I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
18 # Equilio Aryan



Setiap detik bagaikan cambuk dalam kehidupan Joe . Hari demi hari telah Joe lewatkan dengan penyesalan . Penyesalan yang tak pernah hilang , sama seperti rasa cintanya pada sosok Reen .


Bertahun-tahun setelahnya Joe masih belum juga menemukan jejak kepergian Reen . Bahkan mimpi buruk pun seakan menjadi teman setia yang selalu menemani malamnya .


Tak banyak yang berubah dari diri Joe , selain tubuhnya yang lebih kurus dan wajahnya yang tampak lebih berantakan serta sikapnya yang menjadi makin dingin dan pemarah .


Kepergian Reen membuatnya makin gila kerja , alasan utamanya tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya , ingin melupakan kesedihannya atas Reen .


Dan itulah yang membuat Grup AR makin besar dan kuat bahkan dinobatkan menjadi perusahaan terkuat ketiga di dunia .


" Tuan , ini adalah berkas-berkas yang anda minta . Kami juga telah mencantumkan nama calon artis yang akan menjadi model untuk produk terbaru kita . Silahkan anda pilih yang menurut anda cocok untuk kemudian kami serahkan ke pihak humas " jelas Elgar pada Joe .


Joe membolak-balikan kertas , membaca setiap detail biodata- biodata di hadapannya . Hingga ia berhenti pada satu nama .


" Bagaimana jika Lio Quiqui ? Kurasa namanya cukup unik " tanya Joe tanpa menatap Elgar .


"Pilihan anda sangat tepat , tuan ! Dia adalah aktor dan model cilik berbakat yang berasal dari negara A . Kemampuan beraktingnya juga sudah tak diragukan lagi " jelas Elgar


" Baiklah , aku akan memilih Lio Quiqui sebagainya modelnya ! "


" Kalau begitu saya akan memberitahukan bagian humas untuk segera mengirimkan kontrak "


" Ya . Kau boleh pergi "


" Saya permisi dulu " ucap Elgar sambil ingin mengambil kembali berkas di meja Joe .


" Tinggalkan biodata Lio Quiqui untukku ! "


" Baik "


Setelah kepergian Elgar , Joe menatap kembali biodata tentang Lio . Entah kenapa perhatiannya langsung tercuri oleh aktor cilik itu .


Ia mengetikkan nama di komputernya . Lalu muncullah semua artikel-artikel yang membahas tentang Lio .


" Anak yang manis " ungkapnya sambil tersenyum .


***


Seminggu kemudian Lio akan datang ke perusahaan Grup AR untuk melakukan syuting iklan dan pengambilan gambar .


Joe yang penasaran dengan aktor berusia 7 tahun itu pun mendatangi lokasi syuting yang memang berada di dalam perusahaan .


Disana Joe melihat Lio yang sedang duduk menunggu syuting dimulai . Ia melirik jam tangannya .


" Elgar , cepat tanyakan mengapa syuting belum juga dimulai hingga jam sekian ! " perintah Joe pada Elgar .


Elgar menanyakan hal itu pada sutradara . Joe yang terlalu fokus menatap layar ponselnya tidak sadar bahwa saat ini Lio sudah berada di hadapannya .


" Paman ! " seru Lio sambil mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah Joe dengan jelas .


Joe yang mendengar itu langsung menunduk . Dilihatnya Lio yang sedang tersenyum sambil memamerkan lesung pipinya .


" Oh , bukankah kau Lio ? " tanya Joe antusias lalu berjongkok agar sejajar dengan Lio .


" Ya . Aku Lio ! " seru Lio riang .


" Mengapa kau belum memulai syuting nya ? "


" Entahlah , kata sutradara itu , lawan mainku tiba-tiba membatalkan kontraknya " ucap Lio sambil memanyunkan bibirnya .


" Oh , benarkah ? "


" Em ! Aku kesal , aku bahkan sudah datang jauh-jauh kesini dan aku malah di cuekin . Tapi...bagaimana jika paman mengantikan peran itu ? " tanya Lio penuh harap .


" Tidak , paman tidak pandai "


" Kalau begitu aku akan mengajari paman ! Ayo ikut aku ! "


Lio menarik tangan Joe dan membawanya ke hadapan sutradara . Joe tersenyum melihat kelakuan Lio , entah kenapa ia merasa sangat senang saat melihat Lio menarik tangannya .


