I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
22 # Sembuhlah , Cintaku....



Joe kembali menunduk , airmatanya kini juga sudah membasahi tangan Reen . Jemari Reen tergerak pelan , Joe yang merasakan itu langsung menghentikan tangisnya .


Ia mendongakkan kepalanya ke wajah Reen , airmata juga mengalir dari sudut matanya . Reen membuka matanya , tepat setelah tujuh tahun perpisahan mereka , kini Joe dapat melihat mata Reen kembali .


Sorot mata yang paling Joe rindukan , sorot mata yang mampu membuat Joe melupakan tujuan .


Kini mata itu telah kembali , mata yang kini juga sedang menatapnya sedih . Reen tersadar . Joe langsung berlari keluar kamar .


" Bu , Reen Bu ! " seru Joe gelagapan .


" Ada apa Joe ? Bicaralah yang jelas ! " kata Sarah bingung . Joe menarik nafasnya dalam .


" Reen sadar ! " ucap Joe lebih tenang .


" Apa ??!! " tanya Sarah dan Robert berbarengan .


Mereka langsung berlari ke arah kamar Reen , untung saja dokter tadi belum kembali ke rumah sakit jadi dia bisa langsung memeriksa keadaan Maureen .


" Bagaimana dok ? " tanya Joe tak sabaran .


" Kondisi Nyonya Ayhner sudah membaik , tapi untuk saat ini dia hanya dapat membuka mata , bernafas layaknya orang normal , memiliki waktu tidur dan bangun , melakukan gerakan tak sadar dan tak bertujuan misalnya menggerakkan tangan dan kaki . Mengeluarkan suara yang tak jelas , misalnya ' aahh ' atau ' oohh ' .


Namun , jika diajak bicara Nyonya tidak akan bisa menanggapi . Dan Nyonya Ayhner hanya bisa berbaring atau duduk ditempat tidur " jelas dokter itu panjang lebar .


Mendengar itu , tubuh Joe langsung melemas . Baru saja ia merasa bahagia dengan kesadaran Reen namun , penjelasan dokter tadi membuat kebahagiaannya runtuh .


Ia tidak menyangka bahwa setelah sadarpun , Reen masih terus menderita .


" Lalu bagaimana cara kami merawatnya dok ? " tanya Sarah .


" Pengobatan kondisi ini bersifat suportif . Artinya , penanganan dilakukan untuk mendukung pasien agar bisa hidup seoptimal mungkin .


Penderita persistent vegetative state tidak dapat menguyah dan menelan makanan . Oleh karena itu , perlu dipasangkan selang makanan ( feeding tube ) yang dimasukkan dari hidung atau mulut ke lambung sebagai sarana untuk memberi makan penderita . Makanan yang dimasukan bisa berupa makanan yang di blender atau susu .


Selain itu , untuk mencegah terjadinya luka dibagian belakang tubuh akibat terlalu lama berbaring , penderita harus dimiringkan ke kiri dan ke kanan setiap dua jam sekali .


Untuk menjamin kecukupan kalsium dan vitamin D , sebisa mungkin penderita dipaparkan di bawah sinar matahari pagi kurang lebih 30 menit .


Penderita juga membutuhkan fisioterapi yang bertujuan untuk menggerak-gerakkan sendinya . Hal ini penting dilakukan secara rutin untuk mencegah sendinya agar tidak mengalami kontraktur " dokter kembali menjelaskan secara rinci .


Joe mendengarkan penjelasan dokter itu tanpa melepas pandangannya pada Reen , ia menggenggam tangan Reen Reen erat .


" Aku akan menjagamu , jika perlu aku akan mengabdikan hidupku untukmu ! Jadi , kau tak perlu khawatir karena aku selalu ada disini , disampingmu ! Selalu dan selamanya... " ucap Joe pelan sambil mengelus kening Reen lembut .


Sebenarnya Joe sangat ingin menangis , tapi ia harus menahannya , karena ia tak ingin terlihat lemah didepan Reen . Ia selalu ingin menjadi kuat agar hanya dialah yang menjadi sandaran untuk Reen .


