
Joe bangun saat mendengar ponselnya berbunyi , ia mengangkat telpon itu malas .
" Ada apa ? " tanya Joe pada orang dibalik telpon .
" ...... " Joe mendengarkan setiap perkataan Elgar dari sana .
" Baik , akan ku usahakan untuk secepatnya kembali ! " ucap Joe lalu , mematikan sambungan telpon .
Joe membuang nafasnya kasar , lalu menatap Reen yang masih terpejam .
" Apa yang harus aku lakukan , Reen ? Perusahaan sangat membutuhkanku saat ini , tapi disatu sisi aku juga punya kewajiban untuk menjagamu " katanya gusar .
Ia menekan pelipisnya , berpikir keras akan apa yang harus ia lakukan .
" Hhhhh...."
Joe menoleh ke arah Reen yang mengeluarkan suara . Ia sudah bangun ternyata .
" Kau sudah bangun , sayang ? "
' Ya , tapi aku masih sangat mengantuk ' jawab Reen dalam hati .
" Aku akan membawamu pulang , apa kau setuju ? "
' Apa , pulang ? '
" Aku tidak dapat meninggalkan pekerjaanku lebih lama lagi , dan aku juga tak ingin jauh darimu . Menurutmu , apa ibu dan Robert akan menyetujuinya ? " tanya Joe seolah ia akan mendapat respon dari Reen .
' Aku tidak tau , tapi bisa jadi ini akan sulit '
Joe kembali menghela nafas . Jika ia kembali bersama Reen , bagaimana dengan Lio ? Saat ini Lio sudah mendekati ujian akhir , tidak mungkin baginya untuk pindah sekolah saat ini juga .
Sepertinya dia memang harus mendiskusikan hal ini dengan Ibu dan Robert . Semoga saja mereka memaklumi posisi Joe .
***
Makan malam adalah waktu yang tepat untuk membahasnya , Joe juga sudah menyiapkan kata-kata yang pas untuk meyakinkan Ibu dan adik iparnya itu .
" Ibu , Robert aku meminta izin kalian untuk membawa Reen bersamaku . Aku sudah lama meninggalkan pekerjaanku di sana yang saat ini juga sedang mengalami beberapa masalah . Aku harap kalian mengizinkanku " ungkap Joe sambil menunduk .
Sarah dan Robert sedikit terkejut dengan pernyataan Joe .
" Aku akan memberikan perawatan terbaik untuk Reen disana , jika aku tidak pulang maka akan banyak kontrak yang dibatalkan . Sedangkan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi , aku hanya ingin menyerahkan perusahaan pada Lio dalam keadaan baik " ucap nya serius .
" Aku menghargai keputusanmu , tapi bagaimana dengan Lio ? Setelah tujuh tahun , impian dia untuk berkumpul dengan Mom dan Dadnya baru saja terwujud , dan sekarang kau mau Lio berpisah lagi dengan kalian ?! " ujar Robert ketus .
" Aku juga sangat ingin Lio ikut bersamaku tapi , sebentar lagi dia juga harus melaksanakan ujian akhir . Tidak mungkin untuk saat ini membiarkan Lio untuk pindah " jelas Joe
" Aku akan baik-baik saja , Dad dan Mom tak usah memikirkan ku . Lagipula Dad melakukan ini semua juga demi aku , bukankah setelah aku menyelesaikan ujian aku bisa menyusul Dad dan Mom lalu kembali tinggal bersama kalian " ucap Lio sambil tersenyum .
" Lio kau..."
" Aku baik-baik saja Dad ! Ini hanya beberapa minggu , dulu aku bahkan bisa menunggu kalian selama 7 tahun ! " kata Lio meyakinkan .
Ia tak ingin ayahnya merasa khawatir , tentu saja ia kan baik-baik saja karena masih ada nenek dan unclenya yang menemaninya .
Sarah hanya diam , karena itu adalah hak Joe sebagai suami .
" Baiklah , kalau begitu aku akan kembali besok ! " tutur Joe .
" Besok ? ! " kali ini Sarah yang terkejut , secepat itu kah ?
