I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
25 # Akhir dari cerita



Seminggu setelah kejadian tragis itu , Joe masih koma . Jika bukan karena Elgar yang membawa Joe terjun menggunakan parasut , mungkin tubuh Joe akan ikut hancur bersama badan pesawat itu .


Joe mengalami patah tulang yang cukup parah dibagian kaki , tangan , dan lehernya . Karena Elgar tenang saat kecelakaan itu , ia hanya mengalami luka gores akibat benda-benda yang berserakan dan patah leher ringan .


Kecelakaan itu memakan banyak korban jiwa , 70% dinyatakan meninggal , 20% dinyatakan hilang dan hanya 10% dari mereka yang selamat walau dengan luka parah .


Tidak ada yang tau dimana dan bagaimana keadaan Reen sekarang , Robert juga sudah menyuruh orang-orangnya untuk menyusuri jejak pesawat dengan menggunakan helikopter untuk udara , dan kapal-kapal kecil dilautan lepas .


Setidaknya jika Reen meninggal , ia berharap dapat menemukan jasadnya . Tapi pencariannya selama seminggu terakhir tidak membuahkan hasil .


Keadaan Lio juga buruk , ia tidak mau melakukan apapun kecuali hanya menangis didepan Joe yang terbaring . Bahkan , untuk makan pun ia enggan .


Ia menatap Joe dengan mata basahnya , menggenggam erat tangan orang yang paling ia sayangi . Berharap Joe cepat sadar agar ia dapat membagi kesedihannya .


" Dad..." bisik Lio didepan telinga ayahnya .


Sungguh , ini bukanlah hal yang mudah bagi bocah tujuh tahun seperti dia untuk menerima kejadian demi kejadian yang menghancurkan keluarganya .


" Nek....apa Tuhan itu ada ? " tanya Lio disela tangisnya .


" Tentu saja Tuhan itu ada , Lio . Jika tidak ada Tuhan , maka kita semua juga tidak akan ada ! " jawab Sarah sembari mengelus rambut cucunya sayang .


" Jika Tuhan ada , mengapa doaku selama ini tidak terkabul ? Keinginanku hanya satu , Nek ! Hidup bahagia bersama Dad dan Mom ! Apa itu sulit ?!


Jika Tuhan mampu menciptakan dunia dengan mudahnya , mengapa untuk memberikan kebahagiaan kecil untuk saja Dia tidak bisa ?! " ungkap Lio dengan tangis yang makin menjadi .


" Lio , Tuhan punya rencana sendiri untuk itu ! Dan perlu kau tau , Tuhan tidak pernah membebani kita dengan suatu cobaan kecuali kita mampu untuk menanggungnya !


Mungkin kau masih terlalu kecil untuk mengerti itu semua , tapi satu hal yang perlu kau tau . Tuhan memberikanmu cobaan agar kau bisa menjadi lebih kuat dimasa depan !


Jadi , jangan pernah kau berpikir bahwa Tuhan tidak menyayangimu ! Mengerti ? "


Lio hanya mengangguk lesu mendengar nasehat Sarah . Ia berharap Tuhan masih mau mendengarkan doanya dan mengabulkannya .


Seminggu kemudian Joe sadar , ia masih mengingat jelas kejadian kecelakaan itu . Ia berteriak histeris , kesal dengan ketidakmampuannya untuk menjaga Reen .


Beberapa dokter juga harus ekstra menjaga keadaan Joe yang seperti ini . Entah sudah yang keberapa kalinya Joe menerima suntikan penenang ditubuhnya .


Joe memang tidak bisa melakukan apa-apa selain berteriak dan menangis . Semua orang yang menyaksikan itu ikut merasakan pilu atas apa yang Joe alami .


Terlalu banyak cobaan dan penyesalan dalam hidupnya . Ia kehilangan wanita yang ia cintai untuk yang kedua kalinya .


Mungkin dulu ia masih berani menyangkal bahwa Reen tidak meninggal , tapi saat ini untuk memikirkan bagaimana keadaan Reen setelah terjun pun ia tak sanggup .


