
Seminggu sudah Reen dan Joe menghabiskan waktu bersama di Vienna . Banyak hal baik yang terjadi disana . Hubungan mereka pun semakin dekat .
Reen sangat senang dengan perubahan sikap Joe padanya . Walau pun terkadang rasa takut itu kembali hadir , namun Joe selalu meyakinkan Reen bahwa semua akan baik-baik saja .
Pernah Reen menanyakan tentang gadis itu , namun Joe selalu mengalihkan pembicaraan mereka .
Akhirnya Reen menyerah , ia memilih untuk diam dan tidak memikirkan hal itu .
Mereka kembali ke negaranya hari ini , dan tentu saja kejadian di atas pesawat terulang lagi . Hingga landing berakhir pun Reen masih memeluk Joe erat .
Joe menuntun Reen masuk ke dalam mobil mereka , Elgar sudah menunggu disana dan segera melajukan mobilnya menuju kediaman Joe .
***
Reen membuka matanya dan baru tersadar bahwa ia telah berada didalam kamarnya . Ia yakin tadi Joe pasti yang menggendongnya .
Sayup-sayup Reen mendengar suara di dapur .
" Apa itu Joe ? " gumamnya dalam hati .
Ia segera turun dari ranjang , dan berjalan menuju dapur . Dan benar saja , Reen melihat Joe sedang memasak . Joe yang tau kehadiran Reen lantas langsung menoleh dan tersenyum , senyuman yang tulus tentunya .
Reen langsung berlari menghampiri Joe dan langsung memeluknya , membuat Joe refleks mengangkat panci panas yang sedang di pegangnya ke atas kepalanya .
" Reen , jangan begitu ! Apa kau tak tau ini sangat berbahaya ? " tanya Joe dengan nada khawatir .
Reen tak memperdulikan itu dan tetap memeluk tubuh Joe , menyandarkan kepalanya di dada bidang Joe .
" Baiklah " Joe meletakkan kembali pancinya ke atas kompor . Lalu mengangkat tubuh Reen yang masih memeluknya dan mendudukkannya di atas meja makan .
Reen tersenyum , puas karena perhatian Joe sudah beralih padanya . Joe mengecup kening Reen ringan .
" Kau makin pandai menggodaku Mrs.Aryan ! Untuk saat ini aku akan melepasmu , karena kau harus makan dan mengisi tenagamu agar kau bisa bertahan lama menghadapiku nanti ! " ujar Joe dan langsung berbalik dan mengambil kembali panci nya .
Joe menuangkan sup ke dalam mangkok Reen . Reen hanya tersenyum menyaksikan sisi Joe yang seperti ini .
" Apa ? " tanya Joe yang merasa diperhatikan .
" Tak ada , kau selalu terlihat tampan di situasi apapun "
" Oh benarkah ? "
" Ya ! " seru Reen sambil tersenyum .
" Apa karena itu kau menyukaiku Reen ? " tanya Joe pura-pura penasaran .
" Tentu saja bukan ! Karena aku mulai menyukaimu saat pertama kali aku melihatmu , dan saat itu kau sedang menunduk " jelas Reen sambil melihat keatas seolah menerawang .
" Kapan itu ? Apakah di pesta pernikahan kita ? tanya Joe kini yang benar-benar penasaran .
" Bukan ! Waktu itu , saat kau sedang terduduk di....
" Aahh !! " pekik Joe menghentikan penjelasan Reen .
" Ada apa ? Astaga Joe , tanganmu ! " Reen bangkit dan memegangi tangan Joe yang tersiram sup panas karena kurang hati-hati .
" Aku baik-baik saja "
" Tidak , tanganmu akan melepuh jika di biarkan . Ikuti aku ! " bantah Reen dan langsung menarik Joe ke depan wastafel .
Ia mengguyur tangan tangan Joe dengan air dingin . Mengambil kotak obat dan mengoleskan salep pendingin di tangan Joe , lalu meniupnya lembut .
" Apa masih perih ? " tanya Reen khawatir .
" Tidak , aku tadi sudah bilang bahwa aku baik-baik saja "
" Tidak Joe , kau tidak baik-baik saja ! Lihat ini , bahkan lukamu sudah hampir melep...hmm..."
Joe membungkam mulut Reen dengan bibirnya , melumatnya pelan lalu melepas tautannya .
" Apa kau masih berani membantahku , Mrs.Aryan ? " tanyanya
" Baiklah , aku tidak akan membantahmu dan tidak akan mengkhawatirkan mu jika kau terluka ! " ucap Reen dan langsung bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan Joe .
Joe menarik tangan Reen , menahannya agar tidak beranjak .
