I'M Sorry Cause I Love You

I'M Sorry Cause I Love You
14 # Semua akan indah pada waktunya



" Joeee...! Joeee...! "


Reen membuka matanya , berusaha mencari keberadaan Joe . Ia berteriak-teriak memanggil nama Joe namun tidak ada jawaban .


Ia meneliti setiap detail kamar , kamar mandi , dapur , bahkan di ruang tamu pun tidak ada .


" Apakah Joe tidak pulang malam ini ? " air matanya hendak jatuh .


Ketakutan akan kehilangan Joe kembali menghantuinya .


" Joeee..! Joeee...! " Ia kembali berteriak sambil menangis .


Reen berjalan kembali menuju kamarnya , dia duduk meringkuk memeluk lututnya sambil terus menangis .


" Reen..."


Reen mendongakkan kepala , menetap Joe yang saat ini tengah menatapnya juga . Ia langsung bangkit dan memeluk Joe .


" Joeee..." ucap Reen lirih dengan suara tercekat .


" Reen , ada apa ? " tanya nya bingung .


" Joeee...aku takut...takut kau pergi meninggalkanku...aku takut Joe..." ucap nya di sela tangisan .


" Hey , kau lihat aku masih disini ! Tak ada yang perlu kau takut Reen ! " ujar Joe menghibur Reen sambil terus mengelus punggungnya .


" Tapi tetap saja , suatu saat kau pasti akan..."


Joe langsung mengecup bibir Reen ringan , membuatnya tak dapat melanjutkan kata-katanya .


" Jangan banyak berpikir , yang perlu kau tau aku ada disini , disisi mu ! " ucap Joe lembut sambil mengusap bibir Reen yang basah .


Air mata Reen sudah hendak jatuh kembali , tapi Joe dengan segera menghapusnya .


" Jangan menangis...." ujar Joe lembut " Aku punya berita baik , apa kau mau mendengarnya ? " tanyanya sambil tersenyum .


" Apa ? " tanya Reen penasaran .


Namun belum sempat Joe berbicara , terdengar suara ketukan di balik pintu kamar .


" Masuklah ! " perintah Joe pada orang dibalik pintu .


Seorang pria dengan tubuh yang tegap memasuki kamar , yang Reen tau dia adalah Elgar sekretaris Joe atau dengan kata lain orang kepercayaan nya .


" Tuan segala keperluan anda dan Nyonya sudah siap . Jika anda sudah selesai kita bisa langsung berangkat " jelas Elgar pada Joe yang sama sekali tidak dimengerti oleh Reen .


" Oke , kau bisa tunggu di luar ! "


" Saya permisi dulu " pamit Elgar .


Joe menoleh pada Reen yang kini menatap nya bingung masih dengan sisa-sisa air mata yang membekas di pipinya .


" Ayo ! Kita harus segera bersiap ! " seru Joe sambil menarik tangan Reen , menuntunnya menuju kamar mandi .


" Apa yang akan kita lakukan ? " tanya Reen saat Joe membantunya mencuci rambut .


" Kau akan tau sebentar lagi " ujar Joe sambil terus membantu Reen mandi .


Sebenarnya Reen tadi sudah menolak , tapi Joe tetap bersikeras untuk membantunya mandi .


Malu ? Tentu saja Reen sangat malu , bagaimana tidak jika Joe membantunya mulai dari melepas pakaian hingga mengeringkan tubuhnya dengan handuk .


Reen hanya pasrah saat Joe memperlakukan dirinya seperti anak kecil yang harus dimandikan , dipakaikan baju , sampai menata rambutnya .


" Baiklah , kau sudah sangat cantik sekarang " puji Joe yang berhasil membuat pipi Reen merona .


" Ini juga berkatmu yang membantuku " Reen tersenyum .


" Kalau begitu aku akan melakukannya setiap hari " senyum jail Joe kembali terlihat .


Reen hanya terdiam mendengar ucapan Joe yang membuatnya makin malu .


" Sudahlah , ayo kita berangkat ! Elgar sudah menunggu kita terlalu lama "


Reen tersenyum lalu menerima uluran tangan Joe . Mereka berjalan menuju mobil . Setelah semua siap , Elgar pun melajukan mobilnya menuju bandara .


Sesampainya di bandara tak butuh waktu lama bagi mereka untuk segera check-in . Reen hanya menirukan apa yang di lakukan Joe .


Karena ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat .


Ketika pramugari mengumumkan pesawat telah mendekati waktu take off , tubuh Reen menegang . Ia langsung memeluk Joe yang duduk disampingnya .


Joe yang menyadari ketegangan Reen mengusap tangannya lembut . Lalu tersenyum .


" Semuanya akan baik-baik saja " ucap Joe menenangkan .