Sarah dan Robert ikut duduk disisi ranjang setelah dokter itu pamit untuk kembali .


" Reen.... apa kau bahagia ? Lihat , suamimu sudah berada disini . Orang yang selalu kau tunggu-tunggu kedatangannya . Kau harus kuat , Reen ! Sembuhlah ! Setidaknya untuk Joe dan Lio ! " ujar Sarah sambil meneteskan airmatanya .


Reen hanya menatap kosong ke atas , ia tidak dapat menanggapi keadaan sekitarnya . Bahkan untuk merasakan tubuhnya sendiripun ia tak bisa .


" Astaga ! Ini sudah jam Lio pulang sekolah ! " seru Robert memecahkan hening diantara mereka .


" Tapi aku tidak bisa menjemput Lio , aku harus menghadiri rapat penting sekarang ! " Robert melanjutkan kata-katanya .


" Biar aku saja yang menjemput Lio ! " ujar Joe .


" Tapi nak , kau harus menjaga Reen " bantah Sarah . Ia terlalu khawatir melihat keadaan Reen yang seperti ini .


" Ibu , kau tak perlu khawatir . Reen akan baik-baik saja , dan aku yakin kau bisa menjaganya untuk sementara waktu " ucap Joe mencoba menenangkan .


" Baiklah , kau harus cepat kembali kalau begitu ! " pinta Sarah .


" Akan aku usahakan " ucap Joe


" Aku juga akan berangkat sekarang , sampai jumpa bu ! " pamit Robert lalu mencium pipi ibunya .


" Sampai jumpa bu ! " Joe juga berpamitan tapi hanya menganggukan kepalanya .


" Kalian berhati-hati lah ! "


" Baik bu ! " seru mereka berbarengan .


" Joe ! " panggil Robert saat mereka sudah berada di teras rumah .


" Ya ? " tanya Joe sambil menoleh kebelakang , karena memang ia berjalan di depan Robert .


" Aku percayakan kakak padamu ! " ujar Robert serius .


" Tentu saja ! Aku akan menjaganya dengan hidupku ! " jawab Joe tak kalah serius .


" Baiklah , kalau begitu aku pergi dulu ! " ucap Robert lalu berjalan melewati Joe . Ia berhenti sejenak kemudian berbalik .


" Sampai jumpa , kakak ipar ! " ucapnya kemudian beranjak dan masuk kedalam mobil , meninggalkan Joe yang masih terpaku dengan kata- kata Robert .


" Sampai jumpa , adik ipar ! " ucap Joe pelan sambil tersenyum .


Ia merasa sangat senang , akhirnya Robert mau menerima kehadirannya . Ia pun segera berjalan menuju mobilnya untuk segera menjemput Lio .


***


Joe turun dari mobilnya dan menghampiri Lio yang sedang berlari kearahnya . Saking bersemangatnya Lio berlari , ia sampai tak ada bahwa ada balok kayu didepannya .


" Hati-hati ! " Joe dengan sigap menangkap tubuh Lio yang hampir terjatuh karena tersandung .


" Hehe..maaf , aku terlalu senang tadi ! " ucap Lio sambil memainkan jarinya .


" Memangnya apa yang membuat kau begitu senang ? " tanya Joe penasaran .


" Itu...itu..." jawab Lio malu-malu .


Ia mengode Joe agar mendekat ke arahnya . Setelah itu , ia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Joe tidak dapat menahan tawanya .


" Oh ya ? " tanya Joe sambil tersenyum .


Lio hanya mengangguk sebagai jawaban , ia tak berani menatap sang ayah karena ia benar-benar merasa sangat malu .


Joe langsung menggendong tubuh Lio , mengecup pipinya lembut lalu membawanya menuju mobil .


" Wah...Dad tidak menyangka bahwa kau sudah besar . Ngomong-ngomong kapan kau akan memperkenalkannya padaku ? " tanya Joe sambil menoel hidung Lio gemas .


" Mmm...entahlah " jawab Lio sambil mengangkat bahunya .


