
" Cepatlah ganti pakaianmu , aku akan tunggu di mobil " ujar Joe ketika mereka sudah sampai di teras rumah .
" Baiklah "
Reen turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya untuk mengganti baju yang lebih pantas .
Joe menunggu sekitar sepuluh menit , sebelum akhirnya pintu rumah terbuka . Reen tampak berjalan anggun dengan mengenakan dress selutut berwarna coklat susu , rambut panjangnya di biarkan tergerai menutupi pinggang .
Tak lupa ia memakai jepit kupu\-kupu krem yang makin membuatnya tampak anggun . Dan sebagai sentuhan akhir , Reen memakai high heels hitam yang tidak terlalu tinggi .
Joe sempat terperangah seperkian detik kemudian langsung menggelengkan kepalanya . Reen memang selalu sempurna memakai apapun .
" Ayo Joe " ucap Reen saat ia sudah duduk di mobil . Joe lantas melajukan mobilnya menuju tempat dinner yang Reen tak tahu dimana dan tak ingin juga menanyakannya pada Joe . Ia memilih untuk diam sambil sesekali melihat suasana malam dari balik jendela mobil .
" *Inikah tempatnya* ? " ujar Reen dalam hati saat melihat restoran mewah bernuansa black and gold di depannya , belum lagi lampu kuning yang menyinari seluruh ruang yang membuat nya terhilat hangat .
Seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan bisa makan di restoran mewah kelas internasional ini . Ya , walaupun dulu ia juga sempat bekerja di sebuah restoran .
" Ayo cepat turun ! " perintah Joe membuyarkan lamunannya .
Reen meraih tangan Joe , lalu mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk . Tentu saja ini semua hanya akting .
Para pelayan menunduk hormat di depan pintu , lalu mengantar mereka menuju ruangan VVIP yang telah di pesan . Mereka duduk bersampingan .
" Apa kita menunggu seseorang untuk makan bersama disini ? " tanya Reen yang penasaran karena sedari tadi Joe belum memesan makanan.
" Ya . Dia salah satu kolegaku "
" Ooh... Apakah mereka orangnya ? " tanya Reen lagi sambil menunjuk ke arah pintu .
Joe menoleh , dan langsung berdiri , dan tentu saja di ikuti oleh Reen .
" Selamat malam Mr. dan Mrs . Alfred " sambut Joe tersenyum sambil menyalami kedua orang itu .
" Selamat malam juga Mr. dan Mrs . Aryan . Wah , ternyata Mrs. Aryan jauh lebih cantik dibanding yang aku lihat di kabar berita . Dan , kami minta maaf atas ketidakhadiran kami pada pesta pernikahan kalian "
" Itu bukan masalah " jawab Joe singkat .
Dan selanjutnya percakapan mereka di isi dengan pembahasan yang tidak di mengerti oleh Reen . Reen hanya manggut\-manggut sambil memakan makanannya dan sesekali ikut tersenyum saat mereka tersenyum .
Makan malam pun berjalan lancar , setelah itu mereka pun kembali ke rumah .
RUMAH JOE
Reen langsung masuk ke kamarnya dan berganti pakaian tidur .
" Kemana Joe , mengapa dia belum masuk ke kamar ? " gumam Reen . Lalu dia keluar kamar , hendak mencari Joe .
Untung saja rumah mereka tidak luas . Jadi Reen bisa dengan mudah mencari keberadaan Joe dengan sekali pandang .
Reen melihat Joe sedang duduk di sofa ruang tamu dengan beberapa botol alkohol di hadapannya , sepertinya suasana hatinya sedang buruk .
" Joe jangan terlalu banyak minum ! " perintah Reen dengan nada lembut
" Bukan urusanmu ! " jawab Joe ketus
Reen tak memperdulikan jawaban Joe . Dia langsung duduk disamping Joe .
