru Lio kesal . Lalu segera menghampiri ayahnya dan memukul kaki Joe dengan sisir yang masih ia pegang .
" Aw..aw.. " Joe mengaduh tanpa menghentikan tawanya .
" Kau nakal Dad ! Aku pastikan kau akan mendapatkan balasannya saat Mom bangun nanti ! " kata Lio dengan nada yang masih kesal .
" Ho...ho..ho... Kita lihat saja , Mom akan memilih untuk membela mu atau membela Dad " ujar Joe sambil mengedipkan sebelah matanya .
" Dad !!!! " pekik Lio makin kesal .
" Kau adalah kesayangan Dad dan Mom " ujar Joe sambil mengacak rambut Lio sayang , lalu menggendongnya .
" Kau harus bertanggung jawab ! Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk merapikan rambutku , tapi kau malah mengacaknya ! "
" Baiklah , sini Dad bantu ! "
Joe berjongkok agar mengimbangi tinggi putranya , ia menyisir rambut Lio pelan dan menaikkannya ke atas memberikan kesan angguh pada wajah tampan Lio .
" Selesai ! " seru Joe bangga .
Lio mematut dirinya di depan cermin , lalu berpose layaknya seorang model . Joe hanya terkekeh melihat tingkah anaknya .
" Kau ini ! Ayo kita bawah , Nenek dan Uncle sudah menunggu dari tadi "
" Ayyaya kapten ! "
Lio segera menarik tangan Joe cepat , tak sabar untuk segera berangkat ke sekolah .
" Pagi Nek ! Pagi Uncle ! " seru riang saat tiba diruang makan .
" Waah...siapa anak tampan ini ? " tanya Sarah menggoda , sambil menatap Lio dari bawah hingga atas .
" Aku ? Aku adalah Equilio Aryan putra dari Joenathan Aryan dan Maureen Ayhner , cucu dari Sarah Aquila dan Thomas Ayhner , serta keponakan dari Robert Ayhner dan..."
Lio menghentikan perkataannya sambil seolah berpikir
" Dan....wanita yang belum ditemukan !!! " seru nya puas karena merasa telah mendapatkan kata yang pas .
Tentu saja kalimat terakhir dari Lio membuat Joe , Sarah , dan Robert tertawa .
" Ada-ada saja " gumam Robert pelan sambil menepuk jidatnya .
" Sudahlah , ayo kita sarapan ! " ujar Sarah kemudian .
Suasana sarapan pagi ini semuanya di isi dengan celotehan lucu dari Lio yang selalu berhasil membuat semua orang tertawa .
" Lio , waktu kita berangkat ! " ujar Joe sambil melirik jam tangannya .
" Ayyaya kapten ! " seru Lio
" Sampai jumpa Nek ! Sampai jumpa Uncle ! " pamit Lio sambil menciumi pipi Sarah dan Robert bergantian .
" Berhati-hatilah dan bersikap baik di sekolah ! Seru Sarah saat Lio menarik Joe menuju pintu keluar .
" Kami pamit dulu , bu ! " seru Joe dari kejauhan .
Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkat ayah dan anak itu .
" Aku belum pernah melihat Lio segembira ini sebelumnya . Andai kakakmu bangun , pasti ia juga akan merasa sangat senang bisa berkumpul bersama dengan Joe lagi " ucap Sarah serak karena mencoba menahan tangisnya .
" Sudahlah bu , ini semua adalah rencana Tuhan . Dan aku yakin kehendak Tuhan adalah yang terbaik " ucap Robert menenangkan .
***
Mobil Joe berhenti di depan gerbang sekolah Lio , ia dan Lio turun dari mobil . Di pintu masuk gerbang Joe mencium pipi Lio sayang dan Lio pun memeluk Joe .
" Sampai jumpa Dad !! " seru nya berteriak .
Setelah masuk ke dalam sekolah , Joe dapat melihat Lio langsung dikelilingi oleh teman-temannya . Tapi , Lio langsung mengacuhkan mereka semua .
' Mmm... sepertinya , itu teman yang pernah berkata buruk pada Lio ' gumam Joe dalam hati .
Namun pikirannya kembali teralihkan pada Lio yang tiba-tiba menarik tangan teman perempuannya , lalu seperti membicarakan sesuatu .
Dan yang paling membuat Joe merasa geli adalah saat si perempuan itu menunduk malu sambil tersenyum . Sedangkan Lio ? jangan ditanya , anak itu kini juga sedang tersipu sambil menggaruk lehernya yang tak gatal dan memainkan kakinya di tanah .
" Sepertinya anak nakal itu sedang menyatakan cinta nya... Bolehlah , anak ku memang jagoan ! " gumam Joe sambil terkekeh .
Joe kembali ke mobil , menyalakan mesin lalu melajukannya menuju ke kediaman keluarga Ayhner . Ia tak sabar ingin menceritakan tentang apa yang ia lihat kepada Reen .
Ia yakin jika Reen sadar ia pasti juga akan tertawa melihat tingkah malu-malu anak mereka .
Tiba-tiba dering ponsel terdengar , Joe pun langsung mengangkatnya .
" Hallo ibu..."
"...."
" Apa ??!! " Joe tersentak mendengar perkataan Sarah dari balik telpon .
"...."
