I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
13 # Kebahagiaan yang tak pasti



" Reen...apa kau sudah siap ? " panggil Joe


" Sebentar lagi ! " seru Reen sambil membenarkan ikatan rambutnya dan melingkarkan syal berwarna couple dengan milik Joe .


Suhu diawal musim dingin kali ini memang agak lebih dingin dari biasanya , tapi itu tak menjadi alasan Joe dan Reen untuk tetap keluar menikmati hari mereka .


Joe dan Reen bergandengan tangan menyusuri jalanan di taman bermain yang mereka datangi , sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya .


" Reen , apa kau ingin menaiki kincir ria ? "


" Hmmm...boleh , sepertinya akan menyenangkan " ucap Reen mendongakkan kepalanya agar dapat menatap Joe yang lebih tinggi darinya .


" Kalau begitu ayoo ! " Joe menarik tangan Reen sambil mengajaknya berlari .


" Joe , bisakah kita berjalan lebih pelan ? " tanya Reen yang agak kehabisan nafas .


" Tidak , kita harus cepat . Jika tidak kita akan ketinggalan dan harus menunggu giliran berikutnya " bantah Joe sambil tetap menarik Reen .


" Tiket untuk dua orang " ujar Joe pada stand ticket .



" Ini tiket kalian "



" Reen ayo ! Kita sudah dapat tiketnya ! " Seru Joe riang .



Reen hanya pasrah saat tangannya ditarik dan berlari ke arah kincir ria itu . Ia melihat Joe begitu antusias seperti anak kecil di depannya yang juga menarik ibunya untuk menaiki kincir ria .



" Wahh...indahnya..." seru Reen takjub saat melihat pemandangan dibawahnya .



Ia menoleh pada Joe yang duduk dihadapannya hendak mengajaknya untuk menikmati pemandangan di bawah .


Tapi ia segera mengurungkan niatnya saat melihat Joe tengah menyatukan jarinya sambil menunduk seperti orang yang sedang berdoa .


Reen hanya memperhatikan Joe , menunggunya sampai selesai berdoa .


" Apa kau tadi sedang berdoa , Joe ? " tanya Reen penasaran .


" Mmm..lebih tepatnya sedang membuat harapan "


" Membuat harapan ? " Reen mengulang kata-kata Joe .


" Ya , kata orang jika kita membuat harapan tepat saat kincir ria ada di puncak teratas maka harapan kita kan di kabulkan " jelas Joe sambil tersenyum .



" Jadi , apa yang kau harapkan tadi ? " Reen makin penasaran .



" Harapanku hanya satu yaitu , bisa menemukannya dan bersamanya selamanya " senyumnya makin merekah .



" Jadi inikah yang membuatmu sangat bersemangat untuk menaiki kincir ini , Joe ? " tanya Reen dalam hati .



Ternyata Joe belum berubah , ia masih mencintai gadis itu , gadis yang selama ini menjadi prioritas utama dalam hidup Joe .



Kincir ria terus berputar , hingga kini tepat berada di puncak teratas . Reen mengikuti apa yang dilakukan Joe tadi , membuat harapan .



" Apa yang juga membuat harapan , Reen ? tanya Joe tepat saat Reen membuka matanya .



" Ya ! " Reen tersenyum .



" Apa yang menjadi harapan mu ? " tanya Joe sama penasaran nya dengan Reen tadi .



" Aku berharap apa kau kau harapkan tadi benar\-benar bisa dikabulkan , karena aku tau , hanya dia sumber kebahagiaan mu . Dan aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu , Joe " ucap Reen tersenyum sambil menahan buliran bening di pelupuk matanya agar tidak jatuh "



Joe terdiam mendengar jawaban dari Reen , dadanya sesak saat ia tau bahwa suatu saat Reen akan mudah untuk melupakannya .


Joe berdiri , lalu duduk disamping wanita itu . Wanita yang saat ini sedang tertunduk sambil *** celana yang ia kenakan . Ditariknya tubuh Reen dalam pelukankannya .


