I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 43



Kedua insan dengan kepribadian yang bertolak belakang itu, saling memandang cukup lama. Safira menelan salivanya susah payah, sebab mata elang itu menatapnya sangat intens, membuatnya kesulitan menghirup oksigen.


Pertanyaan Dave sangatlah mudah, tetapi ia terlalu gengsi mengakui bahwa dirinya juga sangat menyayangi bayi dalam perutnya. Safira tidak tahu mengapa, tetapi yang pasti Safira benci karena Dave adalah ayah dari bayinya.


Wanita itu menganggap Dave tidak pantas menjadi ayah dari bayinya, yang suatu saat nanti akan mewarisi sifat buruk Dave. Tentu saja Safira tidak mau anaknya akan menjadi seperti ayahnya. Sombong, kasar dan satu yang tidak boleh dilewatkan, pemain wanita.


"Hei, kenapa malah melamun?" Dave menjentikkan jarinya di depan wajahnya membuat Safira sadar.


"Aku..." Safira bingung mau mengatakan apa. "Aku yang mengandung bayi ini, dia berada di perutku dan membawanya kemana saja. Tentu saja aku mulai menyayanginya dan tidak mau kehilangan dia. Lagi pula, ibu mana yang membenci darah dagingnya." entah dari mana kata-kata itu berasal.


"Tapi kau hampir menjadi seorang ibu yang membenci anaknya." tuding Dave, yang mana membuat Safira mengerutkan keningnya. Tidak terima akan tuduhan itu.


"Itu tidak benar. Aku tidak pernah membenci bayiku, aku menyayanginya sejak aku mengetahui kehadirannya!" sanggah Safira dengan suara tinggi.


Dave mengangkat sebelah alisnya, "Benarkah? Tapi aku masih ingat dengan jelas bahwa kau berniat ingin menggugurkannya."


"Tidak! Itu tidak benar! Kau mengada-ada!" mata wanita itu memanas, buliran air mata bersiap mengalir membasahi pipinya.


"Itu tidak benar! Aku tidak pernah mengatakan hal itu." Safira menggeleng sambil terisak. "Aku menyayangi bayiku. Aku mencintainya."


Melihat Safira seperti ini, Dave malah tersenyum bahagia. Pria itu kemudian menuntun Safira agar duduk. Kemudian menyandarkan tubuh yang semakin berisi itu ke dalam pelukannya.


"Iya, kau tidak pernah mengatakan hal itu. Aku yang salah dengar."


Safira membalas pelukan itu, "Aku menyayangi bayiku."


"Ya, kita berdua menyayanginya. Bayi kita..." balas Dave.


***


"Kuharap apa yang kau katakan ini bukanlah kebohongan Ilyana. Jika sampai kau berbohong, kau tahu pasti akibatnya!" Davina, menatap tajam wanita sebayanya yang duduk di hadapannya. Wajah Davina sangat tidak bersahabat, tidak seperti terakhir kali mereka bertemu.


"Untuk apa aku berbohong Davina. Jika memang aku tahu kemana Dave membawa Safira, aku pasti akan bertindak dan menghukum putraku. Kau pikir aku tidak khawatir pada Safira?"


Davina mengalihkan pandangannya, "Aku tidak peduli itu. Tapi jika sampai terjadi sesuatu pada putri dan cucuku, kalian akan menerima imbasnya!" ketus Davina.


Setelah mengatakan itu, Davina beringsut meninggalkan Ilyana yang kini dipenuhi kekecewaan terhadap putra tunggalnya tersebut.


"Dave, kenapa kau sangat senang membuat ibu menangis?" lirihnya.


Davina berjalan keluar dari restoran ternama di negara Spanyol tersebut. Ya, Davina jauh-jauh datang dari Jerman hanya untuk mencari Ilyana dan memberikan ancaman pada keluarga itu.


"Aunty.."


Seseorang memanggilnya, membuat Davina berbalik.


"Alice..." wajah yang tadinya tegang dan datar, kini berubah dalam sekejap. Wanita berpenampilan glamor itu tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi.


Anak gadis yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri, langsung melompat ke pelukannya.


"I miss you aunty..." ucap Alice dengan manja.


"Miss you too my sweetheart. Bagaimana kabarmu hmm? Sudah lebih baik kan?" tanya Davina. Ia mengusap kepala Alice dengan sayang, masih turut prihatin setelah kegagalan pernikahan sahabat putrinya tersebut.


"I'm oke. Aunty tenang saja."


"Baguslah. Kau tahu, aunty selalu memikirkanmu."


"Terima kasih aunty."


"Aunty ke sini ingin mencari Safira kan?" ucap Alice tiba-tiba.