" Aku ingin berbicara sesuatu padamu " ujar Joe
" Apa itu ? Katakan saja "
" Ayah sudah menyuruh orang untuk membantu pekerjaan rumah , besok ia mulai bekerja . Tapi dia hanya akan datang kesini ketika aku tak ada "
" Kenapa ? "
" Karena aku tak ingin melihat wanita , kehadiranmu saja sudah cukup untuk membuatku muak ! " kata Joe sambil meneguk kembali alkoholnya
" Baiklah , aku mengerti " Reen tersenyum , lalu melanjutkan kata\-katanya
" Joe , aku ingin kembali bekerja "
Mendengar itu Joe langsung membanting botol alkoholnya ke meja , membuat suara berdenting yang membuat Reen terkejut
" Berkerja ? Apa kau gila ? Kau seorang istri dari Joenathan Aryan . Dan kau ingin berkerja ? "
" Ya. Aku ingin punya penghasilan untuk hidupku sendiri , aku tak ingin kau menyebutku wanita materialistis dan sebagainya . Aku hanya ingin mandiri "
" Memang apa yang bisa kau kerjakan hah ?!! Menjadi pelayan restoran , atau.... menjadi ..... pelacur , jika itu aku akan percaya . Kau punya kemampuan untuk menjadi JALANG ! " tanya Joe sambil memperhatikan Reen dari atas sampai bawah seolah menilai dan merendahkannya .
Plakk !
Mata Reen memanas , antara marah , sedih , dan kecewa . Tamparannya membuat Joe sedikit menoleh kesamping .
" Kau berani menamparku ? " tanya Joe mulai geram
" Kau yang keterlaluan Joe !!! " Reen agak berteriak
" Dasar kau JALANG !!!! "
Joe mengambil botol alkoholnya , kemudian meraih wajah Reen , mencengkram pipinya .
" Buka mulutmu !!!! "
Reen menggeleng , berusaha melepaskan diri cengkraman tangan Joe . Tapi tenaga Joe yang lebih besar membuatnya tak bisa berkutik .
Joe memaksa Reen membuka mulutnya dengan botol alkohol . Memasukkan paksa botol tersebut hingga Reen tak punya pilihan . Joe terus menuangkan alkohol itu di mulut Reen hingga mengalir sampai pakaian Reen basah .
Reen tak kuasa menahan tangisnya , ia selalu di perlakukan kejam oleh Joe . Joe menarik kembali botol itu karena sudah kosong , lalu melemparnya ke lantai hingga pecahannya berserakan di sekitar ruangan .
Dia mengambil satu pecahan beling lalu menggoreskan ya pada pipi Reen yang masih terasa panas bekas cengkraman nya . Darah segar pun mengalir .
" Aaarrhhh.....sakit Joeee.....kumohon lepaskan aku " mohon Reen setengah mabuk , ia tak bisa minum alkohol tapi Joe malah memaksanya menghabiskan satu botol , itu membuat kepala nya terasa berat .
Tak hanya itu , Joe merobek baju tidur Reen , melemparnya asal . Lalu menyiram tubuhnya dengan alkohol yang masih tersisa .
" Joeee...."
" Diam !!!! "
Joe mulai menghisapi alkohol di tubuh Reen , Reen yang hampir kehilangan kesadaran hanya bisa menggerutu dalam hati .
Joe kau gila , kau brengsek !!!
Air mata Reen terus mengalir tak mampu ia tahan . Malam ini adalah malam dimana Reen diperkosa oleh Joenathan , suami nya sendiri .
_____
_________
Joe masuk ke dalam kamar mandi setelah membaringkan Reen yang pingsan di atas kasurnya . Ia mengusap wajahnya kasar di depan cermin .
" Aaarrhhh !!!! " Joe meninju kaca hingga retak , dan tangan nya berdarah .
" Aku bodoh ! Aku melakukannya lagi !!! "
" Mengapa aku tak bisa mengontrol emosiku ?!!
