
*Yang kutahu hanya aku cinta
Tapi kau tak pernah menganggap ku siapa
Yang kutahu hanya ada getar jiwa
Tapi kenapa kau tak merasa
Haruskah aku teriakkan rasa
Ataukah
Aku harus memendam selamanya*
~~•~~
Saat ini mereka telah berada di dalam mobil . Reen menghembuskan nafas lelah , acara seperti itu tidak cocok untuk nya . Yang menurutnya lebih membosankan daripada harus mendengarkan guru sejarah .
" Lepaskan kalung itu ! " Perintah Joe pada Reen , yang langsung dituruti gadis itu .
" Kau bahkan tak pantas untuk memakainya ! "
" ..... "
" Aku harus mensterilkan kalung ini , karena aku tak ingin gadis yang ku cintai memakai kalung bekas jalang seperti mu ! "
" Joe mengapa kau harus bersikap seperti ini ? " Tanya Reen mencoba menahan air matanya
" Maksudmu ?! Kau tak rela ku ambil kembali kalung itu ?! Ah , harusnya ku tau kau memang wanita materialistis . Menikahiku hanya untuk harta !! "
" Joe , aku tak seperti yang kau pikirkan , sepersen pun aku tak menginginkan harta mu ! "
" Lalu apa maksudmu hah ?! "
" Mengapa kau bersikap seolah membawaku terbang namun diwaktu yang sama kau juga menjatuhkan kan ku ?! "
" Karena itu yang ku mau ! Menjatuhkan mu dari tempat tertinggi , sehingga kau menderita dan bisa dengan cepat minta cerai pada ku !! "
" Itu tidak akan pernah ! Aku tidak akan meminta cerai padamu ! " Sangkal Reen yang kini sudah tak kuasa menahan tangisnya .
" Kalau begitu aku akan terus berusaha untuk membuatmu lebih menderita dari sebelumnya !! "
Reen bergeming , mencoba melupakan apa yang dikatakan Joe tadi . Dia akan menganggap itu hanya gurauan Joe , karena ia tak ingin hatinya terluka lagi .
Sisa\-sisa perjalanan mereka pun dihabiskan dengan saling diam . Sibuk bergelut dengan pikiran masing\-masing .
___
______
**RUMAH JOE**
Joe turun dari mobil dan langsung masuk ke rumahnya . Sedangkan Reen memilih untuk berjalan\-jalan mencoba melepaskan lelah di hatinya .
Dia berjalan menyusuri taman sambil menjinjing sepatunya . Suasana malam saat ini terasa begitu tenang . Angin berhembus lembut , membantu menyebar aroma bunga\-bunga di udara .
Sesekali suara jangkrik terdengar . Hening . Hingga sebuah suara mengembalikan kesadaran Reen .
" Kau sedang apa disini ? " Reen menoleh pada sang pemilik suara
" Hanya menikmati ketenangan yang disuguhkan malam " jawab Reen sambil tersenyum kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana .
Wajah cantiknya mendongak , menatap langit yang di penuhi bintang , sesekali ia memejamkan mata sambil menghela nafas .
Joe ikut duduk disamping Reen , tapi dengan kepala tertunduk . Rambutnya basah , dan wangi khas coklat menyeruak masuk ke dalam rongga hidung Reen , membuatnya ingin terus berada di dekat Joe .
Reen menyandarkan kepalanya pada bahu Joe , membuat pria itu sedikit kaget namun tetap membiarkan Reen melakukannya .
" Sebentar saja , hanya sebentar aku ingin merasakan bagaimana rasanya bersandar di bahu seseorang "
" .... " Joe tak bergeming
Keheningan malam menyelimuti mereka . Kini Joe ikut menyandarkan kepalanya di atas kepala Reen , dan jujur ini juga pertama kali nya bagi Joe , bersandar pada seorang wanita dan melupakan sejenak rutinitas padat yang di gelutinya .
Joe mendengar suara isakan , dia menegakkan kembali kepalanya kemudian menoleh ke arah Reen . Dan benar Reen sedang menangis , lebih tepatnya menahan tangis .
Dia menegakkan kepala Reen , memutarnya agar berhadapan dengan wajah nya . Menciumnya beberapa saat , kemudian menghapus air mata Reen membawanya dalam pelukannya . Membiarkan Reen menumpahkan segala beban berat yang ia rasakan .
Setelah lebih tenang , Joe melonggarkan pelukannya , dan kembali menciumnya . Saat sudah merasa puas , Joe menggendong Reen .