Joe mengusap rambut Reen lalu mencium keningnya . Reen juga tak banyak bicara , ia lebih memilih untuk tidur di pelukan Joe dari pada melihat pemandangan dibawah yang membuatnya makin gugup .


Tubuh Reen kembali menegang saat detik-detik pesawat akan landing . Kali ini Reen tidak lagi memeluk Joe , tapi mencengkram lengannya kuat dan membenamkan kepala di dada Joe .


Joe yang tau Reen ketakutan hanya membiarkan dia melakukan apa yang bisa membuatnya tenang . Dia menepuk-nepuk punggung Reen pelan .


" Tak akan terjadi apa-apa , Reen . Tenanglah "


Reen mengangguk mengikuti apa yang di katakan Joe hingga pesawat benar-benar mendarat dengan sempurna .


___


____


Mereka langsung tertidur setelah masuk ke kamar hotel tempat mereka menginap karena lelah dengan perjalanan panjang yang cukup memakan waktu .


Dan terbangun saat waktu makan malam tiba .


" Joe , bukankah kau bilang kalau kau punya berita baik ? Apa itu ? Kau belum mengatakan nya padaku dan langsung membawaku ke tempat ini " tanya Reen sambil menatap Joe yang sedang sibuk dengan laptopnya .


" Apa kau ingat dengan Mr.Alfred ? "


" Ya "


" Kerja sama antara perusahaan ku dengannya berjalan dengan sangat baik , bahkan lebih dari ekspetasi yang telah kita perkirakan " jelas Joe tanpa berpaling dari layar laptopnya .


" Lalu apa hubungannya dengan kita berada disini ? tanya Reen kembali .


" Tentu saja ada , bahkan ini adalah berita paling baiknya ! " tutur Joe .


Kini Joe berjalan mendekat menuju Reen yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan tatapan bingungnya .


" Mr.Alfred mengundang kita kesini untuk liburan honeymoon yang tertunda dan sebagai ungkapan maaf nya karena tidak hadir di pesta pernikahan kita " lanjut Joe tanpa menghentikan langkahnya .


" Honey...honeymoon ? " tanya Reen yang makin gugup saat Joe sudah benar-benar berada sangat dekat dengan nya .


" Yes , honeymoon ! " ucap Joe yang langsung membungkam mulut Reen dengan bibirnya .


Keterkejutan Reen mulai menghilang bersamaan dengan lidah Joe yang bermain-main dengan lidahnya .


Reen menerima permainan Joe , membuat keduanya sama-sama terbuai dan tenggelam dalam kehangatan yang mereka buat .


***


Ia mencoba meraih alarm yang berada di samping Joe . Bukannya berhasil , Reen malah jatuh menimpa tubuh Joe yang masih terlelap .


" Au ! " pekik Reen pelan


Reen tak sadar jika kelakuannya itu membuat Joe terbangun . Ia tetap santai saja mencoba meraih lagi alarmnya , kemudian kembali tertidur dengan posisi tubuhnya yang masih menimpa Joe .


Joe merasakan sengatan aneh di sekujur tubuhnya , gerakan Reen membuatnya menginginkan " itu " lagi .


Namun segera ia tahan , Joe tahu Reen seperti ini karena perbuatannya semalam yang tak memberikan jeda sedikitpun untuk Reen beristirahat .


Ia hanya mencoba mengontrol dirinya agar tidak kelepasan dan membuat Reen kembali terjaga .


Setelah hampir satu jam bergelut dengan dirinya , akhirnya Joe bisa kembali bernafas lega saat Reen menggeliat dan menegakkan tubuhnya .


" Kau sudah bangun ? " tanya Joe membuat Reen sedikit kaget .


" Ya . Apakah kau baru bangun juga , Joe ? "


" Ya , sekitar satu jam yang lalu "


" Kalau begitu kenapa kau tidak mandi dulu atau membangunkanku ? "


" Aku tidak bisa karena kau menindihku selama hampir satu jam itu ! "


Reen terkejut dengan perkataan Joe , ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi . Pipinya merona seketika . Ia tertidur tepat di atas perut Joe .


" Joeee..aku tidak sengaja , aku tadi hanya..."


Belum sempat Reen melanjutkan kata-katanya , Joe sudah bangun dan langsung menggendong Reen menuju kamar mandi .


" Alasan diterima . Ayo sekarang waktunya kita mandi "


" Aku bisa mandi sendiri Joe ! " pekik Reen menahan malu .


" Aku tidak menerima penolakan Reen ! Dan mulai hari ini kita akan selalu mandi bersama ! " ucap Joe tegas hingga membuat Reen terdiam seketika .


Seperti kemarin , Reen hanya diam membiarkan Joe mengurus dirinya .


