
Joe membolak-balikan badannya gelisah , ini sudah malam ke-3 sejak kejadian itu . Ia tak menyangka bahwa Reen benar-benar tidak akan kembali .
" Bagaimana keadaanmu sekarang ? "
Pikiran Joe kembali ke malam itu . Dia memukul Reen terlalu keras . Ia bahkan bisa melihat darah keluar dari kepala Reen , namun ia juga tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak menyiksa Reen .
" Apakah kau sudah membenciku Reen ? " tanyanya pada bayangan Reen .
___
_____
" Joeee..."
" Joeee...tolong aku "
Joe melihat tubuh Reen bersimbah darah , tangan Reen terangkat seolah ingin meraih tangannya . Joe juga ingin meraih tangan Reen , namun ia tak bisa , seakan ada sesuatu yang menahannya .
" Reen kau kenapa ??? " tanya Joe mulai panik
" Joe , aku telah kehilangannya...."
" Apa maksudmu Reen ? Reen....!! Reen...!! "
Bayangan Reen mulai menghilang
_______________________________________________________
" Reen....!!! "
Joe terbangun dari tidurnya , nafasnya terengah-engah , bajunya basah oleh keringat .
" Ini hanya mimpi , namun terasa begitu nyata . Apa yang terjadi pada mu Reen ?? "
Joe mengambil ponsel Reen yang berada dia atas nakas . Reen memang tidak membawanya saat itu . Ia terpaksa menelpon Arfan , karena Joe yakin hanya Arfan yang mengetahui keberadaan Reen .
" Hallo ? "
" Dimana istriku ? "
" Istrimu ? Apakah kau baru mengingat bahwa orang yang pukuli dengan kejam itu adalah istrimu . Kau bahkan baru mencari istrimu setelah tiga hari ! "
" Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu ! Cepat katakan dimana dia ??!! "
" Apakah kau mengkhawatirkan nya setelah membuat dia belum sadar sampai sekarang !! "
" Apa maksudmu ??!! " Joe membelalakkan matanya , Reen belum sadar ? Apakah separah itu ?
" Sampai saat ini dia belum juga sadar dari komanya !!! Dan apakah kau tau , dia bahkan selalu menyebutkan namamu sambil menangis , kemudian kembali tak sadarkan diri !! Apakah kau tau betapa tersiksanya Maureen !!! "
" Cepat katakan dimana dia ??!! "
"Jika bukan karena Reen aku tak akan mau mengatakannya "
" Dimana BRENGSEK ??!!! "
" Rumah sakit Grup Ashlynn "
Joe memutuskan saluran telpon dan segera menuju Rumah Sakit yang ia ketahui adalah milik keluar Arfan .
Ia berjalan cepat di koridor rumah sakit menuju bagian resepsionis .
" Maureen Aquila " ucapnya terengah-engah .
" Maureen Aqulia , bangsal VIP nomor 21 "
Setelah mendapat jawaban dari resepsionis tersebut , Joe kembali berlari . Dada nya makin bergemuruh saat berada di depan ruangan Reen .
Dia membuka pintu perlahan . Matanya menatap tubuh Reen yang terbaring di ranjang . Terlihat jelas luka-luka lebam di wajah dan tangannya .
Joe mendekat kearah Reen , dibelainya wajah Reen yang pucat .
" Reen..." ucapnya lirih dengan suara tercekat .
" Reen....bisa kah kau bangun ? "
" ... "
" Reen...maafkan aku... Tidak , jangan ! Jangan pernah kau memaafkan ku "
" ... "
" Aku memang kejam Reen !! Tapi kumohon bangunlah , agar kau bisa membalas dendam padaku ...." air mata Joe mengalir .
" ... "
" Reen..."
Tut...Tut..Tut..
Joe menggenggam tangan Reen , ia tak ingin melepasnya lagi hingga Joe tertidur karena kelelahan menangis .
" Joeee...Joeee...
Seketika Joe terbangun dari tidurnya , ia memandang sedih Reen yang sedang memanggil namanya dengan mata terpejam .
" Reen..kumohon jangan seperti ini , bangunlah " Joe kembali menangis .
" Joeee....Joeee..." panggil Reen makin keras sambil menggelengkan kepalanya .
" Reen..." Hati Joe makin teriris melihat kondisi Reen yang seperti ini . Ia memeluk tubuh Reen yang masih terbaring .
" Joe..." kini Reen memanggil namanya disertai tangis .