" Joe , apakah ini sebagian dari usaha mu untuk membuatku lebih menderita ? " Tanya Reen yang masih dalam dekapan Joe
" Ya " jawab Joe tak membantah
" Meski begitu , aku akan tetap bahagia . Setidaknya ketika aku pergi nanti , aku masih menyimpan saat\-saat manis seperti ini bersamamu "
Reen menatap dalam mata Joe yang saat ini tak memperdulikannya . Ia tersenyum dan mengeratkan pelukannya , kemudian menyandarkan kembali kepalanya pada dada bidang Joe .
Joe masuk dan membaringkan Reen di kasur .
" Joe , apa kau lapar ? " Tanya Reen
" Ya , sedikit "
" Aku akan membuatkan mu makan malam " tawar Reen , lalu bangun dari baringan nya .
Reen kesulitan saat membuka gaunnya di kamar mandi . Dia terus mencoba tapi......
Brruukk
Joe mendengar sesuatu di kamar mandi , ia pun langsung bangkit dan mengecek kesana , dan benar saja , Reen tampak sedang mengeluh kesakitan saat Joe datang .
" Kau kenapa ? " tanya Joe
" Tak apa , hanya kesulitan membuka gaunku "
" Kenapa kau tidak meminta bantuan ku ? " Joe mendekati Reen kemudian mengulurkan tangannya untuk membuka resleting di punggung Reen .
" Ituu...itu..kau tak perlu melakukannya..."
Joe melihat punggung putih mulus milik Reen saat dia selesai membuka seluruh resleting hingga di atas pinggul Reen , Joe menelan savila nya susah , dia juga pria normal yang menginginkan wanita .
" Eemmm..." Reen menahan desahannya agar tidak keluar . Saat ini Joe tidak akan menahan diri lagi , dia mengingatkan Reen .
Joe menciumi punggung Reen dari atas hingga bawah , kemudian beralih ke leher dan bahu Reen . Reen yang juga menginginkan Joe , membalikkan badannya . Kini mereka berdua berhadapan .
Joe mencium bibir Reen dalam , manik matanya kini sudah menggelap , menandakan dia sudah benar\-benar bergairah .
" *Akan ku berikan segala yang kupunya untuk mu Joe , aku tidak akan menyesal walau ini semua hanya kebohongan , karena aku mencintaimu Joe . Sangat sangat mencintaimu* " gumam Reen dalam hati , malam ini iya percayakan diri pada seorang Joenathan Aryan sepenuhnya .
____
_______
Pagi ini adalah pagi terindah untuk Reen , ia bangun dari tidurnya dan melihat Joe masih terlelap dengan wajah yang begitu tenang , dia mencium pipi Joe sekilas
" Selamat pagi , Joe " gumamnya pelan
Kemudian dia bangkit dari tempat tidur , di depan kaca kamar mandi , senyumnya terukir . Dia tampak bahagia saat melihat punggung , leher dan seluruh tubuhnya penuh dengan tanda yang di tinggalkan Joe tadi malam, malam yang begitu indah , walaupun itu semua membuat badan nya terasa pegal\-pegal dan sedikit perih di pangkal pahanya .
Reen mempercepat acara mandinya , kemudian bergegas menuju ke dapur untuk membuat sarapan . Reen yakin Joe juga sangat lapar karena mereka belum makan dari tadi malam .
" Kau sudah bangun ? " tanya Reen masih dengan senyuman saat melihat Joe datang dari arah kamar .
" Hmmm "
" Ayo makan , aku sudah membuat sarapan untukmu ! " ajak nya
Reen duduk berhadapan dengan Joe , ia menyendokkan nasi untuk Joe , meletakkan beberapa lauk yang telah ia buat di atasnya
" Selamat makan ! " Serunya dan langsung menyantap makanan dihadapannya . Joe yang melihat itu hanya geleng\-geleng , karena tumben sekali Reen seceria ini .
" Lalu ? "
" Bolehkah aku pergi ke sana hari ini ? Karena mungkin aku sudah banyak meninggalkan pelajaran "
" Hmmm "
" Baiklah , akan aku anggap kau menyetujuinya "
***
Setelah selesai makan Joe meminta Reen untuk memakaikan pakaian nya lagi . Reen menurut , kali ini ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi .
Ia memakaikan kemeja , mengancingkan nya . Lalu memasangkan celana , sabuk , dasi , rompi dan terakhir memakaikan jas di tubuh kekar Joe .
