
Hanya karena bunga Joe sampai menyiksanya seperti ini . Lukanya semakin terasa perih saat air hujan mulai membasahi tubuh lemahnya , tapi itu tak seberapa jika di bandingkan dengan perih di hatinya .
Reen memejamkan matanya yang mulai terasa berat , membiarkan dirinya tertidur di temani hujan .
Sampai saat terbangun semuanya terasa sangat gelap , langit berbintang pun menjadi pemandangan pertama saat Reen membuka mata .
" Ternyata sudah malam " gumamnya
Reen menahan tubuhnya dengan tangan , mencoba untuk berdiri . Bajunya yang basah juga sudah mulai kering , entah berapa lama tadi ia tertidur . Dia berjalan menuju rumahnya , saat berada di depan pintu ,tangan Reen terulur berusaha membukanya . Terkunci.
Dia mendesah perlahan , lalu duduk bersandar di samping pintu . Bibir Reen menyunggingkan senyum saat mengingat perlakuan manis dan sikap kekanak\-kanakan Joe pagi tadi .
Tak lama kemudian air mata nya mengalir .
" Tidak , aku tak boleh menangis seperti ini . Aku yang salah , Joe berhak memukulku " Ucapnya pada diri sendiri , sembari mengusap kasar air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir .
Dia kembali menangis , tangisan tertahan yang sangat memilukan , tenggorokannya tercekat .
Air mata yang tak kunjung berhenti itu terus ia hapus , begitu seterusnya sampai bagian bawah matanya memerah perih , tapi tak seperih luka di hatinya .
Angin lembut menerpa wajah , membuat Reen yang sangat kelelahan kembali tertidur .
***
Joe terbangun dari tidurnya , setengah terpejam dia meraba\-raba ke samping tempat tidur . Tidak ada. Dia langsung membelalakkan matanya ,
" Tadi hujan ? dan aku mengunci pintu " gumamnya pelan . Ia mengusap wajahnya kasar , menyibak selimut , lalu berjalan cepat ke arah pintu .
Saat hampir mencapai pintu , kenop bergerak dari luar .
" Itu pasti dia " dia mempercepat jalannya . Tetapi langkahnya terhenti saat melihat tubuh Reen merosot terduduk di dinding , dia dapat mendengar dengan jelas saat Reen mengatakan jika ia berhak memukul nya .
Juga tangisan tercekat Reen bisa ia dengar , suara tercekat dengan kepala terduduk , membuat hatinya juga terasa sakit , mengapa ia harus merasakan perasaan seperti ini .Harusnya dia bahagia , dengan begitu Reen bisa dengan cepat meminta cerai kepadanya .
Joe duduk membelakangi Reen , ia teringat kembali pada saat dia menangis tertunduk di bawah pohon besar itu karena mengetahui bahwa orang yang sangat ia sayangi tidak menginginkan kehadirannya dan meninggalkan dia dan ayahnya yang sedang kesusahan .
Jika saja tidak ada dinding kaca itu pasti bahu mereka bersatu , saling memberikan sandaran pada kesedihan masing-masing .
Yang membuat makin sedih adalah Reen menangis karena dirinya , karena dia tidak bisa menahan emosi .
***
Setelah selesai merenung , Joe membuka pintu , disana dia melihat Reen yang tertidur dengan luka lebam di wajah akibat tamparan kerasnya tadi .
Joe berjongkok , menghapus sisa air mata Reen , mengangkat tubuh dingin itu masuk kedalam kamar .
Dia meletakkan tubuh Reen hati\-hati di atas ranjang , melepaskan baju setengah kering Reen dan menggantinya dengan piyama tidur berwarna pink yang makin memperjelas kulit pucatnya karena hujan .
Joe membelai dahi wanita dihadapannya pelan , menatap dengan perasaan bersalah . Dia mendekatkan wajahnya , mengecup lembut bibir Reen yang gemetar kedinginan .
Joe naik ke atas ranjang , menarik selimut agar menutupi tubuh mereka , kemudian membawa Reen kedalam pelukannya .
Ia juga tak tau mengapa bisa begitu tega menyiksa Reen , emosinya membuat ia kehilangan akal sehat . Dia makin mempererat pelukannya , merasakan badan Reen yang mulai menghangat . Kemudian tertidur dengan pikirannya makin berkecamuk .
