
" Kalau begitu , bolehkah aku mengetahui siapa nama asli mu ? " tanya Joe makin penasaran .
" Namaku adalah Equilio , Equilio Aryan . Nama yang indah bukan ? " tanya Lio sambil menatap wajah Joe .
Deg !
Jantung Joe berdegup kencang , waktu seakan terhenti , membuat ia semakin sulit untuk berkata-kata . Airmatanya mengalir deras membasahi pipi .
Joe semakin mempererat pelukannya pada tubuh kecil Lio . Kemudian menangis tersedu-sedu . Ia senang karena mengetahui bahwa Reen masih hidup , namun membayangkan bagaimana menderitanya Reen yang berjuang melawan penyakitnya , membuat hatinya perih .
" Maafkan dad , sayang...." ucap Joe di sela tangisannya .
" Apa maksud ayah ? " tanya Lio yang bingung kenapa tiba-tiba ayahnya menangis dan mengucapakan kata maaf .
" Lio , mari berpakaian dan kita akan pulang ! " ajak Joe tiba-tiba .
" Pulang kemana ? " tanya Lio semakin bingung .
" Ke negara A , ke rumahmu ! "
" Ayah , aku masih ingin berlibur disini ! " bantah Lio
" Tidak ada waktu lagi , Lio ! " ujar Joe lalu memakaikan pakaian pada anaknya itu .
" Tapi mengapa sangat tiba-tiba ? " tanya Lio dengan suara serak menahan tangis .
Joe yang menyadari itu langsung menatap Lio , ia melihat buliran bening telah menggenang di pelupuk mata Lio .
" Ada apa sayang ? Mengapa kau menangis ? " tanya Joe lembut sambil mengusap air mata Lio yang hendak jatuh .
" Aku tidak suka ! Aku tidak suka dengan sikap ayah yang tidak memberitahuku apa yang terjadi , tapi memaksaku untuk mengikuti perintah ayah ! " bentak Lio marah .
" Lio sayang , maafkan dad mu yang bodoh ini ! Dad yang tidak dapat menemukan keberadaan mu dan mom . Dad yang tidak ada saat kau membutuhkan dad . Dad yang tidak bisa memelukmu dengan hangat . Dad yang kejam , yang membuat mom menderita sendirian ! " ujar Joe sambil menangis .
" Apa maksudmu ayah ? " tanya Lio makin bingung .
" Lio , kau adalah anakku . Aku adalah dad mu , marga mu adalah marga ku , aku Joenathan Aryan . Dad yang selama ini kau cari ! " ungkap Joe sambil menggenggam tangan Lio .
" Tidak ! Itu tidak mungkin ! " teriak Lio lalu berlari menjauh . Tak menyangka bahwa ayahnya adalah dad yang ia rindukan . Pantas saja , saat Lio pertama kali melihat Joe ia merasa ada yang tak asing dari diri Joe .
Joe langsung mengejar Lio , ia tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya .
" Lio ! " panggil Joe pada Lio yang berlari menuju taman .
Joe menghampiri Lio yang sedang menangis di samping bangku taman . Ia berjongkok lalu memeluk tubuh kecil anaknya .
" Mengapa dad tidak mencariku selama ini ! Apa kau tidak tau betapa menderitanya aku , menyaksikan wajah mom yang menahan sakit sambil selalu menyebutkan namamu !! " ujar Lio sambil menangis .
"..."
" Aku tau kaulah yang menyebabkan mom menjadi sakit seperti itu , aku sangat ingin membencimu dad ! Tapi , mom selalu melarangku untuk melakukan itu ! Mom bilang , mom tidak akan pernah menyesal karena telah bertemu denganmu ! "
"..."
" Kau jahat dad ! Kau jahat....! "
Joe tidak tau apa yang harus ia katakan pada anaknya . Ia hanya diam saat Lio memukuli dadanya . Membiarkan Lio meluapkan emosi yang selama ini pendam .
" Maafkan dad , dad menyayangimu ! " ungkap Joe lalu membawa Lio kembali ke pelukannya . Lio menangis dalam dekapan Joe . Ia memeluk Joe erat , seakan tidak ingin kehilangan ayahnya lagi .
