I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
6 # Permulaan



Wangi badan Reen membuatnya mengantuk , dan akhirnya dia tertidur masih dengan posisi memeluk Reen.


___


_____


   Maureen menggeliat , ia ingin bangun untuk mengambil air minum , tenggorokannya terasa kering mungkin karena kelelahan menangis.


  Tapi sesuatu seperti menahan gerakannya , ia menurunkan pandangannya dan ternyata benar tangan seseorang sedang melingkar di pinggangnya , yang ia yakini adalah tangan Joe , suaminya .


  " Sangat nyaman , terima kasih Joe " bisiknya


  " .... " Mungkin dia masih tertidur , batinnya


  Maureen mengangkat hati-hati tangan Joe , lalu membalikkan badan untuk menghadap Joe.


   Dipandanginya wajah pulas Joe dengan mata terpejam , Reen tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuh wajah Joe , dan tiba-tiba Joe menghentikan pergerakannya yang sedang membelai pipi Joe


   " Apa yang lakukan ? " Tanya Joe dengan suara serak yang terdengar sangat seksi di telinga Reen ,


   " A...aakuu..hanya.." jawab Reen gugup , dan belum juga Reen menyelesaikan kalimatnya Joe sudah kembali membuka mulutnya tentu saja masih dengan mata terpejam


   "  Sudahlah , ayo kembali tidur , aku masih sangat mengantuk "  perintah Joe sambil menurunkan tangan Reen dan melingkarkannya di lehernya , kemudian dia menurunkan kepalanya dan membenamkan nya di dada  Reen .


    Reen kaget bukan main dan tentu saja sangat senang , dia tidak dapat membohongi perasaannya apalagi saat ini jantungnya detak sangat kencang . Tapi ia membiarkannya tetap seperti itu , karena ia tidak tau kapan lagi Joe akan seperti ini.


     Joe dapat merasakan bunyi berdegup di dadanya Reen , dan aneh nya itu malah membuatnya makin mengantuk . Joe kembali tertidur dengan senyum di bibirnya.


___


_____


    Cahaya matahari menyelinap masuk dari celah-celah jendela , Reen menerjab beberapa saat sebelum matanya menyusuri ruangan , dan ia tidak dapat menemukan apa yang dia cari


  " Kemana dia ? " Tanyanya pada diri sendiri


Tiba-tiba kenop pintu bergerak sepertinya akan ada orang mau masuk , 


    Reen kembali gugup , dia memang berharap Joe ada , tapi tak bisa ia pungkiri jika itu benar-benar Joe , apa yang harus dia lakukan ? Dia terlalu malu untuk menatap wajahnya .


Pintu mulai terbuka , dan jantungnya makin berpacu


   " Ayah ?? " Reen sedikit kecewa tapi dia merasa lega juga , setidak nya dia masih punya waktu mempersiapkan diri untuk bertemu Joe .


    " Selamat pagi anak ayah..." Sapa Mr.Bredley


   " Pagi juga ayah "


   " Ini ayah bawakan kamu sarapan , tadi Joe bilang tidak bisa membelikanmu sarapan , karena dia ada urusan mendadak di kantornya . "


   " Tak apa ayah , dia memang harus bekerja , jika tidak bagaimana bisa dia menghidupiku nanti ? " Canda Reen sambil menyengir .


   " Kau ini ada-ada saja Reen " Reen kembali terkekeh .


   " Ayah , kemarikan makanannya , aku sudah sangat lapar , kemarin aku hanya makan sekali . " Ucap Reen manja dan hanya di balas senyuman oleh Mr.Bredley .


   " Ini habiskan makananmu , dan cepatlah bereskan barang-barang mu , kita akan pulang siang ini ! "


   " Benarkah ? " Tanya Reen menyelidik 


   " Tentu saja , apa kau ingin tetap berada di sini ? " 


   " Tidak , aku mau pulang " 


   Mr.Bredley kembali tersenyum , Reen memang bisa menempatkan diri kapan ia harus manja dan kapan ia akan bersikap dewasa , gadis yang cerdas , pikir Mr.Bredley.


____


_______


  Reen menganga tepat di depan pintu gerbang saat mulai di buka , gerbang klasik elegan berwarna krem khas bangunan-bangunan di Vienna .


  Mobil pun segera memasuki halaman rumah yang sangat luas , terdapat taman di sepanjang jalan menuju halaman utama .