" Pak sutradara , aku sudah menemukan penggantinya ! Lihat paman ini begitu tampan , kurasa dia akan cocok untuk syuting bersama ku ! " seru Lio riang .


Semua orang yang mendengar itu langsung menegang , takut Joe akan marah dan memecat mereka semua karena tak bisa menghandle situasi .Belum lagi Lio yang seenaknya menarik tangan Joe .


Si sutradara memberanikan diri untuk menatap Joe . Berusaha meminta pendapat tentang apa yang harus dilakukannya .


" Saya akan melakukannya . Elgar tolong siapkan segala kebutuhan saya untuk syuting ! " ujar Joe yang berhasil membuat orang di seluruh ruangan menganga tak percaya .


" Baik tuan " jawab Elgar mengiyakan perintah Joe walaupun ia juga merasa bingung dengan perubahan sikap Joe .


" Asyiiik..! " Seru Lio gembira .


" Kalau begitu ayo kita duduk disana dulu ! " ajak Joe menunjuk salah satu kursi yang ada disana .


Joe memangku Lio yang sekarang asyik bercerita tentang perjalanannya menuju kesini . Joe menatap Lio , memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajahnya .


" Paman , bisakah kau memelukku ? " pinta Lio .


Tanpa menjawab pertanyaan Lio , Joe langsung saja memeluknya . Ia tersenyum saat Lio membalas pelukannya hangat .


Kehangatan yang Lio berikan mengingatkan Joe pada Reen . Tak terasa air mata Joe menetes jatuh mengenai kening Lio , membuat anak itu mendongak menatap Joe .


" Paman kenapa nangis ? Apa tadi pelukan Lio menyakitkan ? " tanya Lio dengan raut wajah sedih .


" Tidak , paman hanya mengingat seseorang yang paman rindukan " bantah Joe tak ingin membuat Lio sedih .


" Apakah paman pernah melihat orang itu ? "


" Ya . Dia adalah istri paman , kami hanya pernah bersama selama kurang dari dua tahun "


" Mmm..harusnya paman bersyukur , masih sempat bersama dengan orang yang paman cintai . Tidak seperti aku , aku bahkan belum pernah menemuinya " ungkap Lio sedih .


" Memangnya siapa dia ? "


" My Dad " jawab Lio sambil menunduk .


" Mengapa ayahmu tidak menemuimu ? "


" Mom mengatakan padaku , jika aku ingin menemuinya aku harus menjadi orang yang hebat terlebih dahulu . Karena dad adalah orang yang sangat hebat ! " jelas Lio lirih .


" Tapi kenapa kau begitu sedih ? "


" Karena sekuat apapun aku mencoba menjadi hebat , dad tetap tidak menemuiku . Tapi tak apa , aku yakin suatu saat dad akan datang padaku dan memeluk seperti ini . Seperti paman yang memelukku dengan sayang " ungkap Lio sambil tersenyum .


" Kalau begitu , maukah kau menjadi anak angkat paman ? Kau bisa dengan bebas menemuiku kapanpun kau mau "


" Benarkah ? " tanya Lio dengan mata berbinar .


" Tentu saja ! "


" Apa aku bisa memanggil paman dengan sebutan ayah ? "


" Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau "


" Terima kasih , ayah ! " ungkap Lio lalu mencium pipi Joe , membuat Joe terkekeh .


" Maaf tuan , saya mengganggu . Saya hanya ingin mengatakan bahwa semua persiapan telah selesai " ujar Elgar


" Tak masalah . Ayo Lio kita kesana ! "


" Siap ayah ! " seru Lio girang .


Ergan lagi-lagi dibuat menganga oleh tingkah dua orang dihadapannya .


" Sejak kapan Tuan Aryan memiliki sisi hangat seperti itu ? " ucap Elgar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal .


Syuting pun berjalan lancar . Semua staff bertepuk tangan , memuji akting dan chemistry antara Joe dan Lio yang sangat mengagumkan .


" Ayah , besok aku harus kembali ke negara A " ujar Lio sedih .


" Benarkah ? Apa kau tidak bisa tinggal lebih lama ? "


Joe hanya mengerutkan keningnya saat melihat Lio berlari ke arah manajer nya dan tak lama kemudian ia kembali dengan wajah sumringah .