" Apa kau akan meninggalkanku , Reen ? " tanya Joe


" Bukan kah itu adalah keinginanmu Joe ? "


Hati Joe makin sakit saat Reen bertanya balik kepadanya . Benar , dia menginginkan Reen pergi jauh dari kehidupannya . Tapi entah mengapa ia merasa tak rela saat Reen akan benar-benar meninggalkan nya .


" Joe berjanjilah , kau harus bahagia saat aku meninggalkan mu suatu saat nanti "


Bukannya menjawab pertanyaan Reen , Joe malah makin mengeratkan pelukannya .


Mereka turun dari kincir ria dengan pikiran yang berkecamuk . Joe masih menggenggam tangan Reen erat , seolah tak ingin melepaskannya .


" Sekarang apa yang akan kita lakukan ? " tanya Reen mencoba mencairkan atmosfer diantara mereka .



Joe tampak berpikir sejenak , sebelum akhirnya menunjuk salah satu permainan .



" Bagaimana jika itu ?! " tunjuk Joe pada komedi putar . Reen hanya mengangguk sambil tersenyum .



" Kalau begitu tunggu apa lagi ? Ayo kita kesana ! "



Kini giliran Reen yang menarik tangan Joe . Saat Reen hendak menaiki salah satu kuda di komedi putar itu , Joe menarik tangannya seolah melarang . Reen menoleh bingung pada Joe .



Joe yang melihat kebingungan di wajah Reen hanya tersenyum . Ia segera naik ke atas komedi putar dan menarik Reen agar duduk di pangkuannya .



Joe menyandarkan kepalanya di bahu Reen . Wangi strawberry yang menjadi wangi khas tubuh Reen itu membuatnya nyaman .



Mereka tak menghiraukan puluhan pasang mata yang tengah menatap mereka . Yang ingin Reen lakukan adalah menikmati setiap saat kebersamaanya bersama Joe .



Setelah lelah bermain\-main , Joe dan Reen memilih untuk duduk di salah satu bangku sambil memakan eskrim mereka .



Reen menatap orang yang berlalu lalang di depannya , sampai matanya terpaku pada sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia .



Seorang pria tengah mencoba menggoda anaknya yang berada di gendongan sang istri . Terdengar celotehan riang si bayi yang menggundang tawa orang tuanya .



Tiba\-tiba tangan Reen bergetar hebat , ia teringat bagaimana bodohnya ia yang membiarkan buah hatinya kehilangan nyawa .



Joe yang menyadari itu langsung khawatir dengan keadaan Reen .




" Joeee...aku ingin pulang " pinta Reen dengan suara bergetar .



Seketika itu Joe langsung menggendong Reen dan membawanya menuju mobil mereka yang terparkir di depan taman bermain .



Reen mengeratkan pelukannya pada leher Joe , ia membenamkan wajahnya di dada bidang Joe sambil menangis . Badannya bergetar tak karuan , membuat Reen yang sedang menggendong nya makin panik .



" Reen bertahanlah , kita akan segera pulang "


___


_____


Joe makin khawatir saat melihat Reen yang tak kunjung sadar dari mengigau nya , ia membelai kening Reen lembut mencoba menenangkan .


" Jangan...aku tak mau kehilangan nya !! " seru Reen terus mengigau .


" Reen... sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku ? " tanya Joe dengan wajah sendunya .


Ia tak tega melihat kondisi Reen yang seperti ini , tapi ia juga tak ingin memanggil psikiater karena takut Reen akan tersinggung .


Joe tertidur dengan posisi masih memeluk Reen .


***


Reen terbangun saat matahari sudah mulai naik dan merasakan tangan kekar Joe tengah memeluknya .


Dia berbalik dan mengusap kerutan di kening Joe lalu mengecupnya ringan . Reen tau Joe pasti kurang tidur karena menjaganya sepanjang malam .