Jika Reen jatuh di daratan pastilah tubuhnya akan hancur apalagi ia tak menggunakan parasut saat itu . Dan jika Reen jatuh kelaut , kemungkinan besar Reen akan tenggelam karena kondisi Reen yang masih belum sembuh .


Jangankan untuk berenang , untuk menggerakkan tangan dan kakinya saja Reen tak mampu .


Robert juga sudah menghentikan pencairannya dari 3 hari yang lalu . Ia akan mencoba menerima apa yang telah terjadi .


Saat ini hanya satu alasan Joe untuk bertahan hidup , yaitu Lio . Sebenarnya ia sudah sangat ingin mengakhiri hidupnya . Namun , melihat Lio yang terus menangis membuatnya tak tega .


" Benar , hanya aku yang Lio miliki " kata Joe membantin .


Ia menatap Lio yang kini juga sedang menatapnya sambil menangis . Ia mengode anaknya untuk mendekat padanya . Lio menurut , ia berjalan menuju ayahnya yang sedang terbaring .


" Kemarilah , sayang ! " pinta Joe lembut .


Lio yang mendengar itu langsung berlari kearahnya , kemudian memeluk tubuhnya yang lemah .


" Lio sayang Dad ! Lio tak ingin kehilangan Dad ! " teriaknya sambil menangis .


" Dad tidak akan meninggalkanmu , Dad akan terus menjagamu , sayang ! Maafkan atas sifat Dad tadi , Dad berjanji tidak akan mengulangi nya ! " ucap Joe sambil membelai lembut punggung anaknya .


Sudah hampir sebulan Joe dirawat dirumah sakit . Ia juga menjalani perawatan dan terapi untuk penyembuhan kaki dan tangannya yang sempat patah .


Walaupun ia sudah berusaha untuk tetap ceria dihadapan anaknya , tetapi ia juga tidak bisa memungkiri rasa kehilangan yang teramat dalam .


Kehilangan akan sosok yang sudah menjadi seluruh bagian dari hidupnya . Tapi apa yang bisa ia lakukan ? Ia hanya orang lemah yang tak mampu melawan takdir .


Takdir memang tak pernah mau peduli dengan keinginan kita . Takdir berjalan sendiri sesuai kehendaknya .


Tak peduli kita senang atau sedih ia akan tetap begitu . Terkadang takdir itu egois , takdir itu kejam namun ia juga bisa menjadi takdir yang membahagiakan .


Setelah kondisinya pulih Joe sudah diizinkan untuk pulang . Ia memutuskan untuk tinggal bersama dengan Lio . Ia juga sudah mengurus surat pindah sekolah dan kewarganegaraan Lio .


" Kita sudah sampai ! " seru saat mobilnya berhenti dihalaman depan rumahnya .


Joe juga sudah meminta orang untuk membangun satu ruang lagi yang dijadikan kamar Lio .


" Lio , sekarang ini akan menjadi kamarmu . Bagaimana , apa kau menyukai dekorasinya ? " tanya Joe pada Lio yang saat ini sedang menatap kamar barunya .



" Wah...indahnya..! Aku menyukainya Dad , kau yang paling tau aku ! " seru Lio sembari memeluk ayahnya .


" Baiklah kalau begitu , kau mandi dulu lalu cepatlah tidur ! Dad , akan membangunkanmu saat waktu makan malam tiba " kata Joe sembari mengecup puncak kepala Lio .


" Ayyaya kapten ! "


Joe masuk kedalam kamarnya , entah mengapa ia seperti merasakan kehadiran Reen disana .


" Apa kau datang untuk mengunjungiku , Reen ? " tanya Joe pada udara .


" Apa kau sudah bersama Reethan ? "


" Apa kau tak merindukanku ? "


" Mengapa kau meninggalkanku ? "


" Apa Tuhan memang tak mengizinkan kita bersama ? "


" Mengapa takdir kita begitu sulit ?! "


Tangis Joe pecah , ia sudah tak bisa menahannya lagi . Joe segera masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya pintunya agar Lio tak mendengar tangisannya .


