
"Nyonya, Anda harus makan, jangan sampai bayinya kenapa-napa." entah sudah berapa kali Anna mengembalikan sendok ke piring, karena Safira tidak mau membuka mulutnya.
Safira masih dengan wajah penuh kecewa, "Biarkan saja! Jika bayi ini tiada, semua akan lebih baik. Dan aku bisa bebas dari si brengsek itu!" ketus Safira.
Anna mendesau, entah mengapa Safira yang di hadapannya saat ini berbeda dari yang sebelumnya. Safira yang dikenalnya sangat dewasa dan sangat memikirkan kesehatan kandungannya. Tapi saat ini, Anna seperti berhadapan dengan anak kecil yang susah diatur.
"Nyonya salah jika berpikiran seperti itu. Kalau pun bayi ini tiada, saya yakin seratus persen, Tuan tidak akan melepaskan Anda." tutur Anna.
Safira menatap lekat, keningnya berkerut, berpikir mengapa Anna beranggapan seperti itu. Dan Anna mengerti apa yang dia pikirkan.
"Asal Nyonya tahu, Tuan Dave telah mengorbankan segalanya hanya demi membawa Anda bersamanya. Bahkan orang tuanya sendiri, Tuan Dave tidak peduli akan mendapat amukan dari Tuan Bara. Setelah apa yang telah dikorbankan, apakah Nyonya pikir Tuan Dave akan melepas Anda semudah itu?"
Safira bungkam, dia tidak tahu Dave telah melakukan banyak hal hanya agar dirinya bersamanya. Tapi itu sama sekali tidak bermakna untuknya.
Tapi Safira penasaran, apa yang telah Dave lakukan, hingga Bara si penguasa bisnis komersil itu belum juga menemukannya sampai saat ini. Sudah satu minggu berlalu, harusnya tidak sampai dua puluh empat jam, Bara pasti sudah menemukannya.
"Nyonya, ayo dimakan. Pikirkan bayi Anda." sekali lagi Anna menyodorkan makanan ke mulutnya.
Safira masih sama, menggelengkan kepala dan menutup rapat mulutnya. Anna kehabisan cara, kali ini dia benar-benar berhadapan dengan anak kecil.
Anna berdiri lalu membereskan makanan yang tidak berkurang sama sekali. Gadis muda itu akan keluar dari kamar, dan di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.
Keduanya kompak menoleh, dan melihat Dave di sana dengan wajah yang tidak menyenangkan.
Setelah Anna keluar, Dave mendekat, duduk tepat dimana Anna duduk sebelumnya.
Pria itu meraih dagu Safira yang enggan menatapnya. Hingga tatapan keduanya bertemu, Safira melihat dengan galak. Dave menyipitkan matanya, wanita ini benar-benar di luar ekspektasinya. Sangat pembangkang.
"Kudengar kau belum menghabiskan makan siang dan makan malammu?!" suara itu lembut, namun penuh penekanan.
Safira menepis tangan Dave dari dagunya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dave mengeratkan giginya, tapi secepat mungkin menghela nafasnya.
Pria itu mengambil piring yang masih tetap utuh, lalu menyodorkan ke mulut Safira. Masih sama seperti tadi, Safira menutup mulutnya rapat-rapat.
"Buka mulutmu Safira!" kali ini, Dave telah kehilangan kesabarannya.
Dan ketika Safira menggeleng kuat, Dave menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Dan tanpa aba-aba, pria itu menarik Safira lebih dekat dengannya. Menahan kepalanya dan memaksa mulut wanita itu terbuka.
Dalam sekali gerakan, Dave menempelkan bibir mereka, lalu memasukkan makanan dari mulutnya ke mulut Safira. Dave tidak melepasnya sampai Safira menelannya.
Safira berusaha berontak, tapi Dave sangatlah kuat untuk dia lawan. Mata wanita itu berair akibat serangan tiba-tiba. Hingga akhirnya, dengan terpaksa Safira menelan makanan dari mulut pria itu.
Dave melepasnya pada akhirnya, pria itu menyeringai melihat raut wajah Safira. Dave akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tapi sebelum itu terjadi, Safira mencegatnya. Wanita itu merebut makan malamnya dari Dave.
"Aku bisa sendiri!" ketusnya.