
Manik hitam kecoklatan khas Asia milik wanita cantik, yang kini tengah mengandung makhluk ciptaan Tuhan, perlahan terbuka. Beberapa kali mengerjap akibat silau yang menusuk netranya.
Safira memandangi sekitarnya, sembari berusaha mengingat apa yang sebelumnya terjadi padanya. Begitu kesadarannya kembali, wanita itu menggigit bibirnya.
Amarah kembali memuncak, membuatnya ingin menghancurkan pria itu.
"Dasar bajingan!" umpatnya.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar yang di dominasi oleh warna abu-abu dan hitam terbuka. Dave datang dengan nampan berisi menu sarapan pagi yang sehat untuk wanitanya.
Dave tersenyum manis, yang tentu saja dibalas dengan decihan sinis dari Safira.
"Kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?" sapa pria itu sembari meletakkan nampan di atas nakas.
Pria itu mengelus surai panjangnya, tapi Safira menepisnya. Matanya menatap dengan galak, yang malah membuat Dave terkekeh. Entah mengapa dia sangat menyukai wajah galak wanita ini.
Dave mengambil semangkuk bubur hangat yang masih mengepulkan asap. Aromanya yang sedap yang dimasak oleh koki profesional, menyeruak di indra penciuman Safira, membuat perutnya meronta ingin diisi.
"Buka mulutmu." perintah Dave. Dan tentu saja Safira tidak akan mudah menurut meski dia kelaparan saat ini. Gengsilah.
"Aku ingin pulang!" balasnya.
Dave menggeleng, "Jangan bercanda denganku Safira! Aku susah payah membawamu pergi, dan sekarang kau bilang ingin pulang?" ucap Dave penuh penekanan.
Dan jelas saja, Safira benar-benar naik pitam. Pria ini benar-benar menguras emosinya. Dia berada di tempat ini bukan karena keinginannya. Dan yang lebih penting, dia lebih tidak sudi melihat apalagi dirawat oleh Dave.
Safira tersenyum sinis, dia benar-benar muak dengan sikap pria ini. "Kau pikir aku suka dirawat oleh orang sepertimu? Heh. Tidak sama sekali. Aku tidak membutuhkanmu untuk merawat bayi ini."
Safira menarik nafasnya dalam, "Jika memang karena bayi ini kau menahanku di sini. Baiklah. Aku akan menggugurkannya! Agar kau tidak merasa bertanggung jawab lagi atas diriku!" cetus Safira dengan suara lantang.
Lagi dan lagi, kalimat itu keluar dari mulut Safira, berhasil membuat emosi Dave tersulut. Ucapan Safira bagaikan sebilah pisau yang menghujam hatinya. Dave mencengkeram rahang mungilnya cukup kuat, membuat Safira meringis.
"Berani sekali kau berkata seperti itu!" sentaknya.
Tanpa Safira tahu, Dave sudah jatuh hati pada bayi itu sejak lama. Dia sangat menantikan kehadiran bayi itu, yang akan memanggilnya ayah dalam waktu dekat ini. Tetapi kenapa, Safira sanggup berkata seperti itu? Padahal wanita ini yang mengandungnya. Selama kurang lebih tiga bulan, tidakkah ada sedikit cinta untuk bayi mereka? Apakah hati wanita ini sedingin itu, hingga sanggup berniat membunuh darah dagingnya sendiri?
"Kenapa tidak?! Kau pikir aku tidak tersiksa selama ini? Sejak benihmu tumbuh di rahimku, hidupku tak lagi seperti dulu. Semuanya berubah. Hidupku hanya dipenuhi penderitaan sejak bayi ini ada!" Safira menangis tersedu.
"Sudah sejak lama aku ingin menggugurkannya, tetapi karena aku masih memiliki hati nurani, aku tidak melakukannya. Tetapi saat ini, aku kehilangan nuraniku. Kehadiranmu menjadikanku seperti monster. Aku akan menggugurkan bayi ini, agar kau puas."
Safira bagai hilang arah, dengan kuat memukuli bayi dalam perutnya yang tidak bersalah.
"Keluar! Keluar dari perutku! Aku membencimu!" teriaknya.
Dave segera mencegat Safira, menggenggam kedua tangannya agar tak lagi melukai bayi mereka. Pria itu memeluknya erat, berusaha menenangkannya dari amarahnya.