
Joe kembali menunduk , airmatanya kini juga sudah membasahi tangan Reen . Jemari Reen tergerak pelan , Joe yang merasakan itu langsung menghentikan tangisnya .
Ia mendongakkan kepalanya ke wajah Reen , airmata juga mengalir dari sudut matanya . Reen membuka matanya , tepat setelah tujuh tahun perpisahan mereka , kini Joe dapat melihat mata Reen kembali .
Sorot mata yang paling Joe rindukan , sorot mata yang mampu membuat Joe melupakan tujuan .
Kini mata itu telah kembali , mata yang kini juga sedang menatapnya sedih . Reen tersadar . Joe langsung berlari keluar kamar .
" Bu , Reen Bu ! " seru Joe gelagapan .
" Ada apa Joe ? Bicaralah yang jelas ! " kata Sarah bingung . Joe menarik nafasnya dalam .
" Reen sadar ! " ucap Joe lebih tenang .
" Apa ??!! " tanya Sarah dan Robert berbarengan .
Mereka langsung berlari ke arah kamar Reen , untung saja dokter tadi belum kembali ke rumah sakit jadi dia bisa langsung memeriksa keadaan Maureen .
" Bagaimana dok ? " tanya Joe tak sabaran .
" Kondisi Nyonya Ayhner sudah membaik , tapi untuk saat ini dia hanya dapat membuka mata , bernafas layaknya orang normal , memiliki waktu tidur dan bangun , melakukan gerakan tak sadar dan tak bertujuan misalnya menggerakkan tangan dan kaki . Mengeluarkan suara yang tak jelas , misalnya ' aahh ' atau ' oohh ' .
Namun , jika diajak bicara Nyonya tidak akan bisa menanggapi . Dan Nyonya Ayhner hanya bisa berbaring atau duduk ditempat tidur " jelas dokter itu panjang lebar .
Mendengar itu , tubuh Joe langsung melemas . Baru saja ia merasa bahagia dengan kesadaran Reen namun , penjelasan dokter tadi membuat kebahagiaannya runtuh .
Ia tidak menyangka bahwa setelah sadarpun , Reen masih terus menderita .
" Lalu bagaimana cara kami merawatnya dok ? " tanya Sarah .
" Pengobatan kondisi ini bersifat suportif . Artinya , penanganan dilakukan untuk mendukung pasien agar bisa hidup seoptimal mungkin .
Penderita persistent vegetative state tidak dapat menguyah dan menelan makanan . Oleh karena itu , perlu dipasangkan selang makanan ( feeding tube ) yang dimasukkan dari hidung atau mulut ke lambung sebagai sarana untuk memberi makan penderita . Makanan yang dimasukan bisa berupa makanan yang di blender atau susu .
Selain itu , untuk mencegah terjadinya luka dibagian belakang tubuh akibat terlalu lama berbaring , penderita harus dimiringkan ke kiri dan ke kanan setiap dua jam sekali .
Untuk menjamin kecukupan kalsium dan vitamin D , sebisa mungkin penderita dipaparkan di bawah sinar matahari pagi kurang lebih 30 menit .
Penderita juga membutuhkan fisioterapi yang bertujuan untuk menggerak-gerakkan sendinya . Hal ini penting dilakukan secara rutin untuk mencegah sendinya agar tidak mengalami kontraktur " dokter kembali menjelaskan secara rinci .
Joe mendengarkan penjelasan dokter itu tanpa melepas pandangannya pada Reen , ia menggenggam tangan Reen Reen erat .
" Aku akan menjagamu , jika perlu aku akan mengabdikan hidupku untukmu ! Jadi , kau tak perlu khawatir karena aku selalu ada disini , disampingmu ! Selalu dan selamanya... " ucap Joe pelan sambil mengelus kening Reen lembut .
Sebenarnya Joe sangat ingin menangis , tapi ia harus menahannya , karena ia tak ingin terlihat lemah didepan Reen . Ia selalu ingin menjadi kuat agar hanya dialah yang menjadi sandaran untuk Reen .
