
Mr. Bredley kembali ke ruangannya ,
setelah menjenguk Maureen , menantunya .
Ia memijit-mijit keningnya yang terasa pening , pikirannya menerawang kembali ke masa lalu , masa yang telah membuatnya jatuh pada dasar jurang kehampaan .
Seandainya ia mampu mempertahankan perusahaa saat itu mungkin saat ini Joenathan sudah hidup bahagia seperti orang kebanyakan .
Awalnya dia pikir dengan menikahkan Joenathan dan Maureen akan membuat Joenathan merubah pikiran nya dengan wanita tapi nyatanya malah membuat dua orang itu tersakiti , tersakiti karena dirinya .
Dia tak mau menyusahkan Joenathan lagi , Mr.Bredley berdiri mengambil cutter di atas meja .
Saat hendak menggoreskan benda itu , tiba-tiba pintu terbuka Joenathan muncul berjalan cepat ke arah dan langsung merebut benda tajam itu , melemparnya asal .
" Apa yang ayah lakukan ??! "
" ... "
" Tidakkah ayah tau ini berbahaya ?!
"...."
" Berhenti bersikap kekanak-kanakan ! "
" ...."
" Ayah maafkan aku, sudah berkata kasar padamu " suara Joenathan melembut.
" Aku yang salah , aku yang selalu menyusahkan mu Joe ! Harusnya kau biarkan aku mati sa..."
" Ayah !! "
" Aku sudah tak sanggup lagi Joe..., Aku menikahkan kau dengan Maureen dan berharap kau bisa bahagia , tapi aku malah membuat mu seakan menjadi laki laki yang kejam "
" Ayaaah..., hanya kau yang ku punya , tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri , yang membuatku seperti bukan kau ayah , tapi wanita sialan yang kau nikahi itu !! "
"...."
" Jika ayah ingin aku menerima Maureen , baiklah ...tapi..."
"...."
" Tapi aku tidak berjanji akan bersikap manis padanya "
" Joe tapi dia istrimu ! "
" Yang berhak untuk menjadi istriku hanya satu ! Dan ayah tau dia siapa , aku akan menceraikan Maureen jika aku sudah menemukan nya "
" Jangan pernah kau menceraikannya jika bukan dia yang memintamu Joe ! "
" Maka aku akan membuatnya memohon padaku aku menceraikannya ! "
Ucap Joenathan lalu pergi .
____
_______
Matahari mulai menampakkan dirinya di balik jendela , burung-burung juga sudah meninggalkan sarangnya , kicauan demi kicauan membuat seseorang yang sedang tertidur mulai membuka matanya .
" Kau sudah bangun ? "
" Emmm... " Reen mengucek mata , menerjab-nerjab beberapakali , mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari.
Dia melihat Joenathan sedang duduk di sofa sambil memperhatikan berkas-berkas di tangannya .
" Makanlah , aku sudah membawakan sarapan untukmu "
Reen melihat ke arah nakas yang di atasnya sudah ada sekotak makanan , segera iya ambil kotak itu lalu membuka nya , semerbak wangi masakan membuat perutnya langsung berontak minta diisi
" Terima kasih "
" Hmm "
" Kau sudah makan ? "
" Urus saja dirimu sendiri ! Dan tak usah sok perhatian dengan ku ! "
" Baiklah "
Reen mulai menyantap makanannya
" emmm...enaaaakk..."
Ucapnya sangat pelan namun Joenathan yang masih mendengarkan suara itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Reen yang sangat menikmati makanannya , Joenathan tersenyum , sangat tipis hampir tak terlihat
" Dasar kampungan ! " Ejek Joenathan yang tak di pedulikan Reen , ia tetap menyantap makanannya dengan mata berbinar.
" Aku mau pergi ke perusahaan untuk mengambil beberapa berkas lagi , kau diamlah disitu dan jangan kemana-mana !! "
" Baiklah , jaga dirimu "
Cihh Joe melangkah pergi , keluar lagi kamarnya , Reen hanya bisa menatap punggung Joe yang hilang di balik pintu .
" Aku akan bertahan , karena aku mencintaimu kakak ! " Ucap Reen lirih lalu kembali melanjutkan acara makannya.
Tiga puluh menit___
Satu jam__
Satu jam setengah___
Reen hanya membolak-balik kan badannya , ia bosan sudah selama ini dia menunggu Joe , tapi yang ditunggu belum juga menampakkan diri nya.
Reen melihat ke arah jendela kamar , disana ada taman yang disediakan rumah sakit untuk pasien-pasien yang sedang merasa bosan atau hanya sekedar menghirup udara segar.
" Mungkin aku bisa kesabaran " pikirnya.
Reen keluar kamarnya hendak menuju taman , jalannya sedikit tertatih , mungkin karena bekas jahitannya .
Joe sebenarnya sudah datang dan mau menuju kamar Reen .
Belum sampai dia di kamarnya Joe sudah melihat Reen hendak pergi .
" Mau kemana dia ? " Batinnya
Dan Joe pun mengikuti Reen , tentu saja tanpa sepengatuhuan gadis itu .
***
Reen duduk di salah satu kursi taman , ia bisa melihat seluruh aktifitas orang - orang di sini .
Pandangannya terhenti pada seorang anak yang sedang tertawa bahagia di kursi rodanya , sepertinya dia sedang menerima sesuatu dari kedua orang tua nya.
Dia tersenyum sekilas , lalu tiba-tiba air matanya mengalir , ia iri dengan anak itu , orang tuanya begitu sayang padanya ,
sedangkan dia jangankan untuk mendapat kasih sayang , bahkan ibunya saja membuang dia dan meninggalkan di panti asuhan sejak bayi.