Pagi harinya Joe terbangun karena tubuh Reen bergetar hebat , dia menyentuh kening Reen . Panas .
Dia menyambar handphonenya di atas nakas , menyuruh dokter pribadi nya untuk cepat datang .
Lima belas menit kemudian dokter Lukas datang , dan langsung memeriksa keadaan Maureen .
" Bagaimana dok ? " Tanya Joe panik
" Mrs. Aryan sangat beruntung memiliki suami seperti anda , jika anda tidak sigap mungkin ini akan berakibat fatal . "
" Jangan bertele\-tele dr. cepat katakan yang ingin kau katakan ! "
" Mrs. Aryan memiliki riwayat penyakit Febrile convulsions atau yang biasa kita dengar dengan nama penyakit step . Penyakit ini juga bisa berakibat kerusakan pada otak ."
Joe mangut\-mangut mendengar penjelasan dari dr.Lukas.
" Saya meninggalkan obat penurun panas , silahkan meminumkan obatnya tepat waktu . "
" Baik "
" Kalau begitu saya pamit dulu "
" Terima kasih dokter "
dr. Lukas mengangguk dan bergegas pergi .
Setelah kepergian dr.Lukas , Joe mengompres kening Reen , panasnya sudah mulai menurun .
Reen membuka matanya , kepala terasa berat .
" Kau sudah sadar ? "
" Joe...maaf kan aku , kemarin aku tersandung dan tidak sengaja...." Belum sempat Reen melanjutkan penjelasannya , Joe langsung memeluknya erat .
" Maaf " satu kata terlontar dari mulut Joe .
" Tidak Joe ! Aku yang..."
" Maaf " ucap Joe gemetar sambil mengeratkan pelukannya .
" Joeee... " Menangis sembari membalas pelukan Joe . Reen tak mau melewatkan kesempatan ini , karena dia tak tau kapan Joe akan berubah menjadi kejam lagi .
Joe melonggarkan pelukannya , menatap sayu ke arah Reen yang sedang menangis , menghapus air mata Reen yang mengalir , lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Reen , mencoba menghapus jarak diantara mereka .
Joe melumat bibir Reen lembut , setelah seperkian detik Joe menghentikan ciumannya , mengatur nafasnya kemudian mencium kembali Reen yang masih memejamkan mata .
Kali ini ciuman berubah menjadi lebih kasar dan menuntut . Reen yang sudah mulai kehabisan nafas menepuk\-nepuk bahu Joe , tapi Joe malah makin memperdalam ciumannya . Reen kesal .
" Ahh..." Joe mendesis sambil mengusap bibirnya yang berdarah akibat ulah Reen yang menggigitnya .
Reen masih dengan tatapan kesal saat Joe menatapnya .
" Kau berani menggigitku ? Kita lihat apa kau masih berani jika aku..." Joe sengaja menggantung kata-kata nya , tatapannya seperti seekor harimau yang siap berikan mangsanya .
" J.. jooee ,, aku ... "
Dia menarik Reen mendekat , lalu menciumi leher jenjangnya
" Eemm...Joe...hentikan ! " Pinta Reen memohon , namun Joe sama sekali tak memperdulikannya dan dia malah membuat tanda disitu .
Ting tong...Ting tong
Ting tong...Ting tong
Joe terpaksa menghentikan aksinya . Ia akan mengumpat siapa saja yang membunyikan bel saat ini . Dia keluar kamar menuju pintu , membukanya.
" Apa kau tidak.... Ayah ? Mengapa kau kemari ? " Tanyanya terkejut , ternyata orang yang mengetuk pintu adalah ayahnya .
" Mengapa tidak ? Aku sedang mengunjungi rumah anakku , dan ingin melihat bagaimana keadaan mantu ku , apa tidak boleh ? "
" Bukan itu maksudku , setidaknya ayah tadi menghubungiku dulu " cibir Joe .
" Baiklah , lain kali aku akan menghubungimu terlebih dahulu , dan sekarang dimana menantuku ? "
" Dia di kamar " jawab Joe singkat .
Reen kaget ketika Mr.Bredley masuk ke kamarnya , ia langsung menutupi luka\-luka di lengannya dengan selimut .