" Ayah , aku di izinkan untuk tinggal beberapa hari lagi disini ! " seru Lio dan langsung memeluk kaki Joe .


" Oh ya ? Memang apa yang kau katakan pada manajermu ? "


" Rahasia " Lio mengedipkan sebelah matanya .


Joe merasa gemas sekali melihat tingkah laku Lio . Ia menggendong Lio , lalu dibawanya menuju rumahnya .


" Baiklah anak pintar , sekarang waktunya kita untuk pulang ! "


" Ayyaya kapten ! " seru Lio sambil memberi hormat pada Joe . Dan Joe hanya kembali terkekeh .


Sepanjang perjalanan Lio terus mengoceh apa saja dan tentu saja Joe selalu menanggapi cerita Lio , itulah yang membuat Lio merasa tenang berada di dekat Joe .


" Ayah , bolehkah aku duduk dipangkuanmu ? " tanya Lio dengan mata yang mengisyaratkan kesedihan .


" Tapi ayah sedang menyetir , sayang " jawab Joe melirik sekilas ke arah Lio lalu kembali memfokuskan matanya pada jalanan .


" Sebentar saja....kumohon ! "


Joe dapat melihat kesedihan yang dalam dari nada bicara Lio . Karena tak tega , Joe akhirnya mengangguk . Tak lama kemudian bocah tujuh tahun itu pun langsung berpindah ke pangkuannya .


Lio memeluk Joe erat . Joe merasakan sesuatu membasahi bajunya , ia menundukkan kepalanya menatap wajah Lio yang sedang menunduk .


" Menangislah Lio ! " ucap Joe sambil mengelus puncak rambut Lio .


Setelah mendengar perintah dari Joe , Lio tak ragu lagi untuk menangis . Ia menangis sekencang-kencangnya , seakan ingin menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan selama ini .


Disela-sela tangisnya Lio selalu menyebutkan kata " dad " yang entah kenapa setiap kali Lio mengucapkannya Joe selalu merasa hatinya seperti tersayat .


Lio sudah tertidur saat mereka telah sampai di rumah Joe . Joe menggendong hati-hati Lio agar tidak menganggu tidurnya .


Ia merebahkan tubuh Lio diatas kasur , lalu memandangi wajah anak kecil itu lama . Tanpa Joe sadari airmatanya menetes .


Ia teringat pada Reethan dan bayi yang ada dikandungan Reen .


" Reethan , andai kau ada disini kau pasti akan sangat senang dengan kehadiran Lio . Mengatakan bahwa kau ingin memiliki adik seperti Lio . Bukankah begitu , than ? " tanya Joe pada keheningan .


Joe mengecup ringan kening Lio lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi .


***


Lio terbangun saat matahari sudah digantikan posisinya oleh bulan . Ia memandang bingung tempat yang sangat terasa asing bagi dirinya .


" Apa ini rumah ayah ? " tanyanya dalam hati .


Ia turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu lalu membukanya . Lio bisa melihat Joe yang sedang duduk dengan laptop di pangkuannya .


" Ayah...!! " seru Lio sambil berlari ke arah Joe .


Joe tersenyum saat Lio menghampirinya , memeluknya , lalu mencium pipinya hangat .


" Ayah , kenapa kau tidak membangunkanku ? "


" Kata siapa ? Ayah sudah membangunkanku berulang kali , tapi kau tetap saja tidak mau bangun " jawab Joe bohong .


" Benarkah ? " tanya Lio menyelidik .


" Iya , memangnya kapan ayah akan berbohong ? " ucap Joe bangga .


" Saat ini , kau sudah berbohong ayah ! Kau tidak dapat membodohi ku " ujar Lio merengut sambil berdecak pinggang .


Joe tertawa melihat tanggapan Lio , ia segera meletakkan laptop nya dimeja lalu menarik Lio ke atas pangkuannya .


" Kalau begitu maafkan ayah , ayah akan menuruti satu permintaan mu sebagai tanda permintaan maaf . Bagaimana ? " tawar Joe sambil memeluk tubuh Lio .


" Apapun ? "


" Ya . Apapun "


" Kalau begitu aku ingin ayah mendongengkan sebuah cerita sampai aku tertidur dan memelukku sepanjang malam ! " pinta Lio riang .


