
Segala usaha yang Dave lakukan untuk mengimbangi perusahaan raksasa milik pengusaha komersil, Bara Pramana, rupanya tidak sia-sia. Dengan bantuan sahabat karibnya, akhirnya perusahaan baru yang ia rintis dari nol, membuahkan hasil.
Dalam waktu tiga bulan, perusahaannya hampir sejajar dengan perusahaan Bara. Hanya butuh satu langkah lagi, satu langkah akhir yang akan membuat Dave berhasil mengalahkan Bara.
"Aku tidak mau tahu, kita harus memenangkan tender ini." cetus Dave di hadapan peserta rapat yang diadakan tanpa perencanaan di perusahaannya.
Dave begitu memforsir kinerja karyawannya, untuk memenangkan tender proyek dari perusahaan raksasa, CCE Corps dari benua Amerika. Semua perusahaan komersil yang ada di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba memenangkan tender ini, termasuk Bara sekali pun.
Karena perusahaan mana pun yang berhasil bekerja sama dengan CCE Corps, mereka akan mendapatkan impact yang luar biasa. Dan itu yang menjadi incaran Dave. Hanya dengan cara ini, dia bisa mengalahkan Bara.
Dave baru saja kembali ke ruangannya, setelah rapat masih banyak yang harus dia kerjakan. Selain urusan pekerjaan, Dave juga masih harus mengurus wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
Dave mengambil ponselnya, membuka sebuah aplikasi yang dapat menghubungkannya ke seluruh sistem CCTV rumahnya. Dengan begitu, ia bisa memantau Safira dari jauh.
Tidak cukup hanya memantau dari jauh, kini Dave melakukan panggilan video. Dalam satu kali dering, wajah Safira kini memenuhi layar ponselnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dave.
"Aku baik." jawab Safira.
"Sudah makan? Sedang apa sekarang?"
"Sudah." Safira mengubah kamera menjadi kamera depan, menampilkan seorang pelayan yang tengah memijit kakinya.
"Kakiku sangat pegal, padahal aku jarang berjalan." keluh Safira. Wajah Safira memelas, membuat Dave gemas sendiri dibuatnya.
"Itu karena beban di tubuhmu bertambah, sehingga kaki kecilmu tidak kuat menopang tubuhmu." kata Dave asal.
"Benarkah? Jadi, kalau perutku semakin besar nanti, berarti aku akan kesulitan berjalan?"
"Kenapa? Kau tidak senang dengan kehamilanmu?" tanya Dave karena wajah Safira murung.
Safira menggeleng cepat, "Tidak. Aku suka dengan kehamilanku. Aku menikmatinya." sanggahnya.
"Benarkah? Kalau begitu, setelah anak kita lahir, kau bersedia hamil lagi?" ucap Dave jenaka, sengaja mempermainkan wanita itu.
Safira menatap galak, "Enak saja. Statusku saja belum jelas, dan kau berniat menghamiliku lagi?! Dasar brengsek." ketus Safira tanpa berpikir lebih dulu.
Dave tidak marah dengan bentakan itu, malah pria menarik bibirnya tersenyum "Status? Kau ingin status seperti apa hmm?"
Memang dasar pria bajingan. Entah Dave sengaja mengatakan hal itu, padahal dia tahu jelas apa maksud Safira.
Wanita seperti Safira dididik dalam budaya timur, yang sangat mementingkan status. Tentu hamil tanpa kejelasan status akan menjadi beban bagi Safira.
Safira tidak menjawab pertanyaan Dave, wanita itu menatap Dave cukup dalam, maniknya berkaca-kaca, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan itu.
Wajah Dave kembali datar, "Maafkan aku Safira. Aku tidak berniat menggantung statusmu. Tapi aku masih harus menghadapi kakakmu. Bersabarlah, sebentar lagi kau akan menjadi milikku sepenuhnya." lirihnya.
Dave kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi setelah sepuluh menit, Dave mendapatkan pesan. Sebuah pesan dari Anna.
"Tuan, Nyonya menangis."
Isi pesan itu. Dave menghela nafas, wanitanya memang cengeng di trisemester kedua ini.
"Lepaskan Steven. Biarkan dia bermain dengan makhluk menjijikkan itu." Balas Dave.