" Selamat pagi , Maureen " sapanya
" Selamat pagi ayah , " balas Reen tersenyum . Saat ini wajahnya sangat pucat , dan Mr.Bredley dapat melihat itu.
" Kau sakit ? "
" Ya , hanya demam biasa , minum obat juga nanti akan sembuh "
" Apa Joe yang melakukan ini padamu ? "
" Tidak ayah , kemarin aku kehujanan saat sedang berjalan\-jalan di sekitar rumah . "
" Benarkah ? " Tanya Mr.Bredley tak percaya
" Ya tentu saja , kapan aku pernah membohongi mu ayah ? "
Mr.Bredley menoleh ke arah Joe yang sedang menyandar di pintu kamar . Dia menatap Joe minta penjelasan
" Sebenarnya dia bermain hujan\-hujanan seperti anak kecil , aku sudah melarangnya dan menyuruhnya masuk , tapi dia menolak . Dan disinilah dia sekarang , meringkuk seperti kucing terlantar . " Jelas Joe dengan senyuman yang makin jelas .
" Ya sudahlah , kalau begitu istirahatlah , jangan terlalu kecapaian , aku tak mau cucuku kenapa\-napa " ucap Mr.Bredley sambil melihat ke arah leher Maureen , yang di tatap malah makin menundukkan kepala , Malu .
Berbeda dengan Joe langsung terdiam , dia menghela nafasnya .
" Ayah , jika kau terus berada disini Reen tidak akan bisa istirahat "
" Baiklah , aku akan segera pulang , jaga diri kalian " pamit Mr.Bredley
" Hati\-hati ayah " ucap mereka berbarengan yang malah membuat Mr.Bredley makin tersenyum .
***
" Reen , kau harus ikut aku ke pesta malam ini " kata Joe setelah mengantar Mr.Bredley .
" Pesta ? "
" Hmm , Pesta Pelanggan untuk amal "
" Tapi...." Reen menyentuh pipinya yang masih lebam , ketika ada Mr.Bredley , dia memang menutupinya dengan rambut , dia tidak mungkin melakukan nya di di pesta bukan ?
Joe menyadari itu .
" Kau minumlah obat mu , dan ikut aku sore ini ke suatu tempat ! "
" Baiklah " ucap Reen tanpa komentar .
___
_____
Sore hari nya Joe dan Maureen berangkat menuju suatu tempat yang di ucapkan Joe tadi .
Selama perjalanan Meraka saling diam . Joe fokus berkendara , sedangkan Reen hanya menatap jalanan dari balik jendela mobil .
Joe menghentikan mobilnya di depan sebuah salon terbaik di kotanya , yang juga termasuk dari anak perusahaan Grup AR . Dia melangkah masuk kedalam , tentu saja dengan Reen yang mengekor dibelakangnya .
Mereka langsung disambut oleh para pegawai disana .
" Selamat sore Mr. and Mrs. Aryan "
" Tutupi lukanya dan carikan gaun yang cocok untuknya ! " Perintah Joe pada salah satu stylish terbaik disana .
" Baik tuan " anggunnya , lalu mengajak Reen masuk ke dalam salah satu ruang disana .
Reen kembali menganga , di dalam ruang tersebut sudah berjejer gaun-gaun yang sangat mewah .
" Ini semua adalah gaun anda Nyonya , Mr. Aryan yang telah meminta perancang gaun terbaik untuk membuatkan gaun-gaun ini . Dan masing-masing hanya ada satu di dunia " jelas stylish itu yang Reen ketahui bernama Daisy .
" Saya akan mulai mendandani anda sekarang "
" Silahkan "
Setelah menutupi semua lebam di wajah Reen , Daisy memoleskan makeup .
" Tanpa makeup pun sebenarnya anda sudah sangat cantik Nyonya " puji Daisy yang hanya dibalas senyuman oleh Reen .
Daisy mengamati satu persatu gaun di hadapannya , menimang\-nimang mana yang cocok untuk di gunakan Reen malam ini .
" Ini dia ! " Serunya lalu menghampiri Reen yang masih duduk di depan meja rias .
" Nyonya mari saya bantu anda memakai kan gaun ini " Reen menuruti kata-kata Daisy , karena dia memang tidak pernah mengerti hal-hal seperti ini .