Ia membasuh mukanya dengan air dan segera keluar dari sana . Joe melihat kembali tubuh Reen , dia melangkah keluar kamar menuju dapur . Mengambil baskom , dan mengisinya dengan air hangat .
Ia juga membersihkan luka di pipi Reen , kemudian membalutnya dengan perban . Joe melihat sudut bibir Reen yang luka , mungkin itu luka yang di sebabkan oleh ciuman kasarnya tadi .
Dia menghela nafas , entah mengapa hatinya selalu merasa sakit saat melihat Reen yang terluka , tapi ia juga tak tau mengapa dia tak bisa mengontrol emosi nya dan selalu ingin menyiksa Reen .
Joe merebahkan tubuhnya di samping Reen yang entah tertidur atau masih pingsan . Ia menyibak poni yang menutupi kening Reen , menatapnya lekat dan bergumam
" Maaf aku selalu menyakitimu "
Kemudian Joe pun tertidur sambil mendekap tubuh Reen .
____
_______
Reen membuka mata , ia mendapati Joe sedang mendekap tubuhnya erat . Reen tak pernah bosan memandang wajah polos Joe yang sedang tertidur .
Ia tersenyum , berusaha melupakan apa yang Joe lakukan semalam padanya . Reen tau , ini adalah harga yang harus ia bayar untuk kebersamaanya dengan Joe .
Ia tak akan pernah menyesal , setidaknya ia bisa bersama dengan orang yang ia sayangi , walau orang itu tak menginginkan nya .
Merasa sudah cukup lama mengamati Joe , Reen mencoba melepaskan diri dari dekapannya . Saat ia akan meletakkan tangan Joe , Reen melihat luka di jemari nya . Dia sedih , mengapa Joe melukai diri sendiri seperti ini .
Joe membalut luka nya dengan baik , jadi Reen akan melakukan hal yang sama . Reen membersihkan bekas darah di luka Joe , lalu membalutnya dengan hati\-hati , takut membuat Joe terbangun .
Setelah itu Reen langsung menuju dapur , membuatkan sarapan untuk Joe .
Reen yang terlalu fokus pada aktivitas memasaknya terkejut saat tiba\-tiba mendengar suara dari belakanganya
" Reen ! "
" Oh , astaga ! " Reen menoleh ke belakang , menatap Joe dengan tatapan terkejutnya .
" Apa aku sebegitu menakutkan , sehingga kau terkejut ? " tanya sedikit terkekeh .
" T...tidak , aku hanya terlalu fokus tadi "
" Hmm...apa makananku sudah siap ? "
" Sebentar lagi , kau bisa menunggu sambil duduk di meja makan ! "
" Baiklah " Joe menuruti kata\-kata Reen . Reen sendiri bingung , biasanya Joe akan membantah apapun yang ia katakan . Tapi ini ? Ya sudahlah , Joe memang begitu . Orang yang membingungkan .
Reen menghampiri Joe dengan dua piring nasi goreng di tangannya .
" Aku hanya membuat nasi goreng pagi ini . Jika kau tidak menyukainya , aku bisa membuatkan yang lain "
" Tidak , aku akan memakannya " Joe mengambil piring yang berisi nasi goreng dari tangan Reen .
" Wanginya enak , selamat makan ! " seru Joe dengan mata berbinar .
Reen melongo , lalu bergidik ngeri dengan sifat Joe pagi ini ." Apa Joe terbentur semalam ? " pikir Reen dalam hati .
Namun , segera ia enyahkan pikiran itu dan segera duduk di hadapan Joe . Ia tak banyak bicara dan mencoba menghabiskan sarapannya .
" Joe , apa kau mau jus ? Jika iya , aku akan membuatkan nya untukmu " tawar Reen mencoba berdiri dari duduknya .
" Tidak perlu , kau duduklah kembali "
Reen duduk mengikuti perintah Joe . Joe menarik nafas sejenak .