" Maaf jika ini terlalu mendadak , tapi aku tak punya waktu lagi "
" Besok , aku akan ada pertemuan diluar negeri . Tidak bisakah kau menunggu hingga lusa agar kalian bisa pergi dengan menggunakan pesawat pribadi keluarga Ayhner ! " Robert memberi saran .
" Tak apa , kami bisa menggunakan pesawat umum lagipula aku sudah meminta sekretarisku untuk menyiapkan tiketnya " tolak Joe yang tak ingin merepotkan keluarga Ayhner lagi .
Sarah dan Robert hanya mengangguk setuju , tidak bisa membantah keputusan Joe .
Keesokannya , Joe dan Reen berangkat menuju bandara dan ditemani oleh Sarah dan Lio .
" Dad , Mom aku akan merindukan kalian ! " ungkap Lio saat mereka sudah hendak check-in .
" Mom dan Dad juga akan sangat merindukanmu , belajarlah yang rajin agar bisa cepat menyusul , oke ? " nasehat Joe pada anaknya .
" Ayyaya kapten ! " seru girang .
Joe memeluk erat tubuh Lio , seakan ia tak akan berjumpa lagi putra satu-satunya itu .
" Kami berangkat dulu , ibu ! " pamit Joe pada Sarah .
Panggilan keberangkatan terdengar , Joe dan Reen pun segera check-in . Ia melambaikan tangannya pada Lio hingga tak terlihat .
___
_____
" Selamat kembali di rumah ! " seru Joe saat mereka telah berada di dalam rumah mereka .
" Apa kau merindukan rumah ini , Reen ? "
' Aku merindukannya , Joe '
Joe melanjutkan langkahnya dan membawa Reen menuju ke kamar . Ia merapikan pakaian yang tadi ia bawa ke dalam lemari mereka .
' Tak ada yang berubah dari ruangan ini ' ungkap Reen dalam hati .
" Kita akan mandi dan setelah itu kita makan , aku sudah menyiapkan feedingtube untukmu " ucap Joe lalu membawa Reen menuju kamar mandi .
Setelah selesai mandi dan memakaikan pakaian pada Reen , Joe mengambil feedingtube lalu memasangkannya melalui mulut Reen .
' Joe , ini sangat tak nyaman ! ' keluh Reen , tentu saja itu tak ada gunanya karena apapun yang ingin ia ungkapkan tidak akan terdengar oleh Joe .
Joe menatap Reen dengan sorot mata sedih lalu mengelus rambutnya sayang . Ia tak tega ketika melihat keadaan Reen , yang bahkan untuk makan pun Reen tidak bisa .
" Bersabarlah Reen , aku yakin kau akan cepat sembuh ! " ucap Joe diiringi dengan senyumannya .
' Jangan berpura-pura untuk kuat di hadapanku , Joe . Menangislah jika kau memang ingin menangis . Maaf , sampai saat inipun aku selalu saja menyusahkan mu ! '
" Tidurlah , hari ini kau pasti lelah ! " ucap Joe setelah melepas feedingtube dari mulut Reen .
Ia merebahkan tubuhnya disamping Reen , lalu menarik Reen kedalam pelukannya . Ia mengusap punggung Reen pelan .
" Tidurlah , setelah ini kita akan mengunjungi Reethan ! "
' Reethan ? Kau sudah mengetahui nya ? Aku bahkan belum pernah mengunjunginya sama sekali . Joe , seandainya Reethan masih hidup Lio pasti tidak akan kesepian . Kira-kira bagaimana wajah Reethan apakah mirip kau atau mirip denganku ? ' ungkap Reen .
Reen sangat ingin menangis dan menumpahkan segala rasa sedihnya pada Joe . Ia sangat ingin memeluk Joe , ia ingin berkata bahwa ia sangat merindukan Reethan .
" Aaaah.." gumam Reen tak jelas .
" Ada apa sayang ? Apa kau ingin sesuatu ? " tanya Joe sembari mengangkat dagu Reen agar menatapnya .
Joe dapat melihat sorot kesedihan dimanik mata Reen , bahkan sudah ada genangan air mata yang sudah siap jatuh .
