
Joe berjalan tertatih ke arah Reen yang terbaring , ia mencoba menggapai wajah Reen dengan tangannya yang gemetar .
" Reen..." ucap Joe lirih , ia tak tau harus merasa senang atau sedih .
Senang karena telah bertemu kembali dengan orang yang ia cintai selama 20 tahun . Sedih karena menyaksikan orang yang ia cintai terbaring sakit karena perbuatannya yang bodoh .
Joe terus menangis sambil menggenggam tangan Reen . Pandangannya tak lepas sedikitpun dari wajah pucat Reen .
" Maafkan aku , Reen..."
"..."
" Bukankah pernah bertanya padaku , apakah aku mencintaimu ? "
"..."
" Cepat buka matamu , aku akan mengatakannya . Aku mencintaimu , Reen... Sangat sangat mencintaimu..."
"..."
" Jika kau sadar , aku berjanji akan membiarkanmu untuk merusak taman bungaku . Atau kalung itu , kalung yang kita dapatkan saat pelelangan amal . Kau menginginkannya bukan ? "
"..."
" Aku akan memberikan segala yang ku miliki untukmu . Jadi , kumohon Reen sadarlah..."
"..."
" Atau jika kau menginginkan nyawaku , aku akan memberikannya untukmu . Kau boleh memukulku , menamparku , atau membunuhku ! "
"..."
" Reen..." panggil Joe yang masih terisak . Membiarkan airmatanya menyatu dengan darah yang masih ada di pipinya .
" Sudahlah , nak . Kau tak perlu menyesali ini , yang perlu kau lakukan adalah terus menemani Reen bagaimana pun kondisinya . Semoga Tuhan memberikan kesempatan untuk Reen kembali bangun , agar kau bisa membahagiakannya di masa depan " ucap Sarah sedih .
Joe hanya mengangguk sebagai jawaban . Sarah yang melihat Joe ikut menangis , ia belum pernah melihat cinta seorang pria yang begitu besar untuk wanitanya .
" Kalau begitu , biarkan aku bersihkan lukamu . Aku tak ingin jika Reen bangun ia akan melihat wajah orang yang ia cintai babak belur hingga terlihat jelek seperti ini " ujar Sarah lembut sambil menepuk pundak Joe pelan .
Lagi-lagi Joe hanya mengangguk . Sarah membawa Joe kembali ke ruang keluarga , ia membersihkan luka Joe dengan sangat hati-hati .
" Aaw ! " pekik Joe pelan .
" Apa aku menyakitimu , Joe ? " tanya Sarah khawatir .
" Tidak Nyonya , hanya terasa sedikit perih " ucap Joe meringis .
" Tak perlu terlalu kaku , kau bisa memanggilku ibu . Kau juga anak ibu , sama seperti Reen dan Robert " ujar Sarah tersenyum .
" Ibu ? " tanya Joe gemetar .
Sudah 20 tahun ia tak pernah menyebutkan kata itu lagi . Kata yang paling ia benci . Joe menatap wanita dihadapannya yang juga sedang menatapnya penuh kasih sayang .
Tatapan yang ia rindukan dari seorang ibu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya .
" Ibu..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca .
" Ya sayang ? "
" Apakah semua ibu menyayangi anaknya ? Sepeti ibu yang menyayangi Reen dan Robert , atau seperti Reen yang mengobarkan nyawanya untuk Lio ? " tanya dengan airmatanya yang hendak jatuh .
" Tentu saja , tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya sendiri "
" Tapi kenapa ibuku begitu membenciku ? Kenapa ia meninggalkanku disaat aku benar-benar membutuhkan seorang ibu ! "
" Berarti dia bukan seorang ibu , dia hanya wanita bodoh yang menelantarkan anaknya ! " ucap Sarah lalu membawa Joe dalam pelukannya .
Joe menangis dalam pelukan Sarah . Ia tak percaya bahwa ia akan dapat merasakan kasih sayang seorang ibu dari Sarah .
Sarah mengelus punggung Joe dan mengecup puncak rambutnya lembut . Kini Sarah tau , tidak adanya sosok ibu lah yang membuat Joe bersikap dingin dan kasar .
" Sudahlah Joe , apa kau ingin Lio melihat Dad nya menangis seperti ini ? Aku bahkan belum pernah melihat Lio menangis di depanku ! " ujar Sarah sambil melepas pelukannya lalu tersenyum .
" Maaf " ungkap Joe malu .
" Tak apa , ayo lekas bersihkan tubuhmu dan makan malam bersama kami . Kau bisa mengunakan kamar Reen , itu akan menjadi kamar kalian "
" Baiklah , kalau begitu aku akan kesana "
Sarah tersenyum penuh arti setelah kepergian Joe .
" Kau membesarkan anakmu dengan baik , Bradley . Tapi sayang , dia masih cengeng seperti dulu ! " gumam Sarah .
***
Joe kambali memasuki kamar Reen , dan tentu saja bau khas obat-obatan kembali memenuhi rongga hidungnya . Ia menatap Reen lalu mengecup keningnya .
