
Dave benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan sekecil apapun hanya demi bisa bertemu Safira barang satu detik pun. Semua itu terbukti, ketika Dave langsung melakukan penerbangan menuju Jerman keesokan harinya.
Selama dalam perjalanan, wajah pria itu tampak berseri-seri. Tiada hentinya lelaki itu menonton video ketika Safira mengatakan merindukannya.
"Ternyata kau sangat merindukanku ya?" lirihnya seperti orang bodoh.
Beruntung Dave menaiki jet pribadinya, sehingga tidak ada yang melihat wajah bodohnya saat ini.
Dave masih tidak habis pikir kenapa Safira bisa merindukannya. Mengingat sejarah pertemuan mereka yang penuh konflik dan menguras emosi, sangat tidak mungkin Safira memberikan perhatian lebih untuknya, apalagi merindukannya.
Namun setelah melihat video itu, Dave malah beranggapan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bisa saja, karena benihnya yang ada di dalam perut wanita itu, membuat Safira merindukannya.
***
Persis seperti apa yang ditebak oleh Felix, pada senin pagi, Safira pergi memeriksa kandungannya yang diantar oleh supir pribadinya. Wanita tanpa suami itu, tengah melamun selama perjalanan menuju rumah sakit internasional.
Menyendiri dan melamun sudah menjadi hal biasa bagi Safira sejak peristiwa kelam itu menimpanya. Pikirannya kosong nan hampa, meski kini ada janin dalam perutnya yang suatu saat nanti akan memanggilnya Ibu.
Karena keluarga Pramana menanam saham di rumah sakit ini, Safira bisa langsung melakukan pemeriksaan tanpa menunggu antrian.
Setelah sampai di rumah sakit, Safira menjauhkan pandangannya dari pasangan suami istri yang akan memeriksa kandungan anak mereka bersama. Pandangannya lurus ke depan, enggan menonton momen membahagiakan bagi pasangan itu.
Setelah dua kali melakukan pemeriksaan, Safira sering melihat pemandangan ini. Dan jujur saja, wanita itu iri pada wanita-wanita itu, karena mereka memiliki suami yang selalu siap menemani.
Setelah sampai di ruangan obigyn, seperti biasa dia berbaring di ranjang khusus, dan membiarkan dokter memeriksa.
Meski untuk kedua kalinya melakukan pemeriksaan, tetapi hari ini adalah kali pertamanya melakukan USG, sementara sebelumnya hanyalah pemeriksaan tertentu saja.
"Lihat Nyonya, janinnya bertumbuh dengan baik. Janinnya sehat, Nyonya hebat dalam menjaganya." ujar dokter obigyn terbaik di rumah sakit itu.
Safira hanya diam, tetapi maniknya masih setia menatap layar yang menampilkan gambar yang bahkan ia tidak mengerti. Tetapi maniknya mulai berair. Entah mengapa, air matanya keluar begitu saja.
Rasa tidak percaya bahwa kini dalam perutnya tengah bersarang makhluk hidup yang kelak akan memanggilnya Ibu. Masih dalam bentul gumpalan darah yang sangat kecil, bahkan masih sebesar biji kacang merah. Tetapi mampu menggerakkan hatinya yang sudah lama beku.
Senyumnya merekah, sangat cerah, secerah matahari. Entah kapan terakhir kalinya ia tersenyum seindah ini, dia pun tidak ingat. Dan hatinya tidak pernah sehangat ini.
Hati wanita itu berbunga-bunga, penuh kehangatan pada darah dagingnya yang masih sangat kecil itu.
Setelah selesai dan mendapatkan foto USG-nya, Safira bersiap pulang. Senyumnya masih merekah saat keluar dari ruangan obigyn. Rasanya seperti mendapatkan semangat baru dalam hidupnya.
Namun, ketika akan keluar dari gedung rumah sakit, senyum itu menghilang seketika. Kini wajahnya penuh keterkejutan, ketika sosok itu muncul lagi di hadapannya.
Sosok itu tersenyum dengan sangat manis padanya. Tetapi Safira malah ketakutan melihat senyum itu.
"Kau merindukanku.... sayang?"