I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
5 # Sandiwara



Mr. Bredley kembali ke ruangannya ,


setelah menjenguk Maureen , menantunya .


  Ia memijit-mijit keningnya yang terasa pening , pikirannya menerawang kembali ke masa lalu , masa yang telah membuatnya jatuh pada dasar jurang kehampaan . 


  Seandainya ia mampu mempertahankan perusahaa saat itu mungkin saat ini Joenathan sudah hidup bahagia seperti orang kebanyakan .


  Awalnya dia pikir dengan menikahkan Joenathan dan Maureen akan membuat Joenathan merubah pikiran nya dengan wanita tapi nyatanya malah membuat dua orang itu tersakiti , tersakiti karena dirinya .


  Dia tak mau menyusahkan Joenathan lagi , Mr.Bredley berdiri mengambil cutter  di atas meja .


  Saat hendak menggoreskan benda itu , tiba-tiba pintu terbuka Joenathan muncul berjalan cepat ke arah dan langsung merebut benda tajam itu , melemparnya asal .


  " Apa yang ayah lakukan ??! " 


  " ... "


  " Tidakkah ayah tau ini berbahaya ?!


  "...."


  


  " Berhenti bersikap kekanak-kanakan ! "


  " ...."


  " Ayah maafkan aku, sudah berkata kasar padamu " suara Joenathan melembut.


  " Aku yang salah , aku yang selalu menyusahkan mu Joe ! Harusnya kau biarkan aku mati sa..."


  " Ayah !! "


  " Aku sudah tak sanggup lagi Joe..., Aku menikahkan kau dengan Maureen dan berharap kau bisa bahagia , tapi aku malah membuat mu seakan menjadi laki laki yang kejam "


  " Ayaaah..., hanya kau yang ku punya , tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri , yang membuatku seperti bukan kau ayah , tapi wanita sialan yang kau nikahi itu !! "


  "...."


  " Jika ayah ingin aku menerima Maureen , baiklah ...tapi..."


  "...."


  " Tapi aku tidak berjanji akan bersikap manis padanya " 


  " Joe tapi dia istrimu ! "


  " Yang berhak untuk menjadi istriku hanya satu ! Dan ayah tau dia siapa , aku akan menceraikan Maureen jika aku sudah menemukan nya "


  " Jangan pernah kau menceraikannya jika bukan dia yang memintamu Joe ! "


  " Maka aku akan membuatnya memohon padaku aku menceraikannya ! " 


  Ucap Joenathan lalu pergi .


____


_______


  Matahari mulai menampakkan dirinya di balik jendela , burung-burung juga sudah meninggalkan sarangnya , kicauan demi kicauan membuat seseorang yang sedang tertidur mulai membuka matanya .


  " Kau sudah bangun ? " 


  " Emmm... " Reen mengucek mata , menerjab-nerjab beberapakali , mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari.


  Dia melihat Joenathan sedang duduk di sofa sambil memperhatikan berkas-berkas di tangannya .


  " Makanlah , aku sudah membawakan sarapan untukmu " 


  Reen melihat ke arah nakas yang di atasnya sudah ada sekotak makanan , segera iya ambil kotak itu lalu membuka nya , semerbak wangi masakan membuat perutnya langsung berontak minta diisi 


  " Terima kasih "


  " Hmm "


  " Kau sudah makan ? "


  " Urus saja dirimu sendiri ! Dan tak usah sok perhatian dengan ku ! " 


  " Baiklah " 


   Reen mulai menyantap makanannya


  


  " emmm...enaaaakk..."  


   Ucapnya sangat pelan namun Joenathan yang masih mendengarkan suara itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Reen yang sangat menikmati makanannya , Joenathan tersenyum , sangat tipis hampir tak terlihat 


  " Dasar kampungan ! " Ejek Joenathan yang tak di pedulikan Reen , ia tetap menyantap makanannya dengan mata berbinar.


