
Ia berjalan terburu-buru menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya . Joe yang mendengar itu langsung terbangun dan menyusul Reen ke dalam kamar mandi .
" Joe..."
" Reen kau kenapa ? Apakah kau baik\-baik saja ? "
" Aku baik\-baik saja , mungkin hanya kelelahan mengurus cafe "
" Apa perlu ke dokter ? "
" Tidak , istirahat sebentar juga nanti akan sembuh "
" Apa kau yakin ? " Joe menatap Reen khawatir , takut terjadi apa\-apa padanya .
Joe menyesali dirinya yang terlalu tidak memperhatikan Reen akhir\-akhir ini .
" Aku yakin , kau tak perlu khawatir . Kau bisa bersiap\-siap untuk berkerja sekarang "
" Tidak ! Aku akan menemanimu hari ini ! " bantah Joe . Ia benar\-benar tidak ingin Reen kenapa\-napa .
" Ayolah Joe , aku bukan anak kecil . Bukan kah kau masih ada urusan untuk mencari gadis itu ? "
" Aku ... "
" Aku juga akan ke kampus hari ini , sidang skripsi sudah dekat aku tak ingin meninggalkan pelajaran lagi " ujar Reen sambil mencoba berdiri , dia tersenyum pada Joe .
" Terserah kau saja ! Kau benar , kenapa aku harus mengesampingkan orang lebih penting demi wanita seperti mu ?! "
"..."
" Dan kau harus tau , aku mau melakukan itu hanya takut jika kau kenapa\-napa aku akan disalahkan ayah . Semua ini hanya karena ayah ! "
" Aku tau . Aku minta maaf , setidaknya beri aku waktu agar bisa bersama mu sampai gadis itu datang "
Joe pergi meninggalkan Reen . Ia hanya tak mau mendengarkan kata\-kata Reen yang seakan\-akan ia adalah tokoh antagonis disini .
Padahal sudah jelas yang merusak semua nya adalah Reen ! Bukan Dia .
___
_____
" Violet..." Reen memanggil Vio lirih , saat ini mereka sedang berada di dalam kelas menunggu dosen datang . Reen merasa kepalanya sudah sangat pening .
" Astaga Leen , wajah mu pucat sekali ? Apa kau sakit ? "
" Vio , aku..."
" Leen...! Leen...! Sadarlah lah ! " Vio mengguncang tubuh Reen yang mulai hilang kesadaran .
Vio yang kebingungan akhirnya menghubungi seseorang .
" Hallo "
" *Ada apa* ? "
" Leen dia ... dia tiba\-tiba pingsan " ucap Vio gugup .
" *Baik aku akan segera kesana* ! "
____
______
" Selamat bapak , istri anda hamil "
" Hamil ? " Arfan terkejut .
" Hamil dok ?! " Reen yang baru sadar juga tak kalah terkejut .
" Iya , anda hamil "
" Tidak , itu tidak mungkin ! "
" Nyonya , apa anda ingat kapan terakhir kali Anda menstruasi ? "
" Itu sekitar dua bulan yang lalu "
" Tepat sekali . Menurut prediksi saya , usia kandungan anda sudah menginjak Minggu ke\-6"
Reen sangat terkejut mendengar berita ini . Ia takut Joe tidak akan mau menerima anak ini dan menyuruh untuk menggugurkan nya .
Dia tak mau anak ini jadi seperti dirinya yang kehadirannya tidak di inginkan . Reen akan tetap mempertahankan kandungannya , apapun yang terjadi .
" Dokter , apakah kandungan saya sehat ? " tanya Reen sambil memandang perutnya
" Kandungan anda baik\-baik saja . Untuk mencegah hal\-hal yang tidak diinginkan , anda di anjurkan untuk sering berkonsultasi dan meminum vitamin "
" Saya mengerti "
" Baiklah , ini resep vitamin yang istri anda butuhkan " dokter itu memberi jamnya pada Arfan
" Terima kasih dokter , kalau begitu kami permisi dulu "
" Ya , silahkan "
Arfan menuntun Reen keluar ruangan , disana Vio sudah menunggu nya dengan cemas .