" Selesai ! Kau sudah tampan sekarang " seru Reen sambil menepuk\-nepuk pelan jas suaminya .
Reen mengantar Joe sampai depan pintu rumah , dia melambai\-lambai kan tangan saat mobil Joe melaju keluar dari pekarangan luas rumah mereka .
Setelah kepergian Joe , Reen masuk ke dalam kamar , mengganti baju tidurnya dengan celana jeans panjang dan kaos oblong berwarna putih dengan gambar kelinci di depannya .
Dia memang lebih suka memakai pakaian kasual seperti ini dari pada harus memakai gaun\-gaun mewah . Reen mematut dirinya di cermin , tanda Joe masih terlihat jelas di lehernya .
Untung saja waktu itu Reen meminta cream yang dapat menutupi tanda itu pada Daisy . Dia mengoleskannya dilehernya , setelah merasa cukup , dia memoles wajah putihnya dengan bedak , memakai lipbam berwarna pink yang membuat bibirnya makin terlihat manis .
Ia menyisir rambut sepinggang nya , menyematkan jepit berwarna senada dengan baju yang ia kenakan . Reen terlihat sederhana dengan gaya pakaiannya tapi tak mengurangi daya tarik yang di pancarkan dari dirinya .
Reen menyambar tas , memasukkan barang\-barang yang ia perlukan lalu beranjak pergi . Taksi yang ia pesan sudah menunggu di halaman rumah , segera dia masuk .
" Universitas W "
" Baik nona " ucap sang sopir lalu melesatkan mobilnya .
Universitas W
Wanita itu turun dari taksi . Ia menghirup nafas dalam lalu menghelanya , merasakan kembali udara sejuk di kampusnya .
Universitas W adalah universitas terbaik di kotanya . Sebagian besar murid disini adalah anak\-anak dari kalangan berada . Maureen bisa sekolah disini karena beasiswa yang ia dapatkan . Oleh karena itu ia buru\-buru masuk , jika tidak , ia takut beasiswa nya akan di cabut .
" Leen...leen...! " Teriak seseorang memanggil Reen .
" Violet ! Aku rindu padamu..." tutur Reen sambil memeluk sahabatnya itu saat berada tepat didepan nya .
" Aku juga , mengapa kau lama sekali absen nya ? " tanya gadis cantik dan imut itu penasaran .
" Kau tau lah , aku sakit setelah malam pernikahan , dan itu membuat ku harus menginap di rumah sakit beberapa hari " jelasnya
" Waahh , ternyata Mr. Aryan itu ganas juga ya di ranjang , hingga membuatmu masuk rumah sakit " goda Vio yang langsung mendapat jitakan dari Reen tepat di jidatnya .
" Jaga bicara mu Miss Angwyn , itu adalah aib ku , jika itu tersebar maka kaulah orang pertama yang aku bunuh ! " Canda Reen pada sahabatnya itu yang dibalas dengan tawa terbahaknya.
Violet Angwyn adalah anak kedua dari keluarga Angwyn . Salah satu keluarga terpandang di negrinya . Beberapa perusahaannya juga bekerja sama dengan perusahan Joe , Grup AR .
Saat mendengar Reen akan menikah dengan Joenathan , Violet kaget bukan main . Sejujurnya iya iri dengan Reen yang bisa menikah dengan laki\-laki tampan , kaya , tajir dan tentu saja seksi .
Tetapi dia turut bahagia , akhirnya sahabatnya itu memiliki keluarga , sebuah keluarga yang sangat ia impikan .
Reen memang menceritakan semua hal pada Vio kecuali tentang dua hal , cinta dia pada Joenathan sejak kecil dan bagaimana perlakuan kejam Joenathan padanya . Ia takut sahabatnya itu akan khawatir .
" Ya sudah ayo kita ke kantin , aku lapar " ajak Vio
Suasana kantin sudah agak ramai , karena memang sudah hampir waktu makan siang . Reen dan Vio memilih kursi di pojokan yang lebih sepi .
Reen hanya memesan cake ringan dan jus alpukat kesukaannya , sedangkan Vio yang belum makan dari pagi memilih humberger dan sebotol cola .