" Apakah kau masih ingin berkerja ? tanya Joe dengan tatapan tajam , membuat Reen sedikit ketakutan .
" Tidak , jika kau tidak mengizinkannya , aku tidak akan melakukan hal itu "
" Semalam aku telah membelikanmu sebuah gedung lalu akan ku jadikan cafe . Dan kau bisa menjadi pimpinan disitu "
" Apa ? Joe , bukankah itu terlalu berlebihan ? "
" Kau tak boleh menolak , aku sudah menghabiskan banyak uang untuk itu "
" Tapi Joe , bagaimana jika....emm ituu..." Reen menggigit kuku , ragu untuk mengatakannya
" Katakanlah , jangan membuatku menunggu "
" emm... bagaimana jika aku hanya menjadi karyawan mu ? Mungkin pimpinan juga boleh , tapi seluruh pendapatan dari cafe itu tetap kembali padamu dan kau menggajiku .
Media juga tetap akan mengira kau memberikanku cafe , dan tidak akan curiga bahwa sebenarnya aku hanya lah seorang karyawan saja . Bagaimana menurut mu ? "
" Terserah padamu , jika itu membuat mu senang "
" Terima kasih Joe , kau yang terbaik " puji Reen lalu mengecup sekilas pipi Joe , membuatnya terpaku .
Namun belum sempat ia tersadar , Reen sudah pergi sambil membawa piring kotor . Dia menepuk jidatnya pelan , bisa\-bisanya dia melakukan hal itu pada Joe . Bagaimana jika Joe akan kembali marah ?
" Reen ?!!! "
Reen tidak menggubris panggilan Joe yang penuh penekanan itu .
" Reen ?!!! "
" Tidak ! Aku tak mendengarnya ! " seru Reen sambil menutup kedua telinganya .
Melihat tingkah laku Reen , membuat Joe makin gemas , dan mendekati Reen hingga kini tepat berada di belakang wanita itu .
" Reen ?? " panggil Joe dengan nada mulai melembut . Dan membalikkan tubuh Reen yang masih menutup telinganya dan memejamkan mata . " Astaga , imutnya " gumam Joe dalam hati .
" Reen ?? " kali ini Joe makin mendekatkan dirinya .
" Tidaaaak !!! " seru Reen makin keras , tetapi belum sempat Reen menutup mulutnya , Joe sudah menempelkan bibirnya pada mulut Reen yang terbuka .
Memberikan Joe akses untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Reen . Reen yang terkejut membelalakkan matanya .
" J...jooee...." gumam Reen di tengah\-tengah ciuman mereka .
" Hmmm...." Joe makin melembutkan ciumannya , takut membuat luka di sudut Reen kembali terbuka . Reen memejamkan matanya , mencoba menikmati apa yang dilakukan Joe padanya .
Joe melepas ciumannya . Dengan nafas yang masih belum teratur , Joe kembali menautkan bibirnya pada bibir Reen . Tanpa melepaskan ciumannya , Joe menggendong Reen menuju kamar mereka .
Reen juga tidak bisa menolak Joe . Ia akan sangat bahagia , seandainya Joe bisa semanis ini padanya .
Joe merebahkan Reen di kasur , menatap wajahnya lekat seakan meminta persetujuan Reen . Reen mengangguk sambil tersenyum .
Walaupun ia tau bahwa ini adalah sebagian usaha Joe untuk membuatnya menderita . Joe memiliki nya , semua yang ada padanya .
_____
________
Dan pagi ini , entah sudah berapa kali mereka mengulang "penyatuan" . Joe menghempaskan tubuhnya disamping Reen yang masih mencoba mengatur nafasnya . Dia menyentuh pipi Reen .
" Terima kasih " ucap Joe
" Aku mencintaimu , Joe " ujar Reen sambil tersenyum , lalu matanya terpejam mulai kehilangan kesadaran .
Joe masih terpaku di tempat , mencoba mencerna kata\-kata Reen .