Walau ia sangat membenci Joe , namun Joe tetaplah ayahnya , ayah yang selama ini kehadirannya ditungu-tunggu Lio . Ayah yang Lio butuhkan untuk bersandar .
" Anak pintar , kau harus berhenti menangis agar kita bisa mulai bermain , bukankah kau ingin jalan-jalan ? " tanya Joe sambil menghapus air mata Lio .
" Ayyaya kapten ! " seru Lio mengangguk setuju .
***
Joe mengajak Lio pergi ke taman bermain yang pernah ia dan Reen datangi dulu . Lio tampak senang , ia berlari kesana-kemari tanpa memperdulikan Joe yang mulai lelah mengejarnya .
" Aku tidak menyangka bahwa aku mempunyai seorang ayah yang lemah sepertimu , dad ! " seru Lio membalikkan badannya , lalu kembali berlari meninggalkan Joe .
" Anak ini sungguh mirip dengan ibunya ! " umpat Joe dalam hati , ia senang karena tau Lio mewarisi sifat ibunya yang riang dan ramah tidak seperti dirinya yang dingin dan pemarah .
Joe berlari lebih kencang , mencoba mengejar Lio yang sudah berada jauh di depannya . Ia berhenti sejenak , mencoba mengatur nafasnya .
Joe menoleh pada seseorang yang baru saja melewatinya , orang yang tampak sangat mencurigakan . Ia segera melihat ke arah Lio , dan benar saja ada benda yang mirip seperti bom berada tak jauh dari tempat berdirinya Lio .
" Tidak , itu bom !! " seru Joe seketika .
" Lio , cepat kemari !! " Ia berteriak ke arah Lio .
Lio hanya menatap bingung wajah panik Joe . Joe langsung berlari kearah anaknya . Dan tepat setelah Joe mendekap Lio , bom meledak . Ledakan yang tidak terlalu besar memang , namun sudah mampu untuk meledakan 1/5 bagian dari taman .
" Dad !!! " pekik Lio saat melihat Joe mulai kehilangan kesadaran . Darah mengalir dari punggung Joe yang terbakar .
" Dad...!! " pekik Lio lagi , kali ini dengan suara tercekat sambil mencoba menahan tubuh Joe yang mau ambruk .
" Lio , apa kau baik-baik saja ? " tanya Joe gemetar , mencoba menahan rasa sakitnya . Lio sudah tak dapat menahan air matanya .
" Dad , aku baik-baik saja . Mengapa kau melindungiku ? " tanya Lio sambil terisak .
" Dad tidak mungkin membiarkanmu terluka , sayang . Dad menyayangimu " ucap Joe lalu jatuh tersungkur .
" Dad.......!!!!! " teriak Lio sambil mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya yang penuh luka .
***
Mr.Bredley mendapat kabar bahwa Joe terluka dan saat ini sedang berada di ruang UGD . Sesampainya di sana Mr.Bredley melihat seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu . Kemudian ia menghampirinya .
" Anak kecil , mengapa kau menangis ? " tanya Mr.Bredley . Ia menatap Lio dengan tatapan menyelidik , seperti ia pernah bertemu dengan anak itu sebelumnya .
Lio mendongak , lalu berucap di sela tangisnya " Dad.."
" Apa ayahmu berada didalam ? " tanya Mr.Bredley yang hanya dibalas sebuah anggukan oleh Lio .
" Sebentar lagi ayahmu pasti akan keluar " ucap Mr.Bredley mencoba menenangkan , walaupun ia sendiri juga sangat khawatir akan keselamatan Joe .
" Dad seperti itu karena menyelamatkan ku ! Seandainya aku tidak berlari dan selalu berada disampingnya , mungkin ini tidak akan terjadi . Aku tak mau kehilangan dad lagi ! " ungkap Lio sambil terus menangis .
Mr.Bredley yang melihat itu ikut terharu , ia dapat merasakan betapa besarnya cinta si anak ini pada ayahnya . Baru saja Mr.Bredley hendak memeluk anaknya itu , tiba-tiba pintu UGD terbuka .
Lio langsung berlari ke arah dokter yang baru saja keluar dari sana .
" Apa Dad baik-baik saja ? " tanya Lio sambil terisak .