" Oh ya leen , di hari pernikahanmu semua laki\-laki memandangmu takjup , apalagi senior Arfan . Dia tak pernah sedetikpun melepas pandangannya padamu , ah aku lupa , dia menunduk saat kau dan Joenathan berciuman setelah mengucapkan ikrar pernikahan " cerita Vio panjang lebar yang hanya di balas anggukan oleh Reen
" Kok cuma ngangguk\-ngangguk\- sih Leen...." tajuk Vio kesal
" Lalu aku harus berkata apa ? Aku hanya menganggap senior Arfan itu seperti kakakku sendiri . Dan mungkin itu hanya perasaan seorang kakak pada adiknya yang akan menikah Vio , jadi kau tak perlu memikirkannya " jelas Reen
" Kau ini sangat bodoh atau apa sih ? Jelas\-jelas senior Arfan itu menyukai mu "
" Aku mencintai Joenathan , Vi . Dan aku hanya akan mencintainya "
" Ya sudahlah , kita tidak usah membahas itu . Ayo kita ke kelas Mrs. Aryan ! " goda Vio sambil mengedipkan matanya pada Reen .
Reen mendengus sebal karena Vio terus menggodanya hingga kelas usai . Hari sudah beranjak sore , kini mereka sedang berjalan menuju gerbang iringi celotehan Vio .
" Leen , lihatlah ! " seru Vio menunjuk ke arah segerombolan wanita di pintu gerbang .
" Oh my ! ramai sekali ! "
" Leen , sepertinya ada pria tampan , ayo kita kesana " ucap Vio hendak lari namun langsung ditahan oleh Reen .
" Vio , aku tak punya banyak waktu untuk itu . Aku harus berkerja . Dan ingat , kau masih punya janji dengan pacar baru mu , John "
" Apa ? kau masih mau berkerja ?! Hey ! Aku ingatkan kau ya , sekarang ini kau adalah istri Joenathan Aryan , orang terkaya nomer satu di negri ini "
" Oke...oke... terserah kau saja , aku akan tetap pergi bekerja . Dan kau temuialah John , kasihan dia jika harus menunggumu lama hanya karena kau ingin melihat laki\-laki tampan disana "
" Tapi kan sayang..." ucap Vio merajuk
Reen menarik tangan Vio untuk melewati gerombolan wanita\-wanita itu melalui pintu gerbang samping . Setelah berhasil melewati nya , tiba\-tiba sebuah suara bariton yang khas menghentikan langkahnya .
" Sayang..." Reen menoleh ke sumber suara yang di ikuti juga oleh Vio
" Joe ? " Reen menerjab\-nerjab matanya tak percaya , Joe datang kesini ? tapi untuk apa ?
" Sayang , apa kau lupa janji kita ? " tanya Joe yang kini sudah ada dihadapan Reen . Jangan tanya bagaimana tatapan semua wanita\-wanita itu .
Janji ? Janji apa ? Reen yang kebingungan akhirnya paham , saat ini Joenathan sedang mengajaknya untuk berakting .
" Ah iya ! Maaf tadi aku lupa "
" Kau ini , aku harus menghukummu ! " ancam Joe masih dengan suara lembut , lalu mengecup kening Reen sekilas yang membuat wanita\- wanita makin berteriak histeris . Berbeda sekali dengan Reen yang malah terpaku .
" Ayo kita berangkat ! " ajak Joe sambil menarik tangan nya , membuka pintu mobil , lalu menyuruh Reen untuk masuk .
Saat mobil melaju meninggalkan kampus , suasana kembali hening . Hingga Reen memberanikan ini membuka suara
" Joe , mengapa kau tiba\-tiba menjemputku ? "
" Apa aku harus punya alasan untuk menjemputmu ? " jawab Joe dingin
" Tak ada , kau berhak melakukan apapun yang kau terhadapku " reen menghadapkan wajah nya ke luar jendela
" Kita akan dinner di luar "
" Baiklah "
" Dan kau harus mengganti baju jelekmu itu ! "
" Baiklah " reen tetap cuek tak peduli , membuat Joe kesal sendiri dan mengerem asal mobilnya , membuat Reen hampir membentur dasbor mobil jika tidak mengenakan sabuk pengaman .
" Joe , kau..." belum sempat Reen melanjutkan kata\-katanya , Joe sudah melepaskan sabuk pengaman , beralih mendekatkan wajahnya pada wajah Reen menciumnya kasar . Joe tidak memberi jeda untuk bernafas pada Reen.
Reen yang sudah tidak bisa bernafas , hanya bisa memukuli lengan kekar Joe sambil menangis .
Joe mengakhiri ciumannya ketika ia mulai kehabisan nafasnya . Lalu kembali ke kursi pengemudi dan mulai melajukannya kembali menuju rumah , dan tak memperdulikan Reen yang terisak merasakan perih di bibirnya .