Joe menyapu semua yang ada dihadapannya dengan tangannya sambil berteriak .


" Apa aku tak berhak bahagia , Tuhan ?! "


" Apa aku terlalu hina untuk merasakan apa arti dari kata bahagia ?! "


" Mengapa kau membuat takdirku begitu sulit ?! "


Terus terus berteriak sambil membiarkan dirinya terguyur dengan dinginnya air dari shower . Tanpa Joe sadari , Lio terduduk didepan pintu kamar mandinya sambil menahan tangis .


Ia tak tega mendengar teriakan frustasi dari ayahnya . Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat ayahnya bahagia dan melupakan kesedihan atas kepergian ibunya .


Lio berjalan menuju kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur . Ia menangis tersedu-sedu disana .


" Mom...aku dan Dad merindukanmu . Mengapa kau meninggalkan kami ? Padahal kami sangat membutuhkan kehadiranmu ! " ucap Lio sambil terisak .


" Kau jahat , Mom ! Kau kejam ! " umpatnya sambil memukul-mukul bantal .


Tak lama kemudian ia pun tertidur .


Joe memasuki kamar putranya , ia melihat putranya itu sedang tertidur pulas . Joe menghampiri Lio , menatap putra satu-satunya itu sayang . Ia tau bahwa Lio habis menangis , terlihat jelas dari pipinya yang basah dan wajahnya yang sembab .


Ia mencium pipi Lio sayang lalu mengusap keningnya lembut .


" Semoga mimpi indah , jagoan Dad ! " ucap Joe lalu berlalu .


____


_______


Setiap hari Joe memerankan peran seorang ayah dan ibu berbarengan . Awalnya tidak mudah baginya untuk melakukan itu . Tapi sebagai orang tua tunggal ia harus melakukannya .


Bredley dan Sarah pun juga sudah memintanya untuk menikah kembali tapi permintaan itu selalu ia tolak mentah-mentah .


" Aku tidak akan pernah menikah ! Jikapun aku harus memiliki istri , maka hanya Reenlah yang pantas menjadi istriku ! " bentaknya pada Bredley .


" Tapi ini sudah setahun lebih setelah kepergian Reen , Joe ! Kau harus membuka lembaran baru hidupmu ! "


" Ayah , hentikan !!! Aku tak ingin mendengar kau membicarakan hal bodoh dan tidak berguna ini ! "


Bredley hanya menghela nafasnya , ia tau ini tidak akan berhasil pada anaknya yang sangat keras kepala itu . Tapi ia benar-benar tidak tega melihat kondisi Joe yang sekarang .


Selalu bekerja dan bekerja , tidak pernah memperdulikan dirinya sendiri . Joe akan selalu bersikap dingin dan pemarah kecuali jika ia bersama dengan Lio .


" Dad ? " panggil Lio yang baru saja keluar dari kamarnya .


" Ada apa , sayang ? " tanya Joe terkejut saat melihat Lio tiba-tiba muncul diruang tamu .


" Mengapa Dad berteriak ? Dad sudah mengganggu tidur siang ku ! " celetuk Lio sambil menguap .


" Maafkan Dad yang sudah membangunkanmu , ayo sekarang sapa kakek ! " perintah Joe lembut .


" Apa kakek ?! " Lio terkejut karena tidak menyadari kehadiran kakeknya dirumah mereka .


" Selamat sore , kakek ! Lio merindukan kakek ! " serunya dan langsung berhambur kepelukan sang kakek .


" Astaga , hukuman apa yang pantas untukmu ? Kau berani-beraninya tidak melihatku , hah ?! " Bredley menyentil dahi Lio pelan .


" Maafkan cucumu yang jahat ini " ucapnya sambil berpura-pura sedih .


" Wah..wah...ternyata yang makin pandai berakting ya ? Sudah berapa film yang kau perankan ? " tanya Bredley sambil menciumi pipi Lio gemas .