" Apa ?! " tanya Reen kesal . Kesal karena Joe menyuruhnya agar tidak mengkhawatirkan nya .
" Reen , maafkan aku " pinta Joe lirih
" Untuk apa ? Kau bahkan tak salah ! " jawab Reen masih dengan nada kesalnya .
" Maaf karena membuat mu marah , aku hanya tak ingin kau khawatir . Karena aku tau tanpa aku terluka pun aku sudah banyak membuatmu khawatir "
Perkataan Joe sontak membuat Reen kaget . Ia berbalik , duduk berjongkok menghadap Joe yang duduk di atas sofa .
" Tidak , tadi aku saja yang berlebihan . Kau jangan seperti ini . Aku minta maaf " ucap Reen sambil menggenggam tangan Joe .
Lalu merekapun berpelukan dan tak lama kemudian tertawa bersama . Menertawakan tingkah mereka yang lagi-lagi seperti anak kecil , bahkan terlihat lebay .
" Sudahlah , aku lapar . Jika kau memeluk terus aku akan kelaparan " ungkap Reen
" Baiklah , ayo kita makan ! "
___
_____
Keesokkannya
Reen tetap sibuk di dapur bahkan setelah Joe berangkat kerja . Ia ingin membuat kejutan untuk Joe . Dia akan membawakan bekal makan siang untuk Joe .
Dan di dalam kotak itu sudah ia sembunyikan testpack yang menunjukkan bahwa Reen hamil . Kali ini Reen tidak akan menyembunyikan kehamilannya lagi .
Ia menuju kantor Joe dengan menggunakan taxi . Sesampainya disana Reen berjalan dengan penuh semangat juga gugup , takut Joe tidak menerima kehamilannya .
Tapi ia kembali mengenyahkan bayangan itu dan mencoba untuk berpikir positif .
Reen menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan Joe , sayup-sayup ia mendengar kegaduhan kecil di dalam ruangan .
Rasa takut itu pun kembali hadir , ia memberanikan diri membuka pintu itu .
Ceklek !
___
_____
" Tuan , utusan dari Grup Weyne telah tiba " kata Elgar memberitahu Joe .
" Baik persilahkan saja dia masuk " ucap Joe dingin seperti biasa .
Seorang wanita dengan tubuh semampai berjalan ke arahnya . Wajah cantiknya tersenyum ke arah Joe yang sama sekali tidak memperhatikan nya .
" Selamat siang , Tuan Aryan . Saya Leenea Weyne putri ketiga dari pimpinan Grup Weyne sekaligus utusan yang akan menandatangani kontrak kerja dengan anda " jelas Leenea sambil tersenyum .
Dada Joe bergemuruh saat mendengar nama itu , ia mendongakkan kepala dan mendapati seorang wanita sedang tersenyum ke arahnya .
" Leen ? " tanya Joe , terdengar jelas ada getaran pada suaranya .
" Ya Tuan . Oh tunggu , mengapa anda tau panggilan kecil saya ? Seingat saya yang tau nama itu hanya teman-teman saya " tanya Leenea bingung .
Deg !
*Flashback on
" Siapa namamu ? " tanya Joe sambil menarik lengan gadis itu .
" emm... panggil saja aku Leen, itu nama kecilku " jawab gadis itu riang
" Baiklah, Terima kasih Leen "
Flashback off*
Joe bangkit dari duduknya , menghampiri wanita cantik itu . Tangan Joe terulur untuk menyentuh wajahnya .
Sontak wanita itu mundur ke belakang .
" Maaf Tuan Aryan , apa yang akan anda lakukan ? " tanya Leenea bingung dengan tingkah Joe yang tiba-tiba ingin menyentuhnya .
" Leen , apakah kau melupakan ku ? Aku telah menunggumu selama sepuluh tahun terakhir " ucap Joe hampir meneteskan air matanya karena menahan kerinduan yang ia pendam selama ini .
" Maaf , apa yang anda bicarakan ? Saya sama sekali tidak mengerti " tanya Leenea sesopan mungkin walaupun saat ini ia ingin sekali memaki laki-laki kurang ajar di depannya .
Perkataan Joe makin membuat Leenea bingung . Namun belum sempat Leenea tersadar dari kebingungannya , Joe sudah menghampirinya lalu memeluknya erat .
" Lepaskan saya , Tuan ! Anda salah orang ! Saya bukan Leen yang anda maksud ! " perintah Leenea sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Joe yang begitu erat .
" Tidak Leen , aku merindukanmu . Sangat merindukanmu ! "
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka , Joe dan Leenea sama-sama menoleh kearah pintu .
Ceklek !
Reen terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya , tangannya gemetar saat melihat Joe sedang memeluk seorang wanita hingga membuat kotak bekal yang ia pegang jatuh di lantai .