 


Jujur , perlakuan Joe yang seperti ini malah makin membuat Reen takut . Takut jika ia tidak akan mampu melepas Joe saat meninggalkannya kelak .


Namun ia tak ingin berpikir yang tidak-tidak . Bisa jadi Joe sudah mau menerimanya , dan melupakan gadis itu . Ia hanya ingin menikmati saat-saat seperti ini saja .


Saat dimana Reen bisa melihat ketulusan di setiap perlakuan Joe padanya . Tiba-tiba terbersit keinginan untuk menanyakan sesuatu pada Joe .


" Joe adakah tempat yang tersisa untukku di hatimu ? "


Joe menghentikan gerakannya yang sedang menyisir rambut Reen . Senyumnya memudar tepat saat Reen mengucapkan kalimat itu .


Dia tak bisa mengatakan apapun karena ia juga tak mengerti apa yang ia rasakan sekarang . Yang Joe tau , ia hanya ingin selalu berada di dekat Reen .


Memandang wajah tersenyum nya , menggandeng tangannya yang kurus , memeluknya saat ia sedih , walaupun ia tau sumber kesedihan Reen adalah dirinya .


Reen melihat perubahan ekspresi wajah Joe , ia menghela nafas kasar , menunduk .


" Maaf , seharusnya aku tidak mengatakan hal itu ! " air mata kini sudah menggenang di pelupuk mata Reen .


"..."


" Seharusnya aku tau bahwa aku memang tak akan pernah bisa menempati hatimu ! " suara Reen makin tercekat .


"..."


" Seharusnya aku tidak hadir dalam kehidupan mu dan membuatmu menderita karena kehadiranku ! " Kini buliran bening itu mengalir deras di pipinya .


"..."


" Seharusnya aku tak menghampirimu saat itu ! Tidak mencintaimu selama ini dan memberikan hidupku untuk hal yang sia-sia !!! " tumpah sudah beban berat yang ia tahan selama ini .


" Seharusnya...


" Cukup !!! Hentikan !! " pekik Joe dan langsung memeluk Reen dari belakang .


" Joe ... seharusnya aku tidak menerima tawaran ayah , dan memintanya untuk membiarkanku mati ..." ucap Reen disela tangisannya


" Aku ingin mati ! Aku ingin mati , Joeee !!!! " teriaknya dengan frustasi .


" Cukup Reen ! Cukuuup !! Aku tak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari mulutmu ! " teriak Joe sama frustasinya dengan Reen .


Dadanya terasa sesak saat Reen mengucapkan kata-kata itu dengan tangisan yang mengiris hati , tidak tak ingin Reen pergi .


" Reen kumohon , berhenti menangis "


" Untuk apa ??! Untuk apa aku berada disini ?! Untuk apa aku bertahan ?! Kau bahkan tak menginginkanku ! Biarkan aku mati , biarkan aku mati Joe ! " pekik Reen sambil memukul-mukul dadanya.


" Reen hentikan ! Kumohon hentikan , aku tak ingin kau pergi ! Aku tak ingin kau meninggalkan ku ! " Kini Joe benar-benar menangis .


Mereka saling memeluk hingga tangisan keduanya mereda .


" Sudahlah , tak ada gunanya kita terus menangis . Bukankah tujuan kita kesini adalah untuk bersenang-senang ? "


Reen mengangguk , membenarkan perkataan Joe . Ia segera membersihkan wajahnya dan memoleskan make up tipis untuk menutupi bekas tangisannya .


***


" Kita akan kemana Joe ? " tanya Reen saat mereka berada dalam taxi .


" Bagaimana jika ke museum ? "


" Museum ? Boleh juga "


" Tuan , tolong antarkan kami ke Museum Quartiers ! " perintah Joe pada sopir taxi .


" Baik "


 


Sama seperti sebelum-sebelumnya Reen selalu menatap ke luar jendela mobil . Bangunan-bangunan kuno khas Eropa terlihat sepanjang jalan .


Tak butuh waktu lama , kini mereka sudah berada di depan Museum Quartiers Vienna . Mata Reen menatap tak berkedip bangunan didepannya .



Museum terbesar di dunia yang berdiri di sebuah kompleks bangunan bersejarah abad ke-18 dan 19 ini juga sering di jadikan tempat festival atau acara kebudayaan .


Selain toko suvenir dan kafe , ada Courtyard luas ditengah kompleks , biasanya dijadikan tempat pertunjukan ataupun hanya sekedar tempat orang-orang bersantai di musim panas .


Reen dan Joe menikmati perjalanan mereka di Museum layaknya pasangan suami istri lainnya . Gurauan dan tawa selalu mengiringi langkah mereka .


Bahagia , itu yang Reen rasakan . Entah apa yang akan terjadi esok , Reen tak peduli . Ia hanya percaya satu hal , semua akan indah pada waktunya .