
"Kau merindukanku.... sayang?" sapa lelaki tidak tahu malu yang muncul entah dari mana. Pria itu tersenyum manis, berbangga hati ketika menganggap wanita di hadapannya ini sangat merindukannya.
Namun dia tidak tahu bahwa rindu wanita ini berbeda dari yang dipikirkannya. Dave pikir Safira akan memeluknya seperti yang dibayangkannya selama perjalanan kemari.
Namun dia salah besar, ketika tamparan keras mendarat di pipinya, yang akhirnya menyadarkannya dari mimpi indahnya. Dave menatap nanar. Ya, tamparan itu berasal dari tangan mungil wanita di hadapannya. Dia tidak menyangka, mimpi indahnya akan berbalaskan sebuah tamparan.
"Kau....?" lirihnya.
"Dasar bajingan sampah! Brengsek!" teriak Safira tepat di wajah pria itu. Yang mana membuat Dave mundur satu langkah, akibat tindakan impulsif Safira.
"Beraninya kau muncul di hadapanku! Aku akan membunuhmu!" wanita itu masih histeris. Seolah belum cukup, dengan brutal wanita itu menghantam dadanya dengan pukulannya.
"Felix sialan!" umpat Dave ketika menyadari maksud dari kerinduan Safira untuknya, melainkan hanya ingin melampiaskan amarahnya saja.
Dave tidak melawan amarah Safira, justru ia malah menerima segala pukulan itu, berharap kebencian Safira berkurang padanya. Meski sulit sebenarnya, tapi Dave berharap besar.
"Pergi! Jangan pernah muncul di hadapanku! Aku membencimu! Pergi... pergi...."
Teriak wanita itu, yang hilang kendali setelah melihat lelaki yang telah menghancurkannya. Wanita itu lupa tengah mengandung, sehingga dengan sedikit tekanan saja akan mudah tumbang.
Dan itu yang terjadi saat ini, kepala wanita itu terasa berat serta matanya sayu yang akhirnya menghilangkan kesadarannya.
Dave terperangah, tetapi dengan sigap menangkap tubuh Safira yang hampir jatuh ke lantai.
***
Dave masih setia duduk di samping brankar, dimana Safira terbaring dengan tenang. Tangan besarnya dengan lancang mengelus perut Safira yang sudah mulai membesar. Jujur saja, demi apapun rasa bahagia tengah meliputi dirinya.
Kehadiran bayi ini bagai lentera di hatinya yang gelap selama bertahun-tahun. Tidak tahu entah dari mana muncul niat, bahwa dia harus bersatu dengan wanita ini. Dia harus menjaga dan melindunginya di sisinya dan membahagiakannya.
Tetapi sejak hadirnya wanita ini, semuanya berubah. Prinsip yang sudah melekat dalam dirinya itu menghilang begitu saja. Cassanova sejati itu akhirnya berubah menjadi pencinta sejati.
Dave mengangkat ponselnya yang berdering. "Ya, dalam setengah jam kami harus pergi dari negara ini." sahutnya setelah Felix bicara di seberang sana.
"Bergeraklah cepat!" perintahnya sebelum akhirnya menutup panggilan.
Ketika ia kembali melihat Safira, rupanya wanita itu sudah terbangun. Safira masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, ketika Dave langsung mengusap kepalanya.
"Kau sudah bangun?" sapa pria itu lembut.
"Bagaimana perasaanmu? Kau merasakan sakit hmm?" cecarnya.
Sudah Dave duga sebelumnya, tangannya langsung ditepis oleh Safira. Dan mata itu menatapnya tajam, sangat tajam, layaknya anjing melihat pencuri.
Safira mendudukkan tubuhnya, dan hendak beranjak dari brankar. Tetapi Dave menghalangi.
"Lepaskan! Biarkan aku pulang!" sergahnya.
Dave menggeleng, "Tidak sayang. Kau hanya akan pulang bersamaku." ucapnya dan jelas amarah Safira terpancing dengan cepat.
"Jangan mimpi! Kau bukan siapa-siapa di sini, jadi kau tidak berhak mengaturku!"
"Kenapa tidak? Kau mengandung benihku! Jangan pernah bilang aku bukan siapa-siapa, karena aku adalah ayah dari calon bayimu!" cetus Dave dan Safira sama sekali tidak bisa menyangkal hal itu.
"Persiapkan dirimu! Kita akan melakukan penerbangan sebentar lagi."