" Tiga ! Dan dua diantaranya akulah yang menjadi peran utamanya ! " kata Lio bangga sambil menepuk-nepuk dadanya .


" Hahahaha...lihatlah tingkah anakmu ini , Joe ! Dia sungguh menggemaskan ! "


Bredley terus tertawa melihat tingkah laku cucunya itu . Ia sampai melupakan tujuannya untuk memohon agar Joe menikah kembali .


Lio menceritakan bagaimana pengalaman syutingnya di beberapa film yang ia bintangi . Terkadang ia juga mempraktikkan adegan-adegan yang ada di film itu .


Joe hanya tersenyum mendengar gelak tawa dari keduanya sambil terus terfokus pada masakannya .


" Sepertinya mereka lupa waktu dan tidak menyadari hari sudah gelap " gumamnya pelan sambil terus mengaduk sup .


" Ayah , Lio , waktunya makan malam ! " seru Joe dari dalam dapur .


" Kami datang...!! " seru mereka berbarengan .


Lio duduk disamping kakeknya , ia menuangkan nasi keatas piring kakeknya kemudian mengambilkan semua lauk yang ada dimeja .


" Dad ! Dia bilang aku harus sopan dan mandiri , apalagi kepada orang tua " kata Lio sambil tersenyum .


" Oke tuan muda Aryan , mari kita mulai makan malamnya ! " ucap Bredley sambil menatap hidangan tak sabaran .


Ketiga generasi itupun makan dengan khidmat .


" Apa kau mau menginap dirumahnya kakek , Lio ? Kakek merasa sangat kesepian disana " ungkap Bredley dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin .


" Mmm....akan aku tanyakan pada Dad ! Jika Dad mengizinkan aku akan pergi bersama kakek ! " ucap Lio lalu berlari kearah Joe yang sedang mencuci piring bekas makan malam mereka .


Joe memang sudah terbiasa dengan segala pekerjaan rumah . Semua itu dimulai saat ibunya meninggalkannya dan ia memutuskan untuk tinggal sendiri .


" Dad...!! " seru Lio keras .


" Astaga Lio , bisakah kau tidak berteriak ? Kau mengejutkan Dad ! " ucap Joe .


" Hehehe...maaf.."


" Ada apa ? " tanya Joe


" Mmm... bolehkah aku menginap dirumah kakek ? Kakek bilang dia sangat kesepian disana " kata Lio hati-hati . Ia takut Joe tidak mengizinkannya , walaupun besok adalah akhir pekan .


" Boleh . Tapi ingat , jangan nakal dan berbuat keributan disana ! " ujar Joe mengingatkan .


" Ayyaya kapten ! "


" Apa kau akan berangkat sekarang ? "


" Iya "


" Kalau begitu jangan lupa untuk menutup pintu ! " perintah Joe lembut .


" Baik ! Mmm...Dad..? "


" Ada apa lagi ? "


" Kau belum memberikan ciuman selamat malam untukku ! " kata Lio cemberut .


" Baiklah , kemari anak Dad ! "


Joe berjongkok sambil merentangkan tangannya , Lio langsung menyambut pelukan sang ayah . Joe menciumi wajah anaknya dengan sayang .


" Mmm...anak Dad ternyata sudah besar ya ? Lio ingin hadiah apa untuk ulang tahun mu lusa ? "


Lio tampak berpikir sejenak lalu mendekatkan mulutnya ke telinga ayahnya .


" Lio mau Mom ! " bisiknya pelan namun penuh penekanan .


Mendengar itu tubuh Joe langsung menegang . Ia hendak menjitak anaknya , tapi Lio sudah berlari menjauh dengan cepat .


" Dasar , anak kecil ! " umpatnya pelan .


Joe mempercepat pekerjaannya di dapur , lalu masuk kedalam kamarnya . Ia membuka e-mail dari Elgar yang berisi berkas-berkas penting yang harus ia periksa malam ini juga .


Ia memijit-mijit keningnya yang terasa pening .


" Mungkin aku harus istirahat sekarang " batinnya .