" Aku akan segera kesana !! " ujar Joe lalu langsung memutuskan sambungan telpon .
Joe segera menginjak pedal gasnya . Mobil Joe melaju cepat diantara jalanan padat ibukota Negara A . Ia menerobos lampu merah yang ada didepannya .
Ia sampai di kediaman Ayhner dalam waktu 10 menit lebih cepat dari waktu yang biasa ditempuh . Joe langsung masuk ke dalam rumah .
Disana Robert dan Sarah sudah menunggu dengan gelisah .
" Bagaimana...."
" Dokter masih memeriksanya , kita hanya bisa menunggu ! " ujar Robert .
Joe mengusap wajahnya kasar , ia tidak mungkin hanya diam saja . Tapi , apa yang harus ia lakukan selain menunggu ?
Tak lama kemudian dokter keluar dari kamar Reen . Joe , Sarah , dan Robert langsung berlari ke arah sang dokter .
" Bagaimana ? " tanya Robert gugup .
" Kejang Nyonya Ayhner kali ini adalah sebuah tanda " ujar si dokter .
" Apa maksudmu ? " tanya Sarah bingung .
" Nyonya Ayhner sekarang kembali tak sadarkan diri , jika dia bangun dari komanya dalam waktu kurang dari 2 Minggu itu berarti Nyonya masih memiliki kesempatan untuk kembali pulih . Namun jika dia belum juga sadar , lebih baik kita tidak memaksakannya untuk terus hidup ! " jelas Dokter itu panjang lebar .
Joe langsung menarik kerah kemeja dokter itu .
" Apa maksudmu istriku harus dipaksakan untuk mati hah ??!! " tanya Joe geram .
" Joe tenanglah , kita jangan mengambil kemungkinan terburuknya . Saat ini kita hanya harus terus berdoa agar Reen dapat sadar sebelum waktu yang ditentukan !! " seru Sarah sambil mencoba menarik lengan Joe .
" Ibu , bagaimana aku bisa tenang jika dokter ini akan melepaskan semua alat-alat yang ada ditubuh Reen dan kita hanya diam melihatnya ! " bentak Joe pada Sarah .
Plakk !!
Robert menampar Joe keras , wajahnya tampak sulit diartikan . Antara marah , sedih , khawatir dan gugup .
" Dimana kau letakkan otakmu hah ??!! Memangnya siapa yang membuat kakak jadi seperti ini ?! Dan kau dengan bodohnya malah memaki dokter yang selama ini merawat kakak !! " tanya Robert marah .
Joe terdiam mendengar perkataan Robert , benar dialah yang telah menyebabkan Reen menjadi seperti itu . Dialah yang membuat Reen menderita , dialah yang mengakibatkan Reen kehilangan setengah hidupnya .
" A..aakuu..."
" Cukup ! Bisakah kalian tidak berdebat sekali saja ?! " seru Sarah kemudian .
"..." Joe terdiam begitupun dengan Robert .
" Tidak ada yang perlu disalahkan disini ! Dan kau Joe , cepat temui Reen di dalam ! Tak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain berdoa dan menunggu ! " ujar Sarah setelahnya .
Joe pun langsung masuk dan menemui Reen , kini kondisi Reen lebih menyedihkan dari yang ia lihat beberapa jam yang lalu .
Ia duduk di samping ranjang Reen sambil menangis . Sekarang tubuh Reen dipenuhi oleh alat-alat menunjang kehidupan .
" Reen..." lirih Joe sambil mengusap-usap tangan Reen yang dingin .
"..."
" Bisakah kau mendengarku , sayang ? "
"..."
" Bangunlah Reen...."
"..."
" Kumohon......"
Joe menjatuhkan kepala di atas tangan Reen , ia menangis tersedu-sedu disana . Tak ada lagi kata-kata penyesalan yang bisa Joe katakan sekarang karena ia telah mengatakan semuanya .
Setiap suara detik jam adalah pukulan bagi Joe , dan ia membiarkan pukulan itu mengenai dirinya selama tujuh tahun terakhir .
" Reen , aku sudah tak tahan lagi ! Aku tak bisa melihatmu terus begini ! " seru Joe sambil menangis .
"..."
" Aku ingin mati , Reen !! Aku ingin.....mati ...... ! Aku tak bisa hidup tanpa mu lagi....! "
"..."
" Bangunlah , Reen....... Aku merindukanmu , merindukan setiap senyum , merindukan tawamu , merindukan wajah cemberutmu , merindukan semua yang ada pada dirimu ! "
"..."
" Bisakah kau memberikanku satu kesempatan ? "
"..."
" Reen , jawab Reen...!! Jawab !! "
Joe kembali menunduk , airmatanya kini juga sudah membasahi tangan Reen . Jemari Reen tergerak pelan , Joe yang merasakan itu langsung menghentikan tangisnya .
Ia mendongakkan kepalanya ke wajah Reen , airmata juga mengalir dari sudut matanya . Reen membuka matanya , tepat setelah tujuh tahun perpisahan mereka , kini Joe dapat melihat mata Reen kembali .
Sorot mata yang paling Joe rindukan , sorot mata yang mampu membuat Joe melupakan tujuan .
Kini mata itu telah kembali , mata yang kini juga sedang menatapnya sedih . Reen tersadar .