I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 23



"Tuan, ini laporan dari Anna pagi ini." Felix, seorang laki-laki muda berusia tidak lebih dari dua puluh enam tahun, yang merupakan tangan kanan Dave Rodriguez selama empat tahun terakhir.


Dave yang kala itu berdiri menghadap pemandangan kota Spanyol dari ketinggian lantai dua puluh lima, berbalik perlahan. Wajah pria itu sudah kembali seperti semula, tampan tanpa bekas luka memar dari peristiwa itu.


Sudah satu bulan berlalu, Dave sudah kembali pulih. Dan kini ia bekerja di perusahaan Ayahnya sendiri. Pria itu tidak lagi mengemban kesepakatan dengan Tuan Rodriguez dengan perjanjian, bahwa ia harus bisa membuat perusahaan ini semakin jaya.


Dave mengambil sebuah amplop kuning dari tangan Felix dan mengeluarkan isinya. Beberapa foto yang teramat cantik baginya. Dave tersenyum melihatnya.


"Rupanya Anna dijadikan oleh Nyonya Davina sebagai pelayan pribadi Nyonya Safira, Tuan." ujar Felix menjelaskan.


Dave mengangguk saja, masih setia memandangi sosok ibu hamil dengan kegiatannya yang terpatri di dalam foto.


"Kerja bagus. Tetapi ingatkan Anna agar tetap berhati-hati. Dan dia harus menjaga wanita dan bayiku dengan sangat baik." ujarnya.


Ya, karena tidak mendapatkan akses apapun untuk bisa bertemu dengan Safira, Dave terpaksa memasukkan salah satu anak buahnya ke dalam rumah keluarga Pramana. Hanya untuk sekedar mengetahui dan memantau kegiatan wanitanya, karena Dave ingin tahu bagaimana tumbuh kembang bayinya dan tentu saja apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh ibu dari bayinya.


"Beberapa hari ini, Nyonya mulai mengikuti kelas fashion desainer bersama istri Tuan Bara, di rumah, dan tidak diperbolehkan keluar rumah selain kepentingan tertentu saja."


Dave masih mengangguk, bahkan dia tersenyum hanya karena melihat Safira yang tengah meminum segelas susu dengan perut yang sudah mulai menonjol.


Pria itu cukup tenang karena Bara sangat memperhatikan wanitanya.


"Tuan, minggu depan Nyonya Safira akan melakukan pemeriksaan ke dokter." ujar Felix.


Dave menatapnya penasaran.


"Tuan Bara dan istrinya sedang dalam perjalanan ke Indonesia untuk mengunjungi kerabat mereka. Sementara, Nyonya Davina saat ini juga sibuk mengurus putri sulungnya yang memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya. Maka kemungkinan besar, Nyonya Safira akan melakukan pemeriksaan sendiri." Felix berhenti bicara.


Sementara Dave yang mendengarnya mulai mengerti maksud ucapan asistennya tersebut.


"Siapkan penerbangan besok, aku tidak ingin membuang kesempatan sekecil apapun." titahnya yang diangguki oleh Felix.


Felix undur diri. Sementara wajah Dave terlihat cerah dan berseri-seri. Manik hijaunya masih setia memandangi wajah cantik yang semakin cantik saja di matanya.


"See you next week, Honey." lirihnya.


***


"Wow, saya pikir Anda cepat tanggap Nyonya. Lihat setiap goresan ini, Anda melakukannya dengan sempurna." pujian itu membuat Safira tersipu.


"Saya tidak menyangka, tetapi Anda belajar dengan cepat." puji pria bertulang lunak tersebut.


"Karena Anda sudah mengerti, maka kita lanjut saja ke tahapan berikutnya. Sekarang kita..."


Sebelum Thariq melanjutkan penjelasannya, Safira membekap mulutnya. Wajah wanita itu pucat dalam satu detik.


Gejolak yang muncul dari perutnya bercampur rasa sakit membuat Safira ingin memuntahkan isi perutnya.


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka segera mendekat.


"Anna, aku mau muntah." Safira segera berlari, mencari kamar mandi terdekat dari taman samping rumah itu.


Anna ikut berlari, dengan cemas. Di kamar mandi, Safira memuntahkan isi perutnya, sementara Anna memijat tengkuk sang majikan.


Setelah Safira memuntahkan sarapannya pagi tadi, Anna dengan sigap mengeringkan wajahnya yang basah dengan tisu.


"Anda tidak apa-apa Nyonya?" tanya Anna.


Safira menggeleng, air matanya malah jatuh membasahi wajahnya, membuat Anna heran.


"Aku mau ke kamar Anna." dengan suara lemah.


Anna mengangguk, "Baik Nyonya, kita akhiri kelas hari ini. Saya akan menyuruh Thariq pulang." ujar Anna.


Anna menuntun Safira yang tiba-tiba tidak bersemangat. Pada beberapa saat yang lalu dia masih semangat memulai kelasnya bersama fashion desainer terkemuka di negara tersebut.


Sesampainya di kamar, Safira duduk di ranjangnya yang menghadap langsung ke jendela kamar. Air matanya mengalir tanpa sebab. Safira tidak tahu mengapa, saat ini hatinya tengah berkecamuk dengan hebat. Rasanya wanita itu ingin menangis sekencang-kencangnya.


"Nyonya, apakah ada masalah?" dengan hormat Anna bertanya.


Safira bergeming, tetapi air matanya mengalir semakin deras.


"Aku merindukan seseorang, Anna. Aku sangat ingin menemuinya." wanita itu terisak, menutupi wajahnya.


"Siapa Nyonya?"