Belum juga dokter menjawab pertanyaan Lio , Joe sudah didorong keluar dari ruang UGD . Lio kembali berlari ke arah Joe .
" Dad !! " teriak Lio dengan tangis yang semakin keras . Ia tak tahan saat melihat tubuh Joe penuh dengan balutan perban . Ia menangis disamping Joe yang masih belum sadar .
Mr.Bredley terperangah saat melihat anak itu berlari ke arah Joe lalu berteriak " dad " sambil terus menangis . Lalu dokter tadi menyadarkan Mr.Bredley .
" Maaf Mr.Bredley , anak itulah yang membawa Tuan Aryan kemari " ungkap dokter itu .
Tak mau banyak berpikir , Mr.Bredley langsung menyuruh perawat untuk memindahkan Joe .
Lio terus mengekor di belakangnya , Mr. Bredley baru menyadari bahwa wajah anak kecil itu sangat mirip dengan Joenathan di waktu kecil . Ia melirik kembali , berusaha untuk memastikan .
" Tuan , apakah anda mengenal ayah saya ? " tanya Lio yang merasa dirinya di perhatikan .
" Ya . Apa dia ayahmu ? "tanya Mr.Bredley sambil menunjuk Joe .
" Ya , dia ayahku Joenathan Aryan . Dan aku adalah anaknya Equilio Aryan . Boleh aku bertanya apa hubunganmu dengan ayahku , tuan ? " jelas Lio dengan sisa-sisa tangis yang terdengar dari suaranya .
Mr.Bredley terkejut mendengar penjelasan dari anak itu . Yang ia tau Joe tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Maureen . Dan ia juga tak dapat memungkiri bahwa bocah dihadapannya adalah anak dari Joe karena wajah mereka yang benar-benar mirip . Satu pikiran terlintas di benaknya .
" Apakah ibumu bernama Maureen ? " tanya Mr.Bredley ragu .
" Ya . Itu nama ibu saya . Apa anda juga mengenal ibu saya ? "
Mr.Bredley langsung memeluk Lio , ia mengecup kening Lio berkali-kali hingga membuat anak itu merasa risih .
" Tuan , maaf "
" Cucuku , aku adalah kakekmu " ungkap Mr.Bredley sambil menatap mata Lio .
" Kakek ? " tanya Lio mencoba meyakinkan .
" Ya sayang , ini kakekmu "
" Kek , dad ! Aku takut ia kenapa-napa ! " ungkap Lio
" Kau tenanglah , dad mu pasti akan baik-baik saja . Aku yakin tak lama setelah ini , ia akan sadar " jelas Mr.Bredley lalu mengendong cucunya itu masuk ke ruang VVIP tempat Joe akan dirawat .
Lio senantiasa menunggu ayahnya bangun , hingga tertidur disamping Joe karena kelelahan .
***
Joe tersadar keesokan harinya , ia memandang Lio yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya . Joe tersenyum , senang karena Lio baik-baik saja .
Ia mengecup puncak kepala Lio hati-hati , takut membangunkan anak itu . Joe tau Lio pasti sangat kelelahan karena menjaganya .
Airmatanya menetes saat teringat akan Reen . Rasa sakit yang ia rasakan ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa sakit yang di derita Reen .
Apalagi Joe tahu , bahwa yang menyebabkan Reen seperti itu adalah dirinya sendiri . Joe tau jelas bahwa kemungkinan Reen untuk sembuh sangat kecil , bahkan bisa dibilang tidak mungkin .
Dari cerita Lio tentang penyakit Reen , Joe dapat menyimpulkan bahwa Reen mengalami persistent vegetative state , dimana terjadi kerusakan pada otak yang melumpuhkan fungsi alami dari tubuh manusia .
Reen hanya bisa bernafas , mendetakkan jantung , dan mengedipkan matanya . Ia tidak bisa melakukan aktivitas fisik apapun . Bahkan tidak dapat memberikan respon terhadap lingkungan sekitarnya .
Juga tidak dapat menunjukkan emosi yang ia rasakan . Reen hanya bisa berbaring atau hanya duduk di ranjang nya , tentu saja dengan dibantu oleh orang lain .
