I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
17 # Biarkan waktu yang lelah



~ Seperti jernih embun pagi


Mengalir menderu membasahi pipi


Mengalir membawa seribu kesesakan hati


Isakan tak tertahankan memecahkan keheningan


Ketika hati berteriak karena segundah rasa


Meraung karena seribu luka


Tubuh terpaku diam tak berdaya


Terpuruk karena waktu yang begitu kejam


Menyiksa dengan seribu kesedihan ~


Joenathan Aryan


Joe sedang duduk di bangku taman , raut kesedihan masih tampak jelas di wajahnya . Sesekali buliran bening mengalir dari matanya melintasi rahang kokohnya yang kini terlihat lebih kurus .


Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahnya sambil tersenyum riang .


" Dad ? Benarkah itu kau ? " tanya bocah itu dengan sorot mata penuh harap .


" Anakku ? "


Joe menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya , ia langsung memeluk tubuh mungil anaknya .


" Aku merindukanmu dad , tapi kau tidak pernah mencari ku " bocah itu mengomel dengan bibir yang sengaja di manyun kan .


" Maafkan dad sayang , kali ini dad tidak akan meninggalkan kalian lagi " ujar Joe sambil menciumi pipi gembul anaknya .


" Aku menyayangimu dad , dan sebenarnya aku ingin kau menemaniku lebih lama . Tapi , aku tidak ingin egois . Disana masih ada mom dan adik yang sedang menunggumu "


" Apa maksudmu , sayang ? " tanya Joe menyipitkan matanya .


" Dad kembali lah..., bangunlah....bukankah mom mengatakan kau harus hidup dengan baik ? " ucap anak itu sambil menangkup pipi Joe dengan kedua tangannya .


" Tidak sayang , dad akan tetap disini , menemanimu ! "


" Dad tak perlu khawatir , disini aku cukup bahagia . Aku memiliki teman-teman yang baik , makanan banyak , dan baju yang indah . Bangunlah dad...bangunlah...."


Senyum anak itu memudar bersama dengan tubuhnya yang mulai menghilang. Joe mencoba menggapai kembali tangan mungil anaknya , namun ia gagal .


Tiba-tiba Joe merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya , ia meringis kesakitan . Dan semuanya tampak gelap , namun sedetik kemudian pemandangan dihadapannya berubah menjadi ruangan serba putih dan cahaya yang menyilaukan .


" Dokter , detak jantung pasien kembali ! "


" Cepat periksa tanda-tanda vital nya ! "


" Detak jantungnya lebih cepat dan tekanan darah turun !! " seru dokter anestesi .


" Hubungi bagian transfusi darah , kita membutuhkan darahnya secepat mungkin !! "


" Baik ! "


" Kita akan melanjutkan operasi nya ! "


" Baik ! "


***


Tiga hari kemudian Joe terbangun dari komanya . Dan beberapa hari setelah ia sudah diperbolehkan untuk pulang .


Joe tetap mencari keberadaan Reen , walaupun bawahannya mengatakan bahwa Reen meninggal dalam kecelakaan pesawat ia tidak akan mengakuinya jika ia tidak melihat jasad Reen dengan matanya sendiri .


" Reen masih hidup ! Dan aku akan menemukannya ! " teriak Joe pada Mr.Bredley yang telah berulang kali mengatakan agar Joe ikhlas menerima kematian Reen .


Mr.Bredley menatap iba putra satu satunya itu , ia tak menyangka kepergian Reen yang Joe harapkan dulu malah menjadi bumerang bagi Joe itu sendiri .


Joe kembali ke kantornya , berharap dapat melupakan sejenak kepergian Reen dengan menyibukkan diri dengan urusan kantor .


Joe duduk menghadap ke arah kaca besar diruangnya yang menampakkan seluruh aktivitas kota .


" Dimana kau sekarang , Reen ? Jika kau ingin aku menderita setelah kepergian mu , sungguh saat ini aku telah benar-benar menderita . Jadi , kumohon kembalilah padaku....


Dulu aku memang sangat menginginkan kau pergi jauh dari ku , namun saat itu terjadi malah membuatku merasakan apa arti dari penyesalan . Maafkan aku Reen..." gumam Joe dalam hati , lagi-lagi airmatanya jatuh entah untuk yang keberapakali .