" Arfan bagaimana keadaan Leen ? "
" Dia..."
" Arfan biar aku saja yang menjelaskan pada Vio "
" Baiklah , aku akan menebus obat terlebih dahulu "
Setelah kepergian Arfan , Reen menjelaskan pada Vio bahwa saat ini ia sedang hamil dan meminta Vio merahasiakan ini dari semua orang termasuk Joenathan .
Vio yang kebingungan mulai curiga terhadap hubungan Reen dan Joe .
" Sebenarnya , apa yang terjadi antara dirimu dan Joenathan Leen ? "
" Untuk saat ini , aku belum bisa menjelaskan semuanya padamu . Yang pasti , kau harus tau bahwa Joenathan adalah orang yang pernah aku ceritakan padamu ? "
" Maksudmu , Joenathan adalah orang yang kau cintai selama sepuluh tahun terakhir ? " tanya Vio tak percaya dengan apa yang di katakan sahabatnya .
" Ya . Dia adalah orangnya . Dan apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkannya . Jadi kumohon Vio , tolong jaga rahasia ini sampai aku sanggup untuk menceritakan semuanya padamu " minta pada Vio .
" Aku hanya bisa mendukung keputusanmu , Leen . Dan kuharap kau tidak akan melakukan hal yang menyakitimu "
" Kau selalu bisa diandalkan , aku sayang pada mu Vio "
" Aku juga sangat menyayangi mu Leen "
Mereka berpelukan sesaat lalu melepaskannya saat melihat Arfan datang .
" Kalian sudah selesai ? "
" Ya " jawab mereka berbarengan . Arfan hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua sahabat ini .
" Ayo , kuantar kalian pulang "
" Baiklah , come on Vio ! "
" Aku minta maaf Arfan , Leen . Aku tidak bisa ikut bersama kalian , John sudah menungguku " jelas Vio sambil mengedipkan sebelah matanya.
Reen dan Arfan terkekeh geli melihat tingkah Vio .
" Pergilah Vio , selamat bersenang\-senang ! " seru Reen melambaikan tangannya .
" Ayo Reen ! "
" Yuk "
Selama perjalanan , Reen hanya memilih untuk mendengarkan cerita Arfan . Dari dulu Arfan memang sering menceritakan apa saja yang ia alami pada Reen .
Biasanya Reen juga suka bercerita , namun hal\-hal yang terjadi belakangan ini membuat nya lebih ingin menyimpan semua nya rapat\-rapat .
Dan itulah yang membuat mereka sangat nyaman saat saling berdekatan , mereka selalu terbuka .
Sesekali gelak tawa terdengar , membuat Reen melupakan sejenak kesedihannya .
" Reen kita sudah sampai "
" Terima kasih , Arfan "
" Bukan masalah "
" Kalau begitu aku pamit "
" Tidak mau mampir dulu ? "
" Tidak , aku masih ada sedikit urusan "
" Oh maaf telah banyak merepotkan mu "
" Tak apa , kau cepatlah masuk "
" Baik , sampai jumpa Arfan " ucap Reen melambaikan tangan saat Arfan melajukan mobilnya .
Reen berjalan menuju rumah , tadi dia memang sengaja menyuruh Arfan untuk menurunkannya di depan gerbang . Ia takut jika Joe pulang pasti akan membuat masalah .
" Aku pulang..."
" Nyonya kau sudah kembali ? "
" Ya . Dimana Joe ? "
" Tuan belum kembali . Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan Nyonya ? "
" Tidak ada , kau bisa kembali sekarang . Aku akan mengurus sisanya "
" Baik , kalau begitu saya pamit "
" Terima kasih July "
" Sudah menjadi tugas saya "
" Oh ya July , bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu ? "
" Apa itu Nyonya ? "
Reen membuka kantung plastiknya , mengeluarkan sesuatu . July jadi makin penasaran .