Joe menyesali dirinya yang selalu menyiksa Reen , benturan-benturan yang ia lakukan pada Reen lah yang membuatnya menjadi pasien vegetatif .
" Maafkan aku , Reen..." ujarnya dengan suara tercekat .
Joe harus dirawat dirumah sakit cukup lama karena luka bakarnya yang lumayan parah . Lio terus menangis , jika ia melihat luka dipunggung Joe yang hendak di ganti .
" Dad , maafkan Lio...Lio janji , Lio akan menjadi anak yang penurut setelah ini " ucap Lio sambil mengucek matanya .
" Tak apa sayang , ini bahkan tak sebanding dengan yang Mom lakukan padamu " ucap Joe lalu mempererat pelukannya pada Lio .
" Kapan saya diperbolehkan untuk pulang sus ? " tanya Joe pada perawat yang membantunya mengganti perban .
" Mungkin tiga hari lagi , jika kondisi tuan sudah benar-benar pulih "
" Kau dengar Lio , tiga hari lagi kita akan pulang , lalu sehari kemudian kita akan menemui mom ! " seru Joe semangat .
***
Beberapa hari setelah Joe keluar dari rumah sakit , ia dan Lio langsung berangkat menuju kediaman keluarga Ayhner di negara A .
Rasa gugup , takut dan senang pun Joe rasakan . Ia tak sabar ingin melihat wajah orang yang ia cari-cari selama hampir delapan tahun ini .
Joe tak mau lagi kehilangan kesempatan untuk bersama dengan orang yang ia cintai . Sudah cukup dulu ia menyia-nyiakan penantian 10 tahunnya , karena kebodohannya .
Sekarang ia tak ingin itu terjadi lagi . Joe memandangi wajah Lio yang tertidur pulas dalam pelukannya . Ia mengecup puncak rambut Lio .
" Sayang , kuatkan dad ! " ucapnya lirih .
Perjalanan ini terasa sangat lama untuk Joe , ia sudah sangat tak sabar untuk menemui Reen . Rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi .
Setelah turun dari pesawat , Joe langsung menaiki taxi . Lio masih terlelap di pelukannya .
" Kediaman keluarga Ayhner ! " ucap Joe pada sopir taxi .
Mobil segera melesat membelah jalanan padat ibukota negara A . Setelah 15 menit , mobil akhirnya berhenti disebuah rumah mewah yang terlihat seperti kastil .
Joe membangunkan Lio yang yang masih tertidur . Lio segera membuka matanya . Lalu melihat sekitar .
" Kita sudah sampai dad ? " tanya Lio
" Ya . Dad , sudah tak sabar ingin menemui Mom " ungkap Joe sambil membantu Lio turun dari tadi .
Para penjaga terlihat gelagapan saat melihat Lio datang . Mereka tidak tau sama sekali bahwa Lio akan pulang hari ini . Mereka langsung berbaris dan memberi hormat pada Lio dan Joe .
" Selamat datang tuan muda , Selamat datang tuan " ucap mereka membungkuk .
Lio berlari ke arah pintu rumah , disana terlihat wanita paruh baya yang sedang menatap mereka heran .
" Nenek.......!!! " teriak Lio , lalu memeluk sang Nenek erat .
" Lio rindu nenek ! " ungkap Lio pada Sarah yang sedang memperhatikan Joe .
" Oh ya nek ! Coba tebak siapa orang yang pulang bersama ku ini ? " tanya Lio riang sambil menggenggam tangan Joe .
" Memangnya siapa laki-laki tampan yang bersamamu , Lio ? " tanya Sarah tersenyum .
" Dia adalah Joenathan Aryan , My dad ! " seru Lio bangga .
" Selamat riang , Nyonya Ayhner " ucap Joe memberi salam .
Berbeda dengan Lio , raut wajah Sarah terlihat tegang . Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari balik pintu . Ia menatap tak suka pada Joe .
" Siapa yang kau bilang ayahmu , Lio ? " tanyanya ketus .
" Dia adalah ayahku ! " ungkap Lio sambil tersenyum , karena tidak menyadari situasi tegang diantara mereka .
" Ayah mu sudah tiada , Lio ! Kau tidak memiliki ayah ! " umpat Robert sambil menatap tajam ke arah Joe .