" Aku akan mandi dulu , ku harap kau bangun saat aku keluar dari kamar mandi . Atau kau ingin aku mandi bersamamu seperti dulu ? " ungkap Joe tersenyum kecut , menyadari bahwa apa yang ia katakan adalah hal tidak mungkin .
Joe masuk ke dalam kamar mandi , tubuhnya terpaku saat melihat peralatan mandi yang ada disana . Semuanya sama persis seperti kamar mandi miliknya dan Reen dirumah mereka .
Ternyata benar apa yang dikatakan Sarah , Reen masih mencintainya dan menunggunya datang , datang untuk menjemput Reen kembali .
Joe kembali meneteskan airmatanya , ia menjadi sering menangis setelah kepergian Reen .
Setelah selesai mandi dan berpakaian , Joe langsung duduk disamping Reen yang terbaring . Ia mengusap kening Reen pelan .
" Kapan kau akan bangun ? Lihat , aku sudah berada disini , disampingmu ! " ucap Joe pelan .
Joe terus mengusap rambut Reen pelan , sebelum akhirnya terdengar suara ketukan pintu .
" Dad , waktunya makan ! Nenek sudah menunggumu di ruang makan ! " Seru Lio dari balik pintu .
Senyum Joe seketika merekah , saat mendengar suara anaknya . Ia segera turun dari ranjang , mengecup pipi Reen sekilas .
" Sayang , apa kau mendengarnya ? Anak kita sudah memanggilku untuk segera turun . Kau membesarkannya dengan baik , tanpamu mungkin aku tidak akan pernah menjadi seorang ayah , walaupun aku belum bisa menjadi ayah yang baik " ujar Joe panjang .
" Dad !! " teriak Lio lagi , kini dengan teriakan yang makin kencang .
" Wow ! Sepertinya dia sudah kesal , dia sangat mirip denganmu jika sedang kesal . Baiklah aku akan menemuinya sekarang . Aku akan kembali ! " ucap Joe lalu kembali mengecup pipi Reen .
" Dad datang ....! " seru Joe lalu segera membuka pintu .
Dan benar saja , Lio sudah menunggu Joe dengan bibir dimajukan dan tangan yang dilipat di depan dada .
" Kau membuatku menunggu lama , Dad ! " ujar Lio kesal .
" Mmm... sebenarnya itu tak sebanding , tapi...ya sudahlah aku terima ! " ucap Lio sambil tersenyum .
" Baiklah Pangeran , silahkan anda naik ke punggung saya ! " ujar Joe sambil berjongkok .
" Tidak Dad , aku hanya bercanda . Punggungmu masih sakit , aku tak ingin membuatnya semakin parah . Bagaimana jika kau menggenggam tangan ku saja ? " kata Lio sedih , ia tak menyangka demi menyenangkan hatinya , Joe membiarkan punggungnya yang luka untuk dinaikinya .
" Kau adalah anak yang baik , Lio ! " ucap Joe tersenyum .
" Tentu saja ! Siapa dulu ayahnya ? Joenathan Aryan...!! " seru Lio bangga lalu menarik tangan Joe menuju ruang makan .
Sarah dan Robert sudah menunggu disana . Robert melihat ke arah Joe dan Lio yang tersenyum bahagia , ia tak menyangka bahwa Joe benar-benar berarti untuk Lio .
' Ya , mungkin aku harus berdamai dengan pria brengsek itu . Setidaknya demi kebaikan kakak dan Lio ' gumam Robert dalam hati .
" Duduklah Joe , kami sudah menunggumu ! " ujar Sarah mempersilakan Joe duduk .
Lio duduk dipangkuan ayahnya , ia tampak sangat senang dan manja . Biasa Lio akan bersikap mandiri dihadapan Sarah dan Robert , tapi kali ini Lio membuat nenek dan unclenya menggeleng heran karena sifat manja nya .
" Dad , aku ingin kau menyuapiku ! " rengeknya manja .
" Oke , kau mau makan apa ? " tanya Joe tersenyum .
" Ini , itu , ini , ini , dan....itu ! " ucap Lio sambil menunjuk makanan yang ia pilih .
" Baiklah pangeran , saya akan mengambilkannya untuk anda "
Sarah tertawa melihat kelakuan ayah dan anak didepannya . Ia melirik Robert yang sedang menahan senyumnya .
" Tuan muda Ayhner , kapan kau akan menikah ? Tidakkah kau iri melihat kedekatan kakak ipar dan keponakanmu ? " tanya Sarah menggoda Robert .
Merasa disindir Robert pun langsung diam . Ia melirik Joe dan Lio yang menatapnya , lalu melirik Sarah yang sedang menahan tawanya .
" Aku hanya belum menemukan yang tepat untukku ibu , jadi tolong jangan singgung hal itu lagi ! " ujar Robert kesal . Sebenarnya ia sudah menyukai seorang wanita , tapi wanita itu terlihat sulit ditaklukkan .
" Bagaimana dengan Leenea ? Bukankah dia gadis yang baik ? " tanya Sarah sambil mengedipkan sebelah matanya .