" Reen , ada apa ? Mengapa kau menangis ? "
' Aku merindukan Reethan , Joe ! '
" Apa kau merindukan Reethan ? " tanya Joe seolah Reen akan merespon pertanyaannya .
' Aku merindukannya , sangat merindukannya ! '
" Maafkan aku , Reen . Aku memang ayah yang buruk , seandainya aku tidak menyiksamu waktu itu , mungkin saat ini Reethan masih ada bersama kita .
Seandainya aku mengetahui bahwa kaulah wanita yang kucari waktu itu , pasti semua ini tidak akan terjadi .
Seandainya aku tidak menyuruhmu untuk meninggalkanku waktu itu , mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia . Bersama Reethan dan Lio .
Tapi , akulah perusak kebahagian itu , Reen ! Aku yang membunuh Reethan , anak kita ! Aku juga yang menyebabkan kau menderita selama ini !
Aku ayah yang buruk , Reen ! Aku suami yang kejam ! Aku tak pantas untuk kau cintai !
Maafkan aku , Reen....."
Joe mempererat pelukannya , tubuhnya bergetar akibat tangisannya .
' Joe , aku mencintaimu ! Bagaimanapun kamu , aku akan tetap mencintaimu ! Bahkan , jika waktu diputar kembali kemasa lalu aku juga akan mencintaimu ! Aku tidak akan pernah menyesal , Joe ! '
Hati Reen hancur saat melihat Joe yang seperti ini . Dadanya sesak , menyaksikan orang yang ia cintai menangis hingga kesulitan bernafas .
Setelah lama menangis , akhirnya Joe tertidur dengan posisi masih memeluk Reen erat .
Reen masih bisa mendengar isakan sisa-sisa tangis Joe dalam tidurnya . Reen menghela nafas kasar .
' Aku mencintaimu , Joe ' gumam Reen lalu ikut memejamkan matanya .
___
_____
Hari sudah hampir gelap tapi , Joe belum juga ingin beranjak dari makam putra sulungnya itu . Selalu saja setiap datang kesini Joe akan menangis . Seperti sekarang , ia belum juga menghentikan tangisnya sejak datang tadi .
Reen hanya bisa menatap gundukan tanah didepannya dengan sendu . Rasa sedih dan sesal menjadi satu . Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini , selain hanya menatap .
Reen membenci dirinya yang seperti ini , yang tidak dapat melakukan apapun dan selalu menyusahkan orang lain . Terkadang ia sangat ingin mati saja , dari pada menjadi beban orang sekitarnya .
Namun , melihat wajah Joe dan Lio yang begitu mengharapkan kesembuhannya Reen langsung menyingkirkan pikiran bodoh itu .
Saat ini Reen selalu berusaha untuk menggerakkan anggota tubuhnya , walau terus gagal ia tetap akan mencoba .
Ia juga ingin menjalani kehidupan yang bahagia bersama orang yang ia sayangi .
Reen menatap Joe yang saat ini juga sedang menatapnya . Joe berjalan ke arah Reen lalu tersenyum .
" Hari sudah gelap , kita harus segera pulang " ucap Joe sembari membawa Reen menuju mobilnya .
Joe membantu Reen turun dari mobil , menggendongnya menuju taman . Ia berjalan pelan ke arah tanaman bunga mawar yang tumbuh dengan subur . Bunga yang menjadi saksi perjalanan cintanya dengan Reen .
Ia menurunkan Reen dari gendongannya dan memposisikan Reen agar berdiri berhadapan . Sulit memang , tapi akhirnya Joe berhasil . Reen berdiri menempel pada tubuh Joe , dengan tangan Joe yang memeluk pinggang Reen erat agar tak jatuh .
Salah satu tangan Joe memetik sekuntum bunga dihadapannya , membuat beberapa kelopaknya berguguran dan jatuh ketanah .
" Bunga yang indah tapi sangat rapuh " gumam Joe pelan .
