
"Dasar brengsek!" Bara menggeram setelah menghamburkan berkas-berkas tidak berguna yang telah memancing emosinya. Sementara, di hadapannya, tangan kanannya yang merasakan amarah Tuannya hanya bisa mematung.
"Siapa Ardon Cassano, kenapa dia mencoba menghalangi langkahku untuk menghancurkan si brengsek itu!" tanya Bara.
"Ardon Cassano, putra tunggal dari Tuan Smith Cassano, pemilik perusahaan retail ternama di negara bagian Amerika, Tuan. Dan Tuan Ardon dan Dave merupakan sahabat lama, Tuan." tutur Kevin, tangan kanan Bara.
Mendengar itu amarah Bara semakin di ubun-ubun.
"Beraninya!" geramnya.
Bara menggebrak meja kerjanya, "Aku tidak mau tahu! Cari kartu AS keluarga Cassano, dan buat mereka tidak bisa berkutik melawan kita!" perintahnya.
Pantas saja, Bara dengan segala kemampuan dan kekuasaan yang mumpuni, tidak bisa menemukan adiknya, serta tidak bisa menghancurkan perusahaan milik keluarga Rodriguez. Rupanya bajingan itu mencari bala bantuan.
Rupanya Dave tahu, dalam hal dunia bisnis, Bara tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan keluarga Cassano. Karena kekuatan keduanya imbang. Oleh karena itu, Dave tidak ingin susah payah melawan. Hanya perlu memegang kartu As atau rahasia keluarga itu, dalam sekali gerakan, keluarga itu akan bertekuk lutut.
***
"Kau tidak ingin keluar hari ini?" suara Dave terdengar dari gawai persegi yang dipegang oleh Safira. Safira tengah berada di taman bunga di samping penthouse, saat Dave melakukan panggilan video.
"No, aku ingin bersantai di sini." angin sepoi-sepoi membuat anak rambutnya melayang.
Dave tersenyum melihatnya, "Sudah minum vitamin?"
Safira mengangguk.
"Bayi kita, apakah dia menyusahkanmu?"
Safira menggeleng.
"Syukurlah. Setelah puas di sana, langsung istirahat. Jaga pergerakanmu." tutur si pria pengatur itu.
Safira mengangguk lagi, hanya menurut saja ketika si pria pengatur ini bicara.
Setelah Dave menutup panggilannya, Ardon, sahabatnya datang ke kantornya.
"Kau mengembangkan perusahaan ini dengan cepat, aku tidak menyangka." puji Ardon setelah duduk di hadapan Dave.
"Tidak."
Dave mengangkat alisnya, "Setelah tahu bahwa kau membantuku, dia tidak menyerangmu?"
Ardon menyeringai, "Bara cukup licik. Dia tahu bahwa perusahaan kami imbang. Jadi dia menggunakan cara lain dengan mencari tahu rahasia besar keluarga kami yang bisa digunakan untuk mengancam."
Dave mengangguk, "Buruk sekali nasibmu karena telah bersinggungan dengan Bara, si pria pemarah itu." ucap Ardon.
Dave malah menyeringai, "Aku juga tidak tahu, kenapa Tuhan membuatku berurusan dengannya. Dan asal kau tahu, sejak aku bersinggungan dengan Dave, hidupku tidak pernah tenang. Dave bagaikan monster yang mengincar diriku."
"Tapi cukup hebat, sekarang kau memiliki saudarinya. Tidak ada pria yang bisa melakukannya kecuali kau. Kau memiliki saudari monster itu." lebih terdengar seperti ejekan, tapi entah mengapa Dave bangga akan hal itu.
"Kau mencintainya?" tanya Ardon.
Dave tersenyum, "Entahlah. Tapi sejak aku melihatnya untuk yang kedua kali, rasa ingin memiliki tumbuh dalam diriku. Aku ingin menjaga dan melindunginya."
Mendengar itu, Ardon malah terkekeh, tidak menyangka seorang Cassanova sejati seperti Dave, berkata seperti itu. Rupanya pemain wanita satu ini telah bertobat.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
"Tidak. Aku salut, ternyata kau telah bertobat. Dan sekarang, gelar cassanova sejati akan dicabut darimu."
"Sialan!" umpat Dave.
"So, bagaimana wanitamu sekarang?"
Dave tersenyum, mengingat Safira, hatinya selalu menghangat.
"Sekarang dia sudah menjadi penurut."
Tiba-tiba ponsel Dave berbunyi, sebuah panggilan dari Anna.
"Ya."
"Tuan, Nyonya Safira menghilang."