  Reen mengira ia akan melihat rumah besar dan megah , tapi dirinya kembali terkagum-kagum , karena rumah yang dilihatnya sangat simpel , namun tak mengurangi kesan elegan.


   Dari luar ia dapat dengan jelas melihat seluruh isi ruang tamu utama karena dinding tersebut terbuat dari kaca yang anti-peluru dan kedap suara.


   Joe membukakan pintu  , dan Reen yang masih mengekor di belakangnya , mata Reen kembali menatap takjub , ia melihat ruang tamu yang identik dengan detail akhir yang simple dan bersih .


   Sofa berwarna hitam dan dinding yang di dominasi warna putih dengan sedikit sentuhan warna hitam tentunya , sangat menggambarkan bahwa Joe adalah orang yang sangat rapi .


   " Sampai kapan kau akan terus menganga ? 


   " Tanya Joe membuyarkan lamunan Reen , yang langsung membuatnya mengatupkan mulutnya.


   " Maaf " ucapnya malu 


   " Emmm...dimana kamarku ? " Tanya Reen memberanikan diri setelah sekitar 5 menit mereka saling diam.


    " Disana " jawab Joe dingin dengan menunjukkan sebuah kamar dengan matanya .


    " Baiklah kalau begitu aku akan masuk dulu " 


    " Hemm " 


    Reen membuka pintu kamarnya , suasana romantis menyeruak di dalamnya , kamar tidur yang di dominasi warna hitam dan krem yang menciptakan suasana lebih hangat . 


     Ditambah dengan pencahayaan yang redup membuat atmosfer di kamar menjadi lebih intim.


     Pipi Reen seketika memerah ,


     " Inikah kamarnya ? " Tanya Reen membatin .


    Ia langsung menutup pintu , badannya terasa lengket , mungkin karena ia tidak bisa mandi dengan benar .


    Reen masuk kedalam kamar mandi , disana sudah ada perlengkapan mandi wanita , dia yakin bahwa yang menyiapkan ini semua adalah Mr.Bredley karena tidak mungkin seorang Joenathan Aryan yang menyiapkan nya.


     Ia mandi dengan sangat khimad , mungkin ini adalah mandi terbaik Reen selama hidupnya.


    Ia membuka pintu kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk 


    " Lama sekali kau mandi " 


    " Aaaaaaaaaa " teriak Reen menggema di seluruh kamar , membuat Joe seketika menutup telinganya 


    " S...sedang apa kau disini ? " Tanya Reen sambil menutup bagian dadanya dengan tangan , memang saat ini ia hanya menggunakan handuk di atas lutut .


    " Ini kamarku , jadi terserah aku mau melakukan apa ! " 


    " Tapi kau bilang disini kamarku " 


    " Heyy nona , tidak kah kau bisa melihat bahwa di rumah ini hanya ada satu kamar tidur , satu kamar mandi , satu dapur , dan satu ruang tamu ??! " 


    " Tapi ..."


    " Jika kau keberatan kau bisa tidur di sofa dan mandi di wastafel ! " 


    " Apa ? " Reen kaget mandi di wastafel ? Mengapa tidak dirinya saja ! Umpat Reen membatin.


    Joe tak mempedulikan tatapan tak percaya Reen , ia melenggang begitu saja menuju kamar mandi .


    Reen cepat-cepat mengganti baju nya dan langsung merebahkan badannya untuk tidur , dia tak mau berurusan dengan manusia es itu malam ini .


***


     Joe tertawa di dalam kamar mandi , ia merasa geli sendiri saat melihat wajah tak percaya Reen tadi .


     " Bodoh sekali dia " kata Joe mengejek.


     Joe melangkah ke arah bathup wangi strawberry menyeruak di seluruh kamar mandi , yang membuat pikiran Joe makin liar 


   " Sial " umpat Joe . 


***


  Ia segera berpakaian dan langsung naik ke kasur , menyelinap di balik selimut , dan memeluk sesuatu .


  " Hangat " ucap Joe makin mengeratkan pelukannya . 


_____


________


    Reen terkejut , merasakan air yang membasahi wajahnya .


    " Dasar wanita pemalas " umpat Joe dengan tatapan tajam , Reen langsung terduduk , mengusap wajahnya yang basah .


    " Cepat buatkan aku sarapan ! " 


    " Baiklah " jawab Reen sembari menurunkan badannya dari tempat tidur , membasuh wajahnya dikamar mandi , dan langsung bergegas ke dapur .


    " Dapurnya juga simple , sepertinya Joe adalah orang yang sederhana " ucapnya pada diri sendiri.


