
Safira masih menghentakkan kakinya dengan kesal, di sepanjang berjalan menuju rumah raksasa itu, sambil membawa Steven dalam pelukannya. Wanita itu mendengus, mengumpat Dave yang entah mengapa sangat mengesalkan baginya akhir-akhir ini.
"Safira!" panggil Dave dari ambang pintu masuk. Sementara Safira yang sudah kesal bukan main, tidak peduli sama sekali. Malah melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
"Astaga, wanita ini tidak berniat membawa makhluk itu ke kamarku kan?" geram Dave.
"Safira, lepaskan makhluk itu!" Dave akhirnya mempercepat langkahnya, mengejar Safira.
Merasakan Dave mulai mengejarnya, Safira semakin mempercepat langkahnya.
"Tidak mau! Aku mau merawat Steven!" sarkasnya.
Tapi, "Aaaa...."
"Safira!"
Langkah kakinya yang tidak teratur, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuh wanita itu terjerembab di anak tangga yang ketiga. Wanita itu terduduk tiba-tiba, sementara rasa sakit menjalar di sekitar punggungnya. Kelinci yang tadi di pelukannya, melompat dan berlari entah kemana.
Safira terpaku, begitu pun Dave yang tidak sempat menyelamatkannya. Keduanya saling menatap, hingga pandangan mereka tertuju pada lantai marmer putih yang kini banjir oleh darah segar yang mengalir dari kaki Safira.
"Dave...." rintih Safira. Pikiran buruk sudah memenuhi otak wanita itu.
"Bayi kita...." matanya memerah, diikuti air mata yang sudah mengalir deras. Safira kini diliputi oleh rasa takut. Takut kehilangan calon bayi dalam perutnya.
Sejak awal, Safira memang tidak pernah mengharapkan kehadiran bayi ini. Tetapi entah sejak kapan, wanita itu mulai takut kehilangan. Safira ingin melanjutkan kehamilan ini. Rencana dan angannya dalam enam bulan ke depan adalah merawat dan menyayangi bayi ini.
Dave tersadar, pria itu segera meraup Safira ke dalam gendongannya.
"Siapkan mobil!" teriaknya pada siapa saja yang melihat peristiwa itu. Dave berlari membawa Safira keluar dari rumah menuju mobil yang disiapkan secara kilat.
"Cepat jalan! Jika sampai terjadi apa-apa pada bayiku! Habis kalian semua!" kini supir yang membawa mereka menjadi sasaran kemarahan Dave.
Andaikan dirinya tidak keras kepala dan menurut pada Dave, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Hanya karena kelinci sialan itu, bayinya kini berjuang antara hidup dan mati.
Safira melihat wajah Dave yang kini begitu dingin, meski sebenarnya ada ketakutan besar di wajah itu.
Dave menundukkan wajahnya, membalas tatapannya.
"Maaf..." lirih pria itu penuh perasaan bersalah.
Safira segera menggelengkan kepalanya, dirinya yang salah, bukan Dave.
"Tidak! Aku yang salah, bukan dirimu." tangis Safira pecah dalam seketika.
"Maafkan aku! Aku sangat keras kepala. Harusnya aku menurutimu." tangisnya.
"Sst... jangan menangis." Dave menenangkan.
"Apa yang terjadi pada bayi kita? Dia akan baik-baik saja kan? Aku tidak mau kehilangan bayiku! Aku menyayanginya...." rintihnya, dengan tangan yang terus memeluk perutnya, seolah menahan janin itu tetap berada di sana.
"Sstt... jangan panik. Kita akan segera sampai. Dokter akan mengurus segalanya. Semuanya akan baik-baik saja." Dave mengeratkan pelukannya.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Safira segera dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter.
Dave yang tidak diperbolehkan masuk, kini hanya bisa berjalan mondar-mandir di depan ruangan dengan hati cemas dan panik.
"Lindungi mereka ya Tuhan. Kumohon." untuk pertama kalinya, setelah lima belas tahun, Dave memanggil dan memohon pada sang pencipta.
"Aku menyayangi mereka. Biarkan mereka berada di sisiku. Berikan aku kesempatan untuk menebus dosaku pada wanita itu ya Tuhan."