***
" Tuan , Nyonya telah selesai " kata Daisy pada Joe yang sedang duduk menunggu Reen , sekarang dia sudah tampak rapi dengan setelan jas berwarna hitam dan tentunya sangat tampan .
Mata Joe mengikuti ke arah yang di tunjuk oleh Daisy , seketika dia terpaku melihat penampilan Reen .
Gaun lengan panjang yang mengekspos bahunya dengan warna biru gelap dengan payet\-payet kecil di seluruh permukaannya membuat gaun itu terlihat seperti langit malam yang di penuhi bintang .
Rambutnya di gelung ke atas , membiarkan leher jenjangnya terlihat . Dan satu kata untuk penampilan Reen malam ini . Mempesona .
" Apakah gaun ini tidak cocok untuk ku ? " Tanya Reen membuyarkan lamunan Joe
" Kita tidak punya waktu lagi untuk merubahnya " bohong Joe kemudian langsung mengajaknya untuk berangkat .
" Aku tahu Mr.Aryan berbohong , karena bagaimanapun Mrs.Aryan akan selalu cantik memakai apa saja , apalagi aku jika aku yang membantunya " ungkap Daisy pada temannya saat Joe dan Reen telah pergi , yang langsung mendapat satu jitakan di dahinya .
____
______
Joe dan Maureen turun dari mobil mereka , dan langsung di sambut oleh para wartawan yang mengambil foto .
Joe menarik tangan Reen , menyuruh untuk menggandeng tangannya . Kemudian berbisik
" Berakting lah dengan baik malam ini , Mrs. Aryan "
Mereka pun berjalan masuk , menyapa beberapa rekan kerja Joe . Tak lama kemudian acara pun dimulai .
MC mulai jelaskan barang lelang pertama , yakni sebuah kalung emas berantai kecil dengan liontin berbentuk daun , ditengahnya disematkan permata berwarna biru yang di kelilingi berlian\-berlian kecil berwarna putih .
Kalung itu terlihat begitu indah karena Kilauan yang dipancarkan dari permata berwarna biru tersebut .
MC mematokkan harga awal
" 50 juta "
" 100 juta "
" 250 juta "
" 320 juta "
" 500 juta "
" 700 juta "
Reen hanya dapat menganga mendengar orang itu bersahut\-sahutan menyebutkan harga yang begitu besar hanya untuk sebuah kalung .
Bagi Reen uang sebesar itu bisa menunjang kebutuhan nya selama hidup .
" Baiklah 700 juta , kita akan deal pada hitungan ke tiga , satu....dua...
" 1,5 miliar " sanggah Joe yang makin membuat Reen melongo .
" Baik lah penawar akhir 1,5 miliar , deal pada hitungan ketiga , satu...dua...tiga.. DEAL !!! " MC mengetok palunya
" Mr.Aryan dipersilahkan untuk mengambil barangnya di atas panggung "
Joe mengajak Reen ke atas panggung , para hadirin bertepuk tangan meriah .
" Silahkan Mr. Aryan " MC memberikan kalung itu pada Joe
" Kalung ini akan ku berikan pada wanita yang sangat kucintai " ucap Joe pada seluruh hadirin , lalu memakaikannya kepada Reen .
Reen terharu mendengar pernyataan Joe bahwa ia mencintainya . Setelah memakaikannya Joe tersenyum kemudian mencondongkan kepala ke arah Reen
" Aktingmu bagus sekali Mrs.Aryan , kuharap kau tidak menganggapnya serius ! Karena yang wanita yang ku cintai bukanlah diri mu !! " Ucap Joe lalu menjauhkan kepalanya , dan kembali tersenyum seolah tak terjadi apa\-apa .
Para tamu yang hadir makin memperkeras tepuk tangan mereka , sebagian ada yang bergumam
" Seandainya itu aku " atau " Mr.Aryan sangat perhatian pada istrinya " atau ada juga yang bilang " mereka pasangan serasi "
Semua tampak bahagia ,
Ya hanya Reen yang tersakiti , hanya Reen yang menangis , dan hanya Reen yang mencintai Joe . Dia juga tidak tahu kapan Joe akan bersikap manis dan kapan akan bersikap sangat kejam .