Joe pun langsung merebahkan dirinya diatas kasur . Bayangan-bayangan wajah Reen masih terus berputar di otaknya .


" Reen...apa yang harus kulakukan ? Haruskah aku menerima permintaan Ayah dan Lio ? " katanya .


Akhirnya Joe tertidur dengan pikiran yang masih berkecamuk . Antara menerima atau menolak permintaan sang anak .


___


_____


Joe terbangun saat sinar matahari menerpa wajahnya lembut . Ia bangkit dari tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi . Pagi ini ia sarapan hanya dengan sepotong sandwich dan segelas susu .


Kepalanya masih terasa pusing , untung saja Lio menginap dirumah ayahnya .


Joe memilih untuk berjalan-jalan mengitari rumahnya . Ia melangkahkan kakinya menuju taman yang sudah lama sekali belum ia kunjungi .


" Taman ini selalu mengingatkanku pada mu , Reen ! Tentang bagaimana kejamnya aku padamu , tentang bagaimana besarnya cintamu padaku .


Aku tidak menyangka bahwa seperti inilah akhir dari cerita kita . Jika saja aku tau dari awal , mungkin aku akan memilih untuk tidak mengenalmu .


Dengan begitu kau bisa menjalani hidup normal dan bahagia bersama dengan orang yang menyayangimu "


Airmata Joe mengalir membasahi pipinya . Ia mengingat dengan jelas awal pertemuannya dengan Reen . Bagaimana cara gadis kecil itu menghiburnya , bagaimana cara dia menggodanya hingga membuat janji konyol dan memintanya untuk menikahinya .


Lalu bagaimana cara takdir mempertemukan mereka kembali melalui pernikahan yang diatur oleh ayahnya . Ia juga mengingat kejamnya ia sangat malam pertama mereka .


Bahkan dihari-hari berikutnya pun ia masih gemar menyiksa Reen . Hingga pada akhirnya membuat Reen keguguran dan ia kehilangan anak pertamanya .


Ia juga mengingat dengan jelas saat ia dengan bodohnya memperkenalkan Leenea dengan bangga sebagai wanita yang ia cintai .


Dan saat ia menyadari bahwa Reenlah wanita yang ia nantikan selama ini , Reen sudah pergi jauh meninggalkannya . Hingga kehadiran Lio membawanya pada titik terang .


Ia bertemu kembali dengan istrinya yang sangat ia rindukan itu . Namun setelah mengetahui keadaan Reen membuatnya makin menyesali perbuatannya .


Joe memejamkan mata membuat buliran yang masih menggenang di pelupuk matanya terjatuh .


" Arrggh..!! " erang Joe histeris .


Ia menjambak rambutnya kasar saat otaknya memutar memori tentang bagaimana brengseknya ia ketika hanya bisa menatap jatuhnya Reen dari pesawat .


" Aku tak sanggup menahan ini semua Reen....aku.......


_______


___________


Seorang wanita memasuki gerbang yang sudah asing lagi baginya . Ia berjalan dengan anggun dengan senyum yang terukir di bibir indahnya menuju halaman rumah .


Saat hendak mengetuk pintu , wanita itu mendengar suara erangan dari arah taman . Hatinya pedih saat mendengar erangan itu .


Ia beranjak dari teras rumah menuju taman dengan setengah berlari . Ditatapnya seorang pria yang sedang menangis sambil terus memukuli dadanya .


Wanita ia melangkah dengan perasaan sedih , ia berhenti tepat didepan pria itu yang kini sedang menundukkan kepalanya .


" Joe..." panggil wanita itu dengan suara bergetar .


Pria itu mendongakkan kepalanya saat mendengar namanya dipanggil . Ia membelalakkan matanya , menatap tak percaya pada sosok yang tengah berada dihadapannya itu .


" Tidak , tidak mungkin ! Aku hanya berhalusinasi ! " ucapnya lalu kembali menundukkan kepalanya .


" Joe..." panggil wanita itu lagi . Tetapi kali ini sambil mengangkat wajah pria didepannya .