  " Aku mau pergi ke perusahaan untuk mengambil beberapa berkas lagi , kau diamlah disitu dan jangan kemana-mana !! " 


  " Baiklah , jaga dirimu "


Cihh Joe melangkah pergi , keluar lagi kamarnya , Reen hanya bisa menatap punggung Joe yang hilang di balik pintu .


  " Aku akan bertahan , karena aku mencintaimu kakak ! " Ucap Reen lirih lalu kembali melanjutkan acara makannya.


  Tiga puluh menit___


  Satu jam__


  Satu jam setengah___


  Reen hanya membolak-balik kan badannya , ia bosan sudah selama ini dia menunggu Joe , tapi yang ditunggu belum juga menampakkan diri nya.


  Reen melihat ke arah jendela kamar , disana ada taman yang disediakan rumah sakit untuk pasien-pasien yang sedang merasa bosan atau hanya sekedar menghirup udara segar.


" Mungkin aku bisa kesabaran " pikirnya.


Reen keluar kamarnya hendak menuju taman , jalannya sedikit tertatih , mungkin karena bekas jahitannya .


   Joe sebenarnya sudah datang dan mau menuju kamar Reen . 


  Belum sampai dia di kamarnya Joe sudah melihat Reen hendak pergi .


  " Mau kemana dia ? " Batinnya


  Dan Joe pun mengikuti Reen , tentu saja tanpa sepengatuhuan gadis itu .


***


  Reen duduk di salah satu kursi taman , ia bisa melihat seluruh aktifitas orang - orang di sini .


  Pandangannya terhenti pada seorang anak yang sedang tertawa bahagia di kursi rodanya , sepertinya dia sedang menerima sesuatu dari kedua orang tua nya.


  Dia tersenyum sekilas , lalu tiba-tiba air matanya mengalir , ia iri dengan anak itu , orang tuanya begitu sayang padanya , 


  sedangkan dia jangankan untuk mendapat kasih sayang , bahkan ibunya saja membuang dia dan meninggalkan di panti asuhan sejak bayi.


  Miris. Dadanya terasa sesak setiap mengingat kembali masa-masa kecil yang suram saat masih di panti ,


  Belum lagi penyakit yang di deritanya , membuat ia tak mampu berbuat apapun . 


Dan memutuskan untuk membiarkan penyakitnya ngambil nyawanya perlahan.


  Tapi takdir berkata lain , ia di pertemukan dengan Mr. Bredley ayah dari orang yang menjadi cinta masa kecilnya .


  Dia bahagia karena bisa menikah dengan Joe , egois memang karena dia tidak mau melepaskan Joe , karena hanya Joe yang ia cintai dari dulu , sekarang hingga nanti di masa depan.


  


  Ini membuat dadanya semakin sesak.


  Tak ada yang menginginkannya di dunia ini , tapi mengapa dia harus lahir !! Reen memukuli dadanya 


  " Sakit..." Lirihnya dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya .


   Joenathan yang melihat itu bingung harus berbuat apa , ia berjalan ke arah Reen hendak mengajak nya kembali kamar.


  Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti melihat ada seorang pria berjongkok di hadapan Reen sambil mengusapkan air matanya , Reen mendongak dan langsung memeluk pria itu .


  Seketika rahang Joe mengeras , tangannya terkepal mengasikkan Reen memeluk dan dipeluk pria lain , pria itu tampak sedang mengelus-elus punggung Reen mencoba menenangkan nya.


  Joe makin mempercepat langkahnya , setelah tepat di hadapan mereka , Joe menarik pria itu menjauh lalu meninjunya keras , mencengkram kerah bajunya 


  " Apa yang kau lakukan pada istriku !! " Bentak Joe 


   " Aku hanya mencoba menenangkan nya ! " 


  " Menenangkan nya ??! Itu hanya alasanmu !! " Joe kembali meninju pria itu 


  " Siapa kau hingga berani memukulku ??! " Kini giliran pria itu yang geram


   " Apakah kau tidak mendengarnya tadi ?? !! Dia istriku dan aku SUAMINYA !! " 


   " Heh , suaminya kau bilang , jika kau suaminya seharusnya kau ada untuknya ! Bukan malah sembunyi dari kejauhan dan baru datang saat ada pria lain yang menenangkannya !!! " 


   " Itu bukan urusan mu !! Dan urus saja diri mu sendiri !!! " 


   Jelas Joe lalu menarik tangan Reen paksa , membawa nya menuju kamar .