Joe langsung mendongak kan kepalanya , dan benar Reen sedang menangis sambil mengelus punggungnya .
" Reen !! " Joe langsung memeluk Reen kembali
" Reen maafkan aku ... , aku janji aku tidak akan menyakitimu lagi ..."
" Joeee...kau tak pernah salah dimataku , aku lah yang salah karena telah memaksakan diri untuk masuk ke kehidupan mu "
Hati Joe semakin terenyuh . Reen begitu mencintainya , tapi mengapa ia tetap tak bisa mencintai Reen ?
" Reen aku akan selalu menjagamu "
" Terima kasih . Aku mencintaimu Joe "
Joe hanya mengangguk , ia tak berani menjawab apapun , takut membuat Reen semakin terluka .
Awalnya Joe ingin memindahkan Reen ke Rumah Sakit milik mereka , namun Reen menolak . Ia beralasan bahwa takut membuat Mr.Berdley khawatir , Joe akhirnya menerima alasan itu .
Dan alasan sebenarnya adalah Reen tak ingin Joe mengetahui bahwa dia keguguran , ia ingin tetap menjaga rahasia itu karena takut Joe makin terpukul .
Untung saja Arfan tetap mau membantunya . Arfan menyuruh dokter yang merawat Reen memanipulasi penyakit Reen .
Joe merawat Reen dengan baik hingga Reen benar-benar pulih . Reen juga merasakan banyak perubahan dari diri Joe , membuat harapan Reen untuk dicintai Joe kembali muncul .
" Reen , tadi dokter berkata hari ini kau sudah boleh kembali "
" Benarkah ? " seru Reen senang .
" Tentu , aku akan mengemasi barang-barang mu dan segera pulang "
" Baiklah "
Reen tersenyum melihat Joe yang cekatan mengemasi barang-barangnya . Sesekali Joe tersenyum melihat ke arahnya .
" Selesai , ayo kubantu kau berdiri "
Joe menahan tubuh Reen , membantunya turun dari ranjang .
" Joe , aku bisa melakukan nya sendiri "
" Tidak Reen , aku harus membantumu " Joe tetap memaksa , membuat Reen tak punya pilihan selain menerima perlakuan Joe .
Rumah Joe
" Selamat datang di rumah ! " seru Joe sambil tersenyum menatap Reen .
" Terima kasih , Joe " Reen juga tersenyum .
" Oh ya Reen , apakah kau ingin kubuatkan susu khusus wanita itu ? " tanya Joe sambil menahan tawa , teringat kembali kejadian saat ia meminum susu itu tanpa bertanya .
Berbeda dengan Joe , mendengar pertanyaan itu membuat senyum Reen memudar terganti dengan raut wajah sedih .
Joe bingung melihat perubahan raut wajah Reeen . Joe menghampirinya , menarik dagu Reen agar menatap wajahnya .
" Joeee...." Air mata Reen menetes saat Joe menatapnya .
Kebingungan nya makin bertambah saat melihat Reen menangis , ia langsung memeluk Reen erat .
" Reen ada apa ? Mengapa kau menangis ? "
" Joeee...aku...aku..." suara Reen tercekat , dadanya berguncang dan badannya mulai gemetar .
" Joeee...."
" Sudah , tak apa..." Joe mencoba menenangkan Reen yang makin terisak , ia mengelus punggungnya sayang .
" Joeee...." suara Reen menelan bersamaan dengan tangannya yang jatuh terkulai .
Joe yang mulai panik melonggarkan pelukannya . Ia mengguncang\-guncang Reen yang terpejam .
" Reen...reen...." panggil Joe , ia mulai khawatir .
Takut terjadi apa-apa dengan Reen .
Joe menggendong Reen , merebahkan tubuhnya di atas kasur . Bulir\-bulir keringat keluar dari kening Reen .
" Tidak...! Tidak...! " teriak Reen kembali mengigau .
" Reen...." Joe mengelus kening Reen lembut , berharap agar istrinya itu cepat sadar .
" Tidak....dia tidak boleh pergi ! Aku tak ingin kehilangannya .....!!! Tidakkk !!! "
Joe langsung memeluk Reen kembali .
" Joe aku takuut...."
" Aku disini , tak ada yang perlu kau takutkan "
" Tidak Joeee..."
" Reen percayalah padaku..."