    Reen membuka kulkas , melihat bahan apa yang bisa ia masak , akhirnya dia memutuskan untuk memasak omelette ayam , ala Reen tentunya.


   Reen menggiling ayam menggunakan blender , menuangkannya ke dalam mangkok besar , menambahkan tepung maizena , tepung roti , telur dan beberapa bahan pelengkap lainnya . 


   Ia juga heran bahan-bahan di dapur Joe benar-benar lengkap , bahkan awalnya ia pikir tidak akan menemukan bahan apapun disini .


   Reen langsung memanggang adonan yang sudah jadi . Setelah matang , Reen menghiasi omelette nya dengan saus , mayonaise , dan sedikit taburan keju , tentu saja kentang goreng dan segelas susu sebagai pelengkap . Dan omelette ala Reen pun jadi .


    Reen memanggil Joe untuk sarapan , yang di panggil pun segera keluar dari kamarnya . 


    Sebenarnya Joe sudah hendak keluar dari tadi , saat wangi masakan lezat menggoda penciuman nya , tapi ia terlalu malu jika ketahuan bahwa ia sudah sangat lapar , toh nanti juga akan di panggil oleh Reen .


   " Joe , sarapanmu sudah siap " 


   " Tuh kan dia sudah memanggil , sekarang waktunya kita menikmati masakannya " ucap Joe pada perutnya .


   Joe langsung menuju dapur , duduk dihadapan Reen yang sedang menata makanannya .


   " Bagaimana ? " Tanya Reen gugup saat Joe mulai memasukkan sepotong omelette ke dalam mulut , mengunyah perlahan , sesekali dahinya berkerut , menilai , membuat Reen makin greget dengan sikapnya .


   " Lumayan " akhirnya satu kata terlontar dari mulut Joe .


     Reen menatap Joe sambil tersenyum lega , 


    " Syukurlah , kalau begitu "


    " Hmm " Joe melanjut kan acara makannya , sejujurnya masakan Reen sangatlah enak . 


* Sehari sebelumnya *


    Joe tampak serius menatap handphone nya , ternyata dia sedang membaca pesan balasan dari sahabatnya yang telah menikah , dia menanyakan banyak hal , mulai dari apa saja keperluan wanita , barang-barang yang biasa di gunakan di dapur , sampai bahan-bahan masakan untuk mengisi kulkasnya .


    Lalu setelah itu dia meminta asisten pribadinya untuk membeli semua barang itu , bukan karena perhatian atau apa , tapi dia hanya ingin memanfaatkan Reen , dan menjadikannya seperti ART .


***


     Setelah makan , Joe kembali ke kamar . 


     " Reen !! " 


     Reen yang hendak mencuci piring segera menghentikan kegiatannya , menghampiri Joe yang ada di dalam kamar .


     " Ada apa ? " Tanya Reen sambil tersenyum 


     " Bantu aku berpakaian ! " Perintah Joe , yang langsung mendapat anggukan dari Reen .


      Reen tampak berpikir sejenak setelan mana yang akan dia pilihan kan untuk Joe . Akhirnya dia mengambil setelan jas berwarna hitam , dengan warna garis-garis lebih redup yang membuatnya terlihat elegan .


      Reen menyuruh Joe untuk memakai sendiri celananya , tapi Joe menolak . Terjadi perdebatan kecil antara mereka , namun akhirnya Reen mengalah , jika tidak ia tidak akan tau apa yang akan terjadi pada . 


       Dia berjongkok , mulai memasangkan celana untuk Joe dengan pipi memerah , memang siapa yang bisa tahan dengan posisi seperti itu . Joe memegang kepala Reen sebagai penyanggah saat salah satu kaki nya terangkat .


       Hati Reen sudah tak karuan sejak tadi , kini dia memakaikan kemeja putih di badan sixpack milik Joe , mengancingkannya . Dia tampak diam sesaat , lalu menepuk dahinya .


       " Joe , aku kebalik " kata Reen setelah berpikir harusnya dia memakaikan kemeja terlebih dahulu , baru memakaikan celananya.


        " Aku tau " jawab Joe enteng .


        " Lalu mengapa kau tidak mengatakan padaku jika aku salah ? " 


        " Agar kau belajar lebih " 


        " Kalau begitu , masukkan sendiri kemejamu ! " Perintah Reen hati-hati.


        " Tidak , itu adalah tugas mu sebagai seorang istri ! " Tolak Joe tak peduli .