" Apa kau ingat Reen , saat aku marah dan memukulmu gara-gara bunga ini ? Aku marah karena kau merusak bunga yang kujaga , bunga yang aku dapatkan dari wanita yang kucintai . Dan bodohnya , aku malah menyiksanya . Kau adalah orang itu , Reen ! " suara Joe terdengar bergetar .
' Joe , berhenti menyalahkan dirimu ! '
" Ah sudahlah , jika kita terus bersedih memikirkan masa lalu kita tidak akan bisa menikmati indahnya masa depan , bukankah begitu Reen ? "
' Iya '
" Kalau begitu mari kita duduk , sudah lama sejak saat itu kita tak pernah menikmati malam lagi ditambah ini ! " ujar Joe sembari menggendong Reen kembali , membawanya menuju kursi taman .
Joe menidurkan Reen dikursi taman dengan pahanya yang menjadi bantal untuk Reen . Ia menatap langit malam yang cerah , bintang-bintang bertaburan menghiasi langit yang menjadi tempatnya tinggal .
Bulan purnama juga ikut andil untuk menambah keindahan pada malam ini dengan sinarnya yang lembut . Membuat suasana malam menjadi sangat terang .
" Reen , kau lihat langit itu ? " tanya Joe sambil mengelus lembut kening istrinya .
' Ya , aku melihatnya ' jawab Reen dalam hati .
" Langit itu seperti hidupku , Reen . Gelap , suram , dan sepi . Tapi , kau datang dengan sinarmu yang indah , yang rela menemaniku dengan segala kekuranganku .
Walau kau tau bahwa jika siang datang aku akan meninggalkanmu dan membuatmu hilang . Dan kau tau apa yang kau lakukan setelah itu ?
Kau tetap ada , Reen . Kau tetap bertahan disisi lain hidupku , hingga aku kembali gelap , kau tetap setia menungguku .
Bahkan jika awan hitam menutupiku , kau tetap berada di sisiku , mendampingi dan menghangatkanku dimalam yang dingin . Hingga siang itupun kembali hadir , dan seperti itu seterusnya .
Kau selalu ada untukku dan tak pernah memperdulikan bagaimanapun keadaanku " ucap Joe sendu diiringi senyum , senyum yang menyembunyikan kesedihannya .
' Joe.... '
Reen merasa sangat bahagia saat mengetahui bahwa wanita yang Joe cintai selama ini adalah dirinya . Walau masa lalu dia dan Joe terbilang sangat buruk , tapi ia sangat bersyukur karena memiliki Joe dalam hidupnya .
Ia terus menatap langit hingga rasa kantuk menghampirinya . Bahkan , ia juga tak menyadari saat Joe menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar .
Malam ini adalah malam terindah dari sekian ribu malam yang telah ia lewati .
Hari-hari berikutnya , Joe tetap sabar merawat Reen . Segala keperluannya selalu dilakukan oleh Joe . Joe juga tak pernah menganggapnya sakit , ia selalu bersikap seakan Reen adalah orang normal yang sehat .
Menanyakan pendapat , mengajaknya kekantor , bertemu klien , dan bahkan membawanya dalam rapat penting sekalipun .
Joe tak pernah malu dengan kondisi Reen saat ini . Ia tak ingin jauh dari Reen barang sedetikpun . Ia hanya mau , Reen terus bersamanya .
Dia juga tak pernah membiarkan Reen kelelahan , hingga segala jadwalnyapun disesuaikan dengan keadaan Reen .
Tak banyak yang berubah dari kondisi Reen . Saat ini Reen sudah bisa mengangkat tangannya walau sedikit kesulitan . Dan tak jarang pula Reen menampakkan ekspresi diwajahnya . Itu saja sudah membuat Joe senang , ini pertanda bahwa ada kemungkinan Reen akan sembuh .
" Reen...aku mencintaimu ! " ungkap Joe sebelum tidur .
Dan kata-kata itulah yang membuat Reen tetap semangat , Joe selalu mengatakan bahwa ia mencintai Reen , kapanpun dan di manapun . Terlebih saat hendak tidur dan setelah bangun tidur .
" Selamat tidur , sayang ! Semoga mimpi indah ! ucap Joe setelah melumat bibir Reen pelan tapi cukup lama . Membuat Reen gemas dan ingin sekali memukulnya .