" Joeee...jangan pernah tinggalkan aku "
" Itu tidak akan pernah terjadi " ucap Joe lalu menautkan bibirnya pada bibir Reen , membuat wanita itu kembali tenang .
Setelah merasa Reen lebih tenang , Joe melepaskan ciumannya lalu kembali merebahkan tubuh Reen dan berbaring di sampingnya .
" Aku tak akan meninggalkanmu lagi Reen " janji Joe kemudian memeluk tubuh Reen , hingga keduanya tertidur karena kelelahan .
____
______
" Joe...Joe...bangun ! " Reen menepuk\-nepuk pelan pipi Joe .
Joe tau Reen sedang membangunkannya , tapi ia begitu malas untuk bangun . Ia hanya menggeliat sejenak , membuka mata lalu menutupnya kembali .
Reen kesal melihat Joe yang sengaja mengabaikannya . Jiwa jail nya pun muncul , ia mencium bibir Joe kasar , tangannya meraba\-raba pinggang Joe .
Hilang sudah rasa kantuk Joe , ia membalas ciuman Reen . Sentuhan Reen membuatnya menginginkan lebih .
Reen melepaskan ciumannya saat Joe sudah benar\-benar bergairah . Ia segera berlari ke arah pintu kamar
" Sudah waktunya bangun Joe , dan kau malah mau bermalas\-malasan . Itu hukuman untuk mu " ujar Reen sambil menjulurkan lidah sebelum benar\-benar menghilang dari balik pintu .
" Sial ! Aku jatuh dalam perangkapnya " Joe menertawai dirinya sendiri yang begitu bodoh dan mudah terjebak oleh setan kecil itu .
Alhasil ia harus mandi air dingin untuk menenangkan dirinya . Karena ia tak ingin melakukannya sekarang dengan kondisi Reen yang masih belum stabil .
" Joeee...ini sudah satu jam kau berada di dalam kamar mandi ! Apa kau baik\-baik saja ? "
Reen benar\-benar khawatir sekarang , ia sudah menunggu Joe keluar dari kamar mandi . Tapi , yang ditunggu malah belum menunjukkan tanda\-tanda akan keluar .
Sebenarnya Joe sudah hendak keluar dari kamar mandi , tapi saat ia mau membuka pintu , Reen malah menggedor\-gedor pintu itu .
" Ini waktu yang telat untuk membalasnya " seru Joe dalam hati .
" Arrggh " teriak Joe seolah benar\-benar kesakitan .
" Joeee...??!! Kau kenapa ? " Reen panik , ia segera mengambil kunci cadangan di dalam laci , lalu membuka pintu kamar mandi .
Reen melihat Joe terlentang di lantai kamar mandi dengan pisau cukur yang tergeletak disamping tubuhnya , dan darah mengalir dari pergelangan tangannya . Reen mematung , badannya gemetar ketakutan .
" Astaga Joe !! " pekik Reen sambil membungkam mulutnya dengan tangan . Ia menghampiri Joe sambil menangis . Tangannya terulur menyentuh tangan Joe yang terluka .
" tunggu...bukankah ini cairan serum ku ? " gumam Reen dalam hati .
Reen kini paham , saat ini Joe sedang mengerjainya . Reen mempertahankan tangisnya agar Joe tetap mengira ia masih tertipu .
Lalu salah satu tangan Reen meraih selang Shower dan langsung menyemprotkan air ke arah tubuh Joe .
Joe yang terkejut langsung berdiri . Ia melihat Reen sedang menertawainya puas . Joe mengutuk dirinya dalam hati , mengapa ia selalu kalah dalam hal bodoh seperti ini ?
" Hahaha...Joe kau tak bisa menipuku ! " tawa menggema di seluruh kamar mandi .
Joe yang tak mau kalah merebut selang itu lalu menyemprotkan air ke arah Reen .
" Hahaha....kau kenapa ! " seru Joe gembira .
Reen terdiam sejenak , mengusap wajahnya yang basah lalu menghampiri Joe cepat . Ia berusaha merebut selang itu kembali , tapi Joe tak mau melepasnya .
Akhirnya aksi rebut\-rebutan pun tak bisa di hindari . Selang itu menari kesana kesini sambil menyemprotkan airnya , membuat semua alat\-alat mandi berhamburan .
Tawa mereka pecah saat menyadari kamar mandi yang sudah berantakan karena ulah mereka yang seperti anak kecil .
Reen berharap ia akan bisa seperti ini selamanya , tertawa bersama orang yang ia cintai .