        Reen kembali menghembuskan nafas . Hatinya kembali berdegup kencang saat memasukkan kemeja ke dalam celana Joe . Bukan hanya Reen , Joe juga merasakan dirinya mulai tegang . 


        Joe mulai tak tahan saat tangan Reen melingkar mencoba menyelipkan kemeja bagian belakang ke pinggangnya . Dia langsung menarik kepala Reen , mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Reen . 


         Awalnya dia dapat merasakan jika Reen sedikit terkejut , namun tak selang berapa lama Reen mulai membuka mulutnya dan mengikuti permainan Joe .


        Ciuman mereka terhenti saat mendengar dering telpon dari handphone Joe . Joe mengumpat dalam hati . Tapi wajahnya kembali terlihat serius saat mendengar suara dari balik telpon . 


        Joe mengode Reen ada melanjutkan tugasnya . Setelah semua tampak sempurna Reen mengangguk kepada Joe , Joe mengambil berkas-berkas di atas malas , dan langsung bergegas pergi.


___


_____


         Reen mengerjakan pekerjaan rumahnya , untung saja rumah Joe tidak terlalu besar , jadi dia tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya . Reen melanjutkan kegiatannya dengan memasak untuk makan malam . 


         Setelah semuanya selesai , dia melirik jam yang telah menunjukkan pukul lima sore . Dia menghempaskan badan lelahnya di sofa , menikmati pemandangan yang ada di hadapannya .


        " Luar biasa indah " gumamnya takjub . Dia melangkahkan kakinya keluar rumah , berjalan menyusuri jalan setapak yang membawanya pada taman bunga mawar yang sangat indah .


         Wangi khas mawar langsung menyeruak masuk kedalam rongga hidung . Membuat siapa saja yang menciumnya merasakan kedamaian .


        Tangan Reen menyentuh salah satu dari mereka , 


" Lembut " gumamnya


        Matanya kembali menyusuri setiap detail taman , hingga pandangannya terhenti pada mawar biru yang sangat cantik . 


        Dia berlari menuju bunga itu , belum sampai disana kaki Reen tersandung tanaman rambat di depannya , dia mencoba menyeimbangi diri tapi usahanya gagal , dia tetap terjatuh tepat di atas bunga mawar merah yang berduri .


      Reen meringis kesakitan , badannya lecet terkena duri dari mawar itu . Dia berdiri mencoba membersihkan badannya.


***


      Joe memasuki rumahnya , mencari-cari Maureen hendak mengatakan bahwa dia harus pergi ke pesta bersamanya besok malam, tetapi dia belum juga menemukan dimana Reen , dia sudah berteriak memanggilnya , namun tetap tak ada jawaban . 


      Joe yang mulai kesal , keluar dari rumahnya , dia mendengar suara gaduh di taman , dia bergegas ke arah sumber suara , dan mendapati bunga yang telah ia jaga selama hampir sepuluh tahun itu hancur . 


       Dia mengepalkan tangannya geram , berjalan cepat kearah Reen yang mencoba membersihkan badannya . Joe langsung menampar Reen hingga tersungkur di tanah , bibirnya mengeluarkan darah segar akibat tamparan Joe , dia menengadah menatap Joe bingung .


      Reen mencoba berdiri , namun tamparan kembali di layangkan Joe kepadanya . 


     " Joe, kenapa ? " 


     " Tidak perlu pura-pura bodoh !! Apa yang kau lakukan pada tanamanku hah ??! " 


      " Joe , tadi aku tersandung dan tidak sengaja jatuh ke sana " jelas Reen


      " Tidak berguna !! Dasar wanita jalang ! " Maki Joe sambil menjambak rambut Reen dan melemparkannya begitu saja hingga membentur batu . Tapi Joe tak peduli , dia terlalu kesal dan meninggalkan Reen yang kesakitan .


***


       Reen menangis masih dalam posisi yang sama setelah di tinggalkan Joe . Seluruh wajahnya terasa perih , belum lagi luka-luka gores di tangannya . Hujan tiba-tiba turun dengan deras , seakan tau betapa menderitanya dia .


          Hanya karena bunga Joe sampai menyiksanya seperti ini . Lukanya semakin terasa perih saat air hujan mulai membasahi tubuh lemahnya , tapi itu tak seberapa jika di bandingkan dengan perih di hatinya .


Reen memejamkan matanya yang mulai terasa berat , membiarkan dirinya tertidur di temani hujan . Sampai saat terbangun semuanya terasa sangat gelap