
Di sebuah rumah besar nan megah bergaya Eropa, kepunyaan keluarga Rodriguez, Ilyana menatap putranya dengan nanar. Wajahnya masih sembab setelah kepulangannya dari Jerman dan bernegosiasi dengan keluarga Pramana.
"Mommy sudah gagal mendidikmu Nak. Mommy gagal." lirih Ilyana.
Sementara Dave, enggan bicara. Melihat sang Mommy pasrah akan dirinya membuat hatinya tersentil. Dia tidak senang akan hal ini. Dave ingin melihat Mommy-nya yang cerewet dan menarik telinganya ketika dirinya berbuat ulah. Tidak seperti ini, Mommy-nya kini benar-benar kecewa padanya.
"No Mom. Jangan menyalahkan dirimu." Tuan Rodriguez merangkul bahu sang istri. "Daddy yang salah. Kalau saja Daddy tidak membuat kesepakatan itu, Dave pasti tidak akan melakukan hal senekat itu. Semua salah Daddy." ujar Tuan Rodriguez.
Kesepakatan yang dimaksud Tuan Rodriguez adalah tantangan yang ia berikan kepada putranya beberapa bulan yang lalu.
Dimana Dave harus bisa membangun perusahaannya sendiri tanpa bantuan darinya, untuk membuktikan bahwa Dave mampu menyaingi sang Daddy.
Bukan tanpa alasan Tuan Rodriguez memberikan tantangan itu pada putranya. Bisa saja dia memberikan perusahaan raksasanya pada Dave secara cuma-cuma. Tetapi mengingat kepribadian Dave yang selalu sesukanya, membuatnya ragu menyerahkan perusahaannya begitu saja.
Dave tidak sedewasa umurnya. Di umur yang hampir menginjak kepala tiga, pria berusia dua puluh tujuh tahun itu masih bermain-main. Alkohol, wanita dan kehidupan malam adalah kegemarannya. Entah sudah berapa banyak wanita yang dipermainkan olehnya, Dave sendiri pun tidak tahu.
Meski begitu, Ilyana tetap sabar menghadapi putranya. Sampai dimana kesabarannya telah habis, mereka tidak menyangka putra semata wayangnya telah berbuat sejauh itu.
Putra semata wayangnya telah merenggut kehormatan seorang gadis, tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Melihat kedua orang tuanya saling menyalahkan diri, perasaan Dave semakin berkecamuk. Pria itu merasa seperti orang paling jahat di dunia ini.
Tidak tahan dengan suasana ini, Dave menyingkir dari hadapan kedua orang tuanya tanpa sepatah kata pun. Pria itu kebingungan. Bingung harus memulai dari mana untuk menebus kesalahannya.
***
"Berpikirlah Safira, bagaimana mungkin kau bekerja dalam keadaan seperti ini?" suara Bara yang tegas memenuhi ruang kerjanya. Putra tertua di rumah itu, menatap saudarinya tegas, menolak permintaan Safira yang ingin kembali bekerja di perusahaan seperti dulu.
"Sekali tidak tetap tidak! Rara juga ada di rumah. Kalian bisa melakukan setiap hal bersama-sama."
Safira memajukan bibirnya, dia begitu kesal karena keinginannya tidak dituruti. Sebenarnya dia tidak ingin bekerja. Wanita itu hanya ingin keluar dari rumah karena Bara tidak pernah membiarkannya dengan Rara kemana pun, kecuali bersama Bara.
Safira akhirnya keluar dari ruangan Bara, dengan harapan kosong. Di depan ruangan Rara menunggu.
"Bagaimana?"
"Nihil. Aku tidak diperbolehkan keluar dari rumah."
"Sudah kuduga." Rara terkekeh.
Safira masih cemberut, "Sudah Kak. Mau Kakak berjungkir balik pun, Kak Bara tidak akan luluh. Untuk mengisi kekosongan waktu kita, lebih baik kita mencari kegiatan yang bermanfaat."
Rara menunjukkan ponselnya, "Ini Kak, Rara sedang mengikuti kelas desainer, kalau Kakak mau ikut, Kak Bara pasti setuju."
Safira melihat ponsel, setelah sebelumnya pernah mengelola butik milik Alice, sebenarnya Safira tertarik dalam dunia fashion tersebut. Dunia bisnis terlalu gelap untuk gadis kaku sepertinya.
Safira butuh sesuatu yang berbeda, yang akan membuat hidupnya lebih berwarna.
"Kakak mau." Safira mengangguk tanpa berpikir panjang.
"Baiklah, aku akan meminta Kak Bara mendaftarkan Kakak juga."