Miris. Dadanya terasa sesak setiap mengingat kembali masa-masa kecil yang suram saat masih di panti ,
Belum lagi penyakit yang di deritanya , membuat ia tak mampu berbuat apapun .
Dan memutuskan untuk membiarkan penyakitnya ngambil nyawanya perlahan.
Tapi takdir berkata lain , ia di pertemukan dengan Mr. Bredley ayah dari orang yang menjadi cinta masa kecilnya .
Dia bahagia karena bisa menikah dengan Joe , egois memang karena dia tidak mau melepaskan Joe , karena hanya Joe yang ia cintai dari dulu , sekarang hingga nanti di masa depan.
Ini membuat dadanya semakin sesak.
Tak ada yang menginginkannya di dunia ini , tapi mengapa dia harus lahir !! Reen memukuli dadanya
" Sakit..." Lirihnya dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya .
Joenathan yang melihat itu bingung harus berbuat apa , ia berjalan ke arah Reen hendak mengajak nya kembali kamar.
Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti melihat ada seorang pria berjongkok di hadapan Reen sambil mengusapkan air matanya , Reen mendongak dan langsung memeluk pria itu .
Seketika rahang Joe mengeras , tangannya terkepal mengasikkan Reen memeluk dan dipeluk pria lain , pria itu tampak sedang mengelus-elus punggung Reen mencoba menenangkan nya.
Joe makin mempercepat langkahnya , setelah tepat di hadapan mereka , Joe menarik pria itu menjauh lalu meninjunya keras , mencengkram kerah bajunya
" Apa yang kau lakukan pada istriku !! " Bentak Joe
" Aku hanya mencoba menenangkan nya ! "
" Menenangkan nya ??! Itu hanya alasanmu !! " Joe kembali meninju pria itu
" Siapa kau hingga berani memukulku ??! " Kini giliran pria itu yang geram
" Apakah kau tidak mendengarnya tadi ?? !! Dia istriku dan aku SUAMINYA !! "
" Heh , suaminya kau bilang , jika kau suaminya seharusnya kau ada untuknya ! Bukan malah sembunyi dari kejauhan dan baru datang saat ada pria lain yang menenangkannya !!! "
" Itu bukan urusan mu !! Dan urus saja diri mu sendiri !!! "
Jelas Joe lalu menarik tangan Reen paksa , membawa nya menuju kamar .
" J..jooee ,, pelan , perutku sakiit..." Pinta Reen , namun tak di hiraukan Joe , dia tetap menariknya .
Setelah sampai di kamarnya Joe langsung menghempaskan badan Reen ke lantai . Bugghh
" Ahh " Reen meringis kesakitan
" Dasar kau wanita jalang !! Beraninya memeluk pria lain di hadapan ku ! "
" Joe dengarkan aku dulu , dia hanya seniorku di kampus "
" Aku tak peduli siapa dia !! Sekali jalang tetap saja JALANG !!
" Joe ,, kamu keterlaluan !! "
" Aku yang keterlaluan atau kau yang keterlaluan ??!! Sekali lagi kau ulangi kesalahanmu , kau akan tau akibatnya !! "
Ucap Joe sambil menendang kaki Reen dan kembali pergi meninggalkan Reen yang kini menangis lagi .
" Ya Tuhan...."
Dadanya makin sesak , ia mencoba berdiri berkali-kali namun lagi-lagi terjatuh membuat luka nya makin sakit.
Dia mencoba sekali lagi dan berhasil , dia segara naik ke kasurnya , mencoba merebahkan badannya , namun lagi-lagi rasa sakit menahan gerakannya .
Reen sudah tak tahan lagi , dia segera menekan tombol darurat di atasnya .
Dua menit kemudian suster datang di suster pun langsung kaget dengan keadaan Reen
" Ya Tuhan....Nyonya perutmu berdarah lagi, bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya si suster ,
Lalu dengan cekatan suster itu membersihkan darah yang ada dilukainya , untung saja hanya pendarahan ringan, jika tidak mungkin Reen akan melakukan operasi lagi.
" Nyonya kau harus lebih berhati-hati lagi "
" Maaf suster , tadi saya terpeleset di kamar mandi "
" Baiklah kalau begitu , jika ada apa-apa panggil saya , saya permisi dulu "
" Ya , silahkan "
Suster itu pun pergi dan kini hanya tinggal Reen di kamarnya , ia kembali menangis , entah apa yang ia tangisi sekarang , rasa perih di perutnya juga perasaannya yang sakit .
Karena kelelahan menangis , akhirnya Reen tertidur ,
***
Joe masuk ke dalam kamar Reen , dia mendapati Reen telah tertidur , ia mendekat ke arahnya , matanya melihat baju di bagian perut di tutupi noda darah , Joe mengusap rambut Reen pelan
" Maafkan aku..."
"..."
" Harusnya kau jangan mau menerima permintaan ayah , " kata Joe lirih , suaranya memang tak membangun kan Reen , tapi...
" Kakak...."
" Hmmm "
" Kakaakk... Sakiit...." Kata Reen mengigau
" Baiklah untuk menebus ke salah ku, aku akan menemanimu tidur "
Joe menyeringai jail , dia tau jika Reen hanya mengigau .
Joe naik ke kasur Reen , merebahkan badannya di samping Reen , kemudian memeluk perut Reen , sesekali dia bergumam
" Maafkan aku Reen , aku tak bisa mencintaimu , karena aku telah mencintai wanita lain , satu-satunya wanita yang tidak aku benci di dunia ini "
Wangi badan Reen membuatnya mengantuk , dan akhirnya dia tertidur masih dengan posisi memeluk Reen
*___*