Pintu ruangnya di ketuk , lalu Elgar masuk dengan mimik ketakutan . Joe membalikkan badan , menatap Elgar yang tengah berjalan ke arahnya .


" Ada apa ? " tanya Joe dingin .


" Tuan , saya menemukan benda ini saat saya membersihkan kotak bekal yang dijatuhkan Nyonya waktu itu . Tapi saya takut anda akan..."jelas Elgar gugup


" Cepat berikan padaku ! "


Elgar menyodorkan benda yang tampak asing pada Joe . Ragu-ragu ia meletakkannya di atas meja . Joe mengambil benda itu , lalu menatapnya intens .


Matanya terasa begitu perih karena mencoba agar buliran itu tak jatuh lagi , ia memang tidak pernah melihat benda itu , namun ia juga bukan orang bodoh yang tidak tahu benda apa yang sebenarnya ia pegang .


Tangannya terkepal kuat saat melihat dua garis merah yang ada pada testpack itu .


" Arrgghh..!!! "


Joe menyingkirkan semua benda yang ada di hadapannya , membuat ruangannya di penuhi oleh kertas-kertas yang berterbangan .


" Bodoh ! Bodoh ! " umpat Joe sambil membenturkan kepalanya sendiri di tembok sambil menangis .


Wajah Elgar menegang saat melihat Joe , takut terjadi apa-apa karena Elgar tau benar jika luka di kepala Joe masih belum pulih sepenuhnya .


" Tuan , saya mohon jangan seperti itu . Luka di kepala anda belum sepenuhnya sembuh " ucap Elgar memohon .


" Keluar ! Keluar sekarang !!! " bentak Joe .


Dengan ragu-ragu Elgar melangkahkan kaki nya keluar ruangan Joe . Ia tetap berada di balik pintu , bersiap jika terjadi apa-apa pada tuannya .


Joe mengerang sangat keras dan menangis sejadi-jadinya di ruangannya saat mengetahui bahwa Reen pergi dalam keadaan mengandung . Ya , mengandung anak kedua mereka .


Entah apa yang membuatnya begitu yakin , ia hanya mencoba mengikuti kata hatinya .


___________________________________________________________


~ Jangan tanya kenapa aku bersembunyi


Aku pun tak ingin begini


Jangan mencemooh kenapa aku berlari


Sebenarnya aku ingin tampilkan diri


Untuk menghadapi semua ini


Aku terpaksa


Aku pun terluka


Tapi aku tak akan pernah lupa berdoa


Agar kita dapat kembali berjumpa


Untuk melanjutkan asa yang sempat terlupa ~


Maureen Aquila


Robert telah mencarikan dokter kandungan dan dokter penyakit dalam terbaik di seluruh dunia untuk mengobati penyakit Reen .


Namun sayang , penyakit yang di derita Reen memang sangat sulit untuk disembuhkan . Para dokter juga telah menyarankan untuk menggugurkan kandungannya agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan . Dan lagi-lagi Reen menolak .


Reen lebih memilih untuk mati asalkan janin yang dikandungnya selamat . Sarah yang sudah lelah membujuk Reen akhirnya hanya bisa pasrah menerima semua keputusan Reen .


Sarah salut dengan anaknya , ia tidak menyangka bahwa Reen akan menjadi ibu yang akan mempertaruhkan apapun demi anaknya . Tidak seperti dirinya yang begitu pengecut , meninggalkan Reen untuk kepentingannya sendiri .


Orang-orang di negara A bersimpati pada Reen , mereka juga memberikan dukungan penuh untuk penyembuhan penyakit Reen .


Robert memang tidak ingin menyembunyikan status Reen sebagai kakaknya di depan publik . Ia mengganti nama Reen dari Maureen Aquila menjadi Maureen Ayhner . Dan mengatakan pada publik bahwa Reen adalah saudara kembarnya yang menghilang karena sebuah kecelakaan di waktu kecil . Karena memang wajah mereka yang terlihat begitu mirip .


Tak terasa enam bulan sudah berlalu , dan selama itu pula Reen selalu menjalani pengobatan-pengobatan yang di sarankan oleh dokter .


Karena organ-organ dalam tubuh Reen hampir semuanya mengalami kerusakan akibat terlalu banyak menerima pukulan yang keras , itu membuat segala pengobatan yang ia jalani hanya bisa memperlambat kerusakan total bukan untuk penyembuhan .


