I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 34



Bugh....


Bukan suara mangga yang jatuh dari pohonnya, melainkan suara nyaring dari Dave yang terjatuh dari pohon mangga.


"****..." umpatnya, merasakan sakit di area tulang ekornya.


Dave menatap tajam dua orang pengawal dan Anna yang menahan tawanya mati-matian. Sementara Safira yang tidak mempedulikannya sama sekali, dengan cepat mengambil tiga buah mangga yang berhasil Dave ambil.


"Nyonya, berikan pada saya. Saya akan memotongnya dan mengantar ke kamar." ucap Anna.


Dengan senang hati, Safira memberikannya. Wanita itu layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


Dave berdiri dengan susah payah, meski merasakan sakit di pinggangnya, tapi ia tidak merasa kesal sama sekali. Melihat senyum Safira seperti saat ini, rasanya dia tidak keberatan jika harus jatuh dari pohon berkali-kali.


"Ayo masuk ke kamar, kau harus mandi." ucap Dave.


Safira menurut saja, cukup terkejut ketika Dave menggenggam tangannya. Tidak tahu mengapa, Safira tidak berniat melepas genggaman itu. Wanita itu mengangguk, kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


Safira telah selesai mandi ketika Anna datang membawakan mangga yang sudah dipotong ke kamar. Wanita itu langsung melahapnya hingga tandas tak bersisa.


"Kau menghabiskannya?" Dave yang baru selesai mandi berdiri di belakangnya yang tengah menghabiskan potongan terakhir.


Dave duduk di sampingnya, menatapnya intens yang mana membuat Safira salah tingkah.


"Kau mau?" menyodorkan potongan terakhir yang hampir masuk ke mulutnya pada Dave.


Dave terkekeh, "Tidak. Habiskan saja."


Safira mengangkat alisnya, tapi tak urung segera memakannya dengan senang hati.


"Bagaimana kandunganmu? Bayi kita tidak merepotkanmu bukan?" meski sebenarnya Dave sudah tahu keseharian Safira, tetap saja dia ingin mendengar langsung dari mulut wanita ini.


Dave sudah tercemar di matanya. Apalagi ketika mengingat ketika Dave merebut kehormatannya, rasanya Safira ingin memukulnya setiap melihatnya.


"Aku baik-baik saja." jawabnya singkat tanpa melihat Dave.


Dave bisa melihat ketidaknyamanan Safira saat bersamanya. "Baguslah. Kalau begitu tidurlah, sudah waktunya untukmu tidur."


Safira menurut, wanita itu beringsut menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sisi kiri ranjang.


Safira memejamkan matanya, tetapi dia tidak merasa mengantuk sama sekali. Tidak tahu mengapa, biasanya dia sudah mengantuk di jam seperti ini.


Lima belas menit berlalu, Safira masih belum juga tertidur. Sesekali matanya terbuka mengintip Dave yang ternyata sibuk di sofa dengan laptopnya.


"Kenapa belum tidur?" rupanya dia ketahuan oleh Dave.


Safira membuka matanya, melihat Dave mendekat ke arahnya.


"Aku belum mengantuk." ucapnya.


Dave akhirnya duduk di sisi ranjang yang kosong, sangat intim dengan Safira. Jika biasanya wanita itu langsung menjauh ketika Dave mengambil jarak dekat dengannya, tapi kali ini, Safira enggan melakukannya. Justru wanita itu merasa nyaman, dan malah ingin didekap oleh pria ini.


Dave mengelus surai hitamnya yang menjuntai panjang. Mengira Safira akan menolaknya karena telah menyentuhnya sembarangan, Dave cukup terkejut karena Safira malah menyandarkan kepalanya padanya.


Seolah mendapat kesempatan langka, Dave ikut menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sementara Safira di dekap dan bersandar di dadanya. Tangan besarnya masih mengusap kepalanya, yang mana membuat Safira mengantuk.


Safira benar-benar jatuh ke alam bawah sadarnya tidak lama kemudian. Terbukti dari nafasnya yang teratur.


"Katanya tidak bisa tidur. Tapi belum lima menit sudah tidur di pelukanku. Jadi sebenarnya kau hanya ingin memelukku kan?" ucap Dave dengan percaya diri.