' Dasar ! Pengambil kesempatan dalam kesempitan ! ' batin Reen .
Reen pun ikut memejamkan matanya saat melihat Joe sudah tertidur .
___
_____
" Argh...! " teriak Reen saat membuka matanya .
Joe yang mendengar itu terkejut dan langsung bangun dari tidurnya . Ia melihat Reen berkeringat dan wajahnya yang tiba-tiba memucat .
" Ada apa , Reen ? " tanya Joe khawatir .
' Joe , aku mimpi buruk ! Dalam mimpiku kita terpisah , aku mencoba meraih tanganmu tapi itu tidak berhasil Joe ! Aku takut ! '
Reen mencoba menceritakan mimpi yang ia alami , meski ia tau bahwa itu akan sia-sia tapi saat ini Reen benar-benar khawatir . Reen hanya bisa menangis sebagai tanda , dan Joe langsung menyadari itu .
" Tenanglah , Reen...! Aku disini , aku tak akan meninggalkanmu ! " ucap Joe asal .
Ia memang tidak tau apa yang sedang terjadi pada istrinya , tapi satu yang bisa ia jadikan jawaban , Reen sedang mimpi buruk .
Joe memeluk Reen sambil mengusap-usap punggung Reen pelan lalu mengecup puncak kepalanya .
" Tak apa , aku akan mengajakmu kemanapun aku pergi . Jadi , tenanglah ! " kata Joe tanpa melepas pelukannya .
Setelah merasa Reen lebih tenang , ia membaringkan tubuh Reen lagi . Lalu mengambil ponselnya diatas nakas dan menelpon seseorang .
" Elgar , siapkan tiga tiket untuk penerbangan hari ini ! Kita akan kesana bersama istriku ! " perintah Joe pada Elgar .
Awalnya Joe ingin menitipkan Reen pada ayahnya hari ini , karena ia akan menghadiri perjalanan bisnis yang cukup jauh . Tapi , melihat keadaan Reen pagi ini membuat Joe tidak tega meninggalkannya .
" Baik tuan , saya akan segera memesannya "
" Kalau begitu kau bersiap-siaplah , jangan lupa juga siapkan berkas-berkas yang kita butuhkan nanti ! "
" Baik tuan ! "
Joe pun memutuskan sambungan telponnya , lalu menatap ke arah Reen .
" Kita akan selalu bersama , Reen ! Apapun rintangannya , kita akan tetap bersama ! Karena kau adalah takdirku dan aku adalah takdirmu ! " ucap Joe sembari mencium pipi Reen .
***
Setelah semua persiapan selesai Joe dan Reen berangkat menuju bandara . Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk segera menaiki kabin pesawat .
Karena permintaan Joe untuk membeli tiket tambahan telat , itu membuat Reen dan Joe duduk berdampingan di kabin VIP , sedangkan Elgar duduk di kabin eklusif .
Tapi , tentu saja itu tidak menjadi masalah bagi Elgar . Bagaimanapun Joe adalah sosok bos baik yang sangat pengertian pada setiap karyawan nya terutama padanya . Walaupun terkadang bersifat dingin dan kejam .
" Dear passengers, we beg your attention for a moment! In accordance with civil aviation safety regulations we must demonstrate to you how to use seat belts, oxygen masks, emergency doors and windows, life jackets, and safety cards....."
Suara pengumuman terdengar , menandakan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera take off . Seperti biasa , Joe akan menggenggam tangan Reen hingga pesawat benar-benar stabil di udara .
Penerbangan kali ini memang sedikit lebih lama , sudah dua jam lebih mereka berada didalam pesawat . Mungkin , sekitar satu jam lagi mereka akan mendarat .
Joe terbangun dari tidurnya , saat ini perutnya sudah benar-benar tidak bisa menahan lagi . Ia sangat ingin pergi ke toilet sekarang juga .
Ia melirik ke arah Reen yang masih terlelap , diusapnya rambut Reen pelan .
" Aku ke toilet dulu " ucapnya sembari menatap lekat wajah Reen .