" Permintaan diterima ! Ayo kita laksanakan.....! " seru Joe tak kalah riangnya dengan Lio .


Mereka tak henti-hentinya bercanda hingga rasa kantuk datang menghampiri Lio .


" Aku mengantuk , ayah kau sudah bisa mulai untuk membacakan dongeng untukku ! " ucap Lio sambil menguap .


Joe pun mulai bercerita dan memeluk tubuh Lio sesuai janjinya . Ia mengecup kening Lio lembut saat Lio sudah tertidur .


" Mimpi indah , anakku " ujar Joe lalu ikut memejamkan matanya .


***


Lio terbangun saat mencium wangi masakan yang menggoda hidungnya . Ia segera turun dan berlari keluar . Sepertinya berlari adalah hobinya .


Lio mendapati Joe sedang menyiapkan makanan dimeja .


" Wanginya....apa semua itu ayah yang memasaknya ? "


" Ya . Ini adalah masakan yang ayah buat khusus untukmu ! Kemarilah , cepat makan agar kita tidak kesiangan untuk jalan-jalan "


" Benarkah , kita akan jalan-jalan ? " tanya Lio antusias .


" Tentu saja ! Maka dari itu cepat habiskan sarapanmu dan bersiap ! "


" Ayyaya kapten ! "


Lio memakan masakan Joe dengan lahap . Ia sudah tak sabar dengan jalan-jalan yang Joe janjikan .


" Apa kau ingin mandi bersama ? " tanya Joe pada Lio setelah makan .


" Ya ! " seru Lio riang .


Joe mendikan Lio dengan senang hati . Ia mengambil sampo yang biasa Reen pakai . Joe memang sengaja tidak membuangnya , bahkan selalu menggantinya dengan yang baru agar ia dapat merasakan kehadiran Reen di setiap inci rumahnya .


" Hmmm...wangi sampo ini sama seperti milik mom ! " ujar Lio


" Oh ya ? Apa mom juga selalu memakai sampo seperti ini ? " tanya Joe penasaran .


" Ya , tapi hanya saat ia terbangun " raut wajah Lio tiba-tiba berubah .


" Apa maksudmu ? "


" Saat ini Mom hidup secara vegetatif karena penyakit yang di deritanya sangat sulit untuk disembuhkan , ia hanya akan bangun sesekali dalam setahun . Atau bahkan tidak bangun sama sekali .


Seperti tahun ini , mom belum juga sadar dari komanya . Biasanya jika ia terbangun , aku adalah orang yang pertama ia cari . Ia akan memberiku banyak nasehat hingga dengan tiba-tiba ia tak sadarkan diri lagi " air mata Lio sudah hampir menetes , namun Joe dengan sigap memeluk anak itu dan kembali mendengarkan cerita nya tanpa ingin memotongnya .


" Atau terkadang ia akan menceritakan tentang dad , mom menyuruh ku untuk tidak membenci dad walaupun dad tak pernah menemuiku .


Kata mom dad sebenarnya sayang padaku , hanya saja dia belum mempunyai waktu yang tepat untuk menemuiku .Jadi , aku lah yang harus menemukannya ! "


" Apakah menyayangi nya , Lio ? " tanya Joe sedih , entah karena apa ia merasa sangat sedih mendengar cerita Lio .


" Tentu saja ! Dia adalah ayahku ! Tanpanya , aku tak mungkin ada di dunia ini " ujar Lio sambil tersenyum walaupun airmatanya mengalir .


" Seperti apa sosok ayahmu ? Apa mom pernah menceritakannya pada mu ? " tanya Joe makin penasaran , siapa sosok ayah yang begitu beruntung yang dapat memiliki anak hebat seperti Lio .


" Entahlah , aku pun tak tau . Yang aku tau , jika aku menjadi hebat dan terkenal ia akan segera datang padaku dan memelukku , itulah yang dikatakan mom "


" Apa dia akan mengenalimu ? "


" Tentu saja dia akan mengenaliku , karena mom sengaja memberikan marga yang sama pada namaku . Dan aku yakin dad akan mengenaliku saat aku menyebutkan namaku "


" Kau begitu , bolehkah aku mengetahui siapa nama asli mu ? " tanya Joe makin penasaran .


" Namaku adalah Equilio , Equilio Aryan . Nama yang indah bukan ? " tanya Lio sambil menatap wajah Joe .