I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 36



Cinta....


Safira hampir meloloskan tawanya setelah mendengar kalimat keramat itu dari bibir Dave. Seorang Cassanova seperti Dave mengenal yang namanya cinta? Tidak mungkin! Semua itu hanyalah bualan semata, dan Safira tidak akan percaya hal itu.


"Safira? Kau mendengarku?" masih di posisi yang sama, keduanya saling memandang netra masing-masing.


Safira bergeming, tanpa ekspresi, tetapi Dave bisa melihat ketidakpercayaan di matanya. Dave hanya bisa mendesah pasrah. Akan sulit bagi Safira untuk percaya padanya yang merupakan seorang pemain wanita ini.


"Aku mengerti keraguanmu. Kau pasti tidak percaya. Tetapi aku akan berusaha untuk membuatmu percaya." ucapnya.


Safira tidak menjawab, dia masih memikirkan semua ucapan Dave.


"Pergilah kembali tidur. Fajar masih lama lagi."


Safira menggeleng kecil, dia menundukkan kepalanya. Wajahnya sedikit merona dan merasa malu.


"Aku tidak bisa tidur sendirian. Aku... maksudku anak ini ingin tidur bersamamu." wajah Safira kini benar-benar panas, menahan malu.


Dave mengangkat alisnya, kemudian tersenyum geli. Safira begitu lucu saat ini.


"Benarkan? Kau tidak bisa tidur tanpaku?"


Safira segera menggeleng, "Bukan aku, tapi bayi ini." sanggahnya dengan wajah cukup sangar.


Pria itu menahan tawanya, tapi tak urung mengangguk. "Ya, bayi kita tidak mau jauh-jauh dari Daddynya. Benar begitu Nak?" bicara pada perut Safira, kemudian mengelusnya.


Dave kemudian bergerak, meraup Safira ke dalam gendongannya, dan menidurkannya di ranjang. Dia ikut bergabung, memeluk erat wanita itu.


"Tidurlah."


***


Safira berjalan beriringan bersama Dave menuju meja makan. Keduanya terlihat bercanda kecil, terbukti ketika Safira menahan tawanya mendengar lelucon dari Dave.


"Apa ini?" tanyanya.


"Baca saja."


Safira menurut, dan mulai membaca brosur yang dipenuhi gambar bunga di atasnya.


"Festival Bunga?" Safira membaca judul besarnya. Dia menatap Dave, seolah memastikan. Dave mengangguk, lalu tersenyum.


"Kau ingin pergi?" tanya Dave.


Sebagai seorang pencinta bunga, tentu Safira tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Di negaranya, festival bunga sangat jarang dilakukan. Tapi dia juga hampir tidak bisa pergi karena kesibukannya di perusahaan keluarganya.


Safira mengangguk kuat. "Aku mau pergi." sahutnya dengan wajah ceria.


"Aku akan menemanimu." ucapnya.


Pelayan telah menyediakan sarapan mereka. Safira melihat makanannya yang berbeda dari milik Dave. Makanannya terdiri dari makanan-makanan sehat, seperti bubur, soup dan segelas susu sebagai pelengkap.


Safira mulai makan, sementara Dave tengah sibuk memasang dasinya di sana. Pria itu berdecak, pasalnya dia kesulitan memasang dasinya.


Meski sudah bertahun-tahun bekerja dan mengenakan pakaian rapi setiap hari. Tetapi itu semua tidak luput dari campur tangan Ilyana, sang ibunda.


Setiap pagi Ilyana yang mengurusnya. Mulai dari membangunkan, menyiapkan pakaian, sarapan hingga memasangkan dasinya sendiri. Oleh karena itu, Dave tidak pernah memasang dasinya sampai saat ini.


Sudah beberapa minggu setelah pindah ke negara ini, Dave belajar memasang dasinya. Tapi dia kesulitan dan masih belum mahir juga.


Ketika Dave berdecak kesal untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba sepasang tangan menyingkirkan tangannya lembut. Mengambil alih dasi, dan mulai memilin.


Dave mendongak, kini ia bisa melihat Safira menjulang di depannya. Wanita itu dengan wajah serius memasang dasinya, dan jantung Dave hampir tidak aman lagi.


Tangannya sangat halus ketika tanpa sengaja bersentuhan dengan lehernya. Dan itu yang membuat sesuatu dalam dirinya on fire.