" Tolong buangkan ini , saat diperjalanan pulang nanti " Reen menyodorkan sebuah kotak susu kosong .
" Ini...Nyonya apakah anda hamil ? " July senang mendengar Nyonya hamil , tapi yang membuat nya bingung adalah mengapa Reen menyuruh membuang kotak susu di luar rumah .
" Ya begitulah , tapi July aku mohon padamu untuk tetap merahasiakan ini dari Joe " Reen mengucapkan itu sambil menunduk .
" ... " Reen terdiam , berita baik ? Andai jika Joe mencintainya , ini mungkin bisa jadi beruta yang sangat dinantikan . Tapi melihat keadaanya yang seperti ini...
" Maaf Nyonya saya lancang , saya akan menuruti setiap perintah anda " July merasa bersalah telah mengatakan hal tadi pada Reen .
" Tak apa July , terimakasih kau telah perhatian terhadapku " air mata Reen sudah memenuhi pelupuk matanya .
" Nyonya anda..."
" Sudahlah July , kau boleh pergi sekarang "
" Baik Nyonya " July dapat merasakan kesedihan Reen . Ia tahu bahwa Nyonya nya itu sedang tidak baik\-baik dengan Tuannya .
___
____
" Sepertinya Joe akan pulang telat lagi malam ini " gumam Reen saat keluar kamar mandi , dan tidak melihat tanda-tanda keberadaan Joe disana .
Ia segera mengganti pakaian dan menuju dapur hendak membuat susu . Reen menuangkan dua sendok makan bubuk susu , lalu menuangkan air hangat dalam gelas nya .
Tangannya mengaduk\-aduk susu dalam gelas , namun pikirannya melayang entah kemana .
Reen membayangkan bagaimana jika nanti Joe menyadari perutnya yang mulai membesar ? Bagaimana jika Joe mengetahui kehamilannya ? Bagaimana jika Joe benar\-benar tidak menginginkan bayi mereka , dan membunuhnya ? Ia menggeleng keras .
" Tidak ! Itu tidak akan terjadi ! " ujar Reen berteriak sambil menutup kedua telinganya hingga tidak menyadari bahwa Joe sudah ada di hadapannya .
" Apa yang tidak akan terjadi ? " tanya Joe yang bingung karena tingkat laku Reen yang aneh .
Reen kaget mendengar suara Joe . Ia tak menyangka bahwa saat ini Joe akan ada di hadapannya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya .
" Jjjooee ?! Mengapa kau ada disini ? Ehh..maksudku kapan kau datang ? "
" Kau belum menjawab pertanyaan ku , Reen ! Apa yang tidak akan terjadi ? "
" Itu..itu.."
" Jangan pernah mencoba untuk merahasiakan sesuatu dari ku ! "
" Tidak , itu ...aku tadi hanya membayangkan bagaimana jika aku tidak lulus sidang skripsi . Aku begitu gugup , karena waktu nya hanya tinggal beberapa Minggu lagi dan skripsi ku yang sebelumnya sudah ditolak " jelas Reen berbohong .
" Hahaha...kau melamun dan berteriak sangat keras hanya karena itu ?! Kau lucu sekali Reen ! " Joe tertawa terbahak\-bahak mendengar penjelasan Reen , memang bagi sebagian besar mahasiswa sidang skripsi adalah hal yang maling menakutkan .
Tapi Joe tak pernah melihat ada orang yang ketakutan sampai berkeringat dan menutup kedua telinganya sambil berteriak sangat kencang .
Reen ikut tersenyum saat melihat Joe tertawa , ini pertama kalinya Reen melihat sisi Joe yang seperti ini .
" Joe , harusnya kau membantuku ! Bukannya malah menertawakan ku seakan aku orang yang sangat konyol " Reen mengatakan nya sambil cemberut membuat Joe makin gemas .
" Kau memang sangat konyol Reen ! Pfft...." Joe menahan tawanya .
" Hentikan itu Joe ! " Reen menunduk menahan malu .