" Reen ! " " Kakak ! " ucap Joe dan Leenea berbarengan .
Namun keterkejutan Joe segera menghilang dan di ganti oleh senyuman riangnya .
" Reen , aku sudah menemukannya ! Menemukan gadis itu ! " Seru Joe gembira .
" Tidak kak ! Aku tak mengerti sedikitpun atas apa yang di katakan Tuan Aryan ! " ujar Leenea pada Reen yang tak mau membenarkan perkataan Joe .
Buliran bening telah menggenang di pelupuk mata Reen , bersiap untuk jatuh . Hari yang paling Reen takutkan telah datang . Hari dimana ia harus meninggalkan Joe untuk selama-lamanya .
" Tidak , maaf aku mengganggu kalian . Aku permisi dulu " ucap Reen langsung berbalik keluar dan menutup pintu asal .
Ia berlari secepat mungkin sambil mengusap air matanya yang sudah mengalir deras . Tak ia pedulikan lagi tatapan karyawan yang menatapnya bingung .
Yang ia tau ia harus secepatnya dari tempat ini dan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Joe .
Setelah sampai di rumah Joe , ia segera mengemasi barang-barang nya . Tak lupa ia menuliskan sebuah surat untuk Joe .
*Joe , terima kasih atas apa yang telah kau berikan padaku . Aku sungguh sangat bahagia bisa hidup bersamamu , walau itu semua hanya sementara .
Aku minta maaf telah membuatmu menderita selama ini . Sekarang aku akan menepati janjiku padamu , meninggalkan mu dan tidak akan menemuimu selamanya .
Dan ada satu hal yang ingin aku katakan padamu , Selamat ! Selamat karena kau telah menemukan cinta yang selama ini kau cari dan...
Selamat , kau telah berhasil membuatku melupakan bahwa semua yang kita alami kemarin-kemarin adalah sebagian usahamu untuk membuatku menderita , bahkan sangat menderita .
I'm sorry Joe , I'm sorry cause i love you . Maaf karena cintaku membuat mu hidup dalam penderitaan .
Selamat tinggal , cintaku*....
Setelah menuliskan itu , Reen langsung buru-buru meninggalkan tempat itu . Tujuannya hanya satu , bandara .
_____
________
Di sisi lain , tampak seorang pria yang tengah frustasi . Ia berjalan dengan langkah gontai menuju bagian check-in .
Pria itu tampak bingung apa yang ia harus katakan pada ibunya bahwa ia tak berhasil menemukan kakaknya yang hilang .
Padahal sudah seminggu lebih dia mencari di setiap sudut negara ini , tapi tak kunjung juga menemukan kakak perempuannya .
Ia tau bahwa akan sulit menemukan seseorang hanya dengan petunjuk dari nama belakangnya saja .
Aquila , nama yang ibunya tinggalkan untuk kakaknya itu .
Karena merasa lelah , ia memilih duduk terlebih dahulu di waiting room sebelum menuju pesawat pribadi yang sudah menunggunya untuk kembali ke negara asalnya .
Ia duduk tepat di samping wanita yang tampaknya sedang menangis . Awalnya ia tak peduli namun tiba-tiba suara isakan dari wanita itu terhenti , membuatnya penasaran dan langsung menoleh .
" Hey nona , apa kau tertidur ? " tanya pada wanita itu .
Suara pengumuman untuk keberangkatan selanjutnya terdengar . Ia melirik ke arah ticket yang di genggam wanita itu . Melihat negara yang sama dengan yang disebut di pengumuman tadi .
" Mungkin itu adalah negara tujuannya " ucapannya membatin .
Lalu ia mengguncang pelan tubuh wanita itu , namun karena tak kunjung bangun ia melakukannya dengan lebih cepat .
" Hey , bangun nona ! Pesawatnya akan segera berangkat ! " serunya .
Tiba-tiba ticket jatuh dari tangan wanita itu , ia mengambil ticketnya . Dan betapa terkejutnya ia saat membaca nama yang tertera disana .
" Maureen Aquila " lirihnya . Tangannya gemetar kemudian menoleh kembali ke arah Reen . Wanita yang ia cari selama ini telah berada di hadapannya . Tanpa pikir panjang , ia mencoba membangunkan Reen kembali . Tapi Reen tetap tak bergeming .
" Kakak , kau kenapa ? " tanya nya khawatir .
Ia segera menggendong tubuh lemah Reen menuju lapangan lepas landas .
" Tuan apakah itu Nona ? " tanya pengawal padanya .