" Baiklah kita harus segera pulang sekarang , karena seseorang telah menunggu kita " ujar Joe didalam mobil .


" Siapa ? " tanya Lio penasaran .


" Kau akan tau saat tiba dirumah ! "


" Apa Dad sedang bermain rahasia-rahasiaan denganku ?! " kata Lio kesal .


Joe terkekeh lalu mengacak rambut Lio pelan .


" Dad...!! " seru Lio makin kesal .


Mobil pun melesat menuju kediaman Ayhner . Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai disana . Lio yang sudah tak sabaran langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah .


Pandangannya mengitari seluruh ruang keluarga , tapi ia tak menemukan siapapun disana . Ia menoleh pada Joe yang saat ini sudah berada dibelakangnya .


Joe hanya tersenyum lalu menginstruksikan Lio agar mengikutinya . Lio menurut dan mengekor dibelakang ayahnya . Ia makin bingung saat Joe membawanya ke kamar Reen .


Ia tampak berpikir sejenak , kemudian kembali berlari mendahului Joe . Lio tampak ragu untuk membuka kenop pintu kamar Reen .


Joe yang ada di belakangnya , menepuk pundak Lio pelan . Ia menoleh pada Joe dan mendapat anggukan dari ayahnya . Setelah merasa yakin , Lio menarik kenop pintu hati-hati .


Pintu terbuka dan ia mendapati Momnya sedang duduk di kursi roda tanpa menatapnya .


Lio langsung berlari ke arah Reen lalu memeluk kakinya .


" Momy...!! " seru Lio sambil menangis .


Ia merasa sangat senang saat melihat Momnya telah sadar . Tetapi , raut wajahnya berubah saat menyadari bahwa Reen sama sekali tidak merespon kehadirannya .


" Dad , Mom ? " ia menoleh ke arah Joe , mencoba menanyakan keadaan Reen .


Joe menghampiri Lio lalu mengelus rambutnya lembut . Ia menatap manik mata Lio yang mengisyaratkan kesedihan dan kekhawatiran .


" Sayang , Mom belum sembuh sepenuhnya . Jadi , bersabarlah sebentar lagi . Mom pasti akan sembuh suatu saat nanti ! " ujar Joe .


Lio tetap menangis sambil menatap terus menatap Reen .


" Mom...." panggil Lio lalu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Reen .


" Mom...percayalah padaku , aku akan menjadi anak yang baik "


"..."


" Aku janji , aku tidak akan nakal lagi ! Jadi , Mom cepatlah sembuh !


Tidakkah kau merindukan ku ? Kau bahkan belum pernah menemaniku bermain !


Kau belum pernah menemaniku tidur ! Belum pernah memasakkan sarapan untuk ! Belum pernah membantuku mandi !


Bahkan kau belum pernah memelukku !! Aku hanya ingin kau membalas pelukanku , Mom ! Jadi , kumohon....hiks...hiks..." Lio tak dapat melanjutkan kata-katanya , suaranya tercekat menahan tangis .


Ia juga ingin seperti temannya yang lain , merasakan kasih sayang dari orang tuanya .


Joe langsung memeluk anaknya , ia sungguh tak tahan melihat Lio yang menangis sampai kesusahan bernafas . Ia tau apa yang Lio rasakan , ia juga sama , merindukan kasih sayang dari seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan .


" Lio sayang , tenanglah . Mom seperti ini juga bukan karena keinginannya sendiri . Aku yakin Mom juga sangat ingin memelukmu . Dia sangat menyayangimu , dan kau harus tau itu ! " ucap Joe lembut .


Hari-hari selanjutnya akan menjadi hari yang sangat berat bagi Joe . Akankah mereka menemukan kebahagiaannya ?


___________________________________________________________


Hallo , para pembaca tercinta.....!!!


Author minta maaf ya kalo baru bisa up hari ini 🙏🙏🙏 karena kemarin2 author disibukkan sama perkejaan di dunia nyata...


Dan untuk para reading silent , tolong tunjukkanlah diri kalian . Setidaknya untuk memberikan like 👍 Author sangat merasa senang dengan itu 😊😊