" Apa maksudmu , uncle ? Dia ayahku !! " bentak Lio tak rela , kini buliran bening kembali menggenang di sudut matanya .
" Kau bukan anak dari orang bejat seperti orang itu ! " umpat Robert yang kini mulai naik pitam .
" Robert ! " bentak Sarah pada Robert yang kata-katanya mulai keterlaluan .
" Ada apa ibu ?! Apakah ibu akan membela orang yang hampir membunuh kakak ?! " tanya Robert marah .
" Saya minta maaf atas segala perbuatan buruk saya pada Reen dulu " ucap Joe sambil menunduk .
Tiba-tiba satu pukulan dilayangkan Robert tepat di pipi Joe . Joe yang tak siap , sempat terhuyung ke belakang .
" Kau pria brengsek yang tidak tau malu ! Untuk apa kau meminta maaf , hah ??!!! Permintaan maafmu tidak akan dapat menyembuhkan kakak !!! " ujar Robert sambil menarik kerah kemeja Joe .
Lalu kembali meninjunya lebih keras hingga Joe kembali tersungkur dengan darah yang mulai mengalir dari sudut bibirnya .
" Saya..." ucapan Joe terhenti saat Robert **** tubuhnya dan memukulnya bertubi-tubi . Joe hanya diam , pasrah terhadap apa yang dilakukan Robert padanya .
" Hentikan ! Uncle kumohon..." ucap Lio memohon sambil menangis . Ia tak tega melihat ayahnya terluka .
" Uncle , luka dad belum sembuh sepenuhnya ! Kumohon... Dad terluka karena aku , dia menyelamatkan ku dari ledakan bom dan membiarkan tubuhnya menjadi penghalang untukku ! Aku menyayangi dad...ku mohon hentikan ! " teriak Lio makin terisak saat Robert terus memukul Joe tanpa henti .
" Cukup Robert !! Hentikan semua ini !! " kini giliran Sarah yang berteriak . Ia sudah tak tahan melihat kelakuan anaknya yang seperti orang tak bermoral .
Robert langsung menghentikan aksinya .
" Robert ! Tidak kau lihat kondisi kakakmu disana ?! Dia sedang menderita ! Dia selalu menatap jendela saat ia terbangun , menunggu orang yang ia cintai datang . Selama bertahun-tahun ia menunggu .
Dan sekarang kau malah hampir membuat orang yang kakakmu tunggu mati ! Tidakkah kau berpikir ini akan membuat kakakmu mati juga ??!!! Satu-satunya alasan ia hidup adalah Joe , Robert ! " jelas Sarah sambil ikut menangis .
Sarah segera menarik Robert untuk menjauh dari Joe , lalu membantu Joe yang lemah untuk berdiri .
" Biar ku obati luka mu ! " tawar Sarah sambil mengelus rambut Joe sayang .
" Tak perlu Nyonya , aku hanya ingin segera menemui Reen " ucap Joe sambil menahan perih dipunggungnya .
" Baiklah , aku akan mengantarmu " ucap Sarah .
Sarah menuntun Joe ke salah satu kamar di rumahnya . Sesekali Sarah melihat Joe yang sedang mengusap darah yang terus mengalir dari pelipisnya .
Melihat dari sikap Joe yang pasrah saat di pukuli oleh Robert , Sarah yakin bahwa Joe sangat mencintai Reen . Kesalahan mereka adalah kurangnya keterbukaan pada pasangan , hingga membuat kesalahpahaman yang begitu besar .
Sarah menghentikan langkahnya tepat saat berada di depan pintu kamar Reen . Sarah menari kenop pintu , dan saat pintu terbuka Joe dapat melihat dengan jelas Reen yang sedang terbaring tak berdaya .
Tubuhnya bergetar hebat , jantungnya berdegup kencang , dadanya begitu sakit saat melihat tubuh orang yang ia cintai , yang ia rindukan dipenuhi oleh alat-alat medis .
Airmatanya mengalir deras .
" Reen....! " panggilnya sambil terisak .
___________________________________________________________
Maaf atas keterlambatan up nya 🙏🙏🙏
Happy reading ! Semoga bab ini tidak mengecewakan 😉 😘😘