I Hate You Bastard!!

I Hate You Bastard!!
Episode 33



Seperti permintaan wanita hamil itu, Safira akhirnya keluar dari kamar suram yang didominasi oleh warna hitam dan abu-abu itu. Wanita itu bernafas lega, karena dia tidak sempat stres karena berada di kamar itu.


Safira tengah hamil, berada di tempat tertutup membuatnya begitu mudah bosan yang malah akan membuatnya stres. Dia butuh kebebasan melihat dunia sekitar.


Dan itulah yang Safira rasakan saat ini. Wanita berbadan dua itu sedang berada di taman yang berada di tengah penthouse mewah milik Dave. Menikmati udara pagi yang sejuk serta pemandangan hamparan bunga yang sedang mekar-mekarnya.


Meski begitu, Safira tidak bisa bebas di sini. Ada Anna yang selalu berdiri lima meter darinya, serta pengawal yang berjaga di setiap sudut pekarangan penthouse.


Wajah wanita itu berseri-seri sambil mengabsen bunga yang mekar dengan jemarinya. Jika ditanya, apa yang paling Safira sukai di bumi ini, tentu bunga adalah pilihannya. Safira sangat menyukai bunga. Bunga bagaikan pelangi yang memberikan warna dalam hidupnya yang suram.


"Anna, boleh aku memetik bunga untuk diletakkan di kamar?" tanya Safira.


Anna mengangguk pasti, memangnya apa yang tidak boleh untuk wanita majikannya tersebut. "Tentu saja Nyonya. Pilih bunga yang Anda suka. Saya akan meminta pelayan mengantar vas dan gunting." ucap Anna, dan itu sanggup membuatnya melebarkan senyumnya lebar.


"Terima kasih." ucapnya.


Setelah semua peralatannya diantar oleh pelayan, Safira mulai berburu bunga. Memetik dengan hati-hati, kemudian merangkainya di sebuah vas kaca dengan corak yang indah.


***


Bunyi pesan dari ponselnya mengalihkan Dave dari layar infokus yang ditampilkan oleh karyawan yang tengah memimpin rapat penting pagi ini. Pria itu tersenyum melihat foto yang dikirim oleh Anna.


"She like flowers?" ucapnya tanpa sadar.


"Sorry sir? Flowers?" ucap karyawannya yang mendengar ucapannya. Begitu juga dengan para karyawan yang menghadiri rapat tersebut.


Dave tersadar, tetapi secepat mungkin menetralkan wajahnya.


"Festival bunga. Saya ingin acaranya diganti. Festival bunga. Waktu kalian satu minggu, festival bunga di taman kota!" ucapnya yang mana membuat semuanya terperangah dan kebingungan.


Tanpa membiarkan mereka bertanya, Dave langsung bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang rapat.


Jam masih menunjukkan pukul lima sore ketika Dave menginjakkan kaki di rumah mewahnya. Wajahnya nampak cerah sambil melihat rangkaian bunga yang cantik di tangan kanannya.


Dave menyadari kekonyolannya. Bisa-bisanya ia tidak sabar pulang, sampai meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk hanya untuk pergi ke toko bunga. Dia tidak begitu bersemangat seperti ini dulu saat pulang kerja. Mengingat ada seseorang yang kini menunggunya di rumah, entah mengapa membuat hati pria itu menghangat.


Dave memasuki kamarnya, lalu menyusuri kamar yang sepertinya tidak berpenghuni.


"Dimana Safira?" tanya pria itu pada pelayan yang kebetulan dilihatnya.


"Nyonya dan Anna ada di taman belakang Tuan." ucapnya.


Dave mengerutkan keningnya, tapi tanpa banyak bertanya, dia segera menyusul ke taman belakang.


Sampai di sana, pria itu melihat pemandangan yang tidak biasa. Safira ada di sana, di bawah sebuah pohon mangga bersama Anna dan dua orang pengawal.


"Nyonya, kita masuk saja dulu. Kita tunggu sampai Tuan kembali." ucap Anna pada Safira yang berjongkok dengan wajah memelas.


Safira menggeleng, "Tidak mau. Aku mau makan mangga sekarang juga!" sentaknya.


"Tapi Tuan belum pulang Nyonya."


"Ada apa ini?" Dave baru saja menghampiri. Pandangan keduanya bersiborok, dan Safira menatapnya dengan tatapan tidan biasanya.


"Tuan, Nyonya Safira ingin makan mangga dari pohon ini." ucap Anna dengan hormat.


Kening Dave berkerut, "Mangga? Apa susahnya, berikan saja."


Anna terlihat ragu, "Tapi Nyonya ingin makan jika Tuan sendiri yang mengambil dari pohonnya. Nyonya tidak ingin pengawal yang mengambilkan."


Dave menatap Safira, merasa aneh dengan permintaan tersebut. Apakah ini yang dinamakan mengidam pada wanita hamil, pikirnya.


"Baiklah, kalau begitu ambilkan alat pemetik mangga." perintahnya.


Tetapi sebelum pengawal pergi, Safira menyela, "Tidak mau. Kau harus memanjatnya dan mengambil dengan tanganmu sendiri!" sentak Safira.


Wanita itu bagaikan anak kecil, dengan segala permintaan aneh yang tidak masuk akal.


"Aku?" Dave melihat ke pohon yang menjulang cukup tinggi dahannya dan tidak bisa dijinjing.


"Tapi aku tidak bisa memanjat." ucapnya dengan wajah polos.