Sarah dan Robert ikut duduk disisi ranjang setelah dokter itu pamit untuk kembali .
" Reen.... apa kau bahagia ? Lihat , suamimu sudah berada disini . Orang yang selalu kau tunggu-tunggu kedatangannya . Kau harus kuat , Reen ! Sembuhlah ! Setidaknya untuk Joe dan Lio ! " ujar Sarah sambil meneteskan airmatanya .
Reen hanya menatap kosong ke atas , ia tidak dapat menanggapi keadaan sekitarnya . Bahkan untuk merasakan tubuhnya sendiripun ia tak bisa .
" Astaga ! Ini sudah jam Lio pulang sekolah ! " seru Robert memecahkan hening diantara mereka .
" Tapi aku tidak bisa menjemput Lio , aku harus menghadiri rapat penting sekarang ! " Robert melanjutkan kata-katanya .
" Biar aku saja yang menjemput Lio ! " ujar Joe .
" Tapi nak , kau harus menjaga Reen " bantah Sarah . Ia terlalu khawatir melihat keadaan Reen yang seperti ini .
" Ibu , kau tak perlu khawatir . Reen akan baik-baik saja , dan aku yakin kau bisa menjaganya untuk sementara waktu " ucap Joe mencoba menenangkan .
" Baiklah , kau harus cepat kembali kalau begitu ! " pinta Sarah .
" Akan aku usahakan " ucap Joe
" Aku juga akan berangkat sekarang , sampai jumpa bu ! " pamit Robert lalu mencium pipi ibunya .
" Sampai jumpa bu ! " Joe juga berpamitan tapi hanya menganggukan kepalanya .
" Kalian berhati-hati lah ! "
" Baik bu ! " seru mereka berbarengan .
" Joe ! " panggil Robert saat mereka sudah berada di teras rumah .
" Ya ? " tanya Joe sambil menoleh kebelakang , karena memang ia berjalan di depan Robert .
" Aku percayakan kakak padamu ! " ujar Robert serius .
" Tentu saja ! Aku akan menjaganya dengan hidupku ! " jawab Joe tak kalah serius .
" Baiklah , kalau begitu aku pergi dulu ! " ucap Robert lalu berjalan melewati Joe . Ia berhenti sejenak kemudian berbalik .
" Sampai jumpa , kakak ipar ! " ucapnya kemudian beranjak dan masuk kedalam mobil , meninggalkan Joe yang masih terpaku dengan kata- kata Robert .
" Sampai jumpa , adik ipar ! " ucap Joe pelan sambil tersenyum .
Ia merasa sangat senang , akhirnya Robert mau menerima kehadirannya . Ia pun segera berjalan menuju mobilnya untuk segera menjemput Lio .
***
Joe turun dari mobilnya dan menghampiri Lio yang sedang berlari kearahnya . Saking bersemangatnya Lio berlari , ia sampai tak ada bahwa ada balok kayu didepannya .
" Hati-hati ! " Joe dengan sigap menangkap tubuh Lio yang hampir terjatuh karena tersandung .
" Hehe..maaf , aku terlalu senang tadi ! " ucap Lio sambil memainkan jarinya .
" Memangnya apa yang membuat kau begitu senang ? " tanya Joe penasaran .
" Itu...itu..." jawab Lio malu-malu .
Ia mengode Joe agar mendekat ke arahnya . Setelah itu , ia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Joe tidak dapat menahan tawanya .
" Oh ya ? " tanya Joe sambil tersenyum .
Lio hanya mengangguk sebagai jawaban , ia tak berani menatap sang ayah karena ia benar-benar merasa sangat malu .
Joe langsung menggendong tubuh Lio , mengecup pipinya lembut lalu membawanya menuju mobil .
" Wah...Dad tidak menyangka bahwa kau sudah besar . Ngomong-ngomong kapan kau akan memperkenalkannya padaku ? " tanya Joe sambil menoel hidung Lio gemas .
" Mmm...entahlah " jawab Lio sambil mengangkat bahunya .
" Baiklah kita harus segera pulang sekarang , karena seseorang telah menunggu kita " ujar Joe didalam mobil .
