
"Tuan, Nyonya merindukan Anda." tiba-tiba saja suara Felix membuyarkan Dave dari konsentrasinya yang berpusat pada komputernya. Lelaki jangkung nan tampan itu mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu? Mommy merindukanku?" tanya Dave heran, padahal baru tadi pagi dia bertemu Ilyana dalam sarapan pagi mereka.
Felix menyadari kekeliruannya, kemudian menggeleng cepat. "Maaf Tuan. Maksud saya, Nyonya Safira merindukan Anda."
Dan jelas saja air muka Dave berubah. Tidak ingin membuat tuannya semakin bingung, Felix menunjukkan ponselnya dan memutar video yang baru saja dikirim oleh Anna dari Jerman sana.
Dave melihat video itu dan dalam hitungan detik, senyumnya terbit. Membuat Felix keheranan. Empat tahun menjadi kepercayaan Dave, Felix belum pernah senyum semacam itu dari wajah tuannya. Yang sering dilihatnya adalah senyum sinis dan penuh kelicikan.
Tapi lihat sekarang, wajah Dave berseri-seru, sama halnya seperti orang yang tengah jatuh cinta.
Jika benar itu cinta, maka Felix teramat sangat terkejut. Pasalnya, Dave tidak pernah mengenal yang namanya cinta semasa hidupnya. Yang dia tahu hanyalah mempermainkan perempuan. Entah sudah berapa perempuan banyak yang menjadi korban putra dari Tuan Rodriguez itu. Bahkan Felix tidak bisa menghitungnya.
Felix terpana, apakah Safira akan menjadi pelabuhan terakhir tuannya yang akhirnya akan membuat Dave bertobat dari hobinya? Jika memang benar, maka Felix sangat bersyukur. Dengan begitu, Dave akan menjalani kehidupannya yang normal tanpa adanya berbagai macam wanita lagi.
"Dia sangat menggemaskan, Felix." tanpa sadar Dave tidak lagi membatasi ekspresinya di hadapan Felix. Wajah sangar nan dingin itu menghilang entah kemana.
Felix mengangguk samar, meski sedikit canggung dengan sikap aneh majikannya.
"Jadi dia sangat merindukanku?"
***
Moodnya berubah-ubah dalam waktu singkat. Seperti tadi, dia masih bersemangat dengan kelas fashionnya, tetapi dalam sekejap dadanya berkecamuk. Rasanya ingin menangis hanya karena keinginannya yang menurutnya aneh.
Anna hanya bisa mengusap punggung Safira, dan berusaha menenangkannya. "Tenang Nyoyna, kendalikan emosi Anda." ucapnya.
Safira mengangguk, kemudian mengusap wajahnya yang basah. "Kenapa aku cengeng sekali?" keluhnya.
"Itu hal wajar bagi wanita hamil seperti Nyonya. Mood Nyonya dipengaruhi oleh hormon kehamilan. Makanya Nyonya sangat sensitif dan mudah tersinggung." jelas Anna.
Safira mengangguk paham, kemudian memikirkan dirinya yang tiba-tiba saja sangat ingin bertemu dengan seseorang. Seorang lelaki yang telah menghancurkan masa depannya. Dan juga merupakan Ayah dari bayi dalam perutnya.
"Nyonya ingin istirahat?" tanya Anna setelah Safira berhenti menangis.
Safira mengangguk, kemudian dengan bantuan Anna, dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Safira memejamkan matanya, meski sebenarnya hatinya meronta ingin sekali bertemu dengan ayah dari putranya.
Safira merutuki dirinya sendiri, bukankah dia sangat membenci Dave? Terlepas dari apa yang pria itu lakukan padanya, Dave adalah seorang bajingan yang suka mempermainkan wanita. Tidak mungkin seorang Safira yang hanya menginginkan lelaki setia, menyukai pria seperti Dave.
Tetapi semua di luar kendali wanita hamil itu. Entah karena hormon kehamilannya, dia sangat ingin bertemu Dave dan menamparnya sepuas hatinya.
Ya, Safira sangat ingin bertemu Dave, bukan karena merindukannya, melainkan hanya ingin melampiaskan amarahnya yang tidak sempat dia lepaskan saat di Spanyol. Bogeman mentah dari Bara seolah belum cukup. Dan Safira ingin menambahi hukumannya.