Entah mengapa ia merasa ragu untuk meninggalkan Reen saat ini . Ia mengecup kening Reen lama , lalu dengan berat hati ia melangkahkan ke arah toilet . Suasana dikabin pesawat sangat hening .
Bruakkk !!!
Terdengar suara benturan keras yang memekakkan telinga , pesawat yang tadinya terbang dengan normal kini mengalami guncangan dahsyat .
Joe langsung keluar dari toilet dan berlari ke kabin tempat Reen berada . Dengan susah payah ia menyesuaikan langkahnya , para penumpang lain juga panik , membuat kericuhan didalam pesawat .
Joe menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya , suasana yang tadinya hening berubah menjadi mencekam . Ia mendengar dari teriakan penumpang lain bahwa pesawat yang mereka tumpangi tertabrak oleh pesawat lain .
Hatinya mulai tak karuan , kini Joe hanya berjarak tiga kursi dari Reen . Saat sudah hampir menggapai kursi Reen , tiba-tiba pesawat kembali terguncang dengan guncangan yang lebih keras tepat di atas kabin Reen duduk .
Lantai badan pesawat mulai retak , Joe makin gelisah dengan itu . Percikan api juga sudah terlihat dimana-mana . Dengan sekuat tenaga Joe kembali berusaha menggapai tangan Reen .
" Dapat ! " pekik Joe saat berhasil menggenggam tangan Reen .
Tapi tak lama kemudian retakan itu mulai membesar , membuat sisi pesawat tempat Reen berada merenggang . Joe ingin memeluk Reen yang tidak bisa bergerak saat itu . Namun , ia terhalang dengan kursi rusak yang berada didepannya .
Kreek !!
" Reen bertahanlah !!! " teriak Joe ditengah kegaduhan .
Pesawat berguling-guling di udara lepas , membuat bagian depan pesawat jatuh ke bawah . Dan sialnya lagi , Reen berada ditepi bagian itu .
" Reen......!!!!!! " teriak Joe saat tubuh Reen bergelantungan dan hanya tangannya sajalah yang menahan tubuh itu .
' Joe...!! ' pekik Reen dalam hati , ia sungguh ketakutan sekarang .
" Tidak ! Kumohon bertahanlah !! "
Dengan sekuat tenaga , Joe menarik tangan Reen kearahnya . Namun takdir berkata lain , pesawat kembali terguncang dan membuat Joe terpelanting ke sisi lain dari pesawat . Genggaman tangannya terlepas .
" Arrgghh ! " erang Joe menahan sakit di kepalanya akibat benturan .
Saat kesadaran nya kembali , ia langsung berlari ke arah Reen . Mata Joe menatap tak percaya saat tidak melihat sosok Reen disana .
Joe melihat ke bawah , dan benar saja ia mendapati Reen terjun kebawah bersama puing-puing badan pesawat .
" Reeeeeen......!!!!! " teriak Joe histeris sembari mengulurkan tangannya .
Walaupun ia tau bahwa mustahil baginya untuk bisa menggapai Reen kembali .
Reen mendongakkan kepalanya ke atas sambil terus menatap Joe . Ia terus meneriakkan nama Joe dalam hati , berharap Joe akan mendengarnya .
" Joeee....!!! " satu kata berhasil keluar dari mulut Reen .
Ditengah keributan , Joe dapat mendengar teriakan itu , teriakan Reen saat memanggil namanya . Akal sehatnya pun hilang , ia bersiap untuk melompat kebawah menyusul Reen .
Namun lagi-lagi takdir tak berpihak padanya . Badan pesawat kembali menghantam pesawat lainnya dan membuat terpelanting jauh dari posisi awal .
Tubuh Joe yang tak siap juga ikut terpelanting masuk kedalam pesawat , badannya terbentur kedinding pesawat beberapa kali . Yang mengakibatkan Joe pun kehilangan kesadarannya .
___________________________________________________________
Hallo my Readers !
Jangan lupa dukung author lewat vote kalian yaaa...π
Author akan merasa sangat terdukung dengan ituππππ
terima kasihπππ