" Iya , cepat siapkan ruangan dan perintahkan pilot untuk segera berangkat ! " perintah pria itu pada pengawalnya
" Baik tuan , akan saya laksanakan ! "
Pria itu adalah Robert Ayhner , pewaris sah dan satu-satunya Grup Ayhner , perusahaan terbesar di dunia dan yang paling di takuti seluruh pembisnis . Robert dan Reen adalah kakak beradik beda ayah .
Setelah meninggalkan Reen , ibunya menikah lagi dengan ayah Robert lalu melahirkan Robert setahun kemudian . Tentu saja saat itu ibunya tak punya pilihan lain .
Robert merebahkan Reen di salah satu ruangan dalam pesawat . Ia memandang wajah kakak perempuan nya itu dengan haru .
Ia tak tau betapa sengsaranya hidup yang dihadapi Reen hingga membuatnya menangis dan pingsan karena itu .
Awalnya Robert sangat marah saat ibunya mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah memiliki anak sebelum menikah dengan ayahnya .
Robert marah karena ibunya dengan bodoh meninggalkan anak kandungnya di negara asing . Padahal ia yakin dengan kepribadian ayahnya , ia tak mungkin tak menerima anak dari ibunya .
Terlebih lagi , ibunya baru mengatakan pada Robert baru-baru ini . Saat ayahnya sudah tiada . Tapi ia segera menghilangkan emosinya karena alasan yang di berikan ibunya .
Robert menyibak rambut yang menutupi wajah Reen .
" Aku tak tau masalah apa yang sedang kau hadapi , tapi aku akan menjamin tak akan ada lagi orang yang bisa menyakitimu kak . Aku berjanji ! "
Robert tak meninggalkan Reen barang sedetik pun . Ia selalu menjaga Reen hingga sampai di tempat tujuan .
Sebelumnya Robert telah memerintahkan dokter terbaik untuk memeriksa keadaan Reen karena sejak awal penerbangan hingga kini Reen belum juga sadar .
Sarah Aquila , wanita paruh baya itu menangis saat melihat Reen ditemukan dengan keadaan yang tidak baik .
Ia menyesal karena telah meninggalkan Reen sendirian di negara yang asing .
Sarah membelai rambut Reen lembut , air matanya sudah sejak tadi tak berhenti mengalir .
Betapa menderitanya hidup Reen disana tanpa seorang ibu yang menemaninya .
Sarah dan Robert terkejut saat mendengar penjelasan dokter bahwa Reen sedang hamil . Dan bukan hanya karena itu , kondisi kesehatan Reen yang sangat buruk dan kehamilannya yang lemah membuat nyawa keduanya bisa terancam .
" Apa ?! " Pekik Reen mendengar penjelasan dokter itu .
Sarah dan Robert pun refleks menoleh ke arah Reen . Sarah mendekat ke sisi ranjang Reen .
" Apa kau sudah merasa baikan , sayang ? " tanya Sarah dengan mata berbinar .
" Aku baik-baik saja . Tapi tolong jelaskan apa maksud dari perkataan dokter itu ?! " tanya Reen antara khawatir dan takut .
" Nona , apakah selama ini kau selalu menahan rasa sakit di seluruh tubuhmu ? " tanya dokter itu hati-hati
" Ya , tapi apa hubungannya dengan kandunganku ? "
" Maafkan saya Nona , saya belum bisa menjelaskannya secara rinci . Yang pasti dengan kehamilan anda saat ini bisa menyebabkan keadaan tubuh anda yang lemah menjadi lebih buruk . Jadi saya saran kan anda untuk menggugurkan janin itu ! "
Penjelasan dokter itu sontak membuat kaget Sarah dan Robert terlebih lagi Reen .
" Tidak ! Tidak akan ! Aku tidak akan menggugurkan anak ini , apapun yang terjadi aku tidak mau kehilangan anakku lagi.... Bahkan jika aku kehilangan nyawaku !!! " tangis Reen pecah .
" Tenanglah Maureen , aku akan meminta dokter kandungan terbaik untuk menangani masalah ini " ucap Sarah sambil ikut menangis , seakan ikut merasakan kesedihan yang Reen rasakan .
" Aku tak mau menggugurkan bayiku ! Aku tak mau...."
Sarah langsung membawa Reen dalam pelukannya . Ia lalu mengode Robert agar menyuruh dokter itu keluar .
" Sayang , sudahlah...kau harus tenang agar bisa memikirkan masalah ini baik-baik "
Entah mengapa Reen merasa bahwa pelukan wanita itu sangat menenangkan , bahkan hingga membuat Reen merasa sangat nyaman .
Reen melonggarkan pelukannya dan menatap Sarah dan Robert bergantian .
" Maaf , apakah saya boleh bertanya siapa kalian ? dan apakah kalian mengenalku ? " tanya Reen bingung .