" Baiklah , baiklah , aku akan membantumu untuk membuat bahan skripsi yang baru "
" Terima kasih "
" Ya bukan masalah , tapi ngomong\-ngomong mengapa kau tau saat ini aku ingin meminum susu ? " tanya Joe sambil menyambar gelas susu lalu langsung meminumnya .
Saat ini Reen benar\-benar terkejut , susu yang belum ia minum sudah raib dan hanya meninggal kan gelas kosong . Reen melakukan hal yang sama saat Joe mengerutkan keningnya .
" Susu ini rasa nya sedikit aneh " ucap Joe sambil mengecap\-ngecap bibirnya mencoba meredakan kembali rasa dari susu itu .
" Joe , itu susu khusus wanita "
" Apa ?! mengapa kau tidak mengatakan nya dari tadi ? " Kini giliran Joe yang terkejut , dan Reen yang tertawa .
" Kau langsung menyambar dan meminumnya bahkan sebelum aku membuka mulut untuk menjelaskannya "
" Pantas saja rasanya agar seperti..mmm..apa ya ? "
" Pfft..." Reen membungkam mulutnya agar tidak tertawa .
" Apa yang kau tertawakan hah ? "
Joe menggelitik pinggang Reen , membuat nya makin tertawa .
" Haha..Joe hentikan ! hentikan ! " ucap Reen memohon sambil tertawa .
" Kau hendak membalas dendam padaku hah ?! bisa\-bisanya kau menertawakan ku ! "
" Ampun...ampun Joe , aku tidak akan melakukannya lagi.."
Reen menatap mata Joe , saat dia menghentikan gelitikannya . Mereka berpandangan sesaat . Reen memeluk pinggang Joe tiba\-tiba dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Joe .
" Aku mencintai mu Joe ... bisakah kau mencintai ku ? " tanya Reen dengan suara tertahan .
Joe terkejut sekaligus terpaku mendengar pernyataan dan pertanyaan Reen padanya . Seketika itu ia melepaskan pelukannya , dan menghindar dari Reen .
" Aku lelah , aku akan mandi dulu " Joe meninggalkan Reen yang masih terdiam .
Joe terdiam menatap diri di dalam cermin . Mengapa Reen menanyakan hal itu kepadanya ? Ia bahkan tak tahu bagaimana perasaanya saat ini .
Jika ia mencintai Reen , bagaimana dengan gadis itu ? Gadis yang ia cari lebih dari sepuluh tahun .
" Tidak ! Aku tidak mungkin mencintainya ! " Joe mencoba meyakinkan dirinya .
Setelah selesai membersihkan tubuhnya , Joe melangkah keluar kamar mandi . Ia melihat sekitar kamar , Reen tidak ada .
Segera ia menuju dapur , mungkin Reen masih disana pikirnya . Namun ternyata Reen juga tidak ada .
" Reen...!! "
Tidak ada jawaban .
Joe berjalan menuju ruang tamu , Reen juga tidak ada disana . Ia mengacak rambutnya frustasi .
" Reen ... kau dimana ? " Joe berteriak .
Ah dia ingat , taman . Bisa jadi Reen ada disana . Joe langsung berlari ke sana , nafasnya terengah\-engah .
" Reen...! "
" Reen...! "
Tidak ada . Dia langsung kembali ke rumah , menyambar kontak mobil dan segera melajukannya ke luar pekarangan rumah .
Joe sudah menghubungi Reen berkali\-kali , tetap belum ada jawaban . Dia juga sudah menyuruh orang\-orang nya untuk mencari keberadaan Reen . Ia mulai khawatir .
" Dimana kamu Reen...? "
Tiba\-tiba ponsel nya berdering , ia segera mengangkatnya .
" Reen..?? "
" Tuan ini saya "
" Bagaimana ? " tanya Joe penasaran .
" Tuan kami sudah menemukan Nyonya . Dia sedang duduk bersama seseorang di taman kota "
" Apa ?! Awasi terus , aku akan segera kesana ! "
Joe mengepalkan tangannya , lalu membanting setir menuju taman kota .