  " J..jooee ,, pelan , perutku sakiit..." Pinta Reen , namun tak di hiraukan Joe , dia tetap menariknya .


  Setelah sampai di kamarnya Joe langsung menghempaskan badan Reen ke lantai . Bugghh


  


  " Ahh " Reen meringis kesakitan 


  " Dasar kau wanita jalang !! Beraninya memeluk pria lain di hadapan ku ! " 


  


  " Joe dengarkan aku dulu , dia hanya seniorku di kampus " 


  


  " Aku tak peduli siapa dia !! Sekali jalang tetap saja JALANG !! 


  " Joe ,, kamu keterlaluan !! " 


  " Aku yang keterlaluan atau kau yang keterlaluan ??!! Sekali lagi kau ulangi kesalahanmu , kau akan tau akibatnya !! "  


  


  Ucap Joe sambil menendang kaki Reen dan kembali pergi meninggalkan Reen yang kini menangis lagi .


  " Ya Tuhan...."


  


  Dadanya makin sesak , ia mencoba berdiri berkali-kali namun lagi-lagi  terjatuh membuat luka nya makin sakit.


  Dia mencoba sekali lagi dan berhasil , dia segara naik ke kasurnya , mencoba merebahkan badannya , namun lagi-lagi rasa sakit menahan gerakannya .


  


  Reen sudah tak tahan lagi , dia segera menekan tombol darurat di atasnya .


  


  Dua menit kemudian suster datang di suster pun langsung kaget dengan keadaan Reen


  


  " Ya Tuhan....Nyonya perutmu berdarah lagi, bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya si suster , 


  


   Lalu dengan cekatan suster itu membersihkan darah yang ada dilukainya , untung saja hanya pendarahan ringan, jika tidak mungkin Reen akan melakukan operasi lagi.


  


  " Nyonya kau harus lebih berhati-hati lagi "


  


   " Maaf suster , tadi saya terpeleset di kamar mandi " 


  


   " Baiklah kalau begitu , jika ada apa-apa panggil saya , saya permisi dulu " 


  


    " Ya , silahkan " 


    Suster itu pun pergi dan kini hanya tinggal Reen di kamarnya , ia kembali menangis , entah apa yang ia tangisi sekarang , rasa perih di perutnya juga perasaannya yang sakit .


   


   Karena kelelahan menangis , akhirnya Reen tertidur , 


  ***


  


   Joe masuk ke dalam kamar Reen , dia mendapati Reen telah tertidur , ia mendekat ke arahnya , matanya melihat baju di bagian perut di tutupi noda darah , Joe mengusap rambut Reen pelan 


  


  " Maafkan aku..."


   "..."


   " Harusnya kau jangan mau menerima permintaan ayah , " kata Joe lirih , suaranya memang tak membangun kan Reen , tapi...


  " Kakak...."


  " Hmmm "


   " Kakaakk... Sakiit...." Kata Reen mengigau


   " Baiklah untuk menebus ke salah ku,  aku akan menemanimu tidur " 


  


   Joe menyeringai jail , dia tau jika Reen hanya mengigau .


   Joe naik ke kasur Reen , merebahkan badannya di samping Reen , kemudian memeluk perut Reen , sesekali dia bergumam 


   " Maafkan aku Reen , aku tak bisa mencintaimu , karena aku telah mencintai wanita lain , satu-satunya wanita yang tidak aku benci di dunia ini "


  


   Wangi badan Reen membuatnya mengantuk , dan akhirnya dia tertidur masih dengan posisi memeluk Reen


*___*