" Siapa ? " tanya Lio penasaran .
" Kau akan tau saat tiba dirumah ! "
" Apa Dad sedang bermain rahasia-rahasiaan denganku ?! " kata Lio kesal .
Joe terkekeh lalu mengacak rambut Lio pelan .
" Dad...!! " seru Lio makin kesal .
Mobil pun melesat menuju kediaman Ayhner . Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai disana . Lio yang sudah tak sabaran langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah .
Pandangannya mengitari seluruh ruang keluarga , tapi ia tak menemukan siapapun disana . Ia menoleh pada Joe yang saat ini sudah berada dibelakangnya .
Joe hanya tersenyum lalu menginstruksikan Lio agar mengikutinya . Lio menurut dan mengekor dibelakang ayahnya . Ia makin bingung saat Joe membawanya ke kamar Reen .
Ia tampak berpikir sejenak , kemudian kembali berlari mendahului Joe . Lio tampak ragu untuk membuka kenop pintu kamar Reen .
Joe yang ada di belakangnya , menepuk pundak Lio pelan . Ia menoleh pada Joe dan mendapat anggukan dari ayahnya . Setelah merasa yakin , Lio menarik kenop pintu hati-hati .
Pintu terbuka dan ia mendapati Momnya sedang duduk di kursi roda tanpa menatapnya .
Lio langsung berlari ke arah Reen lalu memeluk kakinya .
" Momy...!! " seru Lio sambil menangis .
Ia merasa sangat senang saat melihat Momnya telah sadar . Tetapi , raut wajahnya berubah saat menyadari bahwa Reen sama sekali tidak merespon kehadirannya .
" Dad , Mom ? " ia menoleh ke arah Joe , mencoba menanyakan keadaan Reen .
Joe menghampiri Lio lalu mengelus rambutnya lembut . Ia menatap manik mata Lio yang mengisyaratkan kesedihan dan kekhawatiran .
" Sayang , Mom belum sembuh sepenuhnya . Jadi , bersabarlah sebentar lagi . Mom pasti akan sembuh suatu saat nanti ! " ujar Joe .
Lio tetap menangis sambil menatap terus menatap Reen .
" Mom...." panggil Lio lalu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Reen .
" Mom...percayalah padaku , aku akan menjadi anak yang baik "
"..."
" Aku janji , aku tidak akan nakal lagi ! Jadi , Mom cepatlah sembuh !
Tidakkah kau merindukan ku ? Kau bahkan belum pernah menemaniku bermain !
Kau belum pernah menemaniku tidur ! Belum pernah memasakkan sarapan untuk ! Belum pernah membantuku mandi !
Bahkan kau belum pernah memelukku !! Aku hanya ingin kau membalas pelukanku , Mom ! Jadi , kumohon....hiks...hiks..." Lio tak dapat melanjutkan kata-katanya , suaranya tercekat menahan tangis .
Ia juga ingin seperti temannya yang lain , merasakan kasih sayang dari orang tuanya .
Joe langsung memeluk anaknya , ia sungguh tak tahan melihat Lio yang menangis sampai kesusahan bernafas . Ia tau apa yang Lio rasakan , ia juga sama , merindukan kasih sayang dari seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan .
" Lio sayang , tenanglah . Mom seperti ini juga bukan karena keinginannya sendiri . Aku yakin Mom juga sangat ingin memelukmu . Dia sangat menyayangimu , dan kau harus tau itu ! " ucap Joe lembut .
Hari-hari selanjutnya akan menjadi hari yang sangat berat bagi Joe . Akankah mereka menemukan kebahagiaannya ?
___________________________________________________________
Hallo , para pembaca tercinta.....!!!
Author minta maaf ya kalo baru bisa up hari ini 🙏🙏🙏 karena kemarin2 author disibukkan sama perkejaan di dunia nyata...
Dan untuk para reading silent , tolong tunjukkanlah diri kalian . Setidaknya untuk memberikan like 👍 Author sangat merasa senang dengan itu 😊😊