Taman Kota
Arfan melihat gadis yang ia sayangi sedang menangis di salah satu kursi taman .
" Reen.."
" Arfan ! " Reen terkejut melihat Arfan ada di depannya .
Arfan langsung meembawa gadis itu ke dalam pelukannya . Ia mengusap punggung Reen lembut .
" Apa yang terjadi ? "
" Arfan ...aku..apakah aku memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan ? " Reen menangis dalam dekapan Arfan .
" Kau pantas Reen , bahkan harus bahagia "
" Tapi mengaoa ? Mengapa orang yang ku cintai selalu tidak mmengingingkan kehadiranku d? Kenapa aku selalu menderita ? "
" Aku mencintaimu Reen...aku menginginkan mu dan aku akan menjagamu....
" Bajingan !!! Apa yang kau lakukan pada istriku ??!!! " Joe langsung menarik Arfan menjauh dari Reen .
" Kalian pegangi bajingan itu !! " perintah Joe pada anak buahnya .
Joe langsung memukuli Arfan tanpa ampun . Darah mengalir dari sudut bibir dan kening nya . Reen yang melihat itu tak tega . Ia menarik tangan Joe
" Joe , kumohon hentikan ! Dia tidak bersalah ! " ucap Reen memohon sambil menangis .
Joe menatap Reen tajam , lalu menjambak rambutnya .
" Kau !! Dasar kau jalang ! Apakah kau pikir jika aku tidak menginginkan mu maka kau boleh berdekatan dengan laki\-laki lain hah ??!! "
" Joe.. aku tidak.."
" Berhenti mengelak !! Kau memang jalang !! "
Joe menghempaskan kepala Reen hingga membentur bangku taman . Lalu ia menendang perut Reen sangat kencang . Ia menarik Reen bangun , lalu kembali melemparkannya ke tanah .
Reen jatuh tersungkur , ia mencoba bangkit namun Joe dengan cepat sudah menginjak punggung nya dengan satu hentakan yang keras .
" Arrggh...sakiiitt..." Reen merasakan perutnya sangat sakit , bahkan jauh lebih menyakitkan dari lukanya dulu .
Joe kembali menarik rambut Reen hingga kepala terangkat ke belakang .
" Lepaskan ! Lepaskan dia ! " Arfan berteriak , ia tak tega melihat Reen disiksa dengan begitu kejam oleh Joe .
" Kau ingin aku melepaskannya ? Baik akan aku lepaskan " ujar Joe menyeringai lalu membanting kepala Reen ke tanah .
" Kau bajingan ! Kau brengsek ! Apakah kau tau dia sedang ..." belum sempat Arfan melanjutkan kata-katanya , Joe sudah kembali meninju wajahnya .
" Kau berani mengajarkan itu padaku ? Tidak kah kau pikir bahwa kau yang bajingan ! Kau berani mendekati wanita yang sudah bersuami !! "
" Suami ? Mana ada suami yang tega menyiksa istrinya yang sedang ...
" Berhenti menasehati ku !! " Joe lagi\-lagi meninju wajah Arfan hingga terhuyung ke belakang .
Joe kembali menatap Reen , berjongkok di depannya lalu berkata
" Jangan pernah harap kau bisa kembali ke rumah ku !! " ucap Joe kemudian berdiri .
Joe menendang beberapa kali ke perut dan kepala Reen sebelum akhirnya dia benar\-benar pergi .
Air mata Reen mengalir dengan deras , ia merasakan sakit yang begitu menyiksa di perutnya .
Darah mulai mengalir membasahi celana yang ia kenakan . Reen memegangi perutnya dengan tangis tercekat .
" Maaf kan Mama sayang , mama tidak dapat menjagamu "
Reen sudah tak tahan merasakan betapa sakitnya . Ia memejamkan mata , berharap tidak akan ada hari dimana ia bisa membukanya lagi .