Pandangannya tak luput sedetikpun dari wajah sempurna Joe . Ia membelai pipi Joe lembut .


" Joee..bangun , kau harus pergi ke kantor ! " ucap Reen dengan suara lembut .


Joe membuka matanya , menatap dalam manik mata Reen . Terlihat jelas ketulusan yang ia pancarkan di setiap perbuatannya .


Terkadang Joe berpikir , apa yang telah membuat wanita itu tetap mau bertahan disaat ia sangat kejam dan bahkan selalu menyakiti hatinya .


Joe tetap menatap lama wajah Reen , berharap menemukan sedikit kebohongan dari setiap apa yang Reen lakukan .


Dia akan sangat senang jika Reen menikahinya karena harta , setidaknya ia tak akan merasa bersalah saat meninggalkan Reen .


Tapi yang Joe temukan malah tatapan penuh cinta dari Reen , wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu .


Joe tak bisa berbuat banyak , ia tak mungkin membiarkan Reen terus berada disisinya disaat ia masih memegang janji masa lalunya .


Dia akan terus berusaha mencari gadis itu untuk memastikan apakah gadis itu masih mencintainya atau tidak .


Kerena jika tidak ia juga tidak akan memaksa , toh ia juga tak ingin Reen jauh darinya . Sempat terpikir olehnya untuk berhenti mencari gadis itu agar Reen bisa tetap berada di sisinya .


Namun ia segera menepis pikiran itu , janji adalah janji . Ia tak mau menjadi laki\-laki pengecut yang mengingkari janjinya .


" Joee.." Suara lembut Reen membuyarkan lamunannya . Ia tersenyum lalu mencium bibir Reen lembut . Bibir yang entah sejak kapan menjadi candu baginya .


Ia melepas ciumannya lalu mengecup kening Reen penuh sayang .


" Baiklah , aku akan bangun sekarang . Karena aku tidak mau berakhir kemarin , masuk dalam perangkap istriku dan menderita sepanjang hari " ucap Joe dengan seringai jail nya yang langsung mendapat lemparan bantal oleh Reen .


Joe makin terkekeh saat melihat rona merah di wajah Reen , ia yakin saat ini Reen pasti sedang menahan malu .


" Joeee berhenti tertawa dan bergegaslah untuk mandi ! " ucap Reen yang sedikit kesal .


" Aku tidak bisa cepat , bisakah kau membantu ku mandi , sayang ? " ujar Joe mengedipkan matanya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi sebelum sebuah guling melayang hendak mendarat di kepalanya .


" Jooooeeeeeee...!!! " teriak Reen kesal yang membuat tawa Joe makin pecah .


" Akhirnya aku bisa membalas mu , Reen " gumamnya sambil memegangi perut yang sakit karena tertawa terlalu keras .


***


Joe keluar dari kamar dan mendapati Reen sedang memasak . Ia menghampiri dengan langkah pelan , lalu memeluk Reen tiba-tiba dari belakang dan tentu saja Reen terkejut .


" Joeee...aku sedang memasak " ucap Reen sambil menahan desahan agar tidak keluar saat Joe menciumi tengkuknya .


" Hmm..." Joe bergumam dengan suara yang mulai serak .


Joe sudah tak mampu menahannya lagi . Ia segera mematikan kompor dan langsung membalikkan tubuh Reen agar menghadapnya .


Awalnya ia melumat bibir Reen lembut namun lama-kelamaan ciumannya berubah menjadi kasar dan menuntut .


" Reen , aku menginginkan mu ..." ucap Joe parau .


Bukannya menjawab Reen malah langsung menarik kepala Joe agar menciumnya kembali . Joe tau , segera setelah mendapat persetujuan ia membawa Reen menuju kamar mereka . Mencoba melepas hasrat yang dalam beberapa hari ini tertunda .


___


_____


Matahari sudah berada tepat di pucuk langit , namun keduanya masih enggan beranjak dari posisi mereka saat ini . Reen tertidur dengan satu lengan Joe sebagai bantalnya dan satunya lagi yang mendekap sayang tubuhnya .