" Apa kau tak menginginkan kehadiranku lagi , hingga kau enggan menatapku ? " tanya wanita itu .


Kini airmatanya sudah mulai menggenang disudut matanya . Ia menatap manik mata si pria dalam . Seolah mengisyaratkan kerinduan yang begitu mendalam dari manik matanya .


" Reen kau kah itu ? Tidak mungkin , aku pasti sedang bermimpi saat ini ! " bantahnya sambil memegangi tangan Reen .


Karena merasa kesal , Reen pun langsung melumat bibir Joe kasar lalu menggigit bibir bawahnya .


" Semoga kau bisa bangun dari mimpimu , Mr.Aryan ! Permisi ! " katanya kesal .


Ia melangkahkan kaki pergi menjauh dari Joe yang masih mematung tak percaya . Dan saat kesadarannya kembali , Joe langsung berlari mengejar Reen . Joe memeluk Reen dari belakang sambil terus menangis .


" Reen....aku merindukanmu ! Kemana saja kau selamanya ini ? " tanya Joe disela tangisnya .


Reen membalikkan badannya dan menatap wajah Joe , ia tersenyum kemudian membalas pelukan pria yang sangat ia cintai .


" Aku juga sangat merindukanmu Joe....aku selama ini selalu ada disini , dihatimu ! " ungkap Reen sambil menyentuh dada Joe .


Joe yang menyadari itu , langsung mendongakkan kepala Reen dan mendekatkan wajahnya pada wajah Reen .


Ia mencium bibir Reen lembut , mencoba meluapkan segala kerinduan yang selama ini ia bendung . Mereka berciuman hingga nafas keduanya hampir habis .


Dengan nafas yang masih terengah-engah mereka kembali berpelukan . Joe terus mengeratkan pelukannya seolah tak ingin melepas Reen kembali .


Ia tak ingin tau bagaimana cara Reen bisa selamat , karena yang terpenting kini Reen sudah berada disisinya dan tidak akan pernah pergi meninggalkannya lagi . Ia percaya bahwa Tuhanlah yang memberi keajaiban pada takdirnya .


" Kau milikku , dan selamanya akan terus berada di sisiku ! " bisik Joe ditelinga Reen .


" Dad....!! " teriak Lio dari kejauhan . Membuat keduanya harus melepas pelukan mereka .


Lio berlari menuju ayahnya yang sedang memeluk wanita , matanya menatap tak suka pada wanita yang tadi memeluk ayah kesayangannya .


" Maaf Nyonya , tapi ayah saya tidak boleh di peluk oleh sembarang o...rang " ucapan Lio terputus saat wanita itu membalikkan badannya .


" Apa aku tidak diizinkan untuk memeluk Dadmu , Lio ? " tanya Reen sambil tersenyum .


" Mom...!!! " teriak Lio histeris .


Entah karena terharu atau sedih , airmata Lio juga mengalir . Ia memeluk Reen erat .


" Mom..." ucap Lio lirih dengan suara tercekat . Ia sudah tak mampu lagi mengucapkan kata-kata .


Joe yang berada dibelakang mereka juga ikut berjongkok dan memeluk istri dan anaknya .


Kini Joe tau , tak semua takdir itu buruk . Mungkin ini cara adalah Tuhan agar membuatnya lebih mensyukuri nikmat yang telah Dia berikan .


Mr.Bredley yang menyaksikan pemandangan haru itupun ikut menitikkan air matanya .


" Semoga inilah akhir bahagia yang Tuhan berikan padamu , Joe ! Berbahagialah...." batin Bredley .


____________________________________________________________


Hallo para Readers tercinta...


Sekarang kita sudah berada diakhir kisah antara Joenathan Aryan dan Maureen Aqulia .


Mmm... gimana nih pendapat kalian tentang cerita ini dari awal sampai akhir ?


Tapi jangan bersedih dulu...


Karena author masih punya ekstra part untuk novel ini .Yang setuju , isi dikolom komentar yaa...biar author makin semangat bikin ekstra part nya😍😍😘😊😊