
Bagai anak kecil yang baru menemukan mainan baru, manik Safira langsung cerah seketika. Wanita itu langsung duduk, tak lupa menahan selimut menutupi tubuh polosnya, yang mana membuat Dave tersenyum geli.
Wanita itu begitu senang dan baru kali ini ia melihat senyum yang teramat cantik ini. Dalam hatinya, Dave berjanji akan lebih banyak memberikan kejutan untuk menyenangkannya.
"Perhatikan gerakanmu." ucap Dave.
"Janji. Aku tidak akan pergi kemana-mana, asal kau tidak mengurungku di rumah ini." cecarnya berusaha meyakinkan Dave.
"Apa aku bisa memegang ucapanmu?" Dave masih memiliki keraguan.
"Aku dididik Ayahku untuk selalu jujur sejak kecil. Kau bisa pegang janjiku." dengan lantang wanita itu bicara.
"Aku tahu itu, tapi siapa yang tahu ke depannya. Kau merasa muak denganku dan mengambil kesempatan di saat aku lengah." entah sengaja atau tidak Dave masih meragukan Safira.
Safira langsung menggeleng, "Itu tidak akan terjadi!"
Dave mengetukkan jarinya di atas punggung tangannya, "Baik, aku percaya. Tetapi semua itu gratis." senyum licik itu muncul dan semangat dalam diri Safira langsung hilang dalam sekejap.
"Jangan lesu begitu. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Lagipula syaratnya tidak sulit."
Safira mendelik dengan wajah penuh tanya. Perasaannya tidak enak, apalagi melihat senyum licik Dave.
Tangan Dave merayap menyusuri pinggangnya dibalik selimut, yang mana membuat Safira meremang. "Aku ingin, di kegiatan panas kita selanjutnya, kau yang memimpin." alisnya terangkat, memberikan penawaran yang tidak masuk akal.
Safira langsung menyingkirkan tangan Dave dalam sekali sentakan, kemudian beringsut menjauh. Tawa Dave yang renyah melihat tingkah lucunya semakin membuat wanita itu kesal.
"Dasar cabul!" umpat Safira.
Safira turun dari tempat tidur, dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Jangan lupa, kebebasanmu tergantung dari jawabanmu." ucap Dave sebelumnya.
***
Safira mengintip dari balik pintu kamar mandi. Hanya kepalanya yang keluar, sementara badannya masih di dalam kamar mandi. Setelah memastikan kamar kosong, tanpa kehadiran Dave, wanita itu keluar dari sana.
"Siapa yang cabul."
"Astaga!"
Safira berteriak karena tiba-tiba Dave memeluknya dari belakang.
"Siapa yang cabul hmm...?" Dave seperti anak yang tengah bermanja pada ibunya, menyandarkan dagunya di bahu Safira.
"Tentu saja kau! Memangnya siapa lagi!" sewotnya.
"Lepaskan!"
"Tunggu." masih dengan senyum menyebalkan, Dave merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah.
Dave membukanya, sebuah kalung cantik dengan bandul Swarovski langka, yang di desain hanya tiga di dunia ini. Dan kini akan dimiliki oleh wanita cantik yang tengah berbadan dua tersebut.
Safira melihat kalung bernilai milyaran itu dari pantulan cermin hiasnya. Wanita itu terpaku. Terpaku, bukan karena keindahan kalung itu, melainkan perasaan yang bahkan tidak bisa diartikan dirinya sendiri.
"Biar kupasangkan." tanpa menunggu jawaban Safira, Dave memasangkan kalung mewah itu di leher jenjang wanita cantik itu.
"Kau menyukainya?" tanya Dave.
Jemari lentiknya menyentuh bandul mewah yang berkilauan cantik di lehernya. Safira tidak bisa berbohong, meski memiliki banyak perhiasan mewah yang dikhususkan hanya untuk keluarga besarnya, kalung dengan premium ini cukup memikat hatinya.
Wanita itu mengangguk, "Cantik."
"Ya, secantik dirimu."
Safira tidak tersipu sama sekali.
"Jangan pernah melepasnya kemana pun kau pergi. Karena kalung ini hanya didesain khusus untuk wanita cantik sepertimu?"