Kondisi Reen yang semakin hari semakin lemah , saat ini usia kandungan Reen sudah memasuki usia tujuh bulan . Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Sarah memutuskan untuk mengeluarkan bayi Reen secara prematur .


Keputusan ini diambil karena Reen memang sudah tak sadarkan dari dua Minggu yang lalu . Jika ini terus dipertahankan maka akan sangat berakibat fatal .


***


Reen sadar setelah tiga hari pasca operasi . Karena merasa ada yang tak beres dengan kandungannya , ia segera meraba perutnya . Datar .


" Tidak ! Tidak mungkin ! " teriak Reen keras , membuat Sarah yang sedang berada di luar kamarpun masuk .


" Reen , kau sudah sadar ? " tanya Sarah haru .


" Dimana anak ku , Bu ? " tanya Reen agak keras .


" Tenanglah , Reen "


" Bagaimana aku bisa tenang jika anakku...


Reen menghentikan kalimatnya saat mendengar suara tangisan bayi .


" Ibu ! Bagaimana ini , tiba-tiba dia menangis ! " seru Robert .


" Kemarilah , Robert ! "


Mendengar panggilan dari Sarah , Robert langsung masuk ke dalam kamar Reen dengan menggendong seorang bayi hati-hati .


" Kakak , kau sudah sadar ? " tanya Robert sambil mempercepat langkahnya .


" Apa itu anakku ? "


Bukannya menjawab pertanyaan Robert , Reen malah balik bertanya .


" Ya , dia anakmu Reen . Maaf ibu mengambil keputusan tanpa persetujuan dari mu , karena ibu tak punya pilihan "


" Tak apa ibu , kemarikan anakku ! "


Robert menyerahkannya pada Reen . Bayi itu menghentikan tangisnya saat berada dalam pelukan Reen .


" Good boy " Reen menciumi anaknya penuh kasih .


Ia tak menyangka bahwa ia akan benar-benar menjadi seorang ibu . Perjuangan demi perjuangan yang ia lakukan akhirnya mendapatkan hasil .


Reen menatap lekat wajah sang buah hati yang begitu mirip dengan Joenathan . Rasa rindu itu pun kembali hadir , sebenarnya ia ingin sekali menemui Joe .


Membagi segala rasa sakit yang ia rasakan dan memberi tahu bahwa anak mereka telah lahir . Anak laki-laki yang begitu tampan , anak yang ia lindungi dengan nyawanya sendiri .


Namun Reen tau bahwa semua itu tak mungkin terjadi . Bisa saja saat Joe telah hidup bahagia bersama dengan Leenea , wanita yang ia cintai dengan seluruh hidupnya .


" Aku akan memberi nama anak ini Equilio Aryan " ucap Reen tersenyum penuh arti .


" Nama yang indah , kalau begitu bagaimana jika kita memanggilnya Lio ? " tanya Sarah begitu antusias .


" Mmm...boleh juga , bagaimana menurut mu , Robert ? "


" Aku akan selalu mendukung keputusanmu kak " Robert ikut tersenyum saat melihat Reen tersenyum .


Ini adalah senyum pertama Reen setelah pertemuan pertama mereka di bandara . Robert berjanji pada diri sendiri untuk selalu menjaga Lio sepenuh hati . Karena ia yakin bahwa Lio adalah satu-satunya alasan Reen untuk bertahan hidup .


Robert dan Sarah kaget melihat wajah Reen yang makin memucat . Robert langsung mengambil alih Lio dari gendongan kakaknya . Dan benar saja beberapa detik kemudian Reen mengalami kejang-kejang .


Bukan hanya Robert dan Sarah saja yang sedih menyaksikan perjuangan Reen saat mencoba melawan penyakitnya , Lio yang masih bayi pun ikut menangis kencang seakan mengerti betapa berat penderitaan yang dialami oleh Ibunya .


Dan setelah hari ini , Reen tidak akan bangun lagi dari komanya . Mungkin hanya sesekali dalam setahun , itu pun hanya untuk melihat bagaimana keadaan Lio . Lalu Reen kembali memejamkan matanya .


Bertahun-tahun kemudian tidak ada yang berubah dari kondisi Reen . Tidak ada kemajuan , tidak ada perkembangan . Hingga suatu hari....