Robert tersedak , ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah oleh polisi . Bagaimana ibunya bisa tau bahwa ia menyukai Leenea ?
Berbeda dengan Robert , Joe malah terlihat tegang .
Pikiran kembali mengingat akan kejadian itu , kejadian yang membuat Reen pergi jauh darinya .
" Dad ! " pekik Lio menyadarkan Joe .
" Ya sayang ? "
" Mulut ku kebas ! " ucap Lio sambil menunjuk mulutnya yang menganga .
" Maaf , Dad hanya memikirkan sesuatu tadi " ujar Joe memberi penjelasan .
" Dua kesalahan , Dad harus menuruti dua permintaan ku sebagai permohonan maafnya ! "
" Baiklah , apapun itu akan Dad kabulkan "
" Benarkah ? "
" Ya tentu ! Memangnya apa yang tidak buat Lio ? " tanya Joe . Lio hanya menyengir sebagai jawaban .
***
Setelah selesai makan , Joe menemani Lio kamarnya . Dan lagi-lagi Lio bersikap manja . Ia ingin ayahnya mendongengkan sebuah cerita sebelum tidur .
Joe hanya menuruti permintaan Lio , ia menjadikan lengannya sebagai bantal Lio dan ia pun mulai bercerita . Lio menatap wajah Joe yang sedang bercerita . Ia tidak menyangka bahwa ia bisa menemukan Joe setelah 2 tahun pencarian nya .
" Ada apa ? " tanya Joe yang merasa dirinya di perhatikan .
" Tidak ada . Aku hanya merasa sangat senang , karena besok tidak akan ada lagi yang mengejekku "
" Apa maksudmu, sayang ? "
" Selama ini aku selalu dimaki , mereka bilang aku adalah anak haram yang tidak memiliki ayah dan ibu yang lumpuh . Mereka mengatakan bahwa aku orang yang paling menyedihkan di seluruh dunia , anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya ! " ungkap Lio lirih , airmata sudah bertengger di sudut matanya, bersiap untuk jatuh .
" Kata siapa ? Kau memiliki Dad , dan aku yakin Mom sebentar lagi pasti akan sadar . Dan satu lagi , Dad sangat menginginkan mu , hanya saja dulu waktu belum berpihak pada kita . Jadi , kita belum bisa dipertemukan " ujar Joe sambil mengelus puncak rambut anaknya .
" Dad , apa kau mencintai Mom ? "
" Tentu saja , jika tidak kau tidak mungkinakn berada disini "
" Kalau begitu , apakah aku terlahir karena cinta ? "tanya Lio penasaran . Joe tampak berpikir sejenak , ternyata anaknya tidak tau apa itu cinta .
" Ya , karena Mom mencintai mu dan Dad " ujar Joe sambil mempererat pelukannya .
" Kalau begitu aku harus berterima kasih pada cinta ! " seru Lio bahagia . Joe hanya terkekeh mendengar perkataan anaknya .
" Apa Dad menyayangi ku ? " tanya Lio kembali
" Dad sangat menyayangi mu sayang..."
" Apakah Dad bisa mengantarku ke sekolah besok ? " tanya Lio penuh harap .
" Tentu , Dad akan melakukannya ! "
" Yeay ! Besok akan ku tunjukkan pada mereka bahwa aku memiliki ayah , dan ayah ku adalah orang yang paling hebat !! " seru Lio bersemangat .
" Sekarang tidurlah , agar kau tak terlambat besok ! " perintah Joe lembut .
" Ayyaya kapten ! " ujar Lio lalu menyandarkan kepalanya di dada Joe .
Joe mengelus punggung Lio sayang , dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh . Ia tak ingin anaknya mengetahui sisinya yang sangat rapuh seperti ini .
Joe tidak tau betapa menderitanya hidup Lio , saat ia harus menanggung segala cacian diusianya yang masih sangat kecil .
Kali ini Joe tidak akan membiarkan Lio mengalami itu lagi , ia akan menunjukkan pada Lio bahwa ia adalah ayah yang pantas untuk dibanggakan , bukan ayah yang lemah dan bodoh !
Joe mengecup puncak kepala Lio yang sudah tertidur . Dipandanginya wajah Lio yang polos .
" Maafkan Dad , Dad yang bisa menjadi Dad yang baik untuk mu ! " ujar Joe lalu pergi dan segera menuju kamar Reen yang ada dilantai satu .
Joe masuk kamarnya dan sama seperti sebelumnya , Reen masih menutup matanya . Ia membaringkan tubuhnya di samping Reen , memeluknya erat , lalu mengecup bibirnya ringan .
" Selamat malam , sayang ! " serunya pelan kemudian memejamkan matanya yang lelah akibat terlalu banyak menangis . Tanpa Joe sadari , airmata Reen mengalir dari sudut matanya . Tangannya bergerak pelan .
Joe membuka matanya saat merasakan ada tangan yang tengah memeluk pinggangnya erat .
" Reen ? " teriak Joe .