Hingga suara dering telpon dari seseorang terdengar yang membuat Joe mengangkatnya dan terpaksa harus mengakhiri kenyamanan mereka .


" Reen aku akan pergi untuk mengurus beberapa hal , kau istirahat lah dan tak usah menunggu ku . Mungkin aku akan pulang terlambat hari ini " ucap Joe sambil mencium kening Reen lembut yang dibalas anggukan kecil oleh Reen .


" Berhati-hati lah , Joe " ucap Reen saat Joe hendak keluar dari kamar mereka .


" Tenang saja , akan ku usahakan untuk cepat pulang " ucapnya tersenyum kemudian berlalu .


___


_____


Sudah hampir tengah malam tapi Joe belum juga kembali . Reen sebenarnya tak mau banyak berpikir , tapi bayangan Joe yang pergi dengan terburu-buru membuatnya takut .


Takut jika itu adalah panggilan dari anak Joe yang mengatakan bahwa telah menemukan gadis itu . Jika itu memang benar , maka ia harus meninggalkan Joe dalam waktu dekat ini .


Reen keluar dari rumahnya menuju taman bunga di halaman belakang . Ia mencoba mengenyahkan rasa khawatirnya yang berlebihan .


Ia berjalan tanpa mengenakan pakaian hangat , membiarkan tubuhnya di terpa angin malam musim dingin .


Wajah sendunya menatap kosong pada langit malam . Ini memang sudah menjadi kebiasaanya sejak kecil .


Menjadikan langit sebagai teman , tempatnya untuk mengadukan segala hal-hal yang ia alami .


Tak terasa air matanya menetes , membayangkan betapa menyedihkan hidupnya . Mulai dari dibuang oleh orang tuanya hingga kehadirannya yang tak di inginkan oleh Joe , orang yang ia cintai dengan seluruh hidupnya .


Reen juga tak mengerti mengapa ia harus bertahan dengan sikap kejam Joe . Yang ia tau adalah hatinya hanya ingin selalu berada di samping Joe .


Mungkin orang akan berpikir jika ia bodoh , karna mau menyia-nyiakan hidup yang berharga untuk laki-laki yang tidak akan pernah mencintainya bahkan bisa di bilang selalu menyakitinya lahir dan batin .


Namun bagi Reen yang paling berharga dalam hidupnya adalah setiap waktu kebersamaanya dengan Joe . Meski ia harus membayar dengan nyawanya sekalipun .


Reen terduduk dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan . Ia menangis sekeras-kerasnya , mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya . Hingga akhirnya tertidur terkulai di salah satu kursi taman akibat lelah menangis .


***


Joe kembali ke rumahnya dengan raut wajah gembira , ia tak sabar memberitahukan Reen tentang apa yang ia dapat hari ini .


Lampu rumah sudah padam .


" Mungkin Reen sudah tidur " Joe membatin .


Ia segera berjalan menuju kamarnya . Lampu kamar juga padam , bahkan lampu tidurpun tidak dinyalakan .


Merasa aneh , Joe langsung menyalakan lampu . Kosong . Reen tidak ada disana , rahangnya mengeras seketika , ia takut jika Reen pergi meninggalkannya .


Matanya tertuju pada sosok yang sedang duduk di taman belakang . Ia memang sengaja membuat kamar utama berada bagian belakang rumah , tujuannya adalah agar ia bisa menikmati pemandangan indah tepat setelah bangun dari tidurnya .


Joe mempercepat derap langkah nya saat melihat Reen duduk terkulai di kursi taman dengan memakai pakaian yang tipis .


Gerakannya terhenti ketika melihat pipi Reen yang basah . Joe tau , Reen pasti habis menangis dan yang membuatnya makin frustasi adalah ia tak tau apa yang membuat Reen seperti ini .


Digapainya tubuh Reen yang sangat dingin , kemudian membawanya kembali masuk kedalam rumah .